Tolong!!! Di Sini Banyak Setan

Tolong!!! Di Sini Banyak Setan

Tersadar

“HAH!!”

Seketika mata Nino terbuka. Pandangannya langsung melihat ke sekeliling. Tidak ada makhluk halus yang sedari tadi terus mengikuti dan mengejarnya. Pemuda itu sedikit tenang saat tahu apa yang dialami barusan hanyalah sebuah mimpi.

Sebuah ruang serba putih dengan bau disinfektan khas menyapa indra penciumannya. Ditambah lagi telinganya menangkap suara peralatan medis yang terletak tidak jauh darinya.

Di tangannya juga tertancap jarum infus. Tanpa harus bertanya, Nino tahu kalau dirinya berada di rumah sakit.

Di dekat ranjangnya berdiri seorang pria mengenakan jas snelli dengan masker menutupi wajahnya. Dokter itu mendekat saat tahu Nino sudah tersadar dari komanya.

“Nino, apa kamu baik-baik saja?” tanya sang dokter.

“Iya, dok. Saya kenapa?”

“Kamu mengalami kecelakaan motor. Apa kamu lupa?”

“Kecelakaan motor?”

Sejenak Nino berusaha mengingat apa yang terjadi padanya. Terakhir yang diingatnya dia tengah melaju di jalan raya dengan sepeda motornya. Sesaat kemudian dia merasakan benturan keras dan tubuhnya terpental ke aspal.

Tepat ketika matanya hendak menutup, dia melihat seorang wanita berada di dekat lokasi kecelakaan. Setelahnya pemuda itu tidak ingat apa-apa lagi.

“Apa yang kamu rasakan sekarang, Nino? Apa ada bagian tubuh mu yang terasa sakit?”

“Tidak ada, dok.”

“Bagaimana dengan kepalamu?”

“Tidak sakit juga, dok.”

“Baguslah. Kalau begitu kamu bisa ikut denganku sekarang.”

“Ke mana dok?”

“Ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi.”

Perlahan sang dokter melepas maskernya. Mata Nino membelalak ketika melihat wajah sang dokter dari mata ke bawah rata, tidak ada hidung dan mulut. Seketika Nino langsung berteriak kencang.

“AAAAAAAAA!!!!!”

“Dokter!! Dokter!!”

Weni, Ibu Nino yang sedang menunggui anaknya di ruang ICU langsung berteriak ketika melihat tubuh anaknya mengejang disusul dengan suara alat medis yang menandakan ada masalah dengan organ vital sang anak.

Bergegas seorang dokter dan dua orang suster memasuki ruang ICU. Sang dokter langsung menangani Nino yang masih kejang-kejang.

Kepanikan terlihat di wajah Weni. Wanita it uterus memanggil nama Nino sambil menangis. Suster segera meminta Weni meninggalkan ruangan. Dari balik kaca ruangan ICU, Weni terus mengawasi dokter yang masih menangani anaknya.

Kejang yang dialami Nino berhenti bertepatan dengan jantungnya yang berhenti berdetak. Sang dokter segera naik ke atas ranjang untuk melakukan RJP.

Suster segera mengambil defibrillator. Dengan cepat dia memasangkan bantalan ke tubuh Nino.

Dokter menghentikan RJP, kemudian turun dari ranjang. Ketika defibrillator dinyalakan, tubuh Nino terlonjak ke atas. Kedua jari dokter menempel di leher Nino, denyut nadi pemuda itu masih belum kembali.

“Epi!”

Sang dokter kembali naik ke atas ranjang. Kembali dokter tersebut memberikan kompresi pada Nino. Sementara salah satu suster menyiapkan defibrillator kembali dan satu lagi menyuntikkan epinephrine. Setelah siap, kembali Nino mendapat kejutan.

Berhubung detak jantung Nino masih belum kembali, dokter meminta suster menyuntikkan kembali epinephrine dan menaikkan volume defibrillator. Dan untuk ketiga kalinya dokter itu naik ke ranjang untuk melakukan RJP.

Di percobaan ketiga, barulah ketiganya bisa bernafas lega. Denyut nadi dan detak jantung Nino kembali. Pemuda itu akhirnya bisa keluar dari masa kritis. Weni yang melihat dari luar ruangan juga merasa lega, sang anak berhasil keluar dari maut.

***

Keesokan harinya Nino membuka matanya. Dokter langsung memeriksa keadaan pemuda itu. Walau masih lemah dan belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya, namun Nino sudah keluar dari masa kritis. Nino pun bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa.

Kedua orang tua Nino dan dua Kakaknya sudah berkumpul di ruang rawat salah satu rumah sakit swasta di kota Bandung.

