Mulut Iblis

Meninggalkan Kota Batu Hitam ternyata lebih mudah dari yang diperkirakan. Badai salju yang semakin mengganas menjadi selimut alami bagi Chen Kai. Dengan jubah kulit serigala abu-abu yang menyatu dengan lingkungan dan teknik 'Penahan Nafas Kura-kura' yang menekan auranya hingga titik nol, dia berhasil menyelinap keluar dari gerbang utara tanpa menarik perhatian penjaga atau mata-mata Sekte Darah yang mungkin berkeliaran.

Tujuan pertamanya bukan langsung ke utara, melainkan memutar ke barat, menuju celah pegunungan yang ditandai dengan tengkorak merah di peta 'Mata Seribu'.

Ngarai Mulut Iblis. Pintu masuk ke 'Jalan Kematian'.

Perjalanan ke sana memakan waktu enam jam berjalan kaki di tengah salju setinggi pinggang. Angin menderu seperti tangisan hantu, mencoba membekukan darah siapa pun yang berani melintas. Namun, bagi Chen Kai yang memiliki 'Tulang Api', dingin ini hanya ketidaknyamanan kecil.

Saat senja mulai turun, mengubah langit putih menjadi ungu lebam, Chen Kai akhirnya melihatnya.

Di kaki sebuah tebing granit hitam, terdapat retakan besar yang menganga seperti mulut raksasa yang sedang berteriak. Tidak ada salju yang menumpuk di sekitar retakan itu. Sebaliknya, tanah di sekitarnya berwarna hitam legam dan becek, seolah-olah salju meleleh begitu menyentuhnya.

Dari dalam retakan itu, uap berwarna hijau kekuningan mengepul keluar perlahan, membawa bau belerang dan daging busuk yang menyengat.

"Itu dia," gumam Chen Kai, menutup hidungnya dengan lengan jubah. "Jalan Kematian."

"Kabut itu beracun," Kaisar Yao memperingatkan, suaranya serius. "Itu 'Kabut Korosif Yin'. Jika kau menghirupnya, paru-parumu akan mencair dalam satu jam. Jika menyentuh kulitmu terlalu lama, dagingmu akan membusuk."

Chen Kai mengangguk. Dia merogoh Cincin Penyimpanan Jian Chen. Di antara tumpukan harta karun, dia menemukan beberapa botol 'Pil Penawar Racun Tingkat Tinggi'. Dia menelan satu butir sebagai pencegahan.

"Pil itu hanya akan bertahan dua jam di dalam sana," kata Yao. "Kau harus bergerak cepat. Dan ingat, racun bukan satu-satunya bahaya. Makhluk yang bisa hidup di lingkungan seburuk ini pasti... tidak menyenangkan."

Chen Kai mengalirkan Qi-nya, membentuk lapisan pelindung tipis di sekujur tubuhnya untuk menahan kontak langsung dengan kabut. Dia menghunus Pedang Meteor Hitam, bilah besarnya menyala samar dengan api ungu untuk membakar racun yang mendekat.

"Ayo," katanya.

Dia melompat masuk ke dalam 'Mulut Iblis'.

Dunia di bawah tanah itu gelap gulita, hanya diterangi oleh lumut-lumut aneh yang bersinar hijau redup di dinding gua. Suara angin badai di luar menghilang, digantikan oleh suara tetesan air yang bergema dan desisan pelan dari ventilasi gas alam.

Chen Kai berjalan dengan hati-hati. Terowongan itu luas, cukup untuk dua kereta kuda berjalan beriringan, namun lantainya licin oleh lendir dan sisa-sisa tulang belulang.

Tulang manusia. Tulang binatang buas. Semuanya berserakan di mana-mana, sebagian besar berwarna hitam karena korosi racun.

"Banyak yang mencoba lewat sini dan gagal," bisik Chen Kai.

Tiba-tiba, kaki Chen Kai merasakan getaran halus di tanah.

SRET... SRET... SRET...

Suara itu datang dari segala arah. Suara ribuan kaki kecil yang bergesekan dengan batu.

"Di atasmu!" teriak Yao.

Chen Kai mendongak dan mengayunkan Pedang Meteor Hitam ke atas tanpa ragu.

SPLAT!

Sesuatu yang besar dan lunak terpotong menjadi dua. Cairan hijau muncrat, mendesis saat menyentuh api ungu di pedang Chen Kai.

Bangkai makhluk itu jatuh ke tanah. Itu adalah Kelabang Gua Beracun sepanjang dua meter. Cangkangnya keras seperti besi berkarat, dan ratusan kakinya masih bergerak-gerak meski tubuhnya sudah terputus.

