Membalas Mantan

Pagi itu Zahra turun tangga dengan tergesa-gesa. Ia sudah mengenakan celana jeans biru, jaket kulit hitam, dan rambut cokelatnya dibiarkan tergerai. Tanpa menengok ke dalam rumah, ia langsung berseru dari depan pintu.

“Pa, Ma! Ara keluar dulu, ya!”

Di ruang makan, Papa Sultan, Mama Rani, dan Althaf yang sedang sarapan serempak menoleh.

Papa Sultan langsung mengerutkan kening. “Ara! Minta izin dulu sama suamimu. Ingat, kau sudah menikah.”

Langkah Zahra terhenti seketika. Ekspresi wajahnya berubah masam, seperti anak kecil yang baru ditegur. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan ke meja makan dengan langkah paling malas yang ia punya.

Ia berdiri tepat di depan Althaf, memegangi strap tasnya, lalu berkata dengan santai, “Pak KUA, aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum, Pak KUA.”

Papa Sultan memukul ringan meja. “Ara! Dia itu suamimu. Bukan Pak KUA. Ganti panggilannya.”

Zahra memutar bola matanya, kesal setengah mati. Namun sebelum ia membalas, Althaf yang sejak tadi hanya diam menatapnya, akhirnya berbicara.

“Tidak apa-apa, Pa. Wa’alaikumussalam. Pergilah!”

Zahra langsung menepuk tangan, bahagia bukan main. “Nah! Dengar, kan? Althaf aja enggak marah, kok, Pah!”

Papa Sultan hanya menggeleng pasrah.

“Ya sudah tapi cium tangan suamimu dulu sebelum pergi.”

Zahra langsung mencebik. “Memangnya harus?”

Papa Sultan menatapnya serius. “Ya iyalah. Sekarang tanggung jawab Papa sudah berpindah ke Althaf.”

Zahra menghela napas berat, seolah bebannya seberat dunia. Namun akhirnya ia mengulurkan tangan, lalu mencium punggung tangan Althaf dengan malas-malas.

Mama Rani tidak bisa menahan diri untuk menggoda. “Jangan cium kening lagi, ya.”

Zahra sontak memerah. “Maa!”

Tawa kecil langsung terdengar dari semua yang menyaksikan. Zahra buru-buru menarik tasnya.

“Aku pergi dulu!” serunya sebelum berlari keluar rumah, hampir tersandung karpet.

Pintu tertutup, menyisakan gelak tawa kecil dari Papa dan Mama, serta senyum kecol di sudut bibir Althaf.

*

*

Brak!

Sebuah meja berguncang hebat.

“Apa?!”

Suara keempat sahabat Zahra, menggema di seluruh kafe anak muda itu, membuat beberapa pengunjung menoleh penasaran.

Zahra hanya bisa menutup wajahnya, malu sekaligus pasrah telah menceritakan drama pernikahan darurat yang dialaminya kemarin.

Anita mengepalkan kedua tangannya, wajahnya merah padam. “Kurang ajar banget tuh Reza sama Andini! Pengen kujedotin kepala mereka ke tembok, biar benjiol sekalian!”

Ayu langsung mengangguk keras. “Bener! Bikin gedek! Itu juga orang tuanya Reza kolot banget. Emang apa salahnya beda suku? Selama enggak beda keyakinan, ya sah-sah aja. Banyak kok yang beda suku sampai akhir hayat tetap bahagia.”

Ia menunjuk dirinya sendiri. “Kakakku sama kakak iparku aja beda suku, tetap langgeng tuh!”

Iind ikut menyamber, suaranya meninggi.

“Aku dari awal udah curiga sama dua orang itu! Dan ternyata apa? Mereka selingkuh! Teman laknat! Mana mereka mutusin saat hari akad lagi, ih geram.”

Semua mengangguk penuh emosi.

Salsa, yang paling kalem, justru menggenggam tangan Zahra dengan lembut. “Tapi kamu harusnya bersyukur, Ra. Allah tunjukin sebelum kalian nikah. Dan untungnya kamu nikah sama Pak KUA yang cakep itu, bukan si Reza.”

Zahra mencebik. “Cakep sih tapi tetep aja kaget, Salsa.”

Anita mencondongkan tubuh, menatap Zahra tajam. “Terus kamu mau diem aja? Mereka udah bikin kamu malu, loh!”

Yang lain serempak mengangguk, langsung mengompori.

Salsa menunjuk Zahra kuat-kuat. “Ara … masa anak Badung, si pembuat onar waktu SMA dan kampus cuma diem disakitin?”

Iind langsung mengangkat tangan seperti orator. “Ra, kami yo setuju kalo kamu kasih balasan ke mereka. Karma itu lama. Kita kasih karma instan aja sekalian!”

Ayu menggebrak meja kecil mereka sambil mengangguk cepat. “Setuju! Setuju banget! Ara harus move dan kasih pelajaran!”

Zahra terdiam beberapa detik. Matanya sempat meredup, luka semalam masih jelas terasa. Lalu bibirnya membuka, “Ya … enggak mungkin lah aku enggak kasih mereka pelajaran.”

Tiba-tiba matanya berkilat penuh dendam, seperti mode gangster aktif.

Ia baru mau bicara lagi ketika Anita tiba-tiba menatap ke arah sekelompok anak SMA di meja sebelah.

Anak-anak itu sedang menonton drama Korea The Penthouse 2 di laptop.

Mata Anita langsung berbinar terang, seperti menemukan wahyu dari langit. “Guys! Aku punya ide!”

Semua menoleh dengan cepat. “Apa?”

Anita menunjuk layar laptop itu dramatis.

“The Penthouse 2.”

Satu detik hening.

Kelimanya saling pandang seperti pasukan mafia yang baru mendapat misi rahasia.

Dan kemudian lima gadis itu tersenyum menyeringai muncul bersamaan.

Iind berdiri sambil menenteng tasnya, penuh semangat bagai jenderal perang. “Ra! Siapkan helikopter! Kita berangkat sekarang!”

Zahra memelototkan mata.

“Helikopter dari mana, goblok?”

Iind mengibaskan tangan. “Bapakmu kan orkay! Ya mintalah! Yang penting kita otw! Kebetulan mereka lagi ngunduh mantu di rumahnya Reza.” Sambil memperlihatkan ponselnya, status Andini beberapa waktu lalu.

Tangan Zahra mengepal kuat, Andini bahkan tidak merasa bersalah sama sekali mengupload foto pernikahan yNg habis rebutan itu.

“Aku juga pengen kasih hadiah untuk mereka,” kata Zahra semakin semangat membara.

Lima perempuan itu berdiri bersamaan.

Anita menepuk bahu Zahra. “Ayo, Ra. Mari kita ajarkan bagaimana rasanya menyakiti orang yang salah.”

Zahra mengangkat dagu, matanya menyipit penuh tekad. “Ayo.”

*

*

Di acara ngunduh mantu yang meriah itu, deretan kursi tamu tersusun rapi di halaman rumah keluarga Reza. Tenda terbentang luas.

Hiasan janur kuning melengkung di gerbang masuk, dan aroma masakan tradisional tercium dari dapur.

Musik gamelan pelan mengisi udara, membuat suasana terlihat anggun sekaligus hangat.

Di antara keramaian itu, Mirna, ibu Reza, tampak mondar-mandir dengan senyum lebar. Ia mengenakan kebaya hijau lengkap dengan selendang emas, berjalan menyambut setiap tamu yang datang.

Seorang ibu paruh baya menghampirinya sambil menepuk lengan Mirna ringan.

“Ya ampun, Jeng Mirna,” katanya dengan nada penuh rasa penasaran. “Menantunya kok beda yo, dengan yang kemarin kami lihat? Yang kemarin itu sopo namanya? Zahra, yo?”

Senyum Mirna kaku sesaat, sebelum ia mengibaskan tangannya anggun.

“Ah, yang itu,” ujarnya meremehkan. “Ora cocok. Kalian tahu sendiri to, beda suku. Dia tidak paham adat istiadat keluarga kita, sama sekali.”

Tamu itu mengangguk-angguk seolah mengerti. Dua ibu lain yang berdiri di sekitar mereka ikut mendekat, menyimak dengan penuh minat.

Mirna melanjutkan dengan nada sok tahu, “Lagipula, kalau dipaksakan, paling juga ujung-ujunge yo cerai. Itu wes sering terjadi. Nenek-nenek kita dari dulu yo bilang ngono.”

Salah satu temannya langsung menimpali, “Benar juga yo, Jeng. Memang lebih baik mencari menantu yang sejalan pemikiran dan budaya kita.”

Yang lain ikut menyahut, “Iyo, Mirna sudah mengambil keputusan sik tepat. Toh, saiki delok Reza terlihat lebih cocok sekali karo Andini.”

