Bab 3

Cahaya matahari merambat pelan melalui celah tirai kamar, mengenai wajah Yumna yang masih pucat. Gadis itu membuka mata perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah semalaman ia menangis, padahal yang terjadi barulah beberapa jam sebelumnya.

Yumna mendapati dirinya kembali di kamarnya sendiri. Gaun pengantin putih yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan kini mengerut di tubuhnya, kusut. Bunga kecil yang dijahit di pinggir gaun tampak layu, sama seperti harapannya.

“Apa yang terjadi?” batin Yumna, menatap langit-langit kamar yang dikenali sejak kecil namun terasa begitu asing. “Kenapa aku ada di sini?”

Yumna mengangkat tubuhnya pelan. Kepalanya berputar sesaat. Lalu, ingatan kejadian di acara pernikahan menamparnya keras.

Suara bisik-bisak tamu undangan. Video itu panas, caci maki orang-orang, tatapan menghina dan merendahkan dirinya. Ekspresi kekecewaan dan kemarahan Azriel.

Kalimat paling menyakitkan yang pernah ia dengar dalam hidupnya. “Aku menceraikanmu.”

Pernikahan yang Yumna impikan selama bertahun-tahun hancur tidak sampai satu jam.

Yumna tertawa kecil. Sebuah tawa getir tanpa kebahagiaan, tanpa hidup.

“Lucu sekali,” gumam gadis itu hambar. “Seperti drama murahan saja dan aku pemeran utamanya. Pemeran antagonisnya, tepatnya.”

Yumna menyentuh dada kirinya, merasakan degup yang tak teratur. Rasa sakitnya tidak terlihat, tapi menghantam keras dari dalam, menyiksa setiap inci perasaannya.

Lima tahun ia bersama Azriel. Lima tahun mengenal perangainya. Lima tahun yakin laki-laki itu akan selalu memperjuangkannya. Ia tahu semua kesukaannya dan apa tidak disukai olehnya. Dia tahu cara Azriel tersenyum miring saat malu, tahu bagaimana suaranya berubah ketika kesal.

Namun, ternyata pria itu tidak mengenal dirinya.

Tidak cukup untuk percaya. Tidak cukup untuk mempertahankannya. Sungguh Yumna kecewa, merasa mencintainya seorang diri.

“Tanpa mencari tahu kebenarannya, kamu tega menghempaskan dan mencampakkan aku begitu saja, Azriel!” ucap Yumna pecah, emosinya bergetar. “Lima tahun itu apa? Apa aku hanya mainan saja?”

Yumna mengusap pipinya yang terasa lengket oleh sisa air mata dan make-up. Matanya perih. Tenggorokannya seperti tersumbat batu.

Kekecewaan Yumna bukan hanya kepada Azriel dan keluarganya, tetapi kepada keluarga sendiri juga begitu. Mereka semua langsung percaya apa yang terekam di dalam video itu adalah dirinya. Selama ini dia selalu menjaga kehormatannya, walau berpacaran dengan Azriel sejak zaman kuliah.

“Keluargaku sendiri ....” Yumna menghela napas panjang, getir merayap di dada. “Kenapa, kalian juga tidak percaya padaku?”

Yumna sudah menjaga kehormatannya bertahun-tahun, di era zaman anak muda berpacaran sudah berani tidur bareng pasangannya. Ia tahu batas dan bisa menahan diri. Ia tidak pernah melewati batas apa pun dengan Azriel. Bahkan godaan pun ia abaikan. Ia pikir itu membuatnya aman. Ia pikir itu membuat keluarganya percaya. Ternyata, keteguhan tidak ada nilainya dibanding satu video keji.

Yumna menggerakkan tubuhnya perlahan. Matanya sekilas melirik jam dinding. Pukul dua lewat sedikit.

“Sudah jam dua, aku belum salat.”

Yumna berdiri dengan langkah gontai.