Tapi itu baru satu.

Dari kegelapan langit-langit gua, puluhan pasang mata merah kecil menyala.

KREK KREK KREK...

Lusinan kelabang raksasa mulai merayap turun dengan cepat, rahang mereka yang berbisa bergemeletuk lapar.

"Sarang," umpat Chen Kai. "Tentu saja."

"Jangan biarkan mereka menggigitmu! Racun mereka melumpuhkan saraf!"

Chen Kai tidak lari. Di lorong sempit ini, lari hanya akan membuatnya dikejar dari belakang.

"Api Roh Naga!"

Chen Kai menyalurkan Qi apinya ke dalam Pedang Meteor Hitam. Bilah pedang itu meledak dalam kobaran api ungu yang terang, menerangi gua yang lembap itu. Panas yang menyengat membuat kelabang-kelabang itu mencicit mundur sejenak—mereka makhluk Yin yang benci api.

"Putaran Meteor!"

Chen Kai memutar pedang raksasa itu seperti kincir angin kematian.

WUUNG! WUUNG! WUUNG!

Dia menerjang maju ke tengah kerumunan kelabang.

Setiap ayunan pedang adalah pembantaian. Cangkang keras kelabang yang bisa menahan pedang baja biasa hancur berkeping-keping di bawah berat Pedang Meteor dan panasnya Api Roh Naga.

Potongan tubuh kelabang beterbangan. Cairan hijau beracun menyembur ke mana-mana, tapi menguap sebelum menyentuh kulit Chen Kai berkat perisai Qi panasnya.

SPLAT!

Satu kelabang berhasil menembus pertahanan putarannya dan melompat ke punggung Chen Kai.

KANG!

Taringnya menggigit bahu Chen Kai, tapi tidak tembus. Jubah kulit serigala itu robek, tapi di bawahnya, kulit Chen Kai yang diperkuat 'Tulang Api' sekeras baja.

Chen Kai meraih kelabang itu dengan tangan kirinya (yang mengenakan gauntlet Cakar Naga), mencengkeram kepalanya, dan meremasnya.

KRAK!

Kepala kelabang itu hancur.

"Mati kalian semua!"

Chen Kai menghentakkan kakinya.

"Gelombang Laut: Gelombang Ketiga (Ledakan Tanah)!"

Getaran Qi meledak dari pijakannya, merambat melalui lantai gua dan dinding. Kelabang-kelabang yang masih menempel di dinding terguncang hebat, organ dalam mereka hancur oleh gelombang kejut, dan mereka berjatuhan seperti hujan batu.

Dalam lima menit, pertempuran selesai.

Chen Kai berdiri di tengah tumpukan bangkai kelabang yang hangus dan berbau busuk. Napasnya sedikit memburu, bukan karena lelah, tapi karena konsentrasi menahan racun di udara yang semakin pekat karena darah monster.

"Kau harus pergi dari sini," kata Yao. "Bau darah ini akan memancing sesuatu yang lebih besar dari bagian dalam gua."

Chen Kai mengangguk. Dia tidak membuang waktu untuk mengambil inti roh kelabang-kelabang itu—kualitasnya terlalu rendah dan beracun. Dia melangkah lebih dalam ke dalam kegelapan, meninggalkan pembantaian itu di belakangnya.

Satu jam kemudian, terowongan itu mulai melebar menjadi sebuah gua bawah tanah raksasa yang dipenuhi dengan stalagmit dan stalaktit. Di tengah gua itu, terdapat sebuah danau bawah tanah yang airnya berwarna hitam pekat dan tenang.

Jalan setapak yang harus dia lalui berada di pinggiran danau itu.

"Hati-hati," bisik Yao. "Danau itu... aku tidak bisa merasakan dasarnya."

Chen Kai berjalan merapat ke dinding, matanya terus waspada ke permukaan air.

Tiba-tiba, dia melihat sesuatu di seberang danau.

Cahaya api unggun kecil.

Chen Kai segera bersembunyi di balik stalagmit besar. Ada orang lain di sini? Di Jalan Kematian?

Dia mengintip dengan hati-hati.

Di seberang danau, ada sebuah perkemahan kecil. Tiga orang duduk mengelilingi api unggun yang apinya berwarna biru aneh.

Mereka mengenakan jubah hitam ketat dengan topeng wajah yang hanya memperlihatkan mata. Di dada jubah mereka, terbordir lambang Pedang Perak menyilang dengan Ular.

"Itu bukan lambang Klan Jian," batin Chen Kai. "Dan bukan Sekte Darah."

