Warisan Mutiara Hitam 2

Warisan Mutiara Hitam 2

Tanah Putih Tanpa Hukum

Tiga minggu kemudian.

Dunia di sini tidak memiliki warna selain putih.

Langit berwarna putih kelabu, tanah tertutup salju setebal lutut yang tak berujung, dan udara dipenuhi kabut beku yang bisa membekukan paru-paru manusia biasa dalam hitungan detik.

Ini adalah Dataran Beku Utara. Wilayah tanpa hukum yang memisahkan Kekaisaran dari Reruntuhan Kuno dan wilayah Sekte Iblis.

KREK... KREK...

Suara langkah kaki berat memecah kesunyian yang mematikan.

Sesosok tubuh berjalan tertatih-tatih menembus badai salju. Dia mengenakan jubah tebal dari kulit serigala abu-abu yang kasar, dengan tudung kepala yang ditarik rendah menutupi wajahnya. Di punggungnya, sebuah benda besar terbungkus kain lusuh menyilang, terlihat seperti peti mati kecil atau senjata raksasa.

Itu adalah Chen Kai.

Atau sekarang, dia menyebut dirinya "Pengembara".

Chen Kai berhenti sejenak. Dia menarik napas dalam-dalam, dan uap panas terlihat keluar dari balik tudungnya, kontras dengan udara dingin.

"Dingin sekali," gumamnya, suaranya parau.

"Darah Nagamu tidak menyukainya," suara Kaisar Yao terdengar di benaknya, sedikit menggigil. "Naga adalah makhluk (Yang). Tempat (Yin) ekstrem ini membuat darahmu gelisah. Kau harus terus mengalirkan Qi apimu atau kau akan membeku dari dalam."

Chen Kai merogoh pinggangnya, mengambil botol labu giok pemberian Tetua Gu, dan meneguk isinya sedikit. Rasa pedas dan panas dari 'Arak Api Merah' membakar tenggorokannya, menyebarkan kehangatan ke seluruh tubuh.

"Masih jauh ke pos terdepan?" tanya Chen Kai.

"Menurut peta yang kau curi dari bandit minggu lalu... seharusnya Kota Batu Hitam ada di balik bukit itu," jawab Yao.

Kota Batu Hitam. Itu adalah pos perdagangan terakhir sebelum masuk ke zona Reruntuhan Kuno yang sesungguhnya. Tempat berkumpulnya para pemburu harta karun, pedagang gelap, buronan, dan pembunuh.

Tiba-tiba, telinga Chen Kai berkedut.

Langkah kakinya berhenti. Dia tidak menoleh, tapi tangan kanannya perlahan bergerak ke balik jubahnya.

GRRRRR...

Dari balik tirai salju putih, sepasang mata biru menyala muncul. Lalu sepasang lagi. Dan lagi.

Dalam sekejap, sepuluh ekor serigala berukuran sebesar anak sapi muncul mengepungnya. Bulu mereka putih menyatu dengan salju, dan gigi mereka transparan seperti es.

Serigala Hantu Salju. Binatang Roh Tingkat Tujuh. Mereka berburu dalam kawanan dan dikenal bisa membekukan mangsanya dengan napas mereka.

"Sepuluh ekor Tingkat Tujuh," gumam Chen Kai datar. "Tiga minggu lalu, ini akan menjadi masalah. Sekarang?"

Serigala pemimpin (Puncak Tingkat Tujuh) melolong dan menerjang.

Chen Kai tidak mencabut pedang di punggungnya.

Dia hanya menghentakkan kaki kanannya.

"Tulang Api: Panas Laten."

WUSH!

Suhu di sekitar Chen Kai melonjak drastis dalam radius lima meter. Salju di bawah kakinya meleleh seketika menjadi uap.

Serigala pemimpin itu terkejut oleh ledakan panas yang tiba-tiba. Gerakannya goyah di udara.

Tangan kanan Chen Kai melesat keluar dari balik jubah. Dia mengenakan sarung tangan kulit biasa di atas 'Cakar Naga Api Merah'-nya untuk menyamarkannya, tapi bentuknya yang besar dan keras tetap terlihat.

BUKK!

Satu pukulan sederhana.

Tinju Chen Kai menghantam moncong serigala itu.

Terdengar suara tulang tengkorak yang remuk. Serigala itu terlempar ke samping, mati seketika tanpa sempat menjerit. Otaknya hancur oleh getaran kekuatan fisik murni Chen Kai.

