Penumpang Ghoib

Untuk sejenak Nino terpaku di tempatnya. Ponsel masih berada di telinganya, sementara matanya menatap Asep yang sedang duduk di sisi ranjang. Sahabatnya itu memandangi Nino dengan tatapan kosong.

Bergegas Nino mengambil kunci, menutup pintu kamar kemudian menguncinya dari luar. Pemuda itu segera berlari keluar dari rumah.

“Sep, Lo pulang langsung ke kost-an.”

“Moal meuli makan?”

“Ngga usah. Langsung balik sekarang!”

Nino langsung mengakhiri panggilan. Pemuda itu masih belum berani masuk ke dalam rumah. Dia menunggu Asep di parkiran. Nino berjalan mondar-mandir sambil terus memikirkan apa yang barusan terjadi.

Sepuluh menit berlalu, tapi Asep belum juga datang. Pemuda itu mulai ragu, apakah orang yang menelponnya tadi bukan Asep yang sebenarnya? Apa mungkin Asep yang di dalam kamar, sahabat yang sebenarnya?

Di tengah kebingungan, sebuah sepeda motor memasuki pekarangan rumah. Nino dapat bernafas lega ketika melihat Asep yang datang. Setelah memarkirkan motornya, Asep segera menghampiri Nino.

“Ada apa sih? Heboh pisan,” sembur Asep begitu di dekat Nino.

“Sep.. di kamar gue barusan ada Asep lain.”

“Hah? Kumaha maksudna? (gimana maksudnya?)” tanya Asep sambil menggaruk kepalanya.

“Tadi pas gue lagi tiduran, ada yang ngetuk pintu kamar gue. Pas gue buka, Elo yang nongol. Terus Elo masuk ke kamar, duduk di kasur gue. Terus Elo telepon gue.”

“Ah aing asa lieur kieu (gue jadi bingung gini).”

“Intinya Elo ada dua. yang satu di sini, satu lagi ada di kamar gue.”

“Serius?”

“Ikut gue.”

Nino menarik tangan Asep lalu masuk ke dalam rumah. Pemuda itu menarik nafas sejenak sebelum membuka kunci kamarnya. Pelan-pelan Nino membuka pintu. Begitu terbuka, ternyata di dalam kamarnya tidak ada siapa-siapa.

“Mana?” tanya Asep sambil masuk ke kamar.

“Sumpah, tadi ada. Mirip banget sama elo.”

“Ngigo. Ngimpi meureun.”

“Nggak mungkin! Itu beneran elo.”

“Nggeuslah, mending urang kaluar neangan dahar. Lapar urang (udahlah, mending kita keluar cari makan. Lapar gue).”

Akhirnya Nino mengikuti saran Asep. Pemuda itu keluar dari kamarnya seraya membawa helmnya.

***

Dua piring nasi goreng sudah tandas dimakan oleh Nino dan Asep. Untuk mengisi perut, keduanya memilih makan di warung nasi goreng yang ada di Tubagus Ismail.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Nino masih enggan pulang ke kost-annya. Dia masih terbayang wajah Asep palsu.

Entah siapa yang sudah menyamar menjadi temannya. Yang pasti dia bukan manusia. Jika manusia, tidak mungkin tiba-tiba saja Asep palsu menghilang dari kamar.

“No, balik yuk.”

“Nantilah. Kita nongkrong dulu aja.”

“Nongkrong di mana?”

“Ke Dago lah. Nongkrong di tukang jagung bakar.”

“Hayu lah.”

Setelah membayar nasi goreng, Asep langsung menuju motornya. Nino sengaja menumpang di motor Asep. Dia masih terlalu capek harus mengendarai motornya sekembalinya dari Jakarta. Apalagi dia baru saja pulih dari kecelakaan yang dialaminya.

Asep mengendarai motornya menuju Dago bawah. Setelah melewati deretan bangunan, Asep menghentikan motornya di depan kedai jagung bakar yang dekat kantor bank pemerintah dan juga hotel. Ternyata di sana, ada teman-temannya juga tengah menongkrong. Keduanya segera bergabung.

Asik mengobrol sambil mengopi, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Keduanya pun memilih segera kembali ke kost-an.

Asep mengendarai motornya dengan kecepatan sedang sambil mengobrol. Sekarang motor Asep sudah memasuki jalanan yang cukup sepi dengan banyak pohon besar di kanan kiri.

Jantung Nino seakan berhenti berdetak ketika merasakan ada orang yang ikut duduk di belakangnya. Pemuda itu mencoba melihat dari sudut matanya.