"Itu lambang 'Serikat Pembunuh Bayangan', Organisasi netral yang menerima kontrak pembunuhan dari siapa saja. Apa yang mereka lakukan di sini?"

Salah satu pembunuh itu berdiri, memegang peta yang mirip dengan milik Chen Kai.

"Tetua Bayangan bilang target mungkin lewat jalur atas," kata pembunuh itu dengan suara serak. "Tapi kita ditempatkan di sini untuk berjaga-jaga jika tikus itu mencoba lewat jalan tikus."

Mata Chen Kai menyipit. "Klan Jian menyewa pihak ketiga untuk menjaga rute rahasia ini. Mereka benar-benar tidak mau ambil risiko."

"Tiga orang," analisis Yao. "Satu di Awal Tingkat Delapan. Dua di Puncak Tingkat Tujuh. Kau bisa menghabisi mereka, tapi jika mereka mengirim sinyal..."

"Aku harus membunuh mereka seketika," potong Chen Kai. "Sebelum mereka sadar aku ada di sini."

Chen Kai menyarungkan Pedang Meteor Hitamnya perlahan agar tidak bersuara. Di tempat sempit dan butuh kesunyian ini, pedang besar itu terlalu mencolok.

Dia mengangkat tangan kanannya. Gauntlet Cakar Naga bersinar redup.

Lalu dia melihat ke danau hitam di antara dia dan mereka.

"Yao, bisakah kau menyembunyikan auraku sepenuhnya jika aku menyelam?"

"Di air beracun itu? Kau gila? ...Tapi ya, air itu sendiri akan menutupi fluktuasi Qi-mu. Jika kau bisa menahan napas dan racunnya, kau bisa muncul tepat di belakang mereka."

Chen Kai tersenyum dingin.

Dia menyelipkan tubuhnya ke dalam air hitam yang dingin dan mematikan itu tanpa suara sedikit pun, seperti buaya yang mengincar mangsa.

Perburuan di kedalaman dimulai.