Sembilan serigala lainnya ragu-ragu. Naluri binatang mereka menjerit bahwa mangsa ini berbahaya.

"Maju," tantang Chen Kai, uap panas mengepul dari tubuhnya. "Aku butuh uang untuk penginapan."

Kawanan itu menyerang bersamaan.

Chen Kai bergerak. Dia tidak menggunakan 'Langkah Kilat Hantu' sepenuhnya untuk menghemat Qi. Dia hanya menggunakan gerakan efisien, menghindar seminimal mungkin dan memukul sekeras mungkin.

BAM! KRAK! BUG!

Setiap pukulan adalah satu nyawa.

Dua menit kemudian.

Salju putih di sekitarnya kini berlumuran darah merah dan bangkai serigala. Chen Kai berdiri di tengah pembantaian itu, mengambil pisau bedah, dan dengan terampil mengambil Inti Roh dari kepala mereka.

"Sepuluh Inti Tingkat Tujuh. Lumayan untuk makan malam," katanya, menyimpan hasil jarahannya.

Dia melanjutkan perjalanan.

Satu jam kemudian, badai salju mereda sedikit, memperlihatkan sebuah pemandangan yang suram di lembah di bawahnya.

Sebuah kota kecil yang dibangun dari batu vulkanik hitam, dikelilingi oleh tembok tinggi yang dipenuhi paku besi. Asap hitam membumbung dari cerobong-cerobong asap, dan suara keributan samar terdengar dari kejauhan.

Kota Batu Hitam.

Chen Kai menarik tudungnya lebih rendah. "Yao, sembunyikan auraku ke Tingkat Delapan."

"Baiklah. Jangan menarik perhatian. Ingat, di sini tidak ada aturan sekte. Jika kau terlihat lemah, kau dimangsa. Jika kau terlihat terlalu kaya, kau juga dimangsa."

Chen Kai berjalan menuju gerbang kota.

Dua penjaga bertampang sangar dengan kapak besar berdiri di sana. Mereka menatap Chen Kai dengan tatapan menilai.

"Masuk bayar 10 Batu Roh," gerutu salah satu penjaga.

Chen Kai melempar kantong kecil tanpa bicara.

Penjaga itu menangkapnya, menimbangnya, lalu menyeringai. "Silakan masuk, Tuan Pengembara."

Chen Kai melangkah masuk ke jalanan kota yang becek dan bau.

Kota itu padat dan kacau. Bangunan-bangunan batu berhimpitan. Orang-orang dengan berbagai macam senjata dan penampilan berjalan dengan waspada. Ada kultivator iblis dengan aura gelap, pemburu harta karun dengan baju zirah hancur, dan pedagang budak yang menyeret rantai.

Chen Kai masuk ke sebuah kedai minum yang ramai bernama "Taring Beku". Dia butuh informasi.

Dia duduk di sudut gelap, memesan daging panggang dan arak.

Saat dia makan, matanya tertuju pada sebuah papan pengumuman di dinding kedai yang dikerumuni orang.

Di sana, ada beberapa poster buronan.

Dan di tengah-tengahnya, ada poster baru dengan gambar sketsa wajah yang sangat dia kenal.

Gambar wajahnya. Walaupun sketsanya kasar, ciri khasnya tertangkap jelas.

DICARI: CHEN KAI Mantan Murid Sekte Pedang Awan. Tingkat Bahaya: Tinggi. Hadiah: 50.000 Batu Roh (Hidup) / 20.000 Batu Roh (Kepala). Pemberi Tugas: "Klan J".

"Lima puluh ribu," bisik seorang pria berwajah codet di dekat papan itu. "Itu harga untuk kepala Pembangunan Fondasi! Apa yang dilakukan bocah Tingkat Sembilan ini sampai dihargai segitu mahal?"

"Siapa peduli?" sahut temannya. "Kudengar dia lari ke Utara. Jika kita menemukannya, kita kaya mendadak."

Tangan Chen Kai yang memegang gelas arak berhenti di udara.

Klan Jian bergerak cepat. Mereka tidak menggunakan nama klan secara resmi, tapi "Klan J" dan jumlah hadiah itu sudah jelas. Dan yang lebih mengerikan... poster itu sudah sampai di sini, di ujung dunia.