Nino adalah anak bungsu dari pasangan Weni dan Rojali. Nino mempunyai satu kakak perempuan yang sudah berkeluarga, dan satu kakak laki-laki. Semua keluarganya tinggal di Depok. Sementara Nino merantau ke Bandung untuk kuliah.

“Ya Allah Nino, akhirnya kamu sadar juga, Nak. Kamu sudah bikin Mami takut.”

“No.. No.. Lo udah bikin babe jantungan, tahu kaga Lo?” sambung Rojali dengan logat Betawi yang kental.

Nino memang keturunan blasteran. Ayahnya orang Depok asli yang memiliki darah Betawi. Sementara Ibunya keturunan Janda alias Jawa Sunda. Dan Nino adalah hasil kolaborasi alias blasteran Jawa, Sunda dan Betawi.

Ibu Nino yang bernama Weni berkulit putih dan wajahnya juga cantik. Makanya Nino memanggil Ibunya dengan sebutan Mami.

Sementara Ayahnya, walau wajahnya lumayan ganteng, tapi karena logat Betawinya yang kental, membuat Nino memanggilnya dengan sebutan Babe.

“Maaf Mami, Babe.”

“Lo tuh kemarin sempat henti jantung, tahu nggak Lo? Hampir mati berdiri emak lo lihat dokter nyetrum Lo,” cerocos Rojali.

“Yang benar, Be?”

“Iye.”

“Lo kenapa bisa kecelakaan sih?” tanya Valen, Kakak kedua Nino. Mereka hanya berbeda dua tahun saja.

“Nggak tahu, Bang. Yang gue tahu, gue lagi bawa motor. Tiba-tiba ada yang nabrak gue terus gue mental gitu.”

“Yang nabrak Elo kabur kayaknya.”

“Oh iya, selain Nino, apa ada korban lain, Be?” tanya Nino penasaran.

Pasalnya dia terus teringat pada wanita yang ada di lokasi kecelakaan. Dia melihat wanita itu terbaring tidak jauh darinya dengan mata yang menatap ke arahnya.

“Kagak ade. Cuman Elo doang di sane. Lo bisa tanya temen Lo, si Asep.”

“Emangnya kenapa?” tanya Friska, Kakak pertama Nino.

“Pas sebelum Nino pingsan, Nino lihat ada perempuan ngga jauh dari Nino. Dia juga tergeletak di aspal. Kepalanya berdarah. Matanya lihat ke Nino kaya minta tolong gitu.”

Terang Nino pada Friska. Cara bicara Nino pada Friska memang lebih sopan. Selain jarak usia mereka yang cukup jauh, sebanyak delapan tahun. Friska juga cukup galak, jadi Nino sedikit segan padanya.

“Nggak ada perempuan. Menurut laporan polisi, cuma kamu yang ada di TKP. Di rekaman cctv juga nggak ada korban lain, cuma kamu aja. Mobil yang nabrak kamu langsung kabur. Kamu mimpi kali.”

“Masa sih? Tapi Nino yakin lihat perempuan itu.”

“Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang penting kamu selamat. Kamu itu koma seminggu, dan sempat henti jantung. Tolong jangan buat Mami takut lagi.”

“Iya, Mami.”

Nino pun memilih tidak membahas perempuan misterius itu lagi. Walau dia yakin kalau perempuan itu nyata, namun semua keterangan yang diberikan Friska bertolak belakang.

“Mami mending balik ke penginapan. Istirahat, Mami kan sudah dari kemarin tidur di rumah sakit. Biar Valen aja yang jaga. Kak Friska temani Mami, Babe juga.”

“Ya sudah, Mami, Babe dan Kak Friska pulang dulu ke penginapan. Besok Mami ke sini lagi.”

Weni mencium kening Nino sebelum meninggalkan anak bungsunya itu. Sepeninggal semua keluarganya, Valen menarik kursi di dekat ranjang adiknya.

“Bang, ini kamar kelas berapa?”

“Kelas dua. semuanya penuh. Di samping Elo, pasien Kakek-kakek, kayanya kondisinya udah payah banget. Depan Elo, yang satu Bapak-bapak, satu lagi seumuran Elo, tapi dia tulang lunak kayanya,” suara Valen terdengar pelan. Jangan sampai ucapannya terdengar oleh pasien yang lain.

“Bang, telponin si Asep dong. Suruh dia ke sini.”

Valen segera menghubungi Asep. Sahabat dekat Nino. Sejak masuk ke perguruan tinggi keduanya sudah akrab sampai sekarang. Saking dekatnya, teman-teman sekelasnya sering menyebut mereka duo cetet, Upin Ipin atau duo maut.

