DOMINASI RASA KEBENCIAN

"Kamu di sini, Tha?" Adelia menyapanya dengan ramah. Ia lalu tanpa sungkan memeluk lengan Bhumi. "Sama Julian juga? Waah, kebetulan sekali."

Thalia sama sekali tidak memasang wajah ramah pada kakak tirinya itu. Alih-alih cemburu pada tingkah dua manusia yang ia benci itu, Thalia justru mengabaikan keberadaan mereka. Setelah mengambil satu pot kaktus kecil, ia segera menggandeng tangan Julian dan berjalan menuju kasir.

Di depan mereka terdapat beberapa orang yang ikut mengantri.

Julian lalu mendekatkan wajahnya ke Thalia, sembari berkata, "Kamu tunggu di mobil. Ini biar aku yang bayar."

Julian mengambil alih pot kecil tersebut. Senyum lembut pria itu membuat Thalia ikut tersenyum sebelum akhirnya mengangguk.

"Nanti aku transfer uangnya. Thanks, Jul." Thalia kemudian berjalan keluar dengan santai.

Ia benar-benar tidak menganggap keberadaan Adelia dan Bhumi. Namun, tepat saat ia akan segera membuka pintu mobil, lengannya lebih dulu ditarik seseorang dengan paksa.

Bhumi.

Sialan memang. Pria itu bahkan menarik Thalia menjauh dari mobil Julian dengan kasar.

"Jangan teriak kalau kamu nggak mau saya melakukan hal nekat di sini, Thalia!" katanya, rendah dan penuh penekanan.

"Bajingan!" umpat Thalia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bhumi.

"Berhenti mengumpat Thalia!"

Thalia berdecih. Menatap Bhumi semakin tajam. "Brengsek! Bajingan!"

Langkah Bhumi semakin cepat hingga akhirnya mereka sampai di sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari toko bunga.

"Masuk!"

"Nggak!"

Rahang Bhumi mengetat. Kemudian membuka pintu mobil dengan cepat dan mengangkat tubuh Thalia untuk dimasukkan ke dalam mobil.

Bhumi memberi kode lewat matanya untuk Aji agar keluar lebih dulu.

"Aku mau keluar!" Thalia hendak membuka pintu sebelahnya, tetapi tubuhnya lebih dulu di tarik Bhumi hingga membuatnya terhuyung membentur sandaran kursi.

Bhumi segera mengukung tubuh mungil itu dengan tubuhnya yang besar. "Jangan bertingkah, Thalia! Kamu tahu sendiri bagaimana hukumannya jika kamu berani melawan."

"Bertingkah bagaimana maksudmu? Aku hanya pergi bekerja." Ingin rasanya Thalia mengumpat tepat di depan wajah Bhumi. Atau minimal berteriak di telinga pria angkuh itu bahwa ia tidak pernah macam-macam selama menjadi istri Bhumi.

"Bekerja? Pergi ke toko bunga berdua dengan pria itu kamu sebut bekerja? Ah, saya tahu. Kamu habis melayani dia. Iya, kan?"

Bhumi selalu menuduhnya seperti jalang. Cukup aneh, sebab Bhumi bertingkah seperti tidak suka suka jika Thalia dekat dengan pria lain.

Thalia mendorong dada Bhumi dengan kuat. Namun, percuma, sedikit pun pria itu tidak menggeser dari posisinya. Thalia akhirnya pasrah terpojok di sudut kursi mobil dan jendela, sementara Bhumi berada di atas tubuhnya.

"Sudah tahu jawabannya kenapa malah bertanya lagi? Mau mendengar langsung dari mulutku kalau aku baru saja selesai mela-hmmph!" Mata Thalia membesar saat Bhumi membungkam mulutnya dengan bibirnya.

Bhumi brengsek!

Pria itu terus memaksa untuk mencumbu Thalia. Satu tangannya menarik tengkuk wanita itu dan satu tangan yang lainnya mengunci tangan Thalia agar tidak lagi berontak. Sampai akhirnya Bhumi merasa Thalia mulai kehabisan napas, barulah Bhumi melepaskan pagutannya.

Ibu jarinya mengusap lembut bibir Thalia yang membengkak. Dada wanita itu kembang kempis dengan mulut terkatup rapat. Sorot kemarahan netra pekat itu membuat Banyu terkekeh manis.

"Jangan menatap saya seperti itu. Amarahmu itu bisa membangkitkan gairah saya."