"Mereka memasang jaring di mana-mana," kata Yao. "Kau harus sangat berhati-hati. Jangan gunakan Pedang Meteor Hitam atau Cakar Naga di depan umum kecuali kau berniat membunuh semua saksi."

Chen Kai meletakkan gelasnya. Matanya di balik tudung bersinar dingin.

"Mereka menaikkan hargaku," batin Chen Kai. "Bagus. Itu artinya mereka takut."

Tiba-tiba, pintu kedai terbuka kasar.

Angin dingin dan salju masuk. Sekelompok orang berjubah merah darah melangkah masuk. Aura mereka panas dan amis.

Sekte Darah. (Salah satu sekte aliran sesat di wilayah ini).

Pemimpin mereka, seorang pria kurus dengan mata merah, memegang sebuah artefak berbentuk kompas yang jarumnya berputar liar.

"Kompas Darah bereaksi," desis pemimpin itu, matanya memindai seluruh ruangan kedai. "Ada seseorang dengan darah yang sangat kuat di sini... darah yang 'lezat'."

Jantung Chen Kai berdetak satu ketukan lebih cepat.

Kompas itu menunjuk lurus ke arah sudut tempat dia duduk.

Terpopuler

Comments

bob

bob

rel bacaan yang suka fantasi timur ada novel "zaman para dewa"

2025-12-31

2

Harman Loke

Harman Loke

tiiiiiiiiiingkaaaaaaaaaaaaatkaaaaaan teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss kewaspadaan Chen Kai