Begitu mendapat telepon dari Valen, Asep berjanji akan datang malam hari nanti.

***

Hari sudah mulai menggelap. Valen berpamitan pada Nino untuk keluar mencari makan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Asep belum juga muncul.

Karena bosan, Nino memutuskan turun dari ranjang. Tubuhnya sudah mulai bisa digerakkan walau harus pelan-pelan.

Dengan tertatih Nino turun dari ranjang. Dilihatnya semua pasien yang satu ruangan dengannya sudah beristirahat di atas ranjang. Semuanya ada yang menunggui, kecuali dirinya karena Valen sedang mencari makan.

Selangkah demi selangkah Nino keluar dari kamar perawatan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Walau baru pukul delapan, tapi suasana di lantai ini sudah sangat sepi. Hanya ada satu suster yang berjaga di nurse station.

Ketika Nino hampir sampai di dekat nurse station, kepala suster yang sedang menunduk langsung terangkat. Matanya langsung melihat pada Nino yang berjalan ke arahnya. Dengan cepat suster itu mendekati Nino.

“Mau kemana, A?”

“Mau jalan-jalan aja, Sus. Bosan di kamar terus.”

“Mau saya temani?”

Suster tersebut memandangi Nino tanpa berkedip. Tiba-tiba saja dari kedua matanya keluar darah. Bersamaan dengan keluarnya darah, salah satu matanya copot dan menggantung sampai ke dekat hidung.

“AAAAAAAA!!!”

Nino berteriak kencang. Saking kencangnya, dia yakin kalau suara teriakannya akan terdengar oleh seluruh penghuni kamar di lantai ini. Namun nyatanya, tidak ada seorang pun yang keluar untuk menolongnya.

Pemuda itu berusaha menjauh dari suster tersebut. Namun karena tubuhnya yang masih lemas, dia tidak bisa berjalan jauh. Bahkan Nino terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Dia melihat ke belakang.

Sekarang sang suster sudah dalam posisi merayap di lantai. Dia menjulurkan tangannya, mencoba meraih kaki Nino.

***

Hai.. Hai.. Aku datang dengan novel baru. Aku kangen bikin novel horor, tapi tetap ya ada komedinya. Karena kalau serius, aku ikutan takut juga😂

Terpopuler

Comments

Noor fajar Hidayat

Noor fajar Hidayat

tor ni ak nggak salah baca kan? bukannya vallen itu kakaknya ya?

2026-06-14

1

lilis dewilia

lilis dewilia

ijin baca kak ... aku penggemar karya kakak, tapi maaf aku hanya bisa baca yang sudah tamat , karna gak bisa fokus baca runtut , takut malah ngrusak retensi karya kakak...

2026-08-23

0

Mio Amore

Mio Amore

semoga klo pun jarang hadir tpi msih bsa bca karya ibun
maaf bun baru bsa hadir lgi saya di karya ibun