"Bangsat!" umpat Thalia dengan tajam.

"Kamu yang membuat saya seperti ini. Kamu yang memulai semuanya, Thalia. Dasar gadis kecil! Berani-beraninya kamu memainkan perasaan saya!" Banyu melonggarkan ikatan dasinya.

Tiba-tiba terdengar deringan dari tas kecil Thalia. Tanpa menghiraukan lirikan tajam Bhumi, Thalia segera meraih ponselnya.

"Iya, Jul. Tunggu ya. Sebentar lagi." Panggilan tersebut ia putuskan secara sepihak. Thalia pun segera merapikan penampilannya yang berantakan akibat ulah Bhumi.

Saat tangannya hendak menggapai handel pintu mobil, tangan Bhumi lebih dulu berada di sana.

"Kamu pulang bersama saya." Nada rendah nan tegas itu adalah isyarat bahwa keputusan itu sama sekali tidak bisa dinego.

"Gila! Yang ada selingkuhan kamu itu bakal ngamuk!" Thalia tersenyum tipis, begitu sinis dan terlihat angkuh. "Untuk sekarang, urus saja urusan kita masing-masing, ya, Tuan Bhumi yang terhormat."

Sial! Bhumi melupakan bahwa tadi ia datang bersama Adelia

Thalia kemudian mendorong tubuh Bhumi dengan mudah. Wanita itu jelas tahu bahwa Adelia adalah kelemahan Bhumi. Ah, pria itu bahkan tidak pernah membiarkan Adelia terluka sedikitpun. Sekalipun sosok berwajah malaikat itu memiliki sifat kejam seperti iblis.

Tapi mereka memang cocok. Iblis dengan iblis, pantas saja hubungan mereka awet.

***

"Are you okay?"

Thalia berdeham, lalu mengangguk. "Santai Jul. Jangan tegang begitu. Kayak nggak pernah lihat Bhumi ngamuk aja," kekehnya ringan.

Julia menghela napasnya. Matanya jelas menatap Thalia dengan cemas. Apalagi saat matanya menangkap bekas kemerahan di pergelangan tangan Thalia serta pakaiannya yang tidak serapi tadi. Apalagi bibirnya yang terlihat bengkak dan pucat.

Tiba-tiba Julian menginjak rem. Thalia menatapnya bingung seiring dengan tatapan Thalia yang kemudian menyapu area sekitarnya. Posisi mereka masih jauh dari tempat putrinya berada.

"Rapikan riasanmu. Jemia bisa khawatir Mamanya datang sepucat ini," saran Julian dengan nada cemas.

"Aah, iya. Sebentar." Thalia kemudian merogoh lipstik dari tas kecilnya. Menggunakan cermin kecil yang selalu ia bawa, Thalia kemudian merapikan riasannya. "Gimana? Udah cantik belum?" Wanita itu menoleh ke arah Julian.

Julian hendak mengusap kepala Thalia, tetapi dengan cepat wanita itu menghindar. Julian tertawa pelan. Kemudian menggaruk kepalanya yang tak benar-benar gatal.

"Semenjak jadi istri Bhumi kamu menghindar kontak fisik denganku, ya?"

Mata Thalia menyipit ke arah Julian. Tangannya menepuk lengan Julian pelan.

"Baper banget sih Jul," gurau Thalia.

Julian pura-pura merajuk. Namun, tak urung ia kembali melajukan mobil membelah jalanan.

"Bhumi masih belum tahu tentang Jemia?"

Thalia menghela napasnya. Lalu menggeleng pelan. "Dia nggak perlu tahu. Toh dia sebenarnya nggak mau punya anak. Dia hanya mau pewaris keluarganya. Cukup aku yang dijadikan alat untuk harta dan kekuasaan. Anakku jangan. Jemia terlalu berharga untuk dijadikan alat Bhumi sebagai syarat dia naik tahta."

Bayangan tentang Bhumi yang menghibur Adelia lima tahun lalu masih begitu Thalia ingat. Tentang bagaimana niat licik pria itu untuk menjadikan calon anak mereka sebagai syarat Bhumi menjadi CEO perusahaan keluarganya. Kalau saja Thalia tidak mengetahui itu, mungkin Thalia tidak akan menciptakan skenario yang membuat Bhumi sangat membencinya hingga sekarang.

