Assalamualaikum, Pak KUA

Assalamualaikum, Pak KUA

Dighosting

“Bagaimana? Sudah ada kabar?”

Suara berat dari arah pintu, membuat gadis yang mengenakan baju pengantin, baju bodo modern berwarna maroon itu tersentak kecil.

Gadis itu menatap sang papa sambil menggeleng pelan. “Belum, ada Pa,” jawabnya dengan suara khawatir.

Sang papa menghela napasnya, melangkah masuk ke kamar sang putri dengah wajah berat dan menahan amarah yang sedari tadi dipendam.

“Ini sudah jam dua belas, Zahra. Sampai kapan kita akan menunggu? Para tamu sudah hadir. Tapi pria itu dan keluarganya belum datang juga,” kata sang papa bernama Sultan, mencoba meredam emosinya.

Zahra menunduk, menautkan kedua tangannya yang telah dihias hena dan nail art. Mata gadis itu berkaca-kaca menahan tangisnya.

“Pa, beri waktu sedikit lagi. Zahra yakin, Reza dan keluarganya pasti akan datang sebentar pagi,” ucap gadis itu memohon.

“Kau sudah mengatakan hal itu sejak 2 jam lalu Zahra. Dari awal Papa sudah tidak setuju dengan pria itu. Tapi kau tetap memaksa.” Suara Papa Sultan terdengar meninggi.

Zahra menatap sang Papa, gadis itu berdiri mencoba membalas ucapan sang papa. Tapi dering telfonnya menghentikan gadis itu.

Tertera, nama penelpon adalah Reza, sang kekasih hati.

Zahra kembali bersemangat, meski tadi harapannya hampir pupus. Hatinya langsung kembali melonjak. Ia dengan cepat mengambilnya.

“Pa, lihat! Reza telfon.” Zahra terburu-buru menekan tombol jawab dan mengaktifkan speaker.

“Halo, Reza kamu di mana? Aku dan semuanya sudah—”

Ucapan Zahra terhenti karena suara laki-laki itu memotong dengan tergesa-gesa.

“Maafkan aku, Ra. Aku gak bisa melanjutkan pernikahan ini.”

Deg!

Jantung Zahra berhenti berdetak seketika.

“Ha?! Apa maksudmu?”

“Aku mencintai Andini,” Reza melanjutkan ucapannya, “dan … Andini hamil anakku. Sekarang kami akan menikah.”

Duar!

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari petir yang membelah langit. Hati Zahra serasa diremas oleh tangan tak kasat mata.

Zahra menggeleng cepat, napasnya kacau. “T–tidak … kalian jangan bercanda. Ini gak lucu! Reza, kau calon suamiku! Andini sahabatku! Kalian … kalian jangan mencoba prank aku.”

Gadis itu masih mencoba menyangkalnya, meski dadanya bergemuruh hebat tapi ia tak ingin percaya.

“Ini bukan prank, Ra.” Suara Reza terdengar menyesal. “Maaf, aku memang akan menikahi Andini. Kata orang tuaku, dari awal kita udah gak cocok. Kuta beda suku Ra’.”

Mata Zahra memerah, menahan Isak tangisnya. “Tapi kenapa baru sekarang kau bilang? Kenapa tidak dari jauh-jauh hari? Apa kau tidak tahu apa akibatnya?!”

Baru saja Reza akan menjawab, terdengar suara seseorang menyahut dengan nada sinis.

“Eh, Zahra. Kudune kamu tahu diri. Seko awal kami ora setuju anak kami nikah karo kowe. Kowe kui suku Bugis. Ora cocok karo keluarga kami. Ngerti ora!”

Dari seberang telfon, Reza mencoba menegur sang ibu, “Bu, sudah to Bu—”

Sang Ibu langsung memotong dan berkata, " Lah, Opo iki salah? Bener to? Kudune dari awal kalian ki ora usah pacaran! Delok kae Andini, kae cocok lak jadi mantu Ibu, sama-sama Jowo. Harusne si Zahra iki tahu diri.”

Prak!

Ponsel di tangan Zahra terlepas dan jatuh ke lantai, tubuh gadis itu mematung, tak lama tubuhnya ikut terjatuh seolah tak memiliki tulang untuk menopang.

Papa Sultan refleks menunduk meraih ponsel itu. Wajahnya merah padam, suara lamgsung meledak.

“Kau menipu putriku?! Kau mempermalukan keluarga kami?! Dasar tidak punya siri’! Bajingan kau!”

“Heh! Apa kau bilamg—”

Suara ibu dari Reza terdengar tenggelam. Lalu Reza hanya berkata pelan, “Maafkan aku, Om.”

Klik!

Lalu sambungan terputus.

Papa Sultan menggeram keras, dan langsung melemparkan ponsel itu ke dinding.

Prang!

“Dari awal Papa sudah bilang laki-laki itu bajingan!” seru Papa Sultan dengan wajah memerah.

Zahra tak bersuara. Air matanya pecah, mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Tubuhnya bergetar hebat.

Tak lama, suara langkah cepat masuk ke kamar.

“Ada apa ini?” Rani, ibu Zahra muncul dengan wajah panik. Saat melihat Zahra di lantai, tubuh suaminya tegang dan wajahnya memerah. Perasaannya langsung tidak enak.

“Apa yang terjadi? Kenapa Reza belum datang? Papa ngomong!” desak Rani pada sang suami.

Papa Sultan memejamkan mata lalu berkata pelan. “Pernikahan ini batal. Reza memilih wanita lain dan dia sudah menghamilinya.”

Tubuh Rani melemas. “Astaghfirullah … bagaimana bisa?” Ia hampir jatuh jika bukan karena tangan suaminya yang cepat menangkap.

Zahra hanya menangis di lantai, tak mampu berkata apa-apa.

*

*

Di bawah, keributan kecil mulai terjadi. Para tamu berbisik-bisik, wajah mereka nampak kesal dan resah.

“Kenapa lama sekali?”

“Apa terjadi sesuatu di jalan sama keluarga mempelai prinya?”

“Aduh ini memalukan sekali.”

Terlihat juga, empat gadis cantik sahabat Zahra juga mulai tampak gelisah.

“Si Reza kemana sih njir? Ini udah jam dua belas loh kasihan si Ara,” gerutu Anita.

Di dekatnya, seorang gadis berkulit kuning langsat, Iind terlihat terus bercermin di cermin kecil yang ia bawa, "Ternyata aku cantik juga yo, pakai baju bodoh. Beruntung banget biso due konco seko Sulawesi.”

Ayu mendengus. "Uduk bodoh, tapi bodo Iind. Huruf H ne gak ono."

Iind cemberut dan berkata, "Salah sitik doang kok."

"Guys-guys! Lihat tuh, pak penghulunya cakep banget. Kek aktor ya gak? Ih, gemes banget,” kata Salsa terus memandangi ke arah penghulu dengan mata berbinar terang.

Anita sendiri merasa kesal, melihat ketiga temannya justru sibuk dengan yang lain.

"Kalian denger gak sih? Itu kenapa Reza belum datang. Kasihan si Ara nunggu terus," sela Anita membuat ketiganya terdiam.

"Eh, iyo yo? Kok Reza belum dateng yo?" tanya Iind langsung celingukan.

"Opo jangan-jangan ono sesuatu lagi," kata Ayu.

Keempatnya saling pandang.

Di meja utama, seorang pria tampan, berusia dua puluh delapan tahunan duduk dengan wajah tenang. Namanya Althaf, penghulu muda yang akan memimpin akad. Namun teman petugas KUA di sampingnya mulai gelisah.

“Thaf, waktunya sudah lewat dari tadi ini. Jangan-jangan kabur lagi pengantinnya?” ujar Randi asal.

Althaf menoleh, wajahnya tetap datar. “Jangan asal bicara.”

Temannya langsung terdiam, lalu tak lama ia cengengesan. “Ya, maaf. Tapi kita sudah dari tadi nunggunya, loh. Mana laper lagi,” gerutunya kecil sambil memegangi perutnya.

Althaf hanya terdiam, pria itu memang sangat irit bicara. Dan Randi tahu hal itu.

Beberapa menit kemudian, Papa Sultan turun dengan wajah kusut. Ia langsung menghampiri Althaf.

“Thaf, boleh ikut Om sebentar?” tanyanya pelan, yang hanya dapat didengar oleh pemuda itu.

Althaf mengangguk lalu langsung berdiri dan mengikuti ke ruang kerja.

*

*

Di ruangan kerja Papa Sultan, terlihat suasana sangat hening. Althaf duduk di depan Papa Sultan yang wajahnya terlihat menahan sesuatu.

Pasti ada sesuatu yang gak beres, pikir Althaf.

Papa Sultan menatap pemuda di depannya, ia berkali-kali menghela napas berat. “Thaf! Om boleh minta tolong padamu?”

Althaf duduk tegak, sopan. “Ada apa, Om? Kalau saya mampu, insyaallah saya bantu.”

Althaf memang tak bisa menolak. Papa Sultan adalah orang yang membiayai pendidikannya sejak SMA hingga S2. Orang yang ia hormati, bahkan ia anggap seperti ayah sendiri. Dan Althaf sendiri adalah anak dari sahabat Papa Sultan saat di kampung dulu.

Papa Sultan kembali menarik napas panjang sebelum berkata, “Tolong … jadilah pengantin pria untuk putriku.”

Deg!

Althaf membeku di tempatnya, untuk sesaat, ia pikir ia salah dengar.

“Om, maaf. Saya … saya gak salah denger kan?”

“Kau tidak salah dengar, Nak.” Mata Papa Sultan berkaca-kaca menahan emosi. “Ini soal siri’ (Harga diri). Putriku dipermalukan, calon suaminya menikah dengan sahabatnya sendiri. Bahkan wanita itu sudah hamil.”

Althaf mengatupkan rahang.

Sungguh, pemuda itu hanya datang sebagai penghulu dari pihak KUA. Eh, bagaimana mungkin berubah menjadi mempelai?

Althaf merasa sangat berat, tapi di sisi lain ia merasa berhutang budi pada pria paruh baya di depannya ini. Pria itu juga tahu, Papa Sultan sangat menjunjung soal kehormatan keluargamya.

Althaf dilanda dilema besar. Ia tak terlalu tahu bagaimana Zahra. Karena keduanya hanya bertemu sesekali itu pun tak pernah saling sapa.

Setelah sejenak terdiam. Dan berdoa dalam hati, Althaf mengangkat wajahnya lalu berkata, “Bismillah. Kalau ini memang takdirku. Insyaallah, aku siap, Om.”

Papa Sultan terlihat meneteskan air matanya. “Terima kasih, Nak. Om, benar-benar berterima kasih.”

Bukan tanpa alasan ia memilih pria itu. Papa Sultan tahu, Althaf pemuda yang sopan dan tentunya paham agama, cocok untuk putrinya.

*

Papa Sultan naik kembali ke kamar lantai dua dengan langkah berat. Dari ambang pintu, pemandangan itu membuat dadanya sesak.

Zahra duduk di lantai, menangis dalam pelukan ibunya. Make up yang tadinya sempurna kini belepotan oleh air mata. Bando emas di kepalanya sudah terlepas dan jatuh di samping ranjang. Baju bodo maroon itu tampak lecet karena tangan Zahra terus meremasnya.

Papa Sultan memejamkan mata sejenak sebelum melangkah masuk.

“Zahra!” panggilnya.

Papa Sultan berlutut perlahan sehingga sejajar dengan putrinya. Ia menghela napas panjang, menahan banyak hal dalam dadanya.

“Pernikahan ini tetap dilanjutkan.”

Zahra terpaku. Wajahnya perlahan menoleh ke arah papa, merasa tak percaya.

“Pa … apa maksud papa? Reza—”

“Kau tidak akan menikah dengan Reza.” Suara Papa Sultan datar dan dingin jika membahas pria itu. “Kau akan menikah dengan pria pilihan Papa.”

Dunia Zahra seolah berhenti berputar.

“A–apa?” suaranya bergetar.

Papa Sultan menatap Zahra dengan mata yang tak bisa ditawar. “Jangan membantah, Zahra. Cukup. Terakhir kali kau memilih sendiri hasilnya seperti ini. Papa tidak akan membiarkan kehormatan keluarga kita diinjak-injak lagi.”

Zahra menggeleng, air mata mengalir makin deras. “Tapi Pa, Zahra tidak kenal pria ituz siapa pun dia … Zahra tidak siap, Zahra—”

“Zahra.” Nada Papa Sultan naik sedikit. “Cukup.”

Zahra terdiam. Takut, sedih, marah, semuanya bercampur jadi satu yang kini mengguncangnya.