Terpopuler

Comments

putra gde

putra gde

iso lirr, wong cerita khayal

2026-01-28

2

Eko Poernomo

Eko Poernomo

lebih mantaf strateginya

2026-08-20

0

Darwito

Darwito

gsgshd

2026-06-20

0

lihat semua
Episodes
1 Tanah Putih Tanpa Hukum
2 Mata Merah di Taring Beku
3 Pasar Gelap dan Ramalan Buta
4 Mulut Iblis
5 Penyergapan dari Kedalaman
6 Penjaga Tua
7 Altar
8 Labirin Tulang
9 Malam Seribu Bayangan
10 Di Bawah Rahang Naga
11 Pembakaran Darah
12 Amarah Tulang Purba
13 Kebenaran Sang Pengkhianat
14 Padang Abu dan Awal yang Baru
15 Pengais Hantu
16 Gerbang Besi
17 Penginapan Roda Karat
18 Pesta Para Serigala
19 Neraka di Kota Besi
20 Naga Bangkit dari Lumpur
21 Langit Terbelah dan Jatuhnya Sang Komandan
22 Bayangan Ibu
23 Hutan Batu dan Bisikan Kabut
24 Gerbang Perak dan Darah Serigala
25 Api Naga Inti Bumi
26 Sayap Besi yang Meleleh
27 Kota di Atas Awan
28 Persiapan Sang Naga
29 Perang Harga di Ruang VIP
30 Penghadang di Gerbang Selatan
31 Titah Pedang Emas
32 Darah Teratai
33 Pisau Angin Tak Kasat Mata
34 Teratai Mekar di Tengah Badai
35 Hujan Darah di Mulut Lembah
36 Sisa Debu
37 Bayangan Darah
38 Pemisahan di Bawah Hujan
39 Darah yang Menuntun Arah
40 Penjara Tulang
41 Lautan Api di Penjara Darah
42 Jalan yang Ditinggalkan Ibu
43 Hutan Kuno di Bawah Gunung
44 Penjaga Gerbang Naga Langit
45 Sungai Perak dan Penjaga Gila
46 Jantung yang Berdetak di Langit
47 Sujud di Hadapan Raja
48 Meteor Jatuh di Atas Pedang Emas
49 Deklarasi Perang
50 Hantu di Dalam Pedang
51 Lautan Api di Gerbang Utara
52 Darah Emas dan Tulang Hantu
53 Langit yang Terbelah di Selatan
54 Janji di Bawah Nisan Pedang
55 Pedang Kaisar dan Naga Teratai
56 Meninggalkan Sarang
57 Gurun Tulang Putih
58 Wajah di Balik Topeng
59 Badai Pisau
60 Teratai Mekar di Dalam Api
61 Hantu di Siang Hari
62 Legenda Sang Iblis
63 Harga Sebuah Nyawa
64 Darah di Gang Gelap
65 Lembah Kematian
66 Darah di Bawah Bulan Ungu
67 Jalan yang Berbeda
68 Tanah yang Menolak Kehidupan
69 Neraka Sembilan Tingkat
70 Menyelam ke Dalam Nadi Iblis
71 Menuju Neraka
72 Jatuh ke Dalam Sunyi
73 Kehancuran di Lorong Sunyi
74 Pantulan yang Tertawa
75 Reuni di Dasar Neraka
76 Janji Darah dan Pelarian Naga
77 Hantu di Dalam Lumpur
78 Kuali Daging Manusia
79 Amukan Raja Besi Putih
80 Harga Sebuah Kepala
81 Kota Tanpa Matahari
82 Bangkit
83 Racun di Atas Racun
84 Tarian Kipas Berdarah
85 Kelahiran Naga Racun
86 Sentuhan Mematikan
87 Hutan Kabut Ungu
88 Hujan Asam di Ngarai Ular
89 Perpisahan
90 Enam Bulan dalam Kesunyian
91 Mimpi Buruk di Kota Tambang
92 Runtuhnya Benteng Emas
93 Sayembara Darah
94 Tungku Api dan Bayangan Maut
95 Arogansi di Gerbang Kota
96 Tiga Hantu dalam Kabut
97 Topeng di Dalam Bayangan
98 Pedang Tanpa Mata
99 Tuan Muda dari Utara
100 Cermin Iblis dan Kuda Gila
101 Drum Naga dan Pangeran Darah
102 Hutan Berburu dan Mangsa yang Salah
103 Umpan Hidup dan Seni Darah
104 Arena Teratai Terapung
105 Xiao Mei
106 Kuali Api Manusia
107 Tamu Tengah Malam dan Hati yang Membeku
108 Ledakan di Dalam Peti Mati Es
109 Anggur Darah dan Tawaran Iblis
110 Darah di Atas Teratai
111 Satu Detik Menuju Neraka
112 Hadiah dari Sang Iblis
113 Debu di Atas Sejarah yang Terkubur
114 Kera Gila dan Pilar yang Retak
115 Tangisan di Bawah Permukaan
116 Pupuk Kematian
117 Amukan Orang Gila di Gerbang Utara
118 Darah untuk Sang Naga
119 Runtuhnya Teratai dan Bangkitnya Naga
120 Peta Pelabuhan dan Legenda Terkutuk
121 Bayangan di Atas Gelagar Besi
122 Di Antara Rahasia dan Bahaya
123 Benih Kebencian yang Bersemi
124 Malam Pengkhianatan
125 Resonasi Kegelapan
126 Tarian Maut di Tengah Badai
127 Bisikan dari Kedalaman Kabut
128 Pulau Tulang Naga
129 Tamu Tak Diundang
130 Hujan Darah di Gerbang Tengkorak
131 Rahasia Sektor Utara
132 Malam Ritual Darah
133 Gejolak Ruang dan Waktu
134 Kota di Atas Karang
135 Rumah Lelang Naga Laut
136 Harga Sebuah Kesombongan
137 Tarian Ruang Hampa
