Pasar Gelap dan Ramalan Buta

Pintu masuk ke Pasar Gelap bukanlah sebuah gerbang megah, melainkan sebuah pintu besi berkarat di belakang sebuah rumah jagal yang bau.

Salju di sekitar sini berwarna merah muda, bercampur dengan darah hewan—atau mungkin manusia—yang dibuang sembarangan. Chen Kai mengetuk pintu besi itu dengan pola ritmis: tiga kali keras, dua kali pelan.

Sebuah celah kecil di pintu terbuka. Sepasang mata kuning keruh mengintip keluar.

"Tutup," suara serak terdengar dari dalam.

"Si Tua Botak mengirimku," kata Chen Kai datar.

Hening sejenak. Lalu terdengar suara grendel berat ditarik. Pintu besi itu terbuka perlahan, memperlihatkan lorong batu yang menurun ke dalam kegelapan bumi, diterangi oleh obor-obor yang berkelip lemah.

"Masuk. Jangan buat masalah. Dan jangan tanya asal barang," kata penjaga pintu itu, seorang pria raksasa yang memegang kapak berlumuran darah kering.

Chen Kai melangkah masuk.

Udara di bawah sana lembap dan hangat, berbau dupa murah, keringat, dan logam. Pasar Gelap Kota Batu Hitam ternyata adalah sebuah gua alami raksasa yang telah dimodifikasi menjadi labirin kios dan toko.

Berbeda dengan pasar di atas tanah, di sini tidak ada teriakan pedagang. Transaksi dilakukan dengan bisikan. Orang-orang berjalan dengan mata waspada.

Chen Kai melihat barang-barang yang dijual di kios-kios terbuka: racun dalam botol-botol indah, budak-budak dari berbagai ras yang dirantai, senjata yang jelas-jelas hasil curian dari mayat kultivator, dan bahkan organ tubuh binatang buas langka.

"Tempat ini busuk," komentar Kaisar Yao. "Tapi di tempat busuk inilah informasi paling jujur berada."

Chen Kai mengabaikan tawaran dari pedagang racun dan berjalan lurus menuju pusat pasar. Di sana, terhimpit di antara toko budak dan toko senjata ilegal, berdiri sebuah tenda tua yang terbuat dari kain perca berwarna ungu gelap.

Di atas tenda itu, tergantung sebuah papan kayu lapuk dengan gambar sebuah mata yang terbuka lebar.

"Mata Seribu."

Chen Kai menyibakkan tirai tenda dan masuk.

Bagian dalam tenda itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar—jelas menggunakan teknik perluasan ruang. Rak-rak buku yang tinggi memenuhi dinding, berisi ribuan gulungan peta dan dokumen. Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua kerdil di balik meja bundar yang penuh dengan bola kristal berbagai ukuran.

Pria tua itu mengenakan penutup mata hitam yang menutupi kedua matanya. Dia buta.

"Selamat datang, Tuan Pengembara," suara pria tua itu terdengar seperti gesekan kertas amplas. Dia tidak menoleh, tapi dia tahu Chen Kai ada di sana. "Bau darah di jubahmu masih segar. Darah... anggota Sekte Darah?"

Chen Kai tidak terkejut. "Kau punya hidung yang tajam untuk orang buta, Mata Seribu."

"Mata hanyalah hiasan," kekeh pria tua itu, memperlihatkan gigi emasnya. "Aku melihat dengan getaran. Jadi, apa yang membawa pembunuh Sekte Darah ke gubuk humas ini? Kau ingin menjual informasi? Atau membelinya?"

"Aku butuh peta," kata Chen Kai, duduk di kursi di depan meja itu. "Peta Reruntuhan Kuno Utara. Yang paling detail. Yang menunjukkan lokasi 'Segel Agung'."

Senyum di wajah Mata Seribu menghilang seketika.

Suasana di dalam tenda itu berubah dingin.

"Segel Agung..." bisik Mata Seribu. Dia mengetukkan jari-jarinya yang kurus di atas meja. "Banyak orang mencari tempat itu akhir-akhir ini. Klan Jian... Sekte Darah... dan sekarang kau."

"Kau tahu tempatnya?"