Rani memeluk bahu putrinya lebih erat. “Nak, dengarkan Mama dulu. Kita orang Bugis, Nak. Siri’ itu mahal. Harga diri bukan hal sepele. Kalau kejadian ini terdengar oleh para tamu, kita bisa hancur. Nama baik keluarga sedang dipertaruhkan. Mama tahu kau sakit, tapi tolong, Nak kuat sedikit saja.”

“Mama.” Zahra terisak, memegangi dada yang terasa sesak.

Rani mengusap wajah Zahra. “Percayalah, papa tidak akan memilihkan pria yang buruk. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu.”

Zahra menunduk, bahunya bergetar. Ia merasa seluruh hidupnya berubah dalam hitungan menit. Namun ia tidak punya tenaga lagi untuk membantah. Dirinya kini benar-benar syok.

Papa Sultan bangkit perlahan. “MUA akan datang sebentar lagi untuk memperbaiki riasanmu.”

🍃🍃🍃

Halo, assalamualaikum teman-teman.

Kita ketemu lagi di karya author yang ke sebelas. Untuk tema ini, kita melipir dulu dari dunia perkotaan dan CEO, ya. 😁. Di novel kali ini, author bakal pakai bahasa daerah author sendiri yaitu dari Sulawesi Selatan. Tapi tenang, aja. Kalian tetap akan mengerti kok artinya. Selamat membaca teman-teman semoga terhibur.

Btw yang penasaran dengan pakaian yang dikenakan Zahra. 👇

Terpopuler

Comments

Nazua Fitria

Nazua Fitria

syukaa deh baca cerita novel pake bahasa daerah ni smpe uda brp kli bolak balek baca ni g bosen2 kk ushakan buat lagi y pake bahasa daerah gini ihhh syukaa bgeddd jdi ngerti bahasa daerah lain nih smngat nulisnya kakkkk😍💪👍😄

2026-03-01

0

sherly

sherly

aku dah baca kisah Sofia lanjut kesini setelah end, sebab ngk suka baca yg novel yg blm tamat... eh baru tau kalo ini kisah berlatar belakang Sulsel, jd pengen mudik...

2026-02-06

1

Nike Natalie

Nike Natalie

pokoknya AQ cm nyari novel karya idolaku Yulianti Aziz🫰👍

2026-07-19

1

lihat semua
Episodes
1 Dighosting
2 Pengganti
3 Membalas Mantan
4 Pesta Mantan Yang Kacau
5 Perdebatan
6 Pulang Kampung
7 Kabar Duka
8 Kekesalan Zahra
9 Marah?
10 Ulah Zahra
11 Mari Berteman
12 Saingan?
13 Persaingan
14 Dihadang
15 Benih-benih Cinta
16 Cemburu?
17 Salah Paham
18 Pelakor Beraksi
19 Masa Lalu VS Masa Depan
20 Panen Raya
21 Tingkah Zahra
22 Perhatian Althaf
23 Diremehkan
24 Cinta Dalam Diam
25 Bule Nyasar
26 Fitnah
27 Lapor Polisi
28 Tertangkap Basah
29 Masalah Selesai
30 Althaf Mulai Posesif
31 Salah Dengar?
32 Reunian Althaf
33 Hampir Saja
34 Sama-sama Galau
35 Mengungkapkan Rasa
36 Subuh Pertama
37 Menolong
38 Sama-sama Kagum
39 Kena Tipu
40 Ditangkap
41 Bu Mirna VS Bu Raodah
42 Althaf Frustasi
43 Dibalas Telak
44 Mengungsi?
45 Ada Apa Dengan Lisa?
46 Zahra Ngamuk
47 Masalah Kelar!
48 Tidur di Luar
49 Bu Mirna Berulah
50 Papa Zahra?
51 Proyek Ilegal?
52 Apa yang Terjadi?
53 Pak Kades Terlibat
54 Kacau
55 Kedatangan Papa Sultan
56 Hukuman Bu Mirna
57 Rencana Papa Sultan
58 Althaf Dipecat?
59 Zahra Kenapa?
60 Dibawa Pergi
61 Hamil
62 Pulang
63 Zahra Hilang
64 Kemana Dia?
65 Ternyata
66 Masa Lalu
67 Kepulangan Orang Tua Zahra
68 Keluarga Pak Burhan
69 Keluarga Tidak Memiliki Adab
70 Keluarga Tak Tahu Malu
71 Khayalan Tingkat Tinggi
72 Ada Maunya
73 Keusilan Zahra
74 Kelakuan Bu Mirna
75 Bertemu
76 Bertengkar
77 Rencana
78 Pelajaran
79 Pindah
80 Kena Karma
81 Kebetulan
82 Empat Bulanan
83 Perubahan Anida
84 Sindiran Zahra
85 Lelaki Yang Tulus
86 Meminta Tolong
87 Permintaan Terakhir
88 Balasan
89 Kedatangan
90 Berkumpul
91 Ke Mall
92 Misi Bumil
93 Diarak Keliling Kampung
94 Kedatangan Andini
95 Tujuh Bulanan
96 Acara Tujuh Bulanan
97 Minta Maaf
98 Melahirkan
99 Si Kembar
100 Menuju Ending
101 Bahagia Bersama
102 Bonus Chapter
103 Bonus Chapter 2
104 Bonchap part Karel
105 Bonchap Part Karel
106 Bonchap Part Lisa
107 Bonchap Part Lisa 2
108 Bonchap Part Lisa 3
109 Part Menuju Akhir
110 Bonchap Akhir
111 Salam Hangat
112 Pengumuman Karya Baru
113 Promosi Karya Baru
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Dighosting
2
Pengganti
3
Membalas Mantan
4
Pesta Mantan Yang Kacau
5
Perdebatan
6
Pulang Kampung
7
Kabar Duka
8
Kekesalan Zahra
9
Marah?
10
Ulah Zahra
11
Mari Berteman
12
Saingan?
13
Persaingan
14
Dihadang
15
Benih-benih Cinta
16
Cemburu?
17
Salah Paham
18
Pelakor Beraksi
19
Masa Lalu VS Masa Depan
20
Panen Raya
21
Tingkah Zahra
22
Perhatian Althaf
23
Diremehkan
24
Cinta Dalam Diam
25
Bule Nyasar
26
Fitnah
27
Lapor Polisi
28
Tertangkap Basah
29
Masalah Selesai
30
Althaf Mulai Posesif
31
Salah Dengar?
32
Reunian Althaf
33
Hampir Saja
34
Sama-sama Galau
35
Mengungkapkan Rasa
36
Subuh Pertama
37
Menolong
38
Sama-sama Kagum
39
Kena Tipu
40
Ditangkap
41
Bu Mirna VS Bu Raodah
42
Althaf Frustasi
43
Dibalas Telak
44
Mengungsi?
45
Ada Apa Dengan Lisa?
46
Zahra Ngamuk
47
Masalah Kelar!
48
Tidur di Luar
49
Bu Mirna Berulah
50
Papa Zahra?
51
Proyek Ilegal?
52
Apa yang Terjadi?
53
Pak Kades Terlibat
54
Kacau
55
Kedatangan Papa Sultan
56
Hukuman Bu Mirna
57
Rencana Papa Sultan
58
Althaf Dipecat?
59
Zahra Kenapa?
60
Dibawa Pergi
61
Hamil
62
Pulang
63
Zahra Hilang
64
Kemana Dia?
65
Ternyata
66
Masa Lalu
67
Kepulangan Orang Tua Zahra
68
Keluarga Pak Burhan
69
Keluarga Tidak Memiliki Adab
70
Keluarga Tak Tahu Malu
71
Khayalan Tingkat Tinggi
72
Ada Maunya
73
Keusilan Zahra
74
Kelakuan Bu Mirna
75
Bertemu
76
Bertengkar
77
Rencana
78
Pelajaran
79
Pindah
80
Kena Karma
81
Kebetulan
82
Empat Bulanan
83
Perubahan Anida
84
Sindiran Zahra
85
Lelaki Yang Tulus
86
Meminta Tolong
87
Permintaan Terakhir
88
Balasan
89
Kedatangan
90
Berkumpul
91
Ke Mall
92
Misi Bumil
93
Diarak Keliling Kampung
94
Kedatangan Andini
95
Tujuh Bulanan
96
Acara Tujuh Bulanan
97
Minta Maaf
98
Melahirkan
99
Si Kembar
100
Menuju Ending
101
Bahagia Bersama
102
Bonus Chapter
103
Bonus Chapter 2
104
Bonchap part Karel
105
Bonchap Part Karel
106
Bonchap Part Lisa
107
Bonchap Part Lisa 2
108
Bonchap Part Lisa 3
109
Part Menuju Akhir
110
Bonchap Akhir
111
Salam Hangat
112
Pengumuman Karya Baru
113
Promosi Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!