Perlahan Yumna melepas hiasan pengantin dari rambutnya satu per satu. Jepit, pita, bunga kecil, semuanya jatuh ke lantai dengan bunyi halus, seperti cinta dan martabatnya yang berjatuhan. Ia membersihkan wajahnya di depan meja rias.

Ketika melihat ke cermin, Yumna terpaku. Wajah di cermin seperti bukan dirinya. Tidak ada lesung pipi. Tidak ada senyum yang biasa menghangatkan suasana. Tidak ada pipi merona yang selalu membuatnya tampak hidup. Yang ia lihat adalah gadis lain. Seseorang yang patah, kosong, dan kehilangan sesuatu.

Yumna membasuh wajahnya, berharap air bisa menghapus rasa sakit yang menggerogoti dadanya. Namun, tidak. Rasa itu tetap menancap.

Ketika Yumna membuka pintu kamar hendak menuju kamar mandi, sebuah bayangan berdiri di sana.

Zakia, sepupunya. Teman masa kecilnya. Orang yang hidup di rumah ini sama lamanya dengan dirinya. Ironis, karena keduanya tumbuh bersama namun Yumna selalu merasa ada jarak yang tidak bisa dijelaskan.

Walau sepupu, tetapi sejak kecil wanita itu tinggal dan dibesarkan di rumah ini. Alasannya karena mendiang ayah Zakia merupakan adik kandung ayahnya Yumna. Kewajiban Pak Yongki memenuhi segala kebutuhan, bahkan sampai mengurus Zakia sampai menikah nanti. Itu adalah titah dari neneknya Yumna, dahulu. Sementara ibu kandungnya Zakia menikah lagi dengan duda beranak tiga. 

“Aku turut berduka atas apa yang terjadi kepadamu hari ini.”

Suara Zakia terdengar datar. Ada simpati, tetapi juga ada tatapan samar, entah iba, entah sesuatu yang Yumna sulit baca.

“Ya.” Yumna mengangguk tipis, suaranya berat. “Mungkin ini sudah takdirku.”

Yumna menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada pahit yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. “Semoga saja takdir buruk selalu menyertai orang yang sudah berbuat jahat memfitnahku.”

Zakia mengernyit. “Kenapa kamu bicara seperti itu, Yumna? Jangan asal bicara, bisa saja ucapan itu berbalik kepadamu.”

Belum sempat Yumna membalas, suara berat tiba-tiba memotong percakapan mereka.

“Apa yang kamu ucapkan barusan?!”

Yumna menoleh.

Pak Yongki berdiri di ambang pintu ruang utama bersama Bu Yuniar. Wajah ayahnya merah karena marah. Ada lelah. Ada malu. Ada kemarahan yang menumpuk sejak pesta pernikahan berubah menjadi neraka pagi tadi.

Langkah Pak Yongki cepat menghampiri Yumna dan Zakia, diikuti oleh Bu Yuniar.

“Seharusnya kamu introspeksi diri dan bertaubat karena sudah melakukan zina!” teriak Pak Yongki.

Yumna membeku. Untuk sesaat ia tidak bisa bernapas.

“Sudah puluhan kali aku bilang, AYAH ....” balas Yumna suaranya meninggi tanpa bisa ditahan, “kalau wanita itu BUKAN AKU!”

Yumna merasa frustrasi karena keluarganya ikut menuduh dirinya. Tempat yang seharusnya memberi perlindungan dan kenyamanan, malah menambah beban mentalnya.

“Fitnah! Itu FITNAH!”

Namun, kemarahan Yumna tidak membuat ayahnya goyah. Sebaliknya—

PLAK!

Tamparan itu mendarat keras di pipi Yumna. Kepalanya terpelanting ke samping. Suara itu menggema di seluruh ruangan, memotong napas siapa pun yang mendengarnya.

Yumna mematung. Tangannya menyentuh pipinya yang panas membara.