2026-04-06

0

Khairul Sompal

Khairul Sompal

Mau tanya seri 1 pakai audio 2 dan 3 gak pakai audio

2026-03-03

1

lihat semua
Episodes
1 Tanah Putih Tanpa Hukum
2 Mata Merah di Taring Beku
3 Pasar Gelap dan Ramalan Buta
4 Mulut Iblis
5 Penyergapan dari Kedalaman
6 Penjaga Tua
7 Altar
8 Labirin Tulang
9 Malam Seribu Bayangan
10 Di Bawah Rahang Naga
11 Pembakaran Darah
12 Amarah Tulang Purba
13 Kebenaran Sang Pengkhianat
14 Padang Abu dan Awal yang Baru
15 Pengais Hantu
16 Gerbang Besi
17 Penginapan Roda Karat
18 Pesta Para Serigala
19 Neraka di Kota Besi
20 Naga Bangkit dari Lumpur
21 Langit Terbelah dan Jatuhnya Sang Komandan
22 Bayangan Ibu
23 Hutan Batu dan Bisikan Kabut
24 Gerbang Perak dan Darah Serigala
25 Api Naga Inti Bumi
26 Sayap Besi yang Meleleh
27 Kota di Atas Awan
28 Persiapan Sang Naga
29 Perang Harga di Ruang VIP
30 Penghadang di Gerbang Selatan
31 Titah Pedang Emas
32 Darah Teratai
33 Pisau Angin Tak Kasat Mata
34 Teratai Mekar di Tengah Badai
35 Hujan Darah di Mulut Lembah
36 Sisa Debu
37 Bayangan Darah
38 Pemisahan di Bawah Hujan
39 Darah yang Menuntun Arah
40 Penjara Tulang
41 Lautan Api di Penjara Darah
42 Jalan yang Ditinggalkan Ibu
43 Hutan Kuno di Bawah Gunung
44 Penjaga Gerbang Naga Langit
45 Sungai Perak dan Penjaga Gila
46 Jantung yang Berdetak di Langit
47 Sujud di Hadapan Raja
48 Meteor Jatuh di Atas Pedang Emas
49 Deklarasi Perang
50 Hantu di Dalam Pedang
51 Lautan Api di Gerbang Utara
52 Darah Emas dan Tulang Hantu
53 Langit yang Terbelah di Selatan
54 Janji di Bawah Nisan Pedang
55 Pedang Kaisar dan Naga Teratai
56 Meninggalkan Sarang
57 Gurun Tulang Putih
58 Wajah di Balik Topeng
59 Badai Pisau
60 Teratai Mekar di Dalam Api
61 Hantu di Siang Hari
62 Legenda Sang Iblis
63 Harga Sebuah Nyawa
64 Darah di Gang Gelap
65 Lembah Kematian
66 Darah di Bawah Bulan Ungu
67 Jalan yang Berbeda
68 Tanah yang Menolak Kehidupan
69 Neraka Sembilan Tingkat
70 Menyelam ke Dalam Nadi Iblis
71 Menuju Neraka
72 Jatuh ke Dalam Sunyi
73 Kehancuran di Lorong Sunyi
74 Pantulan yang Tertawa
75 Reuni di Dasar Neraka
76 Janji Darah dan Pelarian Naga
77 Hantu di Dalam Lumpur
78 Kuali Daging Manusia
79 Amukan Raja Besi Putih
80 Harga Sebuah Kepala
81 Kota Tanpa Matahari
82 Bangkit
83 Racun di Atas Racun
84 Tarian Kipas Berdarah
85 Kelahiran Naga Racun
86 Sentuhan Mematikan
87 Hutan Kabut Ungu
88 Hujan Asam di Ngarai Ular
89 Perpisahan
90 Enam Bulan dalam Kesunyian
91 Mimpi Buruk di Kota Tambang
92 Runtuhnya Benteng Emas
93 Sayembara Darah
94 Tungku Api dan Bayangan Maut
95 Arogansi di Gerbang Kota
96 Tiga Hantu dalam Kabut
97 Topeng di Dalam Bayangan
98 Pedang Tanpa Mata
99 Tuan Muda dari Utara
100 Cermin Iblis dan Kuda Gila
101 Drum Naga dan Pangeran Darah
102 Hutan Berburu dan Mangsa yang Salah
103 Umpan Hidup dan Seni Darah
104 Arena Teratai Terapung
105 Xiao Mei
106 Kuali Api Manusia
107 Tamu Tengah Malam dan Hati yang Membeku
108 Ledakan di Dalam Peti Mati Es
109 Anggur Darah dan Tawaran Iblis
110 Darah di Atas Teratai
111 Satu Detik Menuju Neraka
112 Hadiah dari Sang Iblis
113 Debu di Atas Sejarah yang Terkubur
114 Kera Gila dan Pilar yang Retak
115 Tangisan di Bawah Permukaan
116 Pupuk Kematian
117 Amukan Orang Gila di Gerbang Utara
118 Darah untuk Sang Naga
119 Runtuhnya Teratai dan Bangkitnya Naga
120 Peta Pelabuhan dan Legenda Terkutuk
121 Bayangan di Atas Gelagar Besi
122 Di Antara Rahasia dan Bahaya
123 Benih Kebencian yang Bersemi
124 Malam Pengkhianatan
125 Resonasi Kegelapan
126 Tarian Maut di Tengah Badai
127 Bisikan dari Kedalaman Kabut
128 Pulau Tulang Naga
129 Tamu Tak Diundang
130 Hujan Darah di Gerbang Tengkorak
131 Rahasia Sektor Utara
132 Malam Ritual Darah
133 Gejolak Ruang dan Waktu
134 Kota di Atas Karang
135 Rumah Lelang Naga Laut
136 Harga Sebuah Kesombongan
137 Tarian Ruang Hampa
138 Makam
139 Eksperimen Maut
140 Ujung Jembatan Takdir