"Tentu saja aku tahu. Aku tahu setiap inci dari Reruntuhan Utara. Tapi informasi tentang Segel Agung... itu mahal. Sangat mahal."

"Sebutkan hargamu," kata Chen Kai.

"Lima ribu Batu Roh," kata Mata Seribu.

Itu harga yang gila untuk selembar peta. Tapi Chen Kai tidak berkedip. Dia melempar sebuah kantong berat ke atas meja.

"Lima ribu. Pas."

Mata Seribu mengambil kantong itu, menimbangnya, lalu tersenyum lebar lagi. "Senang berbisnis dengan orang yang tegas."

Dia merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah gulungan peta yang terbuat dari kulit binatang purba. Dia melemparkannya ke Chen Kai.

"Peta ini menandai rute aman, sarang binatang buas, dan lokasi reruntuhan istana. Lokasi Segel Agung ditandai dengan tinta merah di sektor terdalam: Lembah Tulang Naga."

Chen Kai membuka peta itu. Detailnya luar biasa. Dia melihat tanda merah di bagian paling utara peta.

"Tapi," lanjut Mata Seribu, nadanya merendah. "Karena kau membayar dengan tunai, aku akan memberimu satu bonus informasi gratis."

"Apa?"

"Jangan pergi ke sana sekarang."

"Kenapa?"

"Karena tempat itu sudah dikepung," kata Mata Seribu. "Klan Jian mengirimkan pasukan elit mereka, 'Penjaga Bayangan', dipimpin oleh seorang Tetua Pembangunan Fondasi. Mereka bekerja sama dengan Sekte Darah. Mereka sedang membangun altar pengorbanan di sana."

"Mereka menunggu sesuatu," Mata Seribu mencondongkan tubuh ke depan, seolah menatap Chen Kai dari balik penutup matanya. "Mereka menunggu 'Kunci' untuk datang. Jika kau pergi ke sana, kau hanya akan mengantar nyawa."

Jantung Chen Kai berdegup kencang. 'Kunci' itu adalah dia. Darahnya.

"Terima kasih atas peringatannya," kata Chen Kai, berdiri. Dia menyimpan peta itu.

"Tunggu," kata Mata Seribu tiba-tiba. "Bolehkah aku... 'melihat'mu sebentar? Hanya rasa penasaran orang tua."

Sebelum Chen Kai bisa menolak, Mata Seribu meletakkan tangannya di atas bola kristal terbesar di meja. Bola itu bersinar.

"Aku melihat takdirmu... kabut tebal... ada naga yang terikat rantai... dan..."

Tiba-tiba, bola kristal itu retak.

PYAR!

Bola itu meledak menjadi debu kaca.

"ARGHHH!" Mata Seribu terlempar ke belakang, jatuh dari kursinya. Darah hitam mengalir dari balik penutup matanya.

"Apa yang kau lakukan?" Chen Kai menyipitkan mata, tangannya siap di gagang pedang.

"P-Panas...!" Mata Seribu menggeliat di lantai, napasnya memburu ketakutan. "Apa... apa yang ada di dalam dirimu?! Itu bukan naga biasa! Itu... itu Kaisar...!"

Dia menunjuk Chen Kai dengan tangan gemetar. "Pergi! Pergi dari sini! Kau... kau adalah bencana berjalan!"

Chen Kai mengerutkan kening. Tampaknya Mutiara Hitam atau Sutra Hati Naga bereaksi terhadap upaya ramalan itu.

"Anggap saja kau tidak melihat apa-apa," kata Chen Kai dingin.

Dia berbalik dan berjalan keluar dari tenda, meninggalkan peramal buta yang ketakutan itu sendirian di kegelapan.

Saat dia kembali ke lorong pasar gelap yang bising, Chen Kai merasa lebih berat.

"Lembah Tulang Naga," batinnya. "Dan pasukan elit Klan Jian sudah menunggu di sana."

"Ini jebakan," kata Kaisar Yao. "Tapi kau harus masuk ke dalamnya. Karena satu-satunya cara untuk mengetahui masa lalumu adalah dengan membuka segel itu sebelum mereka melakukannya."