Pelan-pelan dia menggerakkan kepalanya. walau tidak sampai memutar, Nino bisa melihat ada perempuan berbaju merah dengan rambut panjang duduk di belakangnya.

Sontak Nino langsung membacakan doa-doa di dalam hati. Dia sudah tidak menggubris lagi perkataan Asep. Pemuda itu benar-benar tengah dikuasai ketakutan. Jantung Nino seakan berhenti berdetak ketika pundaknya disentuh. Dengan cepat dia menepuk pundak Asep.

“Naon? (apa?).”

“Gantian, biar gue yang bawa motor.”

“Teu kudu lah (ngga usahlah).”

“Udah biar gue yang bawa.”

Karena Nino terus memaksa, akhirnya Asep menepikan motornya. Pria itu segera turun dari motor. Dengan cepat Nino maju ke depan dan Asep duduk di belakangnya. Tanpa menunggu lama, Nino langsung melajukan motornya.

Dari kaca spion Nino bisa melihat kalau makhluk itu masih ada di belakang Asep. Bulu kuduk Nino langsung berdiri ketika tanpa sengaja melihat wajah perempuan itu yang hancur dan penuh dengan darah. Buru-buru dia mengalihkan pandangan dari spion.

“Sep, Lo baik-baik aja kan?”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Di belakang aman, kan?”

“Aman.”

“Nggak ada yang ngikut?”

Tentu saja Asep bingung mendengar pertanyaan Nino. Refleks pemuda itu menolehkan kepalanya ke belakang dan tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Sementara Nino masih bisa melihat sosok kunti berbaju merah masih duduk di belakang Asep.

“Sep, sorry yak.”

“Sorry kenapa?”

“Sorry aja, jadi gue yang bawa motor.”

“Santai aja. Kayak sama siapa aja.”

Perjalanan mendebarkan bagi Nino berakhir ketika motor yang dikendarainya sudah memasuki pekarangan rumah kost-an.

Dari spion, Nino sudah tidak melihat sosok itu lagi. Dia pun bisa bernafas lega. Sambil menenteng helm, keduanya memasuki rumah. Ketika Asep hendak masuk ke kamarnya, Nino menahannya.

“Sep, tidur sama gue yak.”

“Dih ogah banget.”

“Gue takut. Gimana kalau kloningan elo nongol lagi.”

“Halu itu.”

“Beneran atau nggak, mending kita tidur satu kamar aja. Kalau dia datengin elo sambil nyamar jadi gue, gimana?”

“Maneh mah nyingsieunan wae (elo mah nakutin aja).”

“Udah tidur di kamar gue. Angkut kasur Lo ke kamar.”

“Kela, urang ka kamar mandi heula.”

Sama seperti Asep, Nino pun segera ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Kemudian dia membantu Asep menggotong kasur ke kamarnya. Kasur diletakkan di lantai, dekat ranjang Nino. Setelah mengunci pintu, keduanya langsung duduk di atas kasur.

“Sep, gue mau pengakuan dosa ya.”

“Dosa apaan?”

“Sebenarnya pas gue minta gantian nyetir motor, ada yang ikut duduk di belakang gue.”

“Nu bener?” tubuh Asep langsung beringsut mendekati ranjang.

“Asli. Penampakannya cewek, kayak kunti gitu. Pake baju merah, terus mukanya hancur dan berdarah-darah.”

“Nu bener?” Asep semakin takut.

“Beneran. Dan pas gue pindah ke depan, dia masih duduk di belakang elo. Emang lo nggak ngerasain yang aneh gitu?”

“Nya tadi sih emang hawa teh kadang panas, kadang tiis. Naha maneh jadi bisa ningali nu kitu patut? (kenapa Lo jadi bisa lihat yang kaya gitu?).”

“Sejak gue kecelakaan. Begitu bangun dari koma, tiba-tiba aja gue bisa lihat yang begituan.”

“Ngeri pisan euy.”

“Asli takut bet gue.”

“Ayeuna aya keneh kuntina? (sekarang masih ada kuntinya?).”

“Udah kagak ada.”

“Alhamdulillah. Mending sare lah ayeuna (mending tidur sekarang).”

Keduanya segera membaringkan tubuh di kasur masing-masing. Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Nino memilih tidak mematikan lampu, seperti kebiasaannya saat tidur. Dikarenakan lelah, keduanya langsung jatuh tertidur.

***

Malam pun berlalu dengan aman. Mereka bangun ketika adzan shubuh berkumandang. Keduanya pun bergegas menuju mushola yang jaraknya tidak jauh dari kost-an.

