Cinta Atau Dendam, Suamiku?

Cinta Atau Dendam, Suamiku?

HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA

“Habis menjual diri di mana kamu?” 

Thalia menoleh ke sumber suara. Ia baru sampai di ruang tamu. Sosok tinggi menjulang itu kini menatapnya dengan tatapan menusuk. Rahangnya mengetat. Perlahan pria yang sudah lima bulan ini resmi menjadi suaminya melangkah menghampirinya. 

“Aku capek. Lagi nggak mood berdebat sama kamu.” Thalia berkata jujur. Meski rasa lelahnya tertutupi dengan wajah tenang itu, tetapi sorot matanya benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang enggan menghadapi pria itu. 

Bhumi Satya Dirgantara - pria berusia 35 tahun itu terkekeh. Senyum tipisnya itu terkesan meremehkan wanita mungil di hadapannya. 

“Capek melayani para pria itu?” 

Thalia tidak terkejut lagi dengan beragam tuduhan Bhumi padanya. “Terserah kamu mau berpikir apa. Aku mau ke kamar.” 

Namun, langkah kaki Thalia kalah cepat dengan cekalan tangan Bhumi. Pria itu menarik tangan Thalia hingga membuat tubuh mungil itu menabrak dadanya. Tangannya juga dengan erat merengkuh pinggang Thalia. Matanya menatap netra lelah wanita itu dengan tajam. 

“Jangan sekarang, Bhumi. Aku sedang-mppht!” Tangan Thalia terus mendorong dada Bhumi agar pria itu melepaskan ciumannya.

Namun, bukannya melepaskan itu, Bhumi semakin gencar menyentuh bibir Thalia. Ia benci cara Thalia memanggilnya dengan nama seperti itu. Wanita keras kepala ini harus diberi pelajaran agar berhenti memancing emosi Bhumi.

Saat melihat Thalia sudah mulai kesulitan bernapas, barulah Bhumi melepaskan pagutannya. Bhumi kembali tersenyum tipis saat melihat kemarahan di mata Thalia. Ia benci Thalia yang tenang. 

“Brengsek!” umpat Thalia sembari mengatur napasnya. 

“Jangan memancing emosi saya, Thalia,” sahut Bhumi tenang. Namun, matanya menyiratkan betapa ia menyukai cara Thalia menatapnya.

Angkuh dan penuh amarah. Bagaimanapun, Bhumi tidak akan membiarkan Thalia hidup tenang. Wanita berambut cokelat gelap ini harus membayar apa yang sudah terjadi lima tahun yang lalu. 

Lima tahun yang lalu, untuk pertama kalinya harga diri Bhumi terasa ditelanjangi oleh Thalia yang saat itu masih menginjak bangku kuliah.

Bhumi tidak bisa memaafkan itu. Terlebih saat mengetahui Thalia dengan tenang menyatakan sudah menghilangkan seseorang yang Bhumi nantikan kehadirannya.

“Kamu memang brengsek! Kamu gila!” umpat Thalia lagi sembari mengusap bibirnya dengan kasar.

Tangan besar Bhumi menahan tangan Thalia. Ia kemudian kembali mengecup bibir Thalia, kali ini lebih lembut. Setelah itu, ibu jarinya mengusap lembut bibir mungil Thalia yang memerah karena ulahnya.

“Jangan memperlakukan kesayangan saya sekasar itu, Thalia. Ingat. Apa yang ada pada dirimu itu sudah menjadi hak saya. Bahkan tubuhmu ini. Jadi, jangan membiarkan mereka terluka sedikit pun.” 

Kedua tangan Thalia mengepal di kedua sisi tubuhnya. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak meludah tepat di wajah Bhumi saat ini. 

Bhumi mengusap rahang Thalia. Mata tajamnya itu memindai wajah Thalia. “Saya akan bermurah hati kepadamu malam ini. Istirahatlah sekarang.” 

Setelah mengatakan itu, Bhumi segera melangkah menjauh. Kakinya terayun lebih dulu menuju anak tangga. Meninggalkan Thalia yang masih berdiri menatap Bhumi dengan penuh kebencian. 

“Kalau bukan karena Om Danu. Aku tidak akan sudi menginjakkan kaki di sini dan menberikan diriku kepada manusia seperti Bhumi,” gumamnya pelan. Tali tasnya sudah ia remas sekuat mungkin. 

