“Selamat datang, Tuan Direktur… dan nona manisnya,” suara itu mendesis, penuh ancaman. “Kami sudah lama menunggu kalian.”
Ayana merasakan darahnya surut, kakinya lemas seperti jeli. Pisau di tangan pria itu berkilat di bawah sorot senter, terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Ini bukan perampokan biasa. Tatapan tajam pria itu jelas menyimpan dendam.
Arfan mendorong Ayana sedikit ke belakang, menempatkan dirinya di antara Ayana dan ancaman itu. "Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" Suaranya tegas, meski Ayana bisa mendengar ketegangan yang tertahan.
"Oh, Tuan Direktur melupakan kami? Sayang sekali." Pria itu menyeringai lebih lebar, memamerkan deretan gigi yang agak kuning. "Kami adalah 'masa lalu' Anda yang tak pernah bisa terkubur, Arfan."
Jantung Ayana berdebar tak karuan. Masa lalu Arfan? Apa ini ada hubungannya dengan rahasia yang selama ini menghantuinya? Rahasia yang bahkan Arfan sendiri belum sepenuhnya terbuka padanya.
"Aku tidak mengenal kalian," Arfan bersikeras, matanya memindai sekitar, mencari jalan keluar. Vila di atas bukit ini terpencil, bantuan mungkin takkan datang.
"Tidak perlu pura-pura, Arfan. Kami tahu kau sedang apa di sini. Bersama janda itu." Pria itu melirik Ayana dengan jijik, membuat bulu kuduk Ayana merinding. "Kau pikir bisa kabur dari perjanjian itu? Perjanjian darah."
Perjanjian darah? Ayana menatap Arfan, ekspresinya bingung dan ketakutan. Arfan tampak pucat pasi, namun tatapannya masih tajam.
"Perjanjian itu batal," Arfan membentak. "Sudah kubayar semua yang harus kubayar."
"Belum, Arfan. Belum sampai kau menepati janjimu. Atau, setidaknya, sampai kami mendapatkan apa yang seharusnya jadi milik kami." Pria itu mengangkat pisau, lalu memberi isyarat dengan kepalanya. Dari balik pepohonan, bayangan lain mulai bergerak, setidaknya tiga atau empat orang. Semuanya berbadan tegap, bersenjata.
Ini jebakan. Sebuah jebakan yang sudah direncanakan dengan matang. Ayana merasa napasnya tercekat.
Arfan tahu mereka kalah jumlah. Dia mengambi…
Manisnya Dosa Janda Penggoda: Terjerat Paman Direktur
BAB 40: Jebakan Malam yang Mematikan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments