Di bangku panjang dekat gerbang sekolah, dua bocah kembar berusia empat tahun duduk berdampingan. Kaki kecil mereka menggantung, tak sampai menyentuh tanah. Tas ransel mungil tergeletak rapi di kaki bangku, seolah ikut menunggu bersama tuannya.
Zea mengayun-ayunkan kakinya, wajahnya mengerut bosan. Ia menghela napas panjang, lalu menoleh ke samping.
“Nenek lama cekali,” keluhnya dengan suara manja, bibirnya mengerucut.
Di sebelahnya, Zayn duduk tenang. Punggungnya tegak, tangannya bertumpu di paha. Wajah bocah itu datar, jauh lebih dewasa dari usianya.
“Nanti juga datang,” jawabnya singkat.
Zea mendecak pelan. “Zayn nggak capek nunggu?”
Zayn menggeleng kecil. “Menunggu itu biasa.”
Tak jauh dari bangku itu, seorang anak perempuan berusia enam tahun, berjalan berkeliling sambil membawa setumpuk kartu undangan berwarna cerah. Suaranya dibuat keras, seolah ingin memastikan semua orang mendengar.
“Ini undangan ulang tahun aku!” seru Cila bangga. “Ulang tahunku nanti besar sekali! Ada badut, balon segunung, sama kue tinggi!”
Beberapa anak langsung bersorak, mata mereka berbinar penuh antusias.
Di belakang Cila, ibunya berdiri dengan tas mahal tergantung di lengan. Dagu wanita itu terangkat, sorot matanya penuh rasa superior.
“Ya jelas harus besar, Bu,” katanya pada orang tua murid lain. “Suami saya kan anggota DPRD. Masa acaranya biasa-biasa saja?”
Seorang ibu tersenyum lebar, nada suaranya terdengar menjilat. “Wah, hebat sekali, Bu. Pantas Cila kelihatan beda.”
Ia melirik ke arah Zea dan Zayn, lalu menurunkan suaranya sambil menyeringai. “Beda sama anak kembar itu.”
Beberapa orang tua hanya saling pandang. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada pula yang memilih diam.
Para orang tua murid itu memang memiliki kelompok, menurut pekerjaan suami mereka. Dan tentu circle yang menurut mereka kaya.
Cila menghentikan langkahnya tepat di depan Zea dan Zayn. Matanya meneliti pakaian sederhana mereka, lalu bibirnya terangkat membentuk senyum mengejek.
“Kalian nggak usah nunggu undangan,” katanya enteng.
Zea mendongak, alisnya mengernyit bingung. “Hah? Kenapa?”
Ibu Cila melangkah maju. Suaranya dingin, nadanya tajam tanpa usaha untuk menyembunyikan penghinaan.
“Acara kami itu terbatas. Tidak semua anak perlu datang,” ujarnya. Pandangannya menyapu Zea dan Zayn dari ujung kepala sampai kaki. “Termasuk kalian. Nanti malah bikin malu.”
Zea mengerutkan dahi. “Malu kenapa? Emang Zea mau melucak?”
Wanita itu mendengus kecil. “Lihat saja sendiri. Anak-anak dari keluarga … sederhana.”
Cila tertawa kecil, lalu menimpali dengan polos yang kejam. “Mama bilang kalian miskin. Jadi nggak boleh datang.”
Ada alasan lain mengapa Cila tak menyukai Zea. Zea jauh lebih cantik darinya. Setiap kali orang dewasa memuji Zea, rasa iri itu selalu menggerogoti hatinya.
Ba…
Assalamualaikum, Pak KUA
Part Menuju Akhir
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 113 Episodes
Comments
Miss Typo
awas kau Cila dan ibunya yg katanya istri anggota DPR atau apa tadi, setelah tau siapa di twins kalian akan mati berdiri wkwkwk
2026-01-19
1
Dewiendahsetiowati
boz besar datang nih,hajar aja Zahra emaknya Sila,mau adu kaya hadeh salah cari lawan boz
2026-01-19
2
Ilfa Yarni
blom tau mereka siapa Zea dan zayn baru jadi kluarga di DPRD aja sombong
2026-01-19
2