"Kita tidak akan masuk lewat pintu depan," kata Chen Kai, menyentuh peta di balik jubahnya. "Mata Seribu bilang ada rute aman. Tapi peta ini juga menunjukkan 'Jalan Kematian'—rute bawah tanah yang penuh dengan gas beracun dan binatang buas."

"Kau mau lewat sana?"

"Mereka tidak akan menjaga jalan yang mereka pikir mustahil dilewati," Chen Kai menyeringai tipis di balik tudungnya. "Kita akan menyusup tepat di bawah hidung mereka."

Chen Kai berjalan menuju pintu keluar, siap meninggalkan peradaban terakhir dan melangkah ke alam liar yang mematikan.

Terpopuler

Comments

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

sudah lebih dewasa sekarang,tdk mengikuti eqonya,berfikir ,dng cerdas menyusup depan mata,melalui jln tikus.

2026-02-20

0

Taufik Rahman

Taufik Rahman

kisah animisme yg membuat pikiran orang modern ter longong longong.... 🤔

2026-01-17

1

ddrhart

ddrhart

pola fikir lebih dewasa, ngga utamain ego

2026-02-24

0

lihat semua
Episodes
1 Tanah Putih Tanpa Hukum
2 Mata Merah di Taring Beku
3 Pasar Gelap dan Ramalan Buta
4 Mulut Iblis
5 Penyergapan dari Kedalaman
6 Penjaga Tua
7 Altar
8 Labirin Tulang
9 Malam Seribu Bayangan
10 Di Bawah Rahang Naga
11 Pembakaran Darah
12 Amarah Tulang Purba
13 Kebenaran Sang Pengkhianat
14 Padang Abu dan Awal yang Baru
15 Pengais Hantu
16 Gerbang Besi
17 Penginapan Roda Karat
18 Pesta Para Serigala
19 Neraka di Kota Besi
20 Naga Bangkit dari Lumpur
21 Langit Terbelah dan Jatuhnya Sang Komandan
22 Bayangan Ibu
23 Hutan Batu dan Bisikan Kabut
24 Gerbang Perak dan Darah Serigala
25 Api Naga Inti Bumi
26 Sayap Besi yang Meleleh
27 Kota di Atas Awan
28 Persiapan Sang Naga
29 Perang Harga di Ruang VIP
30 Penghadang di Gerbang Selatan
31 Titah Pedang Emas
32 Darah Teratai
33 Pisau Angin Tak Kasat Mata
34 Teratai Mekar di Tengah Badai
35 Hujan Darah di Mulut Lembah
36 Sisa Debu
37 Bayangan Darah
38 Pemisahan di Bawah Hujan
39 Darah yang Menuntun Arah
40 Penjara Tulang
41 Lautan Api di Penjara Darah
42 Jalan yang Ditinggalkan Ibu
43 Hutan Kuno di Bawah Gunung
44 Penjaga Gerbang Naga Langit
45 Sungai Perak dan Penjaga Gila
46 Jantung yang Berdetak di Langit
47 Sujud di Hadapan Raja
48 Meteor Jatuh di Atas Pedang Emas
49 Deklarasi Perang
50 Hantu di Dalam Pedang
51 Lautan Api di Gerbang Utara
52 Darah Emas dan Tulang Hantu
53 Langit yang Terbelah di Selatan
54 Janji di Bawah Nisan Pedang
55 Pedang Kaisar dan Naga Teratai
56 Meninggalkan Sarang
57 Gurun Tulang Putih
58 Wajah di Balik Topeng
59 Badai Pisau
60 Teratai Mekar di Dalam Api
61 Hantu di Siang Hari
62 Legenda Sang Iblis
63 Harga Sebuah Nyawa
64 Darah di Gang Gelap
65 Lembah Kematian
66 Darah di Bawah Bulan Ungu
67 Jalan yang Berbeda
68 Tanah yang Menolak Kehidupan
69 Neraka Sembilan Tingkat
70 Menyelam ke Dalam Nadi Iblis
71 Menuju Neraka
72 Jatuh ke Dalam Sunyi