Usai menunaikan shalat shubuh berjamaah, keduanya kembali ke kost-an. Asep mengembalikan kembali kasur ke kamarnya. Kemudian keduanya bersiap untuk berangkat ke kampus. Hari ini mereka ada kuliah pagi.

Sebelum masuk ke kelas, mereka sarapan lebih dulu di kantin kampus. Sambil menikmati sarapan, Asep mengatakan tugas apa saja yang harus dikerjakan selama Nino absen kuliah. Bahkan pemuda itu sudah merangkum semua mata kuliah untuk sang sahabat.

Tepat pukul tujuh lebih sepuluh menit, mereka memulai perkuliahan pertama. Satu per satu kelas B jurusan komunikasi memasuki ruangan. Nino mengambil kursi di bagian tengah dan Asep berada di depannya.

Ketika tengah mengeluarkan buku miliknya, tanpa sengaja mata Nino melihat ke kursi yang ada di bagian belakang, tepatnya di bagian sudut.

Di kursi itu duduk seorang mahasiswi. Mahasiswi itu berambut panjang, mengenakan blouse warna merah dan rok panjang warna hitam.

Cukup lama Nino memperhatikan, setahunya dia tidak pernah memiliki teman sekelas yang seperti gadis itu. Karena penasaran, dia bertanya pada Asep.

“Sep, di kelas kita ada mahasiswi baru yak?”

“Euweuh (ngga ada).”

“Itu yang di belakang, pojok kiri siapa?”

Refleks Asep menolehkan kepalanya ke arah kiri.

“Mana?” tanya Asep bingung.

***

Sue bener si Nino, malah jadiin Asep tameng Kunti🤣

Ini penampakan Nino versi ku

Terpopuler

Comments

ˢ⍣⃟ ₛ. ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞

ˢ⍣⃟ ₛ. ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞

dihhhh atuttttt....
kalau aku yg jadi Asep , jujurrr dehhh ngga mau dekat Ama Nino , soalnya Nino selalu di ikuti oleh Kunti 😨

2026-05-18

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑵𝒊𝒏𝒐 𝒉𝒓𝒔 𝒅𝒊 𝒓𝒖𝒌𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒏𝒊𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒖𝒕𝒖𝒑 𝒎𝒂𝒕𝒂 𝒃𝒂𝒕𝒊𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒂𝒓 𝒈𝒂𝒌 𝒍𝒊𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒕𝒂𝒏 𝒍𝒈 😱😅