Mirna tersenyum semakin lebar. Ada kesombongan dalam sorot matanya. “Pas banget gawe Reza.” katanya bangga. "Andini itu anak baik, sopan karo ngerti carane menghormati keluarga. Tepat sekali untuk Reza."

Mereka semua tertawa kecil, suara yang terdengar lebih seperti sindiran terselubung daripada candaan tulus. Mirna menengok ke arah pelaminan, di mana Reza dan Andini sedang berfoto dengan para tamu.

Tatapannya berbinar puas, seolah semua berjalan persis seperti yang ia rencanakan.

Acara foto bersama baru saja dimulai. Reza dan Andini berdiri di pelaminan dengan senyum bahagia, sementara para tamu berbaris menunggu giliran. Di tengah suasana yang ramai itu, tiba-tiba terdengar suara berdengung dari kejauhan.

Awalnya terdengar pelan, lalu semakin keras dan suaranya semakin dekat.

Beberapa tamu menoleh ke langit. Seorang bapak-bapak memicingkan mata. “Eh … itu suara apa, ya?”

Suara baling-baling helikopter makin jelas terdengar, menggulung udara kering musim kemarau. Debu dan pasir mulai beterbangan, membuat beberapa ibu-ibu menutup wajah dengan selendang.

Mirna yang tadinya tersenyum manis langsung mengerutkan kening. “Loh … loh … apa ini?” serunya panik ketika selendang emasnya ikut berkibar liar.

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

Reza ninggalin Zahra yg sultan nya kebangetan jd pengen th gimana selanjutnya 🤔😏😤

2025-12-08

1

Sri Fit

Sri Fit

ngunduh mantu itu punya hajat di pihak pengantin laki-laki, bisa di hari yg sama dg akad nikah atau di lain hari setelah acara dr pihak pengantin wanita

2026-01-25

0

LENY

LENY

DASAR OENGANTIN LAKNAT REZA DAN ANDINI TEMAN LAKNAT TUNGGULAH BU NNT PERKAWINAN ANAKMU YG AKAN HANCUR CERAI BUKAN PERJAWINAN ZAHRA.

2026-01-31

0

lihat semua
Episodes
1 Dighosting
2 Pengganti
3 Membalas Mantan
4 Pesta Mantan Yang Kacau
5 Perdebatan
6 Pulang Kampung
7 Kabar Duka
8 Kekesalan Zahra
9 Marah?
10 Ulah Zahra
11 Mari Berteman
12 Saingan?
13 Persaingan
14 Dihadang
15 Benih-benih Cinta
16 Cemburu?
17 Salah Paham
18 Pelakor Beraksi
19 Masa Lalu VS Masa Depan
20 Panen Raya
21 Tingkah Zahra
22 Perhatian Althaf
23 Diremehkan
24 Cinta Dalam Diam
25 Bule Nyasar
26 Fitnah
27 Lapor Polisi
28 Tertangkap Basah
29 Masalah Selesai
30 Althaf Mulai Posesif
31 Salah Dengar?
32 Reunian Althaf
33 Hampir Saja
34 Sama-sama Galau
35 Mengungkapkan Rasa
36 Subuh Pertama
37 Menolong
38 Sama-sama Kagum
39 Kena Tipu
40 Ditangkap
41 Bu Mirna VS Bu Raodah
42 Althaf Frustasi
43 Dibalas Telak
44 Mengungsi?
45 Ada Apa Dengan Lisa?
46 Zahra Ngamuk
47 Masalah Kelar!
48 Tidur di Luar
49 Bu Mirna Berulah
50 Papa Zahra?
51 Proyek Ilegal?
52 Apa yang Terjadi?
53 Pak Kades Terlibat
54 Kacau
55 Kedatangan Papa Sultan
56 Hukuman Bu Mirna
57 Rencana Papa Sultan
58 Althaf Dipecat?
59 Zahra Kenapa?
60 Dibawa Pergi
61 Hamil
62 Pulang
63 Zahra Hilang
64 Kemana Dia?
65 Ternyata
66 Masa Lalu
67 Kepulangan Orang Tua Zahra
68 Keluarga Pak Burhan
69 Keluarga Tidak Memiliki Adab
70 Keluarga Tak Tahu Malu
71 Khayalan Tingkat Tinggi
72 Ada Maunya
73 Keusilan Zahra
74 Kelakuan Bu Mirna
75 Bertemu
76 Bertengkar
77 Rencana
78 Pelajaran
79 Pindah
80 Kena Karma
81 Kebetulan
82 Empat Bulanan
83 Perubahan Anida
84 Sindiran Zahra
85 Lelaki Yang Tulus
86 Meminta Tolong
87 Permintaan Terakhir
88 Balasan
89 Kedatangan
90 Berkumpul
91 Ke Mall
92 Misi Bumil
93 Diarak Keliling Kampung
94 Kedatangan Andini
95 Tujuh Bulanan
96 Acara Tujuh Bulanan
97 Minta Maaf
98 Melahirkan
99 Si Kembar
100 Menuju Ending
101 Bahagia Bersama
102 Bonus Chapter
103 Bonus Chapter 2
104 Bonchap part Karel
105 Bonchap Part Karel
106 Bonchap Part Lisa
107 Bonchap Part Lisa 2
108 Bonchap Part Lisa 3
109 Part Menuju Akhir
110 Bonchap Akhir
111 Salam Hangat
112 Pengumuman Karya Baru
113 Promosi Karya Baru
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Dighosting
2
Pengganti
3
Membalas Mantan
4
Pesta Mantan Yang Kacau
5
Perdebatan
6
Pulang Kampung
7
Kabar Duka
8
Kekesalan Zahra
9
Marah?
10
Ulah Zahra
11
Mari Berteman
12
Saingan?
13
Persaingan
14
Dihadang
15
Benih-benih Cinta
16
Cemburu?
17
Salah Paham
18
Pelakor Beraksi
19
Masa Lalu VS Masa Depan
20
Panen Raya
21
Tingkah Zahra
22
Perhatian Althaf
23
Diremehkan
24
Cinta Dalam Diam
25
Bule Nyasar
26
Fitnah
27
Lapor Polisi
28
Tertangkap Basah
29
Masalah Selesai
30
Althaf Mulai Posesif
31
Salah Dengar?
32
Reunian Althaf
33
Hampir Saja
34
Sama-sama Galau
35
Mengungkapkan Rasa
36
Subuh Pertama
37
Menolong
38
Sama-sama Kagum
39
Kena Tipu
40
Ditangkap
41
Bu Mirna VS Bu Raodah
42
Althaf Frustasi
43
Dibalas Telak
44
Mengungsi?
45
Ada Apa Dengan Lisa?
46
Zahra Ngamuk
47
Masalah Kelar!
48
Tidur di Luar
49
Bu Mirna Berulah
50
Papa Zahra?
51
Proyek Ilegal?
52
Apa yang Terjadi?
53
Pak Kades Terlibat
54
Kacau
55
Kedatangan Papa Sultan
56
Hukuman Bu Mirna
57
Rencana Papa Sultan
58
Althaf Dipecat?
59
Zahra Kenapa?
60
Dibawa Pergi
61
Hamil
62
Pulang
63
Zahra Hilang
64
Kemana Dia?
65
Ternyata
66
Masa Lalu
67
Kepulangan Orang Tua Zahra
68
Keluarga Pak Burhan
69
Keluarga Tidak Memiliki Adab
70
Keluarga Tak Tahu Malu
71
Khayalan Tingkat Tinggi
72
Ada Maunya
73
Keusilan Zahra
74
Kelakuan Bu Mirna
75
Bertemu
76
Bertengkar
77
Rencana
78
Pelajaran
79
Pindah
80
Kena Karma
81
Kebetulan
82
Empat Bulanan
83
Perubahan Anida
84
Sindiran Zahra
85
Lelaki Yang Tulus
86
Meminta Tolong
87
Permintaan Terakhir
88
Balasan
89
Kedatangan
90
Berkumpul
91
Ke Mall
92
Misi Bumil
93
Diarak Keliling Kampung
94
Kedatangan Andini
95
Tujuh Bulanan
96
Acara Tujuh Bulanan
97
Minta Maaf
98
Melahirkan
99
Si Kembar
100
Menuju Ending
101
Bahagia Bersama
102
Bonus Chapter
103
Bonus Chapter 2
104
Bonchap part Karel
105
Bonchap Part Karel
106
Bonchap Part Lisa
107
Bonchap Part Lisa 2
108
Bonchap Part Lisa 3
109
Part Menuju Akhir
110
Bonchap Akhir
111
Salam Hangat
112
Pengumuman Karya Baru
113
Promosi Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!