141 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Tanah Putih Tanpa Hukum
2
Mata Merah di Taring Beku
3
Pasar Gelap dan Ramalan Buta
4
Mulut Iblis
5
Penyergapan dari Kedalaman
6
Penjaga Tua
7
Altar
8
Labirin Tulang
9
Malam Seribu Bayangan
10
Di Bawah Rahang Naga
11
Pembakaran Darah
12
Amarah Tulang Purba
13
Kebenaran Sang Pengkhianat
14
Padang Abu dan Awal yang Baru
15
Pengais Hantu
16
Gerbang Besi
17
Penginapan Roda Karat
18
Pesta Para Serigala
19
Neraka di Kota Besi
20
Naga Bangkit dari Lumpur
21
Langit Terbelah dan Jatuhnya Sang Komandan
22
Bayangan Ibu
23
Hutan Batu dan Bisikan Kabut
24
Gerbang Perak dan Darah Serigala
25
Api Naga Inti Bumi
26
Sayap Besi yang Meleleh
27
Kota di Atas Awan
28
Persiapan Sang Naga
29
Perang Harga di Ruang VIP
30
Penghadang di Gerbang Selatan
31
Titah Pedang Emas
32
Darah Teratai
33
Pisau Angin Tak Kasat Mata
34
Teratai Mekar di Tengah Badai
35
Hujan Darah di Mulut Lembah
36
Sisa Debu
37
Bayangan Darah
38
Pemisahan di Bawah Hujan
39
Darah yang Menuntun Arah
40
Penjara Tulang
41
Lautan Api di Penjara Darah
42
Jalan yang Ditinggalkan Ibu
43
Hutan Kuno di Bawah Gunung
44
Penjaga Gerbang Naga Langit
45
Sungai Perak dan Penjaga Gila
46
Jantung yang Berdetak di Langit
47
Sujud di Hadapan Raja
48
Meteor Jatuh di Atas Pedang Emas
49
Deklarasi Perang
50
Hantu di Dalam Pedang
51
Lautan Api di Gerbang Utara
52
Darah Emas dan Tulang Hantu
53
Langit yang Terbelah di Selatan
54
Janji di Bawah Nisan Pedang
55
Pedang Kaisar dan Naga Teratai
56
Meninggalkan Sarang
57
Gurun Tulang Putih
58
Wajah di Balik Topeng
59
Badai Pisau
60
Teratai Mekar di Dalam Api
61
Hantu di Siang Hari
62
Legenda Sang Iblis
63
Harga Sebuah Nyawa
64
Darah di Gang Gelap
65
Lembah Kematian
66
Darah di Bawah Bulan Ungu
67
Jalan yang Berbeda
68
Tanah yang Menolak Kehidupan
69
Neraka Sembilan Tingkat
70
Menyelam ke Dalam Nadi Iblis
71
Menuju Neraka
72
Jatuh ke Dalam Sunyi
73
Kehancuran di Lorong Sunyi
74
Pantulan yang Tertawa
75
Reuni di Dasar Neraka
76
Janji Darah dan Pelarian Naga
77
Hantu di Dalam Lumpur
78
Kuali Daging Manusia
79
Amukan Raja Besi Putih
80
Harga Sebuah Kepala
81
Kota Tanpa Matahari
82
Bangkit
83
Racun di Atas Racun
84
Tarian Kipas Berdarah
85
Kelahiran Naga Racun
86
Sentuhan Mematikan
87
Hutan Kabut Ungu
88
Hujan Asam di Ngarai Ular
89
Perpisahan
90
Enam Bulan dalam Kesunyian
91
Mimpi Buruk di Kota Tambang
92
Runtuhnya Benteng Emas
93
Sayembara Darah
94
Tungku Api dan Bayangan Maut
95
Arogansi di Gerbang Kota
96
Tiga Hantu dalam Kabut
97
Topeng di Dalam Bayangan
98
Pedang Tanpa Mata
99
Tuan Muda dari Utara
100
Cermin Iblis dan Kuda Gila
101
Drum Naga dan Pangeran Darah
102
Hutan Berburu dan Mangsa yang Salah
103
Umpan Hidup dan Seni Darah
104
Arena Teratai Terapung
105
Xiao Mei
106
Kuali Api Manusia
107
Tamu Tengah Malam dan Hati yang Membeku
108
Ledakan di Dalam Peti Mati Es
109
Anggur Darah dan Tawaran Iblis
110
Darah di Atas Teratai
111
Satu Detik Menuju Neraka
112
Hadiah dari Sang Iblis
113
Debu di Atas Sejarah yang Terkubur
114
Kera Gila dan Pilar yang Retak
115
Tangisan di Bawah Permukaan
116
Pupuk Kematian
117
Amukan Orang Gila di Gerbang Utara
118
Darah untuk Sang Naga
119
Runtuhnya Teratai dan Bangkitnya Naga
120
Peta Pelabuhan dan Legenda Terkutuk
121
Bayangan di Atas Gelagar Besi
122
Di Antara Rahasia dan Bahaya
123
Benih Kebencian yang Bersemi
124
Malam Pengkhianatan
125
Resonasi Kegelapan
126
Tarian Maut di Tengah Badai
127
Bisikan dari Kedalaman Kabut
128
Pulau Tulang Naga
129
Tamu Tak Diundang
130
Hujan Darah di Gerbang Tengkorak
131
Rahasia Sektor Utara
132
Malam Ritual Darah
133
Gejolak Ruang dan Waktu
134
Kota di Atas Karang
135
Rumah Lelang Naga Laut
136
Harga Sebuah Kesombongan
137
Tarian Ruang Hampa
138
Makam
139
Eksperimen Maut
140
Ujung Jembatan Takdir
141
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!