Pesta Mantan Yang Kacau

Angin semakin menggila. Karena musim kering, pasir-pasir langsung beterbangan, menusuk mata dan menampar wajah para tamu. Dekorasi bunga beterbangan, meja jamuan ikut bergeser, sementara makanan berloncatan dari piring.

“Astaga! Tendannya mau copot!” teriak seorang ibu-ibu oanik.

Ayah Reza memicingkan mata ke atas. “Itu … itu suara helikopter! Tapi siapa yang datang?!”

Reza dan Andini saling pandang, wajah pucat pasi. “Reza… kamu yakin ini bukan ulah—”

“Mana aku tahu!” sahut Reza gusar, meski matanya gelisah.

Tenda semakin terangkat. Hiasan pelaminan roboh. Para tamu kini benar-benar panik dan berhamburan keluar.

Reza langsung berlari keluar tenda, disusul Mirna, suaminya Agus, dan Andini. Para tamu mengikuti dari belakang, sebagian menutup kepala dengan piring plastik, sebagian hanya menjerit sambil lari pontang-panting.

Sementara itu, di dalam helikopter, Zahra dan empat sahabatnya, Anita, Salsa, Ayu, dan Iind duduk santai sambil mengenakan pakaian hitam-hitam dan kacamata hitam, persis geng mafia Korea.

Gadis-gadis itu tersenyum puas ketika melihat dari atas tenda-tenda porak-poranda dan para tamu berlarian panik.

“Astaga … satisfying banget,” ujar Anita sambil terkekeh.

Melihat kekacauan di bawah, Zahra tersenyum miring. "Pas," gumamnya. "Biarkan mereka merasakan sedikit balasan.”

Helikopter itu akhirnya mendarat tepat di samping pelaminan yang kini sudah seperti lokasi bencana kecil.

Begitu pintu helikopter terbuka, kelima gadis itu turun satu per satu dengan langkah mantap. Boots menginjak tanah. Rambut berkibar diterpa sisa angin baling-baling. Para tamu menatap dengan mulut menganga.

“Z–Zahra?” Reza hampir tidak bisa bernapas. “Ara … apa yang kamu lakukan?!” teriaknya lantang tangannya mengepal, urat lehernya ikut menegang.

Andini memandang kelima gadis itu dengan wajah pucat. “K–kalian … kalian menghancurkan pernikahanku! Kalian benar-benar jahat! Nggak punya hati!”

Anita langsung maju dengan tatapan tajam. “Itu pantas buat kamu, Din.” Ia menunjuk tepat ke wajah Andini. “Dasar perebut! Berani-beraninya kamu ngerebut calon suami sahabatmu sendiri.”

Salsa tertawa kecil. “Apa kau bilang? Kami jahat dan nggak punya hati? Hei Andini, kayaknya kamu harusnya bercermin deh. Justru kamu yang jahat. Kamu dan Reza yang mengkhianati Zahra lebih dulu.”

Mirna maju sambil mendengus marah. “Kalian … kalian benar-benar gadis liar! Terutama kamu!” Ia menunjuk Zahra dengan telunjuk gemetar. “Untung Reza tidak jadi nikah sama gadis liar kayak kamu! Lihat kelakuan kalian! Menghancurkan acara keluarga kami!”

Zahra mengepal tangan, tapi suaranya tetap tenang. “Tapi kenapa kalian membatalkan pernikahan itu di hari H? Kalau kalian nggak setuju, bilang dari awal. Jangan main belakang.”

Iind langsung menyambar, suara tajam tanpa ragu. “Eh Bu Mirna, Anda ini nggak punya hati ya? Kok bisa-bisanya mendukung perselingkuhan anak Anda sendiri?”

Ayu maju selangkah dan berseru lantang, suaranya menggema ke seluruh area pesta. “Halo ibu-ibu, bapak-bapak, kakak-kakak, adik-adik! Maaf ya kalau kami bikin kacau. Tapi mau gimana lagi? Laki-laki dan perempuan ini melakukan hal yang sama duluan. Laki-laki ini melamar sahabat kami, lalu meninggalkan dia di hari pernikahannya kemarin!”

Para tamu langsung heboh.

“Serius? Jadi Reza selingkuh?”