138 Makam
139 Eksperimen Maut
140 Ujung Jembatan Takdir
141 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Tanah Putih Tanpa Hukum
2
Mata Merah di Taring Beku
3
Pasar Gelap dan Ramalan Buta
4
Mulut Iblis
5
Penyergapan dari Kedalaman
6
Penjaga Tua
7
Altar
8
Labirin Tulang
9
Malam Seribu Bayangan
10
Di Bawah Rahang Naga
11
Pembakaran Darah
12
Amarah Tulang Purba
13
Kebenaran Sang Pengkhianat
14
Padang Abu dan Awal yang Baru
15
Pengais Hantu
16
Gerbang Besi
17
Penginapan Roda Karat
18
Pesta Para Serigala
19
Neraka di Kota Besi
20
Naga Bangkit dari Lumpur
21
Langit Terbelah dan Jatuhnya Sang Komandan
22
Bayangan Ibu
23
Hutan Batu dan Bisikan Kabut
24
Gerbang Perak dan Darah Serigala
25
Api Naga Inti Bumi
26
Sayap Besi yang Meleleh
27
Kota di Atas Awan
28
Persiapan Sang Naga
29
Perang Harga di Ruang VIP
30
Penghadang di Gerbang Selatan
31
Titah Pedang Emas
32
Darah Teratai
33
Pisau Angin Tak Kasat Mata
34
Teratai Mekar di Tengah Badai
35
Hujan Darah di Mulut Lembah
36
Sisa Debu
37
Bayangan Darah
38
Pemisahan di Bawah Hujan
39
Darah yang Menuntun Arah
40
Penjara Tulang
41
Lautan Api di Penjara Darah
42
Jalan yang Ditinggalkan Ibu
43
Hutan Kuno di Bawah Gunung
44
Penjaga Gerbang Naga Langit
45
Sungai Perak dan Penjaga Gila
46
Jantung yang Berdetak di Langit
47
Sujud di Hadapan Raja
48
Meteor Jatuh di Atas Pedang Emas
49
Deklarasi Perang
50
Hantu di Dalam Pedang
51
Lautan Api di Gerbang Utara
52
Darah Emas dan Tulang Hantu
53
Langit yang Terbelah di Selatan
54
Janji di Bawah Nisan Pedang
55
Pedang Kaisar dan Naga Teratai
56
Meninggalkan Sarang
57
Gurun Tulang Putih
58
Wajah di Balik Topeng
59
Badai Pisau
60
Teratai Mekar di Dalam Api
61
Hantu di Siang Hari
62
Legenda Sang Iblis
63
Harga Sebuah Nyawa
64
Darah di Gang Gelap
65
Lembah Kematian
66
Darah di Bawah Bulan Ungu
67
Jalan yang Berbeda
68
Tanah yang Menolak Kehidupan
69
Neraka Sembilan Tingkat
70
Menyelam ke Dalam Nadi Iblis
71
Menuju Neraka
72
Jatuh ke Dalam Sunyi
73
Kehancuran di Lorong Sunyi
74
Pantulan yang Tertawa
75
Reuni di Dasar Neraka
76
Janji Darah dan Pelarian Naga
77
Hantu di Dalam Lumpur
78
Kuali Daging Manusia
79
Amukan Raja Besi Putih
80
Harga Sebuah Kepala
81
Kota Tanpa Matahari
82
Bangkit
83
Racun di Atas Racun
84
Tarian Kipas Berdarah
85
Kelahiran Naga Racun
86
Sentuhan Mematikan
87
Hutan Kabut Ungu
88
Hujan Asam di Ngarai Ular
89
Perpisahan
90
Enam Bulan dalam Kesunyian
91
Mimpi Buruk di Kota Tambang
92
Runtuhnya Benteng Emas
93
Sayembara Darah
94
Tungku Api dan Bayangan Maut
95
Arogansi di Gerbang Kota
96
Tiga Hantu dalam Kabut
97
Topeng di Dalam Bayangan
98
Pedang Tanpa Mata
99
Tuan Muda dari Utara
100
Cermin Iblis dan Kuda Gila
101
Drum Naga dan Pangeran Darah
102
Hutan Berburu dan Mangsa yang Salah
103
Umpan Hidup dan Seni Darah
104
Arena Teratai Terapung
105
Xiao Mei
106
Kuali Api Manusia
107
Tamu Tengah Malam dan Hati yang Membeku
108
Ledakan di Dalam Peti Mati Es
109
Anggur Darah dan Tawaran Iblis
110
Darah di Atas Teratai
111
Satu Detik Menuju Neraka
112
Hadiah dari Sang Iblis
113
Debu di Atas Sejarah yang Terkubur
114
Kera Gila dan Pilar yang Retak
115
Tangisan di Bawah Permukaan
116
Pupuk Kematian
117
Amukan Orang Gila di Gerbang Utara
118
Darah untuk Sang Naga
119
Runtuhnya Teratai dan Bangkitnya Naga
120
Peta Pelabuhan dan Legenda Terkutuk
121
Bayangan di Atas Gelagar Besi
122
Di Antara Rahasia dan Bahaya
123
Benih Kebencian yang Bersemi
124
Malam Pengkhianatan
125
Resonasi Kegelapan
126
Tarian Maut di Tengah Badai
127
Bisikan dari Kedalaman Kabut
128
Pulau Tulang Naga
129
Tamu Tak Diundang
130
Hujan Darah di Gerbang Tengkorak
131
Rahasia Sektor Utara
132
Malam Ritual Darah
133
Gejolak Ruang dan Waktu
134
Kota di Atas Karang
135
Rumah Lelang Naga Laut
136
Harga Sebuah Kesombongan
137
Tarian Ruang Hampa
138
Makam
139
Eksperimen Maut
140
Ujung Jembatan Takdir
141
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!