"Kamu tidak cemburu melihat Bhumi dengan Adelia? Yaa, terbersit sedikit rasa mungkin."

Thalia tertawa keras. "Jangan membual, Jul. Nggak ada cinta di antara kami berdua. Dia lebih cocok dengan perempuan ular itu daripada aku."

Akhirnya mereka pun sampai di rumah minimalis yang tampak asri. Di sekitar perkarangan, terdapat banyak tanaman yang begitu memanjakan mata. Thalia segera turun, begitu pula Julian.

"Mamaa!"

Thalia baru saja turun dari mobil saat mendengar suara riang anak perempuan memanggilnya dari dalam rumah.

Thalia segera berjongkok menyambut putri kecilnya itu.

"Mia kangen...." lirih anak itu sembari memeluk Thalia. Tangan mungilnya memeluk leher Thalia dengan erat.

Wajah sumringah Thalia mendadak pudar, bergantikan wajah cemas. Satu tangannya lalu mendarat di kening Jemia.

Tak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya ikut keluar dari rumah. "Non Mia sakit, Bu. Dari subuh badannya panas. Tadinya dia lagi istirahat, tapi pas dengar suara mobil dia langsung lari ke sini."

Julian ikut memeriksa kondisi Jemia. "Mau dibawa ke rumah sakit, Tha?"

"Mia nggak mau ke sana. Maunya disini aja. Tapi sama Mama." Anak dengan surai ikal panjang hingga pinggang itu menggeleng cepat. Dekapannya semakin mengerat di leher Thalia.

Thalia dan Julian saling melempar tatap. Saat Julian mengangguk, barulah Thalia ikut mengangguk.

"Mia dengan Bibi dulu, ya. Mama mau bicara dengan Om Julian."

Anak itu sebenarnya enggan. Namun, melihat kode dari Julian akhirnya ia mengangguk. Kemudian segera beralih ke dekapan Bi Asih.

Ponsel Thalia tiba-tiba berdering. Awalnya Thalia ingin mengabaikan itu. Namun, deringan itu semakin gencar terdengar.

Kontak dengan nama Pria Iblis muncul. Deringan itu berhenti. Namun, sebuah pesan muncul di notifikasi.

Pulang sekarang atau saya benar-benar akan mengurungmu di rumah setelah ini.

*

*

*

Mohon dukungannya ya. Menurut kalian, Bhumi bagusnya diapain? 🤣

Terpopuler

Comments

Teti Hayati

Teti Hayati

Diketok kepaalanya aja biar sadar, itu pun masih terlalu ringan kayaknya...

2025-11-09

1

Suhainah Haris

Suhainah Haris

Bumi di hanguskan aja kak

2025-11-09

1

Teti Hayati

Teti Hayati

Bhumi ka, Banyu lagi buciin2nya sama Haura.... 🤭

2025-11-09

2

lihat semua
Episodes
1 HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2 ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3 DOMINASI RASA KEBENCIAN
4 ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5 KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6 PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7 GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8 BUKAN KARENA THALIA
9 JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10 PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11 SIAPA DIA?
12 TIDAK SUKA OM GALAK!
13 PARFUM ANAK-ANAK
14 ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15 SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16 TINGGALKAN DIA, THA
17 JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18 DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19 KABAR MENGEJUTKAN
20 NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21 HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22 PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23 AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24 PENOLAKAN PERTAMA
25 PENOLAKAN KEDUA
26 SAKIT TAK BERDARAH
27 MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28 KEALPAAN KEHADIRAN
29 MENCIPTAKAN MOMEN
30 TERSISIH
31 TITIK RASA CEMBURU
32 KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33 MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34 THALIA ISTRI SAYA
35 DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36 MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37 SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38 KEDATANGAN PENGGANGGU
39 DETIK-DETIK
40 TALI DI AMBANG PUTUS
41 DETIK-DETIK
42 PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43 PINDAH
44 PERTANYAAN JEMIA
45 BUKAN UPDATE
46 RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47 BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48 RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49 TAK SEREMEH ES KRIM
50 MODUS
51 RATU PICKME BERAKSI
52 AJI TUKANG PROVOKASI
53 GOSIP MURAHAN
54 GOSIP MURAHAN (2)
55 HADIR BERSAMA
56 PENGUMUMAN
57 ITU ADELIA
58 RENCANA AWAL
59 RUMAH TAK DIRINDUKAN
60 DIHANTAM KENYATAAN
61 BHUMI RANDOM
62 APA YANG KAMU TAHU?
63 TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64 CIUM DULU!
65 INI MEMALUKAN SEKALI
66 KABAR DARI DANU
67 KETAKUTAN ADELIA
68 PERTANYAAN HATI
69 TAK SETARA
70 DUA KABAR
71 PERGILAH SEKARANG!
72 HADIAH ISTIMEWA
73 KEBERANIAN
74 MENDEKATI KEHANCURAN
75 KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76 LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77 KERISAUAN HATI
78 SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79 DUA TITIK BERBEDA
80 TAMU ANEH
81 ANAK HARAM
82 DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83 KABAR BURUK
84 PERTENGKARAN
85 DIKHIANATI, LAGI
86 TERJADI BERSAMAAN
87 PERGI
88 BERDUKA DAN KABAR LAIN
89 DITANGKAP
90 KENYATAAN PAHIT
91 TAK BAIK-BAIK SAJA
92 TENTANG SEBUAH FAKTA
93 HILANGNYA KERAGUAN
94 KEMARAHAN
95 RODA BERPUTAR
96 PESAN TAK BERNAMA
97 PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98 MENDADAK VIRAL
99 JULIAN SIALAN!
100 BEBAS!
101 DARAH
102 SESAL DAN CEMBURU
103 RENCANA SELANJUTNYA?
104 SUDAH TAHU SEJAK AWAL
Episodes