73 Kehancuran di Lorong Sunyi
74 Pantulan yang Tertawa
75 Reuni di Dasar Neraka
76 Janji Darah dan Pelarian Naga
77 Hantu di Dalam Lumpur
78 Kuali Daging Manusia
79 Amukan Raja Besi Putih
80 Harga Sebuah Kepala
81 Kota Tanpa Matahari
82 Bangkit
83 Racun di Atas Racun
84 Tarian Kipas Berdarah
85 Kelahiran Naga Racun
86 Sentuhan Mematikan
87 Hutan Kabut Ungu
88 Hujan Asam di Ngarai Ular
89 Perpisahan
90 Enam Bulan dalam Kesunyian
91 Mimpi Buruk di Kota Tambang
92 Runtuhnya Benteng Emas
93 Sayembara Darah
94 Tungku Api dan Bayangan Maut
95 Arogansi di Gerbang Kota
96 Tiga Hantu dalam Kabut
97 Topeng di Dalam Bayangan
98 Pedang Tanpa Mata
99 Tuan Muda dari Utara
100 Cermin Iblis dan Kuda Gila
101 Drum Naga dan Pangeran Darah
102 Hutan Berburu dan Mangsa yang Salah
103 Umpan Hidup dan Seni Darah
104 Arena Teratai Terapung
105 Xiao Mei
106 Kuali Api Manusia
107 Tamu Tengah Malam dan Hati yang Membeku
108 Ledakan di Dalam Peti Mati Es
109 Anggur Darah dan Tawaran Iblis
110 Darah di Atas Teratai
111 Satu Detik Menuju Neraka
112 Hadiah dari Sang Iblis
113 Debu di Atas Sejarah yang Terkubur
114 Kera Gila dan Pilar yang Retak
115 Tangisan di Bawah Permukaan
116 Pupuk Kematian
117 Amukan Orang Gila di Gerbang Utara
118 Darah untuk Sang Naga
119 Runtuhnya Teratai dan Bangkitnya Naga
120 Peta Pelabuhan dan Legenda Terkutuk
121 Bayangan di Atas Gelagar Besi
122 Di Antara Rahasia dan Bahaya
123 Benih Kebencian yang Bersemi
124 Malam Pengkhianatan
125 Resonasi Kegelapan
126 Tarian Maut di Tengah Badai
127 Bisikan dari Kedalaman Kabut
128 Pulau Tulang Naga
129 Tamu Tak Diundang
130 Hujan Darah di Gerbang Tengkorak
131 Rahasia Sektor Utara
132 Malam Ritual Darah
133 Gejolak Ruang dan Waktu
134 Kota di Atas Karang
135 Rumah Lelang Naga Laut
136 Harga Sebuah Kesombongan
137 Tarian Ruang Hampa
138 Makam
139 Eksperimen Maut
140 Ujung Jembatan Takdir
141 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Tanah Putih Tanpa Hukum
2
Mata Merah di Taring Beku
3
Pasar Gelap dan Ramalan Buta
4
Mulut Iblis
5
Penyergapan dari Kedalaman
6
Penjaga Tua
7
Altar
8
Labirin Tulang
9
Malam Seribu Bayangan
10
Di Bawah Rahang Naga
11
Pembakaran Darah
12
Amarah Tulang Purba
13
Kebenaran Sang Pengkhianat
14
Padang Abu dan Awal yang Baru
15
Pengais Hantu
16
Gerbang Besi
17
Penginapan Roda Karat
18
Pesta Para Serigala
19
Neraka di Kota Besi
20
Naga Bangkit dari Lumpur
21
Langit Terbelah dan Jatuhnya Sang Komandan
22
Bayangan Ibu
23
Hutan Batu dan Bisikan Kabut
24
Gerbang Perak dan Darah Serigala
25
Api Naga Inti Bumi
26
Sayap Besi yang Meleleh
27
Kota di Atas Awan
28
Persiapan Sang Naga
29
Perang Harga di Ruang VIP
30
Penghadang di Gerbang Selatan
31
Titah Pedang Emas
32
Darah Teratai
33
Pisau Angin Tak Kasat Mata
34
Teratai Mekar di Tengah Badai
35
Hujan Darah di Mulut Lembah
36
Sisa Debu
37
Bayangan Darah
38
Pemisahan di Bawah Hujan
