Bab 5

Pagi itu, cahaya Subuh masih samar-samar menembus jendela ruang tamu. Udara dingin menempel lembut di kulit, tetapi tidak mampu menyejukkan hati Yumna yang sudah gelisah sejak malam. Ia duduk bersila di lantai, jemarinya saling menggenggam, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa.

Suara langkah kaki terdengar dari dapur. Ayah dan ibunya baru selesai salat Subuh. Yumna menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.

“Ayah … Ibu, aku mau pergi merantau,” ucap Yumna perlahan. Suaranya yang biasanya lembut kini terdengar tegas dan bulat.

Pak Yongki berhenti memasukkan sajadah ke lemari. Tatapannya datar, tidak terkejut, tetapi tidak juga antusias.

“Mau pergi ke mana, kamu?” tanyanya tanpa ekspresi, nada suaranya seperti menahan sesuatu yang tidak ingin ia munculkan.

Yumna menegakkan punggungnya. “Maunya ke seberang pulau, Yah. Biar tidak ada yang mengenaliku. Tapi, kalau takdir berkata lain, aku pasrah saja. Allah yang mengatur semuanya. Kita cuma bisa berencana, Allah yang menentukan.”

Kalimat itu adalah kalimat yang sering diucapkan Pak Yongki. Kini ia kembalikan pada pemiliknya.

Bu Yuniar langsung memutar badan ke arah Yumna. Matanya melebar, suaranya naik satu oktaf.

“Apa?! Kamu itu perempuan! Jangan pergi jauh-jauh!”

Yumna menatap ibunya tanpa gentar. Dulu mungkin ia akan mengecil, meringkuk, atau menangis. Tetapi itu dulu, sebelum dunia menamparnya terlalu keras.

“Kalau masih di sekitar kota ini,” balas Yumna, nadanya dingin, “sama saja bohong. Bukannya kalian tidak ingin nama baik keluarga ini tercoreng gara-gara aku?”

Sindirannya mendarat tepat sasaran. Ruangan seketika hening, diselimuti ketegangan yang tebal.

Selama hidupnya, Yumna adalah gadis penurut. Ia selalu mendengarkan nasihat, patuh pada aturan, dan berusaha tidak membuat masalah. Akan tetapi, luka lima hari lalu telah mengubah banyak hal dalam dirinya. Luka itu menyalakan bagian dirinya yang selama ini terpendam, keberanian untuk menentukan hidupnya sendiri.

Zakia dan Yugi hanya menunduk, duduk di sudut ruangan. Keduanya tidak berani bersuara, takut menyulut emosi ayah atau ibu.

Pak Yongki akhirnya duduk di kursi. “Kalau kamu sudah sampai tujuan, hubungi kami.”

Yumna mengangguk kecil. “Insya Allah, Ayah.”

Yumna bangkit dan merapikan tas gandong kecil yang sudah ia letakkan di dekat pintu sejak dini hari. “Aku harus berangkat sekarang sebelum kereta datang.”

Zakia akhirnya angkat suara. “Kamu mau naik kereta? Kenapa tidak naik bus saja?”

Yumna menatap sepupunya itu, tatapannya dingin dan menusuk. “Ya, terserah aku lah mau naik apa. Toh, aku nggak minta uang dari kamu.”

“Yumna! Jangan mulai!” bentak Yugi, kakaknya. “Zakia tanya begitu karena khawatir sama kamu!”

Yumna terkekeh, tetapi senyumannya getir. “Khawatir? Setelah semua yang terjadi?” Ia menggeleng. “Aku sudah besar, Kak. Aku tahu apa yang aku lakukan.”

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Semua hanya menatap punggungnya yang kini tampak lebih kurus dan tegar daripada sebelumnya.

Perjalanan jauh itu memakan waktu berjam-jam. Kereta melaju melewati sawah, bukit, dan kota-kota kecil yang asing. Yumna menatap ke luar jendela dan untuk pertama kalinya sejak skandal itu mencuat, ia menangis tanpa suara. Air matanya jatuh tanpa ia sadari, tertinggal di kaca yang dingin.

Ketika kereta akhirnya berhenti di stasiun besar ibukota, Yumna menapakkan kaki di tanah dengan tubuh limbung. Hiruk-pikuk ibukota menyambutnya, suara klakson, orang berlarian, pengumuman stasiun yang bergema. Semuanya terasa asing, namun melegakan.

Sejak awal, ia memang memilih ibukota karena sebelumnya ia mengirim banyak lamaran pekerjaan secara online. Salah satu perusahaan memanggilnya wawancara besok pagi. Hari ini ia harus mencari tempat tinggal.

Peluh membasahi pelipisnya ketika ia menyeret tas ke sebuah gang kecil dekat stasiun. Setelah mencari hampir satu jam, ia menemukan kosan murah yang masih tersisa satu kamar.

“Hah, capek juga,” ucap Yumna sambil mengusap wajahnya. “Untung dapat kosan murah. Semoga saja nggak ada orang rese di sini.”

Yumna merebahkan tubuh di kasur tipis itu. Dalam hitungan menit, ia tertidur karena kelelahan.