“Ayah ....” ucap Yumna suaranya tercekat. “Ayah tega menampar aku?!”

Ini pertama kalinya Yumba ditampar dalam hidupnya. Pertama kalinya ayahnya menyentuhnya dengan kekerasan. Pertama kalinya ia merasa benar-benar tidak dianggap sebagai anak.

Zakia dan Bu Yuniar sampai shock. Mereka tidak mengira Pak Yongki akan melakukan hal itu.

Pak Yongki memang tipe ayah yang tegas dan keras kepala. Apalagi ketika mendidik Yugi dan Yumna. Jika melakukan kesalahan akan mendapatkan hukuman. Namun, hal itu tidak berlaku kepada Zakia. Alasannya karena memberi hukuman kepada Zakia, bukan haknya.

Pak Yongki menggenggam tangannya, seakan dirinya hampir kehilangan kendali.

“Itu karena kamu pantas mendapatkannya!”

Nada suara pria paruh baya itu meninggi, jelas ia dipenuhi amarah dan rasa malu yang meledak tak tertahankan.

“Ayah, sudah! Cukup!” Bu Yuniar memegang lengan suaminya. Ia berusaha menenangkan, tetapi tatapannya pada Yumna juga campuran kecewa dan pasrah.

Tangis Yumna pecah tanpa bisa dibendung.

“Aku tidak melakukan apa pun! Kenapa tidak ada yang percaya?! Kenapa semua orang menghakimiku tanpa pikir panjang?!”

“Kamu belum salat, kan?” Bu Yuniar berkata dengan suara lelah, mengabaikan pertanyaan putrinya. “Waktunya sudah mau habis, pergi salat, sana!”

Seolah itu saja solusi untuk rasa sakit yang menusuk dadanya. Seolah Yumna hanya perlu wudu agar tiba-tiba semua fitnah hilang.

Yumna mengusap air matanya, menahan suaranya agar tidak pecah lagi. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan melewati ayahnya, melewati Zakia, melewati ruangan-ruangan yang kini terasa lebih asing daripada rumah orang lain mana pun.

Langkah Yumna berat, tetapi hatinya lebih berat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yumna merasa bahwa rumah ini bukan lagi tempat untuk pulang.

Terpopuler

Comments

Atoen Bumz Bums

Atoen Bumz Bums

nggak enak banget ya kan melawan dosa diam aja dihardik terus giliran bertindak nanti dibilang durhaka.
udah nyakitin hati giliran udah tahu kenyataan baru minta maaf sebagai anak harus memaafkan rasanya nggak adil

2026-05-21

1

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

jika tryt itu fitnah . kelak semua akan menyesal... terutama Azriel...
dan saat itu tiba... kuharap Yumna jgn prnh akrab lg dg mrka. memaafkan tetap... jgn jd keluarga dekat lg .. smpe puas dg penyesalan mrka ..

2026-02-21

1

Syamsiar Samude

Syamsiar Samude

knapa Zaskia marah saat Yumna menyumpahi org yg memfitnahx apa dia jg suka Azriel smg Yumna kuat n sabar dan secptx terungkap kebenaranx, thor dipertemukan jodoh yg baik berkali lipat ya bt Yumna 😄

2026-01-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Karya Ramanda
92 Karya Ramanda ke-2
93 Karya Reni t
94 Karya Erma_Roviko
95 Karya Ridz
96 Karya Ayu Andila
97 Karya Ramanda
98 Muara Hati Azalea
99 Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar
100 Novel Misi
101 Karya Nita P
102 Penyesalan Suami
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Karya Ramanda
92
Karya Ramanda ke-2
93
Karya Reni t
94
Karya Erma_Roviko
95
Karya Ridz
96
Karya Ayu Andila
97
Karya Ramanda
98
Muara Hati Azalea
99
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar
100
Novel Misi
101
Karya Nita P
102
Penyesalan Suami

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!