“Jangan terlalu lama di sana, Thalia. Istirahat sekarang. Kecuali kalau kamu memang ingin saya menyentuhmu saat ini juga.” 

Suara berat penuh ejekan itu menyadarkan Thalia. Wajahnya terangkat dan tepat di atasnya, Bhumi sedang tersenyum penuh kemenangan padanya. Setelah itu, barulah Thalia bisa melihat pria itu masuk ke ruang pribadinya.

Thalia tidak punya pilihan sekarang. Keputusan yang ia putuskan beberapa bulan lalu membuatnya harus rela terikat dengan Bhumi. Meski kenyataannya pria tampan itu tak lebih baik dari seorang bajingan. Ia hanya datang kepada Thalia saat dirinya minta dipuaskan. 

...***...

Thalia merasakan ada yang aneh dari lehernya. Hembusan hangat dan sentuhan sesuatu yang kenyal itu membuat Thalia pun terbangun. Tidak hanya itu, ia juga bisa merasakan terdapat tangan lain yang sedang menyentuh tubuhnya. 

Tanpa harus bersuara, Thalia mengenali aroma ini. Aroma memuakkan yang menjadi mimpi buruk bagi Thalia. 

“Sekarang, Thalia. Saya sudah berbaik hati semalam. Sekarang puaskan saya,” ucap Bhumi dengan suara serak tepat di ceruk leher Thalia. 

Pria itu tanpa peduli kemudian meninggalkan tanda kepemilikannya di leher putih Thalia. Sentuhan itu memang membuat Thalia benci setengah mati. Namun, kebencian dirinya pada Bhumi tak lebih banyak benci Thalia pada tubuhnya sendiri. 

“Jangan di situ. Aku ada pemotretan hari ini.” Thalia hendak menghindar agar Bhumi berhenti memberi tanda di lehernya, tetapi tenaganya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan tenaga tangan Bhumi yang memeluknya erat. 

“Kamu tidak berhak mengatur saya. Ingat, tubuhmu itu milik saya. Sudah saya beli dengan harga yang mahal pada papimu.” 

Thalia terdiam. Mengingat fakta itu membuat hatinya dipenuhi dendam kepada ayahnya sendiri. Kenyataan itu juga yang membuat Thalia menerima saja perlakuan Bhumi padanya. Ia tidak lagi menolak sentuhan suami yang sangat ia benci ini. 

Waktu terus berjalan. Beberapa jam kemudian, barulah Bhumi menjauh dari Thalia. Pria itu segera melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan Thalia dengan tubuh polos yang terasa remuk karena sentuhan gila Bhumi. 

Thalia berusaha menggapai pinggiran selimut untuk menutupi tubuhnya. Jika begini, rasanya tidak mungkin ia sanggup melakukan pemotretan hari ini. Thalia lalu berusaha menggapai ponsel yang berada di nakas. Tidak berada jauh dari tempat tidur. 

Namun, sebelum ia berhasil mendapatkan ponselnya, Bhumi lebih dulu menggapai ponsel itu. Ia kemudian memberikannya kepada Thalia. 

“Mandi dulu. Bukannya ada pemotretan hari ini?” 

Thalia mendengus kesal. Ia mengabaikan Bhumi yang masih memakai handuk itu. Thalia tidak menjawab apapun. Jemarinya fokus memberi tahu asistennya bahwa ia mungkin akan sedikit terlambat. 

Saat Thalia sedang fokus, tiba-tiba ia merasa tubuhnya terangkat. Matanya terbelalak karena terkejut. Kini ia sudah berada dalam gendongan Bhumi.

“Turunkan, Bhumi!” pekik Thalia memukul pundak Bhumi agar menurunkannya.

“Kamu harus bersih-bersih sekarang. Biar saya bantu.” Bhumi menjawab tenang. 

“Enggak! Aku nggak mau.” Thalia reflek memeluk selimut yang menutupi tubuh polosnya. “Sana pergi!” 

Bhumi tidak bereaksi apapun. Lagipula tangan mungil Thalia itu tidak akan memberi efek sakit pada tubuhnya. Bhumi memilih abai dengan Thalia yang masih memberontak. 

Sesampainya di kamar mandi, Bhumi segera menurunkan Thalia. Ponsel yang tadi masih digenggam Thalia pun ia letakkan di atas meja dekat wastafel. Saat tangan pria itu hendak melepas selimut yang membungkus tubuh Thalia, tangan mungil itu menepis tangan Bhumi. 

“Aku bisa sendiri. Kamu bisa pergi.” Thalia memalingkan pandangannya ke arah lain. 

Bhumi bisa saja memaksa Thalia. Namun, pagi ini Bhumi harus menjemput Adelia di bandara. Berdebat dengan Thalia akan membutuhkan waktu yang lama. 

“Baiklah. Saya pergi dulu. Nanti Aji akan mengantarkan kamu ke studio.” Bhumi kemudian mengecup kening Thalia dengan lembut  “Jangan lupa minum pil kontrasepsinya,” bisiknya kemudian. 

Thalia memilih diam. Meskipun keinginan untuknya menyumpah serapah Bhumi begitu kuat. 

“Tetap menurut seperti ini, Thalia. Saya suka.” 

Thalia mendengus kesal. Begitu Bhumi keluar kamar mandi, Thalia segera mengusap kasar keningnya. 

“Aku tidak peduli kamu suka atau tidak Bhumi sialan.” Thalia menatap kesal bayangan dirinya dari cermin. Bahunya langsung lemas saat melihat banyaknya tanda merah di leher dan sekitar dadanya. “Bhumi sialan! Aargh…!” 

Tiba-tiba deringan ponselnya membuat Thalia menoleh. Wanita itu menahan rasa sakit di bagian inti tubuhnya. Kakinya terayun pelan. Tangannya segera meraih ponsel yang berdering tersebut.

Barulah Thalia menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga, suara riang dari seberang langsung menyambutnya.

“Mama, Jemia kangen….” 

*

*

*

Hai hai, kembali lagi dengan aku. Semoga gak bosan ya. Kali ini mungkin agak berat ya dari yang biasanya.

Mohon dukungannya ya, Kakak-kakak :)

 

Terpopuler

Comments

Teti Hayati

Teti Hayati

Pantas agak lain judulnya juga..
bau-baunya bakalan penuh perang emosi disini... 🤭
Selamat untuk karya barunya yg lebih banyak tantangan kayaknya..

2025-11-09

2

Uthie

Uthie

Awal mampir yg langsung Sukkaaa 👍👍👍

2025-11-24

0

🐨

🐨

mampir thor

2026-06-03

0

lihat semua
Episodes
1 HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2 ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3 DOMINASI RASA KEBENCIAN
4 ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5 KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6 PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7 GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8 BUKAN KARENA THALIA
9 JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10 PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11 SIAPA DIA?
12 TIDAK SUKA OM GALAK!
13 PARFUM ANAK-ANAK
14 ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15 SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16 TINGGALKAN DIA, THA
17 JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18 DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19 KABAR MENGEJUTKAN
20 NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21 HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22 PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23 AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24 PENOLAKAN PERTAMA
25 PENOLAKAN KEDUA
26 SAKIT TAK BERDARAH
27 MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28 KEALPAAN KEHADIRAN
29 MENCIPTAKAN MOMEN
30 TERSISIH
31 TITIK RASA CEMBURU
32 KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33 MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34 THALIA ISTRI SAYA
35 DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36 MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37 SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38 KEDATANGAN PENGGANGGU
39 DETIK-DETIK
40 TALI DI AMBANG PUTUS
41 DETIK-DETIK
42 PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43 PINDAH
44 PERTANYAAN JEMIA
45 BUKAN UPDATE
46 RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47 BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48 RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49 TAK SEREMEH ES KRIM
50 MODUS
51 RATU PICKME BERAKSI
52 AJI TUKANG PROVOKASI
53 GOSIP MURAHAN
54 GOSIP MURAHAN (2)
55 HADIR BERSAMA
56 PENGUMUMAN
57 ITU ADELIA
58 RENCANA AWAL
59 RUMAH TAK DIRINDUKAN
60 DIHANTAM KENYATAAN
61 BHUMI RANDOM
62 APA YANG KAMU TAHU?
63 TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64 CIUM DULU!
65 INI MEMALUKAN SEKALI
66 KABAR DARI DANU
67 KETAKUTAN ADELIA
68 PERTANYAAN HATI
69 TAK SETARA
70 DUA KABAR
71 PERGILAH SEKARANG!
72 HADIAH ISTIMEWA
73 KEBERANIAN
74 MENDEKATI KEHANCURAN
75 KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76 LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77 KERISAUAN HATI
78 SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79 DUA TITIK BERBEDA
80 TAMU ANEH
81 ANAK HARAM
82 DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83 KABAR BURUK
84 PERTENGKARAN
85 DIKHIANATI, LAGI
86 TERJADI BERSAMAAN
87 PERGI
88 BERDUKA DAN KABAR LAIN
89 DITANGKAP
90 KENYATAAN PAHIT
91 TAK BAIK-BAIK SAJA
92 TENTANG SEBUAH FAKTA
93 HILANGNYA KERAGUAN
94 KEMARAHAN
95 RODA BERPUTAR
96 PESAN TAK BERNAMA
97 PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98 MENDADAK VIRAL
99 JULIAN SIALAN!
100 BEBAS!
101 DARAH
102 SESAL DAN CEMBURU
103 RENCANA SELANJUTNYA?
104 SUDAH TAHU SEJAK AWAL
Episodes

Updated 104 Episodes

1
HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2
ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3
DOMINASI RASA KEBENCIAN
4
ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5
KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6
PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7
GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8
BUKAN KARENA THALIA
9
JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10
PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11
SIAPA DIA?
12
TIDAK SUKA OM GALAK!
13
PARFUM ANAK-ANAK
14
ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15
SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16
TINGGALKAN DIA, THA
17
JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18
DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19
KABAR MENGEJUTKAN
20
NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21
HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22
PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23
AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24
PENOLAKAN PERTAMA
25
PENOLAKAN KEDUA
26
SAKIT TAK BERDARAH
27
MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28
KEALPAAN KEHADIRAN
29
MENCIPTAKAN MOMEN
30
TERSISIH
31
TITIK RASA CEMBURU
32
KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33
MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34
THALIA ISTRI SAYA
35
DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36
MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37
SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38
KEDATANGAN PENGGANGGU
39
DETIK-DETIK
40
TALI DI AMBANG PUTUS
41
DETIK-DETIK
42
PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43
PINDAH
44
PERTANYAAN JEMIA
45
BUKAN UPDATE
46
RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47
BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48
RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49
TAK SEREMEH ES KRIM
50
MODUS
51
RATU PICKME BERAKSI
52
AJI TUKANG PROVOKASI
53
GOSIP MURAHAN
54
GOSIP MURAHAN (2)
55
HADIR BERSAMA
56
PENGUMUMAN
57
ITU ADELIA
58
RENCANA AWAL
59
RUMAH TAK DIRINDUKAN
60
DIHANTAM KENYATAAN
61
BHUMI RANDOM
62
APA YANG KAMU TAHU?
63
TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64
CIUM DULU!
65
INI MEMALUKAN SEKALI
66
KABAR DARI DANU
67
KETAKUTAN ADELIA
68
PERTANYAAN HATI
69
TAK SETARA
70
DUA KABAR
71
PERGILAH SEKARANG!
72
HADIAH ISTIMEWA
73
KEBERANIAN
74
MENDEKATI KEHANCURAN
75
KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76
LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77
KERISAUAN HATI
78
SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79
DUA TITIK BERBEDA
80
TAMU ANEH
81
ANAK HARAM
82
DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83
KABAR BURUK
84
PERTENGKARAN
85
DIKHIANATI, LAGI
86
TERJADI BERSAMAAN
87
PERGI
88
BERDUKA DAN KABAR LAIN
89
DITANGKAP
90
KENYATAAN PAHIT
91
TAK BAIK-BAIK SAJA
92
TENTANG SEBUAH FAKTA
93
HILANGNYA KERAGUAN
94
KEMARAHAN
95
RODA BERPUTAR
96
PESAN TAK BERNAMA
97
PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98
MENDADAK VIRAL
99
JULIAN SIALAN!
100
BEBAS!
101
DARAH
102
SESAL DAN CEMBURU
103
RENCANA SELANJUTNYA?
104
SUDAH TAHU SEJAK AWAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!