Updated 104 Episodes

1
HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2
ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3
DOMINASI RASA KEBENCIAN
4
ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5
KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6
PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7
GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8
BUKAN KARENA THALIA
9
JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10
PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11
SIAPA DIA?
12
TIDAK SUKA OM GALAK!
13
PARFUM ANAK-ANAK
14
ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15
SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16
TINGGALKAN DIA, THA
17
JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18
DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19
KABAR MENGEJUTKAN
20
NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21
HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22
PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23
AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24
PENOLAKAN PERTAMA
25
PENOLAKAN KEDUA
26
SAKIT TAK BERDARAH
27
MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28
KEALPAAN KEHADIRAN
29
MENCIPTAKAN MOMEN
30
TERSISIH
31
TITIK RASA CEMBURU
32
KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33
MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34
THALIA ISTRI SAYA
35
DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36
MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37
SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38
KEDATANGAN PENGGANGGU
39
DETIK-DETIK
40
TALI DI AMBANG PUTUS
41
DETIK-DETIK
42
PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43
PINDAH
44
PERTANYAAN JEMIA
45
BUKAN UPDATE
46
RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47
BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48
RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49
TAK SEREMEH ES KRIM
50
MODUS
51
RATU PICKME BERAKSI
52
AJI TUKANG PROVOKASI
53
GOSIP MURAHAN
54
GOSIP MURAHAN (2)
55
HADIR BERSAMA
56
PENGUMUMAN
57
ITU ADELIA
58
RENCANA AWAL
59
RUMAH TAK DIRINDUKAN
60
DIHANTAM KENYATAAN
61
BHUMI RANDOM
62
APA YANG KAMU TAHU?
63
TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64
CIUM DULU!
65
INI MEMALUKAN SEKALI
66
KABAR DARI DANU
67
KETAKUTAN ADELIA
68
PERTANYAAN HATI
69
TAK SETARA
70
DUA KABAR
71
PERGILAH SEKARANG!
72
HADIAH ISTIMEWA
73
KEBERANIAN
74
MENDEKATI KEHANCURAN
75
KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76
LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77
KERISAUAN HATI
78
SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79
DUA TITIK BERBEDA
80
TAMU ANEH
81
ANAK HARAM
82
DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83
KABAR BURUK
84
PERTENGKARAN
85
DIKHIANATI, LAGI
86
TERJADI BERSAMAAN
87
PERGI
88
BERDUKA DAN KABAR LAIN
89
DITANGKAP
90
KENYATAAN PAHIT
91
TAK BAIK-BAIK SAJA
92
TENTANG SEBUAH FAKTA
93
HILANGNYA KERAGUAN
94
KEMARAHAN
95
RODA BERPUTAR
96
PESAN TAK BERNAMA
97
PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98
MENDADAK VIRAL
99
JULIAN SIALAN!
100
BEBAS!
101
DARAH
102
SESAL DAN CEMBURU
103
RENCANA SELANJUTNYA?
104
SUDAH TAHU SEJAK AWAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!