ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA

Mobil Julian berhenti tepat di depan rumah Bhumi. Thalia hendak keluar. Namun, Julian mencekal pergelangan tangannya. Wajah pria itu menyiratkan kekhawatiran. Thalia tersenyum. Ia mengerti mengapa Julian cemas. Akan tetapi, ia pun tahu apa yang harus ia lakukan.

Sejak awal tujuannya hanya satu. Melindungi orang-orang terdekatnya.

"Santai, Jul. Biasanya jam segini Bhumi tidak ada di rumah. Sudah jam kantor."

Julian menghela napasnya. Berharap kelegaan segera menghampiri hatinya. Namun, bukannya tenang, kecemasan itu semakin terasa.

Sejak Thalia memutuskan untuk kembali masuk ke hidup Bhumi, sejak itulah Julian paham bahwa hidup wanita ini tidak baik-baik saja. Ketenangan di wajah cantik itu hanya topeng.

"Ya sudah. Aku akan pergi begitu kamu masuk."

Thalia mengangguk. "Terima kasih."

Julian mengangguk pula. Tak lama setelah itu, barulah Thalia segera turun dari mobil. Langkahnya begitu mantap. Wanita itu bahkan tak lupa melambaikan tangan pada Julian yang masih berada di dalam mobil.

Thalia segera masuk setelah itu. Saat persis pintu ditutup, ia memejamkan matanya sebentar, lalu menarik napas dalam. Saat sudah lebih tenang, barulah Thalia berbalik.

Bersamaan dengan itu, muncul juga iblis tampan pemilik rumah itu dari arah tangga.

Tampaknya ia sengaja menunggu kedatangan Thalia.

"Terlalu sibuk melayani pria berkedok sahabat, heh?! Sampai tidak pulang semalaman." Pria itu berjalan mantap menuju Thalia.

Wajahnya kaku, menyimpan kemarahan yang siap meledak.

"Kenapa? Bukannya kamu juga sibuk dengan selingkuhanmu itu?" balas Thalia sengit.

Bhumi terkekeh-senyum sinis. Ia berjalan sembari membuka kancing lengan kemejanya. Bahkan tanpa ragu ia gulung hingga ke siku. Tenang dan menakutkan.

Dua kancing atas yang sudah rapi itu juga ia buka kembali.

Meskipun tersenyum, mata Bhumi terlihat menakutkan. Kalau bukan karena sudah terbiasa melihat ekspresi menyeramkan itu, Thalia barangkali sudah gemetar karena takut.

"Adelia bukan selingkuhan saya. Jaga bicaramu!"

Thalia mengulas senyum tipis. "Kenyataannya dia memang lebih terlihat seperti selingkuhan. Bisa-bisanya ia bertahan dengan pria sepertimu tanpa kepastian."

Tangan Bhumi mencengkram rahang Thalia. Wanita itu meringis sebentar. Aura dominan Bhumi begitu terasa apalagi saat jaraknya sedekat ini.

"Dia bahkan lebih baik dari kamu, Jalang Kecil," desis Bhumi tepat di telinga Thalia. Lalu ia menghirup aroma manis tubuh Thalia. Matanya terpejam sesaat.

Sialan! Aroma vanila dengan peach ini membuat gairahnya muncul.

Kedua tangan Thalia terkepal di kedua sisi dressnya. Sekuat tenaga ia menahan sakit karena cengkeraman Bhumi semakin menekan rahangnya.

"Berapa kali pelepasan kalian lewati semalam, hmmh?" bisik pelan Bhumi kemudian dengan kabut gairahnya mencium daun telinga Thalia.

"Aagh....!" Sialan! Thalia merutuki mulutnya yang tanpa sengaja mengeluarkan desahan karena sentuhan bibir Bhumi di telinganya-titik sensitifnya.

Bhumi terkekeh. Ia kemudian menatap netra Thalia. Begitu dekat hingga kening mereka saling menempel. Satu tangannya menahan pinggang ramping Thalia, sementara tangan yang satunya menelusuri wajah cantik Thalia. Dari pipi, rahang hingga ke leher, tulang selangka dan bahu Thalia yang terbuka.

"Pria berkedok sahabatmu itu tampaknya tidak bisa memuaskan kamu, ya? Lihat saja, baru saya sentuh sedikit saja, kamu sudah mengeluarkan desahan."

Thalia memalingkan wajahnya. Rasa lelah tubuhnya masih sangat terasa. Apalagi semalam ia bergadang menemani Jemia di rumah sakit. Meskipun ada Julian yang membantu, tetapi layaknya anak yang lain, Jemia tidak ingin jauh dari Thalia sama sekali.

Dagu Thalia segera ditarik Bhumi. Netra obsidian pria itu menyelami netra hazel milik Thalia sekali lagi. Ada gurat kelelahan di sana. Bhumi membenci kenyataan Thalia yang rela lelah-lelah seperti ini hanya demi pria lain.

Tidak, ia sama sekali tidak cemburu. Namun, saat ini Thalia adalah miliknya. Ia sudah membayar banyak demi mendapatkan wanita keras kepala di depannya ini.

Barang miliknya tidak akan ia bagi dengan siapapun.

Mata Bhumi lalu beralih pada bibir ranum Thalia. Benda kenyal itu menggodanya.

"Puaskan saya pagi ini, Jalang Kecil," desis Bhumi.

Thalia membelalak. Tadinya ia mengira, ia akan dihadiahi dengan cambukan atau hukuman fisik lainnya, kecuali berhubungan badan. Memuaskan pria ini sama saja menambah remuk tubuhnya.

"Nikmati hukumanmu, Sayang." Bhumi langsung mengangkat tubuh mungil itu ke pundaknya. Tanpa peduli teriakan Thalia yang menggema sepanjang jalan menuju kamar.

...***...

"Hanya PT Mitra Sejahtera yang menolak penandatanganan, Pak. Padahal proyek sudah siap dilakukan."

Suasana di meeting room sore itu cukup tegang. Namun, Bhumi tidak setegang lainnya. Ia masih diam, menyimak dengan seksama saran dari beberapa penanggung jawab proyek perusahaan mereka.

"Apa perlu kita ancam mereka seperti perusahaan lain? Saya sudah mengumpulkan data-data yang bisa kita gunakan sebagai ancaman."

"Nah, saya sependapat dengan Pak Indra, Pak Bhumi. Khawatirnya mereka akan semakin menunda dan proyek kita jadi gagal."

"Tidak. Kita coba bujuk mereka lagi," tegas Banyu. "Berikan waktu satu minggu untuk mereka berpikir. Kalau masih menolak, baru pakai plan B."

Semua yang hadir rapat mengangguk. Jika Bhumi sudah berkata seperti itu, maka mereka tidak punya alasan untuk menolak.

"Rapat cukup sampai di sini. Terima kasih atas waktu kalian." Setelah itu, Bhumi keluar lebih dulu.

Langkah pria matang itu begitu mantap. Tatapannya dingin dan tegas. Dari sekedar penampilannya saja, orang sudah menilai bagaimana sepak terjang Bhumi dalam berbisnis. Aura kecerdasaan dan kewibawaannya begitu terasa. Tidak ada yang berani membalas tatapan tajamnya.

Kecuali satu orang, Thalia Puspita Hakim.

Jalang kecil yang lima tahun lalu berani mengusik ketenangannya. Menjadikannya sebagai alat balas dendam pada kakak tirinya sendiri, Adelia Nayyara.

Thalia, tiba-tiba saja Bhumi jadi teringat bahwa ia lupa menanyakan keadaan jalang kecil itu setelah ia gempur tadi pagi.

Bhumi segera masuk ke ruangannya, diikuti oleh Aji di belakangnya.

"Kamu sudah memberikan hadiah itu pada Thalia, Ji?"

Wajah Aji berubah tegang. Mata Bhumi dengan cepat mengenali ada yang tidak beres dari asisten pribadinya itu.

"Aji, saya akan sulit memaafkan kamu kalau sampai lupa memberikan itu ke Thalia. Dia ulang tahun semalam."

Lagi-lagi, Bhumi teringat dengan Thalia yang tidak menghiraukan pesannya kemarin. Berujung pada ketidakmunculan wanita itu meski Bhumi sudah berusaha mengancam Thalia.

Aji menggeleng. "Ampun, Pak. Hadiahnya sudah saya berikan ke Nona Thalia. Hanya saja..."

Mata Bhumi memicing curiga, menunggu Aji melanjutkan kalimatnya. Hingga akhirnya Aji mengangkat wajah dan menatapnya dengan penuh penyesalan.

"Nona Thalia menolak itu, Pak. Dia justru memberikannya pada saya. Katanya itu hadiah untuk Rena."

"Rena, adik kamu?" tanya Bhumi dan Aji mengangguk cepat. "Dia kenal Rena?"

"Mereka pernah sekali bertemu. Singkat. Saya saja kaget kalau ternyata Nona Thalia masih mengingat itu."

Bhumi tidak terlalu terkejut dengan fakta itu. Meski menyakitkan, hanya saja ia masih belum terbiasa dengan sifat dermawan jalang kecil miliknya itu.

"Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau dia ingin membeli perhiasan itu? Kenapa tiba-tiba ia menolak? Atau kamu membohongi saya?"

"Tidak, Pak. Nona Thalia itu mengatakannya sendiri pada Hanum saat mereka melihat katalog perhiasan."

Bhumi menyandarkan tubuhnya di kursi pribadinya. Diam-diam, tanpa sadar Bhumi tersenyum. Jalang kecil itu terlalu unik. Bisa-bisanya ia memberikan set perhiasan seharga 1 Miliyar itu dengan cuma-cuma pada orang yang baru ia temui satu kali.

"Kamu sudah menanyakan kabarnya pada Hanum?" tanya Bhumi hampir lupa menanyakan itu pada Aji.

Hanum-asisten rumah tangga yang merangkap sebagai teman Thalia di rumah itu adalah mata-mata yang siap memberi info apapun tentang Thalia.

Tentu saja atas perintah Bhumi.

"Nona Thalia sudah bangun beberapa menit yang lalu, Pak. Hanya saja dia terlihat sibuk dengan ponselnya sejak tadi. Sibuk menelpon seseorang. Terkadang ia senyum, tetapi setelah itu ia kembali murung."

"Murung?" Kedua alis Bhumi menukik. Ia tidak tahu apa yang membuat Thalia bersedih. Seingat Bhumi meskipun perlakuan dirinya pada Thalia kurang baik, jalang kecil itu tidak pernah menunjukkan kesedihannya.

"Ada satu hal lagi, Pak!" seru Aji antusias. Namun, raut bingung juga nampak di wajahnya.

Bhumi menegakkan duduknya, menatap Aji tanpa ekspresi. "Apa itu?"

"Hanum mendengar suara anak kecil yang memanggil Nona Thalia dengan sebutan Mama."

*

*

*

Mohon dukungannya ya, Gaes. Jangan lupa kasih rating bagus ya. Terima kasih :)

Terpopuler

Comments

Teti Hayati

Teti Hayati

Aahh... jangan dulu kebongkar atuuh ka... masih kurang lama melihat kebodohohan Bhumi yg terus menyalahkan Thalia... 😂..
biaar nyeseelnya berlapis-lapis, hingga ratusan kalo perlu... 😂😂

2025-11-09

1

SooYuu

SooYuu

Bhumi, Kak. Banyu mah punya Haura 😭

2025-11-21

1

Suhainah Haris

Suhainah Haris

penyesalanmu sudah mendekat Bumi,semoga hatimu siap menerima kejutan

2025-11-09

1

lihat semua
Episodes
1 HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2 ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3 DOMINASI RASA KEBENCIAN
4 ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5 KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6 PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7 GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8 BUKAN KARENA THALIA
9 JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10 PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11 SIAPA DIA?
12 TIDAK SUKA OM GALAK!
13 PARFUM ANAK-ANAK
14 ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15 SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16 TINGGALKAN DIA, THA
17 JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18 DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19 KABAR MENGEJUTKAN
20 NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21 HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22 PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23 AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24 PENOLAKAN PERTAMA
25 PENOLAKAN KEDUA
26 SAKIT TAK BERDARAH
27 MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28 KEALPAAN KEHADIRAN
29 MENCIPTAKAN MOMEN
30 TERSISIH
31 TITIK RASA CEMBURU
32 KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33 MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34 THALIA ISTRI SAYA
35 DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36 MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37 SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38 KEDATANGAN PENGGANGGU
39 DETIK-DETIK
40 TALI DI AMBANG PUTUS
41 DETIK-DETIK
42 PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43 PINDAH
44 PERTANYAAN JEMIA
45 BUKAN UPDATE
46 RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47 BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48 RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49 TAK SEREMEH ES KRIM
50 MODUS
51 RATU PICKME BERAKSI
52 AJI TUKANG PROVOKASI
53 GOSIP MURAHAN
54 GOSIP MURAHAN (2)
55 HADIR BERSAMA
56 PENGUMUMAN
57 ITU ADELIA
58 RENCANA AWAL
59 RUMAH TAK DIRINDUKAN
60 DIHANTAM KENYATAAN
61 BHUMI RANDOM
62 APA YANG KAMU TAHU?
63 TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64 CIUM DULU!
65 INI MEMALUKAN SEKALI
66 KABAR DARI DANU
67 KETAKUTAN ADELIA
68 PERTANYAAN HATI
69 TAK SETARA
70 DUA KABAR
71 PERGILAH SEKARANG!
72 HADIAH ISTIMEWA
73 KEBERANIAN
74 MENDEKATI KEHANCURAN
75 KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76 LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77 KERISAUAN HATI
78 SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79 DUA TITIK BERBEDA
80 TAMU ANEH
81 ANAK HARAM
82 DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83 KABAR BURUK
84 PERTENGKARAN
85 DIKHIANATI, LAGI
86 TERJADI BERSAMAAN
87 PERGI
88 BERDUKA DAN KABAR LAIN
89 DITANGKAP
90 KENYATAAN PAHIT
91 TAK BAIK-BAIK SAJA
92 TENTANG SEBUAH FAKTA
93 HILANGNYA KERAGUAN
94 KEMARAHAN
95 RODA BERPUTAR
96 PESAN TAK BERNAMA
97 PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98 MENDADAK VIRAL
99 JULIAN SIALAN!
100 BEBAS!
101 DARAH
102 SESAL DAN CEMBURU
103 RENCANA SELANJUTNYA?
104 SUDAH TAHU SEJAK AWAL
Episodes

Updated 104 Episodes

1
HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2
ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3
DOMINASI RASA KEBENCIAN
4
ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5
KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6
PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7
GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8
BUKAN KARENA THALIA
9
JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10
PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11
SIAPA DIA?
12
TIDAK SUKA OM GALAK!
13
PARFUM ANAK-ANAK
14
ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15
SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16
TINGGALKAN DIA, THA
17
JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18
DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19
KABAR MENGEJUTKAN
20
NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21
HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22
PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23
AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24
PENOLAKAN PERTAMA
25
PENOLAKAN KEDUA
26
SAKIT TAK BERDARAH
27
MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28
KEALPAAN KEHADIRAN
29
MENCIPTAKAN MOMEN
30
TERSISIH
31
TITIK RASA CEMBURU
32
KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33
MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34
THALIA ISTRI SAYA
35
DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36
MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37
SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38
KEDATANGAN PENGGANGGU
39
DETIK-DETIK
40
TALI DI AMBANG PUTUS
41
DETIK-DETIK
42
PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43
PINDAH
44
PERTANYAAN JEMIA
45
BUKAN UPDATE
46
RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47
BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48
RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49
TAK SEREMEH ES KRIM
50
MODUS
51
RATU PICKME BERAKSI
52
AJI TUKANG PROVOKASI
53
GOSIP MURAHAN
54
GOSIP MURAHAN (2)
55
HADIR BERSAMA
56
PENGUMUMAN
57
ITU ADELIA
58
RENCANA AWAL
59
RUMAH TAK DIRINDUKAN
60
DIHANTAM KENYATAAN
61
BHUMI RANDOM
62
APA YANG KAMU TAHU?
63
TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64
CIUM DULU!
65
INI MEMALUKAN SEKALI
66
KABAR DARI DANU
67
KETAKUTAN ADELIA
68
PERTANYAAN HATI
69
TAK SETARA
70
DUA KABAR
71
PERGILAH SEKARANG!
72
HADIAH ISTIMEWA
73
KEBERANIAN
74
MENDEKATI KEHANCURAN
75
KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76
LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77
KERISAUAN HATI
78
SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79
DUA TITIK BERBEDA
80
TAMU ANEH
81
ANAK HARAM
82
DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83
KABAR BURUK
84
PERTENGKARAN
85
DIKHIANATI, LAGI
86
TERJADI BERSAMAAN
87
PERGI
88
BERDUKA DAN KABAR LAIN
89
DITANGKAP
90
KENYATAAN PAHIT
91
TAK BAIK-BAIK SAJA
92
TENTANG SEBUAH FAKTA
93
HILANGNYA KERAGUAN
94
KEMARAHAN
95
RODA BERPUTAR
96
PESAN TAK BERNAMA
97
PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98
MENDADAK VIRAL
99
JULIAN SIALAN!
100
BEBAS!
101
DARAH
102
SESAL DAN CEMBURU
103
RENCANA SELANJUTNYA?
104
SUDAH TAHU SEJAK AWAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!