2026-05-23

1

Yeyet Rohaeti

Yeyet Rohaeti

kasian si Nino, jadi di ikutin jurig mulu😄

2026-07-09

1

lihat semua
Episodes
1 Tersadar
2 (Bukan) Motor Baru
3 Penumpang Ghoib
4 Hantu Usil
5 Ruqiyah
6 Satmori
7 Debat Kusir
8 Blusukan
9 Noni Belanda
10 Curhat
11 Eris
12 Nasehat Eris
13 Penampakan Pertama
14 Keroyokan
15 Tolong Aku
16 Mendadak Detektif
17 Informan Mengerikan
18 Setan Trauma
19 Menjadi Saksi
20 Identitas Terungkap
21 Informan Rahasia
22 Tersangka
23 Indigo Terpaksa
24 Mencari Jejak
25 Saksi Baru
26 Bantuan Pengacara
27 Rencana Jahat
28 TKP
29 Penguntit
30 Dikejar Preman dan Setan
31 Aksi Kancing Cetet
32 Pertolongan Tepat Waktu
33 Berburu Anton
34 Pengakuan
35 Selamat Tinggal
36 Liburan
37 Gangguan di Malam Hari
38 Setan Ganjen & Hantu Baperan
39 Spesialis Penemu Kerangka
40 Live Rekonstruksi
41 Penyelidikan Dimulai
42 Syarat
43 Perlombaan
44 Bawa Aku Pulang
45 Kembali Pulang
46 Interogasi
47 Kasus Terselesaikan
48 Nama Jadul
49 Kasus TPPO
50 Gedung Kosong
51 Mendadak Zombie
52 Pertarungan
53 Upaya Penyelamatan
54 Pengocok Andal
55 Penculikan
56 Tolong! di Sini Banyak Setan
57 Pertolongan di Saat Genting
58 Mencari Jalan Keluar
59 Kucing-kucingan
60 Lolos Dari Bahaya
61 Terlahir Indigo
62 Cinta Lama Udah Kelar
63 Sketsa
64 Mencari Jejak Yara
65 Finding Yara
66 Finally Found You
67 Eris is Yara?
68 Perkembangan Baik
69 Bahaya Mengancam
70 Ingatan yang Terbenam
71 Kronologi
72 Merajuk
73 Kode Rahasia
74 Jurig Goreng Patut
75 Suasana Mendebarkan
76 Rencana Jebakan
77 Pertarungan
78 Bantuan di Saat Genting
79 Mendadak Hulk
80 Anwar dan Mela
81 Pelaku Penabrakan
82 GGS
83 Teror
84 Perburuan
85 Penyergapan
86 Khodam
87 Ahqam Ooh ... Ahqam
88 Mencari Safe House
89 Penjebakan
90 Salah Paham
91 Amukan Ahqam
92 Bukti Kuat
93 Dihantui
94 Eris
95 Saling Berkaitan
96 Mengungkap Ke Publik
97 Pancingan Berhasil
98 Pembalasan Eris
99 Anggota Jaringan Tirai Hitam
100 Superhero
101 Para Oknum
102 Pertarungan di Malam Hari
103 Informasi Penting
104 Malam Panjang
105 Terbungkam
106 Rencana Pelarian
107 Kabur
108 Pertarungan Para Jin
109 Salam Perpisahan
110 Kenaikan Pangkat Luar Biasa
111 Cita-cita yang Tercapai
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Tersadar
2
(Bukan) Motor Baru
3
Penumpang Ghoib
4
Hantu Usil
5
Ruqiyah
6
Satmori
7
Debat Kusir
8
Blusukan
9
Noni Belanda
10
Curhat
11
Eris
12
Nasehat Eris
13
Penampakan Pertama
14
Keroyokan
15
Tolong Aku
16
Mendadak Detektif
17
Informan Mengerikan
18
Setan Trauma
19
Menjadi Saksi
20
Identitas Terungkap
21
Informan Rahasia
22
Tersangka
23
Indigo Terpaksa
24
Mencari Jejak
25
Saksi Baru
26
Bantuan Pengacara
27
Rencana Jahat
28
TKP
29
Penguntit
30
Dikejar Preman dan Setan
31
Aksi Kancing Cetet
32
Pertolongan Tepat Waktu
33
Berburu Anton
34
Pengakuan
35
Selamat Tinggal
36
Liburan
37
Gangguan di Malam Hari
38
Setan Ganjen & Hantu Baperan
39
Spesialis Penemu Kerangka
40
Live Rekonstruksi
41
Penyelidikan Dimulai
42
Syarat
43
Perlombaan
44
Bawa Aku Pulang
45
Kembali Pulang
46
Interogasi
47
Kasus Terselesaikan
48
Nama Jadul
49
Kasus TPPO
50
Gedung Kosong
51
Mendadak Zombie
52
Pertarungan
53
Upaya Penyelamatan
54
Pengocok Andal
55
Penculikan
56
Tolong! di Sini Banyak Setan
57
Pertolongan di Saat Genting
58
Mencari Jalan Keluar
59
Kucing-kucingan
60
Lolos Dari Bahaya
61
Terlahir Indigo
62
Cinta Lama Udah Kelar
63
Sketsa
64
Mencari Jejak Yara
65
Finding Yara
66
Finally Found You
67
Eris is Yara?
68
Perkembangan Baik
69
Bahaya Mengancam
70
Ingatan yang Terbenam
71
Kronologi
72
Merajuk
73
Kode Rahasia
74
Jurig Goreng Patut
75
Suasana Mendebarkan
76
Rencana Jebakan
77
Pertarungan
78
Bantuan di Saat Genting
79
Mendadak Hulk
80
Anwar dan Mela
81
Pelaku Penabrakan
82
GGS
83
Teror
84
Perburuan
85
Penyergapan
86
Khodam
87
Ahqam Ooh ... Ahqam
88
Mencari Safe House
89
Penjebakan
90
Salah Paham
91
Amukan Ahqam
92
Bukti Kuat
93
Dihantui
94
Eris
95
Saling Berkaitan
96
Mengungkap Ke Publik
97
Pancingan Berhasil
98
Pembalasan Eris
99
Anggota Jaringan Tirai Hitam
100
Superhero
101
Para Oknum
102
Pertarungan di Malam Hari
103
Informasi Penting
104
Malam Panjang
105
Terbungkam
106
Rencana Pelarian
107
Kabur
108
Pertarungan Para Jin
109
Salam Perpisahan
110
Kenaikan Pangkat Luar Biasa
111
Cita-cita yang Tercapai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!