Pagi-pagi sekali, Yumna sudah berdiri di depan sebuah gedung tinggi dengan kaca yang memantulkan cahaya matahari. Di puncak gedung itu, terpampang tulisan besar: ADTV. Sebuah stasiun televisi swasta cukup besar.

Di depan ruang wawancara sudah berkumpul banyak orang. Hampir semua berpakaian rapi, sebagian membawa map lamaran. Yumna bisa merasakan aura gugup memenuhi ruangan.

Yang membuatnya tertegun, tempat yang dibuka hanya lima posisi cleaning service. Zaman sekarang, tidak peduli gelar atau pengalaman, yang penting punya pekerjaan.

Yumna menggenggam map lamaran sambil berdoa dalam hati. ”Ya Allah, kalau ini memang jalanku, mudahkanlah.”

Tidak lama, namanya dipanggil masuk. Proses wawancara berlangsung cukup tegang, tetapi wanita paruh baya yang mewawancarainya tersenyum ramah.

Beberapa menit kemudian, wanita itu menutup dokumen Yumna dan berkata, “Yumna Khairunnisa Pratama, selamat. Kamu diterima. Mulai besok sudah bisa bekerja, ya.”

Yumna menutup mulutnya yang hampir terbuka lebar. “Alhamdulillah, terima kasih, Bu,” ucapnya sambil menunduk, menahan air mata haru.

Begitu keluar dari ruang wawancara, langkahnya terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia bisa merasakan kebahagiaan kecil menyentuh hidupnya.

***

Dua tahun berlalu begitu cepat. Yumna menjalani hari-hari barunya sebagai office girl di ADTV. Ia menyukai pekerjaannya, meski sederhana. Rekan-rekan sesama cleaning service adalah orang-orang baik yang tidak peduli dan tidak tahu masa lalunya. Mereka tertawa bersama, makan bersama, dan saling menolong.

Yumna pulang ke kampung hanya saat lebaran. Namun, perlakuan orang-orang di kampung tetap sama, penuh bisik-bisik dan tatapan merendahkan. Karena itulah ia lebih betah di ibukota daripada di kampung halaman sendiri.

Pagi itu, Sartika, teman kerja yang paling dekat dengan Yumna menepuk bahunya. “Yum, hari ini giliran kamu bersihin lantai lima, ya?”

“Iya, siap,” jawab Yumna sambil mengenakan sarung tangan.

Gadis berjilbab putih itu membawa kereta kecil berisi alat pembersih, lalu berjalan di lorong menuju lift. Ketika lift terbuka, seseorang berlari keluar dalam keadaan terburu-buru—

Dan bruk!

Mereka saling menabrak dan jatuh bersamaan.

“Aduh!” seru Yumna sambil meringis.

“Maaf,” ucap Yumna cepat-cepat sambil menunduk.

“Ya, lain kali hati-hati,” ucap pria itu sambil berdiri dan membersihkan celananya.

Kruuukkk—

Suara perut yang lapar terdengar jelas. Yumna yakin itu berasal dari pria yang ada di depannya. 

Yumna tertegun. Ia melirik pria di depannya yang memegang perut, wajahnya kesal.

“Ish, mana sempat aku cari makanan,” gumam pria itu.

Yumna teringat roti di sakunya yang dia beli tadi di warung dekat kostannya.

“Mas, ini ada roti,” ujar Yumna sambil mengulurkan. “Makan dulu. Buat ganjal perut.”

Pria itu menatapnya sekilas lalu menerima roti itu. “Terima kasih. Aku terima kebaikan kamu.”

Yumna mengangkat wajahnya. Seketika tubuh dia membeku, mata terbuka lebar, dan napasnya tercekat, ketika melihat wajah pria di hadapannya.

“Kamu?!”

Terpopuler

Comments

Sukhana Ana lestari

Sukhana Ana lestari

Qobul kan Yaa Allaah.. do'a Yumna yg sudah di dholimi sm orang² yg ga punya hati.. Aamiin

2025-11-21

1

❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️

❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️

jeng... jeng... jeng.... siapa tuh si kamu itu.. penasaran deh thor... suka kali ngegantung orang nih.. 🤭🤭🤭🤭

2025-11-21

1

Eka 'aina

Eka 'aina

lagian kenapa Yumna pake acara pulkam segala udh tau keluarga jht gitu

2026-01-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Karya Ramanda
92 Karya Ramanda ke-2
93 Karya Reni t
94 Karya Erma_Roviko
95 Karya Ridz
96 Karya Ayu Andila
97 Karya Ramanda
98 Muara Hati Azalea
99 Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar
100 Novel Misi
101 Karya Nita P
102 Penyesalan Suami
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Karya Ramanda
92
Karya Ramanda ke-2
93
Karya Reni t
94
Karya Erma_Roviko
95
Karya Ridz
96
Karya Ayu Andila
97
Karya Ramanda
98
Muara Hati Azalea
99
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar
100
Novel Misi
101
Karya Nita P
102
Penyesalan Suami

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!