Pengganti

“Saya terima nikah dan kawinnya Andi Alesha Azahra binti Andi Sultan

dengan seperangkat alat salat dan hafalan surah Al–Fath, tunai.”

Ucapan itu meluncur jelas dari bibir lelaki tampan bernama Althaf Zayn Yusuf, tangan kanannya menjabat erat tangan Papa Sultan.

Suara lantang para saksi menyahut.

“Sah! Sah!”

Gemuruh “sah” itu menggema memenuhi mansion, menggetarkan setiap sudut ruangan. Mata papa Sultan berkaca-kaca, ia mengucapkan hamdalah.

‘Semoga ini yang terbaik untuk putriku, ya Allah,’ batinnya.

Sementara itu, di deretan tamu, empat sahabat Zahra, Anita, Salsa, Iind, dan Ayu yang mengenakan baju bodo warna maroon hanya bisa saling pandang dengan wajah bingung luar biasa.

Anita mengerutkan dahi. “Loh, kok bukan si Reza?”

Salsa langsung membisik, menatap ke arah pelaminan dengan mata melebar. “Lho, ini Pak KUA kok malah jadi mempelai? Ini gimana ceritanya sih?”

Iind, dengan logat Jawanya yang khas, ikut mencondongkan tubuh. “Apa jangan-jangan ada sesuatu terjadi barusan? Aku nggak ngerti ini.”

Ayu berdiri setengah. “Cepat, kita liat Zahra. Jangan-jangan—”

Anita buru-buru menarik lengannya. “Eh, entar dulu! Jangan bikin heboh dulu ba, kita tunggu sedikit.”

Akhirnya Ayu dan lainnya diam.

Suasana di ruangan utama sudah berubah khidmat kembali saat Papa Sultan, Althaf, dan para tamu menunduk untuk doa.

Di lantai dua, kamar Zahra

Kamar pengantin itu telah dihias cantik dengan lamming (dekorasi adat Bugis). Namun di atas ranjang, duduk seorang pengantin wanita dengan tatapan kosong.

Dia adalah Zahara yang baru sah menjadi pengantin.

Masih mengenakan baju pengantin, wajahnya pucat. Ia mendengar ucapan “sah” tadi, namun jiwanya seolah tertinggal di tempat yang lain. Sakit, malu, bingung, semuanya bercampur jadi satu.

Pintu kamar diketuk pelan.

“Ara.” suara lembut Rani, ibunya, muncul. Ia masuk sambil tersenyum getir. “Nak, waktunya mappakasikarawa.”

Zahra hanya mengerjap lemah.

Beberapa detik kemudian, Althaf masuk didampingi Papa Sultan. Lelaki itu terlihat tenang, meski ada raut canggung di wajahnya melihat mempelai wanita yang bahkan tak menoleh. Beberapa keluarga juga ikut masuk sambil memegangi ponsel masing-masing.

Blitz kamera mulai berkedip, menandakan prosesi pertemuan pengantin di mulai.

Keempat sahabat Zahra juga ikut masuk. Mereka langsung menahan napas melihat sahabatnya hanya duduk diam seperti patung.

Ayu berbisik lirih, “Ara kasihan sekali.”

Salsa menatap Zahra cemas. “Pasti sesuatu telah terjadi.”

Papa Sultan kemudian memberi aba-aba lembut pada Althaf. “Ayo, Nak.”

Althaf mendekat, duduk perlahan di atas ranjang jarak mereka begitu dekat namun zahra tak bergeming.

Lelaki itu mengangkat tangan, pelan-pelan menyentuh ubun-ubun Zahra, membaca doa dengan suara lembut.

Selesai doa, Rani menyerahkan cincin. Ia memegang tangan putrinya agar terulur.

Rani mencoba tersenyum. “Ara, Nak ini cincinmu.”

Zahra hanya membiarkan tangannya digerakkan, matanya tetap kosong. Althaf pun menyematkan cincin itu dengan hati-hati, lalu menerima cincin untuk dirinya sendiri.

Begitu prosesi selesai, Papa Sultan memberi isyarat berikutnya.

“Ara, cium punggung tangan suamimu.”

Zahra tersentak sedikit, namun mengikuti. Ia menunduk dan mencium punggung tangan Althaf. Blitz kamera kembali menyala, diiringi tepuk tangan kecil para tamu.

Papa Sultan tersenyum lega, lalu berkata lagi, “Sekarang biar suamimu yang mencium keningmu.”

Zahra, yang pikirannya masih kacau, salah mengerti. Tanpa berpikir, ia meraih kepala Althaf dan mencium kening lelaki itu lebih dulu dengan cepat.

Semua orang membeku sejenak. Lalu sesaat kemudian.

“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!”

Tamu-tamu langsung heboh, beberapa menutup mulut menahan tawa.

Papa Sultan refleks menepuk keningnya.

“Zahra, Nak! Bukan begitu. Yang cium itu Althaf ke kamu, bukan kamu yang—ya Allah, ini anak.”

Zahra tersadar. Wajahnya langsung merah padam, telinganya panas, dan ia buru-buru menarik tangan.

Keempat sahabatnya langsung tertawa terbahak.

Anita, menepuk paha. “Masih shock pun, tetap ada tingkah ajaib si Ara.”

Ayu mengangguk heboh. “Buset, Zahra ganas yak!”

Iind manggut-manggut sambil terkekeh. “Emang dasarnya bocah gemblung yaa gitu. ”

Salsa menambahkan, terkekeh. “Minimal suasana mencair, ya kan?”

Zahra menunduk dalam-dalam, hampir ingin masuk ke kolong ranjang saking malunya.

Namun ketika ia perlahan mengangkat wajah, matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Althaf.

Mereka sama-sama terdiam.

Althaf memandangnya dengan campuran canggung, teduh, dan entah apa itu. Ada kehangatan kecil yang belum pernah Zahra lihat darinya.

Zahra cepat-cepat membuang muka, jantungnya mulai berdetak aneh.

*

*

Malam harinya, malam yang harusnya menjadi malam hangat untuk kedua sepasang pengantin. Justru itu tak berlaku untuk Zahra dan Althaf.

Zahra duduk di ujung ranjang, memeluk bantal dengan wajah lelah. Di sisi lain, Althaf berdiri kikuk di dekat meja rias, sama sekali tidak tahu harus memulai dari mana.

Keheningan itu berlangsung lama. .

Hingga akhirnya Zahra, yang memang tidak tahan berada dalam suasana hening, menghela napas, lalu ia beranjak dari ranjang dan mengulurkan tangannya ke arah Althaf.

“Ini,” katanya singkat.

Althaf memandang tangan kecil itu dengan kening sedikit berkerut. “Apa?”

Zahra menatapnya seakan pertanyaan itu sangat aneh. “Kita kenalan, dong. Masak suami istri enggak saling kenal?”

Baru kali itu Althaf tersenyum, walau kecil. Ia mendekat dan menjabat tangan Zahra. Genggamannya hangat.

“Althaf Zayn Yusuf.”

Zahra mengangguk pelan. “Zahra. Tapi, ya, itu kamu sudah tahu.”

Keheningan kembali menyelinap di antara mereka.

Beberapa detik berlalu sebelum Zahra memberanikan diri berbicara lagi. Suaranya datar, sedikit bergetar karena canggung, tapi ia berusaha terdengar tenang.

“Terima kasih sudah nyelamatin wajah keluargaku hari ini. Aku tahu ini berat buat kamu.” Ia menunduk, menatap ujung jarinya. “Aku memang menyedihkan, ya? Ditinggal nikah sama cowok yang aku sayang, diselingkuhi sahabat sendiri.”

Althaf tidak menimpali. Tatapannya terlihay iba meski wajahnya tetap dingin.

Zahra kembali bicara, kali ini suaranya lebih kecil, “Tapi kalau kamu mau cerai, enggak apa-apa. Serius. Kita juga enggak saling cinta. Aku enggak mau memaksa kamu bertahan.”

Althaf membuka mulut hendak menjawab, namun, Zahra tiba-tiba berbalik, berlari kecil ke ranjang, lalu langsung menyembunyikan diri di balik selimut, hanya menyisakan rambut cokelatnya.

“Aku ngantuk! Selamat tidur!” serunya tergesa, jelas sekali ingin mengakhiri pembicaraan.

Althaf tertegun. Ia mengira Zahra akan menangis, marah, atau setidaknya mengusirnya keluar kamar. Tapi tidak. Gadis itu malah mengajaknya berkenalan lalu kabur ke balik selimut seperti anak kecil yang salah tingkah.

Sebuah senyum kecil muncul di bibir Althaf tanpa ia sadari. ‘Gadis ini benar-benar unik.’

Althaf menggeleng pelan. Ia mengambil karpet bulu tebal yang sudah disiapkan di sudut ruangan, lalu membentangkannya di lantai. Setelah mengambil bantal cadangan, ia berbaring, menatap langit-langit kamar.

Sebelum memejamkan mata, Althaf sempat melirik ke arah Zahra yang masih bergelung di balik selimut.

Terpopuler

Comments

Zainab Ddi

Zainab Ddi

author ditunggu updatenya selalu untuk kelanjutannya 💪🏻😍😍

2025-12-15

0

bibuk Hannan & Afnan

bibuk Hannan & Afnan

wow terlihay banget ya thor😁😁
terlihay=terlihat

2026-03-01

0

Tasmiyati Yati

Tasmiyati Yati

semoga samawa gak ada drama rumah tangga

2026-02-10

0

lihat semua
Episodes
1 Dighosting
2 Pengganti
3 Membalas Mantan
4 Pesta Mantan Yang Kacau
5 Perdebatan
6 Pulang Kampung
7 Kabar Duka
8 Kekesalan Zahra
9 Marah?
10 Ulah Zahra
11 Mari Berteman
12 Saingan?
13 Persaingan
14 Dihadang
15 Benih-benih Cinta
16 Cemburu?
17 Salah Paham
18 Pelakor Beraksi
19 Masa Lalu VS Masa Depan
20 Panen Raya
21 Tingkah Zahra
22 Perhatian Althaf
23 Diremehkan
24 Cinta Dalam Diam
25 Bule Nyasar
26 Fitnah
27 Lapor Polisi
28 Tertangkap Basah
29 Masalah Selesai
30 Althaf Mulai Posesif
31 Salah Dengar?
32 Reunian Althaf
33 Hampir Saja
34 Sama-sama Galau
35 Mengungkapkan Rasa
36 Subuh Pertama
37 Menolong
38 Sama-sama Kagum
39 Kena Tipu
40 Ditangkap
41 Bu Mirna VS Bu Raodah
42 Althaf Frustasi
43 Dibalas Telak
44 Mengungsi?
45 Ada Apa Dengan Lisa?
46 Zahra Ngamuk
47 Masalah Kelar!
48 Tidur di Luar
49 Bu Mirna Berulah
50 Papa Zahra?
51 Proyek Ilegal?
52 Apa yang Terjadi?
53 Pak Kades Terlibat
54 Kacau
55 Kedatangan Papa Sultan
56 Hukuman Bu Mirna
57 Rencana Papa Sultan
58 Althaf Dipecat?
59 Zahra Kenapa?
60 Dibawa Pergi
61 Hamil
62 Pulang
63 Zahra Hilang
64 Kemana Dia?
65 Ternyata
66 Masa Lalu
67 Kepulangan Orang Tua Zahra
68 Keluarga Pak Burhan
69 Keluarga Tidak Memiliki Adab
70 Keluarga Tak Tahu Malu
71 Khayalan Tingkat Tinggi
72 Ada Maunya
73 Keusilan Zahra
74 Kelakuan Bu Mirna
75 Bertemu
76 Bertengkar
77 Rencana
78 Pelajaran
79 Pindah
80 Kena Karma
81 Kebetulan
82 Empat Bulanan
83 Perubahan Anida
84 Sindiran Zahra
85 Lelaki Yang Tulus
86 Meminta Tolong
87 Permintaan Terakhir
88 Balasan
89 Kedatangan
90 Berkumpul
91 Ke Mall
92 Misi Bumil
93 Diarak Keliling Kampung
94 Kedatangan Andini
95 Tujuh Bulanan
96 Acara Tujuh Bulanan
97 Minta Maaf
98 Melahirkan
99 Si Kembar
100 Menuju Ending
101 Bahagia Bersama
102 Bonus Chapter
103 Bonus Chapter 2
104 Bonchap part Karel
105 Bonchap Part Karel
106 Bonchap Part Lisa
107 Bonchap Part Lisa 2
108 Bonchap Part Lisa 3
109 Part Menuju Akhir
110 Bonchap Akhir
111 Salam Hangat
112 Pengumuman Karya Baru
113 Promosi Karya Baru
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Dighosting
2
Pengganti
3
Membalas Mantan
4
Pesta Mantan Yang Kacau
5
Perdebatan
6
Pulang Kampung
7
Kabar Duka
8
Kekesalan Zahra
9
Marah?
10
Ulah Zahra
11
Mari Berteman
12
Saingan?
13
Persaingan
14
Dihadang
15
Benih-benih Cinta
16
Cemburu?
17
Salah Paham
18
Pelakor Beraksi
19
Masa Lalu VS Masa Depan
20
Panen Raya
21
Tingkah Zahra
22
Perhatian Althaf
23
Diremehkan
24
Cinta Dalam Diam
25
Bule Nyasar
26
Fitnah
27
Lapor Polisi
28
Tertangkap Basah
29
Masalah Selesai
30
Althaf Mulai Posesif
31
Salah Dengar?
32
Reunian Althaf
33
Hampir Saja
34
Sama-sama Galau
35
Mengungkapkan Rasa
36
Subuh Pertama
37
Menolong
38
Sama-sama Kagum
39
Kena Tipu
40
Ditangkap
41
Bu Mirna VS Bu Raodah
42
Althaf Frustasi
43
Dibalas Telak
44
Mengungsi?
45
Ada Apa Dengan Lisa?
46
Zahra Ngamuk
47
Masalah Kelar!
48
Tidur di Luar
49
Bu Mirna Berulah
50
Papa Zahra?
51
Proyek Ilegal?
52
Apa yang Terjadi?
53
Pak Kades Terlibat
54
Kacau
55
Kedatangan Papa Sultan
56
Hukuman Bu Mirna
57
Rencana Papa Sultan
58
Althaf Dipecat?
59
Zahra Kenapa?
60
Dibawa Pergi
61
Hamil
62
Pulang
63
Zahra Hilang
64
Kemana Dia?
65
Ternyata
66
Masa Lalu
67
Kepulangan Orang Tua Zahra
68
Keluarga Pak Burhan
69
Keluarga Tidak Memiliki Adab
70
Keluarga Tak Tahu Malu
71
Khayalan Tingkat Tinggi
72
Ada Maunya
73
Keusilan Zahra
74
Kelakuan Bu Mirna
75
Bertemu
76
Bertengkar
77
Rencana
78
Pelajaran
79
Pindah
80
Kena Karma
81
Kebetulan
82
Empat Bulanan
83
Perubahan Anida
84
Sindiran Zahra
85
Lelaki Yang Tulus
86
Meminta Tolong
87
Permintaan Terakhir
88
Balasan
89
Kedatangan
90
Berkumpul
91
Ke Mall
92
Misi Bumil
93
Diarak Keliling Kampung
94
Kedatangan Andini
95
Tujuh Bulanan
96
Acara Tujuh Bulanan
97
Minta Maaf
98
Melahirkan
99
Si Kembar
100
Menuju Ending
101
Bahagia Bersama
102
Bonus Chapter
103
Bonus Chapter 2
104
Bonchap part Karel
105
Bonchap Part Karel
106
Bonchap Part Lisa
107
Bonchap Part Lisa 2
108
Bonchap Part Lisa 3
109
Part Menuju Akhir
110
Bonchap Akhir
111
Salam Hangat
112
Pengumuman Karya Baru
113
Promosi Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!