39
Darah yang Menuntun Arah
40
Penjara Tulang
41
Lautan Api di Penjara Darah
42
Jalan yang Ditinggalkan Ibu
43
Hutan Kuno di Bawah Gunung
44
Penjaga Gerbang Naga Langit
45
Sungai Perak dan Penjaga Gila
46
Jantung yang Berdetak di Langit
47
Sujud di Hadapan Raja
48
Meteor Jatuh di Atas Pedang Emas
49
Deklarasi Perang
50
Hantu di Dalam Pedang
51
Lautan Api di Gerbang Utara
52
Darah Emas dan Tulang Hantu
53
Langit yang Terbelah di Selatan
54
Janji di Bawah Nisan Pedang
55
Pedang Kaisar dan Naga Teratai
56
Meninggalkan Sarang
57
Gurun Tulang Putih
58
Wajah di Balik Topeng
59
Badai Pisau
60
Teratai Mekar di Dalam Api
61
Hantu di Siang Hari
62
Legenda Sang Iblis
63
Harga Sebuah Nyawa
64
Darah di Gang Gelap
65
Lembah Kematian
66
Darah di Bawah Bulan Ungu
67
Jalan yang Berbeda
68
Tanah yang Menolak Kehidupan
69
Neraka Sembilan Tingkat
70
Menyelam ke Dalam Nadi Iblis
71
Menuju Neraka
72
Jatuh ke Dalam Sunyi
73
Kehancuran di Lorong Sunyi
74
Pantulan yang Tertawa
75
Reuni di Dasar Neraka
76
Janji Darah dan Pelarian Naga
77
Hantu di Dalam Lumpur
78
Kuali Daging Manusia
79
Amukan Raja Besi Putih
80
Harga Sebuah Kepala
81
Kota Tanpa Matahari
82
Bangkit
83
Racun di Atas Racun
84
Tarian Kipas Berdarah
85
Kelahiran Naga Racun
86
Sentuhan Mematikan
87
Hutan Kabut Ungu
88
Hujan Asam di Ngarai Ular
89
Perpisahan
90
Enam Bulan dalam Kesunyian
91
Mimpi Buruk di Kota Tambang
92
Runtuhnya Benteng Emas
93
Sayembara Darah
94
Tungku Api dan Bayangan Maut
95
Arogansi di Gerbang Kota
96
Tiga Hantu dalam Kabut
97
Topeng di Dalam Bayangan
98
Pedang Tanpa Mata
99
Tuan Muda dari Utara
100
Cermin Iblis dan Kuda Gila
101
Drum Naga dan Pangeran Darah
102
Hutan Berburu dan Mangsa yang Salah
103
Umpan Hidup dan Seni Darah
104
Arena Teratai Terapung
105
Xiao Mei
106
Kuali Api Manusia
107
Tamu Tengah Malam dan Hati yang Membeku
108
Ledakan di Dalam Peti Mati Es
109
Anggur Darah dan Tawaran Iblis
110
Darah di Atas Teratai
111
Satu Detik Menuju Neraka
112
Hadiah dari Sang Iblis
113
Debu di Atas Sejarah yang Terkubur
114
Kera Gila dan Pilar yang Retak
115
Tangisan di Bawah Permukaan
116
Pupuk Kematian
117
Amukan Orang Gila di Gerbang Utara
118
Darah untuk Sang Naga
119
Runtuhnya Teratai dan Bangkitnya Naga
120
Peta Pelabuhan dan Legenda Terkutuk
121
Bayangan di Atas Gelagar Besi
122
Di Antara Rahasia dan Bahaya
123
Benih Kebencian yang Bersemi
124
Malam Pengkhianatan
125
Resonasi Kegelapan
126
Tarian Maut di Tengah Badai
127
Bisikan dari Kedalaman Kabut
128
Pulau Tulang Naga
129
Tamu Tak Diundang
130
Hujan Darah di Gerbang Tengkorak
131
Rahasia Sektor Utara
132
Malam Ritual Darah
133
Gejolak Ruang dan Waktu
134
Kota di Atas Karang
135
Rumah Lelang Naga Laut
136
Harga Sebuah Kesombongan
137
Tarian Ruang Hampa
138
Makam
139
Eksperimen Maut
140
Ujung Jembatan Takdir
141
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!