2026-05-12

1

lihat semua
Episodes
1 Tersadar
2 (Bukan) Motor Baru
3 Penumpang Ghoib
4 Hantu Usil
5 Ruqiyah
6 Satmori
7 Debat Kusir
8 Blusukan
9 Noni Belanda
10 Curhat
11 Eris
12 Nasehat Eris
13 Penampakan Pertama
14 Keroyokan
15 Tolong Aku
16 Mendadak Detektif
17 Informan Mengerikan
18 Setan Trauma
19 Menjadi Saksi
20 Identitas Terungkap
21 Informan Rahasia
22 Tersangka
23 Indigo Terpaksa
24 Mencari Jejak
25 Saksi Baru
26 Bantuan Pengacara
27 Rencana Jahat
28 TKP
29 Penguntit
30 Dikejar Preman dan Setan
31 Aksi Kancing Cetet
32 Pertolongan Tepat Waktu
33 Berburu Anton
34 Pengakuan
35 Selamat Tinggal
36 Liburan
37 Gangguan di Malam Hari
38 Setan Ganjen & Hantu Baperan
39 Spesialis Penemu Kerangka
40 Live Rekonstruksi
41 Penyelidikan Dimulai
42 Syarat
43 Perlombaan
44 Bawa Aku Pulang
45 Kembali Pulang
46 Interogasi
47 Kasus Terselesaikan
48 Nama Jadul
49 Kasus TPPO
50 Gedung Kosong
51 Mendadak Zombie
52 Pertarungan
53 Upaya Penyelamatan
54 Pengocok Andal
55 Penculikan
56 Tolong! di Sini Banyak Setan
57 Pertolongan di Saat Genting
58 Mencari Jalan Keluar
59 Kucing-kucingan
60 Lolos Dari Bahaya
61 Terlahir Indigo
62 Cinta Lama Udah Kelar
63 Sketsa
64 Mencari Jejak Yara
65 Finding Yara
66 Finally Found You
67 Eris is Yara?
68 Perkembangan Baik
69 Bahaya Mengancam
70 Ingatan yang Terbenam
71 Kronologi
72 Merajuk
73 Kode Rahasia
74 Jurig Goreng Patut
75 Suasana Mendebarkan
76 Rencana Jebakan
77 Pertarungan
78 Bantuan di Saat Genting
79 Mendadak Hulk
80 Anwar dan Mela
81 Pelaku Penabrakan
82 GGS
83 Teror
84 Perburuan
85 Penyergapan
86 Khodam
87 Ahqam Ooh ... Ahqam
88 Mencari Safe House
89 Penjebakan
90 Salah Paham
91 Amukan Ahqam
92 Bukti Kuat
93 Dihantui
94 Eris
95 Saling Berkaitan
96 Mengungkap Ke Publik
97 Pancingan Berhasil
98 Pembalasan Eris
99 Anggota Jaringan Tirai Hitam
100 Superhero
101 Para Oknum
102 Pertarungan di Malam Hari
103 Informasi Penting
104 Malam Panjang
105 Terbungkam
106 Rencana Pelarian
107 Kabur
108 Pertarungan Para Jin
109 Salam Perpisahan
110 Kenaikan Pangkat Luar Biasa
111 Cita-cita yang Tercapai
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Tersadar
2
(Bukan) Motor Baru
3
Penumpang Ghoib
4
Hantu Usil
5
Ruqiyah
6
Satmori
7
Debat Kusir
8
Blusukan
9
Noni Belanda
10
Curhat
11
Eris
12
Nasehat Eris
13
Penampakan Pertama
14
Keroyokan
15
Tolong Aku
16
Mendadak Detektif
17
Informan Mengerikan
18
Setan Trauma
19
Menjadi Saksi
20
Identitas Terungkap
21
Informan Rahasia
22
Tersangka
23
Indigo Terpaksa
24
Mencari Jejak
25
Saksi Baru
26
Bantuan Pengacara
27
Rencana Jahat
28
TKP
29
Penguntit
30
Dikejar Preman dan Setan
31
Aksi Kancing Cetet
32
Pertolongan Tepat Waktu
33
Berburu Anton
34
Pengakuan
35
Selamat Tinggal
36
Liburan
37
Gangguan di Malam Hari
38
Setan Ganjen & Hantu Baperan
39
Spesialis Penemu Kerangka
40
Live Rekonstruksi
41
Penyelidikan Dimulai
42
Syarat
43
Perlombaan
44
Bawa Aku Pulang
45
Kembali Pulang
46
Interogasi
47
Kasus Terselesaikan
48
Nama Jadul
49
Kasus TPPO
50
Gedung Kosong
51
Mendadak Zombie
52
Pertarungan
53
Upaya Penyelamatan
54
Pengocok Andal
55
Penculikan
56
Tolong! di Sini Banyak Setan
57
Pertolongan di Saat Genting
58
Mencari Jalan Keluar
59
Kucing-kucingan
60
Lolos Dari Bahaya
61
Terlahir Indigo
62
Cinta Lama Udah Kelar
63
Sketsa
64
Mencari Jejak Yara
65
Finding Yara
66
Finally Found You
67
Eris is Yara?
68
Perkembangan Baik
69
Bahaya Mengancam
70
Ingatan yang Terbenam
71
Kronologi
72
Merajuk
73
Kode Rahasia
74
Jurig Goreng Patut
75
Suasana Mendebarkan
76
Rencana Jebakan
77
Pertarungan
78
Bantuan di Saat Genting
79
Mendadak Hulk
80
Anwar dan Mela
81
Pelaku Penabrakan
82
GGS
83
Teror
84
Perburuan
85
Penyergapan
86
Khodam
87
Ahqam Ooh ... Ahqam
88
Mencari Safe House
89
Penjebakan
90
Salah Paham
91
Amukan Ahqam
92
Bukti Kuat
93
Dihantui
94
Eris
95
Saling Berkaitan
96
Mengungkap Ke Publik
97
Pancingan Berhasil
98
Pembalasan Eris
99
Anggota Jaringan Tirai Hitam
100
Superhero
101
Para Oknum
102
Pertarungan di Malam Hari
103
Informasi Penting
104
Malam Panjang
105
Terbungkam
106
Rencana Pelarian
107
Kabur
108
Pertarungan Para Jin
109
Salam Perpisahan
110
Kenaikan Pangkat Luar Biasa
111
Cita-cita yang Tercapai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!