“Calon mempelai perempuannya selingkuhan? Astaga!”

“Itu namanya nggak punya hati!”

Mirna, Reza, dan Andini mulai tertunduk malu. Wajah mereka berubah pucat. Ayah Reza ikut terkejut, ia benar-benar tidak tahu akan hal itu. Makanya ia hanya setuju-setuju saja saat Reza dan Andini akan menikah.

Reza memaksa menatap Zahra dengan amarah bercampur frustrasi. “Ara … aku nggak nyangka kamu ngelakuin semua ini. Kamu keterlaluan! Kamu jahat!”

Zahra bersedekap, bibirnya melengkung sinis. “Aku jahat? Kamu yang menghancurkan pernikahan kita. Aku cuma membalas. Fair dong?”

Andini mengangkat dagu, menatap benci Zahra. “Oke. Sekarang kita impas. Jadi, silakan pergi!”

Reza mengangguk. “Iya, Ara. Pergi! Jangan bikin masalah lagi! Aku muak lihat tingkahmu yang sangat liar ini. Udah paling bener aku gak nikahin kamu, dan memilih Andini yang punya hati.”

Mirna ikut mengusir dengan suara melengking. “Tidak! Jangan biarkan dia pergi dulu. Kalian harus ganti semua kerugian kami sebelum pergi!”

Zahra justru tersenyum manis tapi mematikan. “Oh tidak bisa, Bu. Bahkan hal ini belum impas. Dan tujuanku sebenarnya bukan iru.”

Reza dan Andini spontan menatap curiga.

“Apa maksudmu?” tanya Reza mulai was-was

Zahra mengeluarkan map berisi tumpukan kertas dari balik jaket kulitnya “Ini,” katanya sambil mengangkatnya. “Utang-utang yang harus kamu bayar.”

Reza terkejut. “Ara. Utang apa? Aku gak pernah punya utang sama kamu.”

Andini ikut mengangguk dan berkata, “Benar! Kau jangan asal memfitnah, Zahra!”

Zahra terkekeh dan menatap tajam Reza. “Kau gak mungkin lupa bukan? Bahkan dua hari sebelum pernikahan kita, kau meminjam uang dengan alasan buat acara di rumahmu. Itu juga belum yang lainnya.”

Reza terbelalak. “Z—Zahra … bukannya kamu bilang kamu udah ngikhlasin semuanya?”

“Aku mengikhlaskan barang-barang pribadi yang pernah kukasih,” jawab Zahra santai. “anggap aja sedekah dariku. Tapi hutang kuliah, biaya administrasi, kost, sampai biaya pendaftaran S2 kamu? Semua itu utang, Reza. Dan mulai hari ini aku cabut keringanannya.”

Surat-surat itu dilempar ke tanah. Andini dan Reza langsung membungkuk memungutnya dengan wajah pucat.

Mirna maju dengan marah yang bergetar.

“Apa maksudmu?! Anakku nggak mungkin punya hutang! Dia bisa kuliah karena kemampuannya sendiri!”

Zahra tertawa pendek. “Kemampuan apa? Kemampuan mokondo? Pinjam sana-sini?”

Raut Reza berubah total. Tadi ia garang, sekarang memelas. Ia maju dua langkah. “Ara … maafkan aku. Aku khilaf. Kita bicarakan baik-baik, ya?”

Anita, Salsa, Ayu, dan Iind langsung mencibir bersamaan.

“Khilaf sampai bisa hamil,” seru Anita nyaring.

Reza tak menggubris. Ia berusaha menyentuh tangan Zahra, tapi Zahra langsung menepisnya.

“Ara.” suara Reza bergetar, “gimana kalau … kalau aku nikahin kamu juga? Kita bisa hidup bertiga. Asal … tolong, jangan tagih hutang itu.”

Zahra dan keempat sahabatnya langsung menganga tak percaya.

“Apa?!” Andini menjerit sambil menarik tangan Reza. “Kamu ngomong apa, Reza?!”

Reza menepis tangan Andini kasar, lalu kembali menatap Zahra seperti lelaki putus asa.

“Ara! Aku mohon, aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu ke sini hanya untuk meminta untuk dinikahi bukan?” Reza begitu percaya diri.

“Dalam mimpimu!”

Bugh!

Zahra tiba-tiba ia menendang Reza tepat di kakinya sampai Reza meringis jatuh.

Tanpa menoleh lagi, Zahra dan empat sahabatnya berjalan kembali ke helikopter seperti geng mafia yang baru menyelesaikan misi.

Andini menjerit histeris. “Aku nggak terimaaaa!”

Mirna ikut berteriak, “Gadis liar! Kembalikan pesta kami!”

Tapi kelima gadis itu hanya naik ke helikopter, pintu tertutup, dan baling-baling mulai berputar.

Meninggalkan pesta porak-poranda dan satu keluarga yang kini malu setengah mati.

Mirna terduduk, kondenya sudah terlepas. Lalu menatap suaminya yang hanya diam saja. “Pak, kenapa kamu diem aja. Harusnya kau meminta ganti rugi!”

Pak Agus menatap tajam istri dan putranya dan berkata, “Bapak benar-benar kecewa sama kalian berdua. Kalian bilang pernikahan itu batal karena Zahra menikah dengan pria lain. Ternyata kalianlah yang merencanakan semua ini.”

Setelah mengatakan hal itu Pak Agus pergi dari sana.

Terpopuler

Comments

juwita

juwita

aq kasih vote biar semangat up ya thor🤭

2025-12-08

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

ternyata Reza cowok mokondo 😏😤 saya akan liat gimana dngn Altafh kl benar dia cowok tegas dpt melindungi Zahra saya dukung mereka 😁😁

2025-12-08

1

Tiara Bella

Tiara Bella

mw ngakak tp tkt dosa .....wkwkkwkw....malu²in aja si Reza....

2025-12-08

2

lihat semua
Episodes
1 Dighosting
2 Pengganti
3 Membalas Mantan
4 Pesta Mantan Yang Kacau
5 Perdebatan
6 Pulang Kampung
7 Kabar Duka
8 Kekesalan Zahra
9 Marah?
10 Ulah Zahra
11 Mari Berteman
12 Saingan?
13 Persaingan
14 Dihadang
15 Benih-benih Cinta
16 Cemburu?
17 Salah Paham
18 Pelakor Beraksi
19 Masa Lalu VS Masa Depan
20 Panen Raya
21 Tingkah Zahra
22 Perhatian Althaf
23 Diremehkan
24 Cinta Dalam Diam
25 Bule Nyasar
26 Fitnah
27 Lapor Polisi
28 Tertangkap Basah
29 Masalah Selesai
30 Althaf Mulai Posesif
31 Salah Dengar?
32 Reunian Althaf
33 Hampir Saja
34 Sama-sama Galau
35 Mengungkapkan Rasa
36 Subuh Pertama
37 Menolong
38 Sama-sama Kagum
39 Kena Tipu
40 Ditangkap
41 Bu Mirna VS Bu Raodah
42 Althaf Frustasi
43 Dibalas Telak
44 Mengungsi?
45 Ada Apa Dengan Lisa?
46 Zahra Ngamuk
47 Masalah Kelar!
48 Tidur di Luar
49 Bu Mirna Berulah
50 Papa Zahra?
51 Proyek Ilegal?
52 Apa yang Terjadi?
53 Pak Kades Terlibat
54 Kacau
55 Kedatangan Papa Sultan
56 Hukuman Bu Mirna
57 Rencana Papa Sultan
58 Althaf Dipecat?
59 Zahra Kenapa?
60 Dibawa Pergi
61 Hamil
62 Pulang
63 Zahra Hilang
64 Kemana Dia?
65 Ternyata
66 Masa Lalu
67 Kepulangan Orang Tua Zahra
68 Keluarga Pak Burhan
69 Keluarga Tidak Memiliki Adab
70 Keluarga Tak Tahu Malu
71 Khayalan Tingkat Tinggi
72 Ada Maunya
73 Keusilan Zahra
74 Kelakuan Bu Mirna
75 Bertemu
76 Bertengkar
77 Rencana
78 Pelajaran
79 Pindah
80 Kena Karma
81 Kebetulan
82 Empat Bulanan
83 Perubahan Anida
84 Sindiran Zahra
85 Lelaki Yang Tulus
86 Meminta Tolong
87 Permintaan Terakhir
88 Balasan
89 Kedatangan
90 Berkumpul
91 Ke Mall
92 Misi Bumil
93 Diarak Keliling Kampung
94 Kedatangan Andini
95 Tujuh Bulanan
96 Acara Tujuh Bulanan
97 Minta Maaf
98 Melahirkan
99 Si Kembar
100 Menuju Ending
101 Bahagia Bersama
102 Bonus Chapter
103 Bonus Chapter 2
104 Bonchap part Karel
105 Bonchap Part Karel
106 Bonchap Part Lisa
107 Bonchap Part Lisa 2
108 Bonchap Part Lisa 3
109 Part Menuju Akhir
110 Bonchap Akhir
111 Salam Hangat
112 Pengumuman Karya Baru
113 Promosi Karya Baru
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Dighosting
2
Pengganti
3
Membalas Mantan
4
Pesta Mantan Yang Kacau
5
Perdebatan
6
Pulang Kampung
7
Kabar Duka
8
Kekesalan Zahra
9
Marah?
10
Ulah Zahra
11
Mari Berteman
12
Saingan?
13
Persaingan
14
Dihadang
15
Benih-benih Cinta
16
Cemburu?
17
Salah Paham
18
Pelakor Beraksi
19
Masa Lalu VS Masa Depan
20
Panen Raya
21
Tingkah Zahra
22
Perhatian Althaf
23
Diremehkan
24
Cinta Dalam Diam
25
Bule Nyasar
26
Fitnah
27
Lapor Polisi
28
Tertangkap Basah
29
Masalah Selesai
30
Althaf Mulai Posesif
31
Salah Dengar?
32
Reunian Althaf
33
Hampir Saja
34
Sama-sama Galau
35
Mengungkapkan Rasa
36
Subuh Pertama
37
Menolong
38
Sama-sama Kagum
39
Kena Tipu
40
Ditangkap
41
Bu Mirna VS Bu Raodah
42
Althaf Frustasi
43
Dibalas Telak
44
Mengungsi?
45
Ada Apa Dengan Lisa?
46
Zahra Ngamuk
47
Masalah Kelar!
48
Tidur di Luar
49
Bu Mirna Berulah
50
Papa Zahra?
51
Proyek Ilegal?
52
Apa yang Terjadi?
53
Pak Kades Terlibat
54
Kacau
55
Kedatangan Papa Sultan
56
Hukuman Bu Mirna
57
Rencana Papa Sultan
58
Althaf Dipecat?
59
Zahra Kenapa?
60
Dibawa Pergi
61
Hamil
62
Pulang
63
Zahra Hilang
64
Kemana Dia?
65
Ternyata
66
Masa Lalu
67
Kepulangan Orang Tua Zahra
68
Keluarga Pak Burhan
69
Keluarga Tidak Memiliki Adab
70
Keluarga Tak Tahu Malu
71
Khayalan Tingkat Tinggi
72
Ada Maunya
73
Keusilan Zahra
74
Kelakuan Bu Mirna
75
Bertemu
76
Bertengkar
77
Rencana
78
Pelajaran
79
Pindah
80
Kena Karma
81
Kebetulan
82
Empat Bulanan
83
Perubahan Anida
84
Sindiran Zahra
85
Lelaki Yang Tulus
86
Meminta Tolong
87
Permintaan Terakhir
88
Balasan
89
Kedatangan
90
Berkumpul
91
Ke Mall
92
Misi Bumil
93
Diarak Keliling Kampung
94
Kedatangan Andini
95
Tujuh Bulanan
96
Acara Tujuh Bulanan
97
Minta Maaf
98
Melahirkan
99
Si Kembar
100
Menuju Ending
101
Bahagia Bersama
102
Bonus Chapter
103
Bonus Chapter 2
104
Bonchap part Karel
105
Bonchap Part Karel
106
Bonchap Part Lisa
107
Bonchap Part Lisa 2
108
Bonchap Part Lisa 3
109
Part Menuju Akhir
110
Bonchap Akhir
111
Salam Hangat
112
Pengumuman Karya Baru
113
Promosi Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!