Ayana merasakan kakinya goyah, bahkan setelah Arfan pergi. Dinginnya malam Jakarta seolah menembus kulit, namun hatinya justru membara. Ciuman itu, sentuhan bibir itu, janji terlarang itu... semuanya berputar-putar di kepalanya.
"Ini baru permulaan," bisik Arfan. Kata-kata itu menggema, membuatnya merinding sekaligus terbuai.
Ia berjalan pulang dengan langkah yang terasa asing. Setiap hela napasnya berat, sarat dengan emosi yang campur aduk: rasa bersalah yang menusuk, gairah yang memabukkan, dan ketakutan akan konsekuensi yang tak terbayangkan.
Garis batas itu, yang selama ini ia jaga mati-matian, kini telah benar-benar robek. Tak ada jalan kembali.
Sesampainya di apartemen, Ayana langsung masuk kamar mandi. Ia berdiri di bawah pancuran, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya, seolah ingin membersihkan dosa yang baru saja menempel. Namun, sensasi bibir Arfan, aroma maskulin pria itu, tak bisa begitu saja luntur. Mereka seperti tato yang terukir di jiwanya.
Malam itu, Ayana tak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Arfan muncul, tatapan intensnya, senyum menggoda itu. Ia membalikkan badan gelisah, memeluk bantal erat-erat, berharap bisa mengusir bayangan pria itu dari pikirannya. Tapi semua sia-sia.
Ia telah terjerat, seperti laba-laba dalam sarangnya sendiri.
Pagi menjelang, namun Ayana merasa lebih lelah dari biasanya. Ada kantung hitam tipis di bawah matanya, cermin dari pergulatan batin semalam. Ia memaksakan diri bangun, menyiapkan sarapan untuk Reno, putranya. Melihat senyum polos Reno adalah satu-satunya pengingat akan realita, akan tanggung jawabnya sebagai ibu.
"Ayana, kamu baik-baik saja?" tanya Bi Surti, asisten rumah tangga, saat melihat Ayana yang tampak lesu.
Ayana tersenyum tipis. "Saya baik-baik saja, Bi. Mungkin kurang tidur sedikit."
Ia tahu, ia harus menyembunyikan badai di hatinya. Demi Reno, demi nama baik mendiang suaminya, demi segalanya yang tersisa dari kehidupannya yang dulu teratur. Tapi bagaimana bisa, ketika benih-benih gai…
Manisnya Dosa Janda Penggoda: Terjerat Paman Direktur
BAB 16: Api Tak Terpadamkan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments