Anak Tuan Kota Dihadirkan

Tatapan Boqin Changing tetap datar, namun di balik ketenangan itu pikirannya berputar cepat. Kenangan yang seharusnya terkubur kini bangkit, dipicu oleh satu kesadaran sederhana namun mengerikan bahwa dirinya telah mengubah alur takdir lebih dalam dari yang ia perkirakan.

Beberapa tahun lalu, tak lama setelah ia kembali ke masa lalunya, Boqin Changing bepergian bersama gurunya, Wang Tian. Saat itu, kekuatannya belum sepenuhnya pulih, dan ia memilih bersikap rendah hati, menyembunyikan banyak pengetahuan yang seharusnya belum ada di zaman itu. Namun justru dalam salah satu perjalanan itulah, roda sejarah mulai bergeser.

Ia masih mengingatnya dengan jelas. Hari itu, ia dan Wang Tian melewati sebuah desa kecil saat menuju hutan.. Sebuah papan kayu tua di tepi jalan tampak bertuliskan nama desa itu, Desa Gujia.

Dari kejauhan saja, suasananya sudah terasa janggal. Tidak ada asap dapur yang mengepul, tidak terdengar suara anak-anak bermain, bahkan anjing penjaga pun tak terlihat berkeliaran.

Ketika mereka memasuki desa, pemandangan memilukan menyambut mereka. Banyak rumah tertutup rapat, pintu dan jendela dipalang seadanya. Mereka bahkan melihat seorang suami menguburkan istrinya yang baru saja meninggal.

“Itu bukan penyakit biasa,” kata Wang Tian saat itu, wajahnya mengeras.

Boqin Changing hanya diam, namun matanya menajam. Gejala-gejala itu… ia mengenalnya terlalu baik. Dalam kehidupan pertamanya, wabah inilah yang kelak dikenal sebagai Wabah Hitam.

Penyakit yang awalnya muncul di Kekaisaran Qin, lalu menyebar melalui jalur perdagangan, menelan korban dalam jumlah yang tak terhitung. Kekaisaran Qin melemah karenanya, dan bahkan beberapa kekaisaran lain ikut terdampak.

Namun saat ia datang kembali ke masa lalunya ini, wabah tersebut belum sempat menyebar.

“Guru,” ucap Boqin Changing kala itu dengan suara tenang namun yakin, “penyakit ini masih bisa diobati.”

Wang Tian sempat menatapnya lama, terkejut oleh keyakinan muridnya yang bahkan belum dewasa. Namun entah mengapa, ia mempercayainya.

Berbekal pengetahuan dari masa depan, Boqin Changing menyusun ramuan obat dari tanaman-tanaman. Ia menyesuaikan dosisnya dengan kondisi tubuh para penduduk yang lemah. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga meminta Wang Tian dan penduduk desa yang sembuh untuk membantu mengisolasi desa itu.

Tidak ada warga yang diizinkan keluar masuk. Jalur menuju Desa Gujia ditutup sementara. Orang-orang yang hendak singgah diminta memutar arah. Langkah itu terdengar kejam bagi sebagian orang, namun justru itulah yang menyelamatkan banyak nyawa.

Dalam beberapa hari, kondisi para penduduk mulai membaik. Demam mereka turun, napas kembali stabil, dan warna wajah yang semula menghitam perlahan berubah sehat. Dalam beberapa minggu, wabah itu benar-benar padam, lenyap sebelum sempat dikenal dunia.

Pada dasarnya, ia tidak hanya menyelamatkan warga Desa Gujia. Ia telah menyelamatkan penduduk Kekaisaran Qin, bahkan kekaisaran-kekaisaran lain yang seharusnya ikut terjerat wabah itu. Jalur sejarah telah ia belokkan secara paksa, menciptakan dunia yang berbeda dari yang ia kenal.

Namun perubahan itu memiliki konsekuensi. Orang-orang yang seharusnya mati… masih hidup. Salah satunya, anak dari Tuan Kota Kashgar ini.

Tatapan Boqin Changing tanpa sadar beralih ke arah Ji Wei. Wajah pria itu tampak tenang, berwibawa, dan… tidak diliputi kesedihan mendalam seperti yang seharusnya dimiliki seseorang yang kehilangan seluruh anaknya. Di kehidupan pertamanya, Ji Wei dikenal sebagai pejabat yang setia namun dingin, seorang ayah yang hatinya telah mati bersama anak-anaknya akibat wabah hitam.

Namun Ji Wei yang berdiri di hadapannya sekarang berbeda. Ia hidup dengan masa depan yang telah diubah.

“Takdir benar-benar kejam dalam caranya menagih harga,” batin Boqin Changing dingin. “Aku menyelamatkan dunia… dan sebagai gantinya, aku menciptakan dunia yang tak lagi sepenuhnya kukenal.”

Ia menarik napas perlahan, menyembunyikan gejolak di dalam dadanya. Apa pun yang telah berubah, tidak ada jalan untuk kembali. Ia hanya bisa melangkah maju dan menghadapi konsekuensi dari setiap keputusan yang telah ia buat, baik sebagai penyelamat, maupun sebagai perusak sejarah.

Di aula kediaman Tuan Kota, udara terasa sedikit lebih berat. Ji Wei masih menatap Boqin Changing dengan sorot mata penuh rasa penasaran, seolah benang takdir lama yang pernah terputus kini mulai terhubung kembali.

Mereka kemudian duduk bersama di meja kayu panjang yang telah disiapkan di aula kediaman itu. Cangkir-cangkir teh panas diletakkan satu per satu oleh pelayan, uapnya mengepul perlahan, namun tidak ada seorang pun yang benar-benar menikmati kehangatan minuman tersebut. Suasana terasa tegang, seolah udara di dalam ruangan ikut menahan napas.

Tetua Yu merapikan jubahnya sebelum membuka suara. Wajahnya serius, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan.

“Tuan Kota Ji Wei,” ucapnya pelan namun tegas, “izinkan saya menyampaikan hasil laporan terkait misi yang Tuan tugaskan kepada kami, mengenai pemberantasan siluman di hutan.”

Ji Wei mengangguk pelan.

“Silakan, Tetua Yu.”

Namun Tetua Yu tidak langsung melanjutkan. Ia justru menyipitkan mata, menatap Ji Wei sejenak, lalu melontarkan pertanyaan lain.

“Sebelum itu, saya ingin memastikan satu hal. Laporan awal mengenai keberadaan siluman di hutan tersebut… apakah berasal dari putra Tuan, Tuan Muda Ji Yayi?”

Ji Wei tampak tidak terkejut dengan pertanyaan itu. Ia mengangguk tenang, sikapnya tetap berwibawa.

“Benar. Aku menerima laporan itu dari putraku. Ia kembali dari hutan tersebut bersama beberapa pengawal. Dari merekalah aku mendapatkan informasi awal.”

Tetua Yu mengangguk perlahan, seakan potongan terakhir dari teka-teki mulai terpasang.

“Kalau begitu,” lanjutnya, “aku mohon Tuan Kota memanggil Tuan Muda kemari. Laporan ini akan lebih jelas jika yang bersangkutan ikut mendengarnya.”

Ji Wei tidak menolak. Ia memberi isyarat pada seorang pelayan di sisi aula.

“Panggil Ji Yayi. Katakan padanya untuk segera ke sini.”

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari lorong samping. Seorang pemuda dengan pakaian bangsawan melangkah masuk. Wajahnya tampak sedikit pucat, namun ia masih berusaha menjaga sikap percaya diri.

“Ayah,” sapa Ji Yayi sambil memberi hormat singkat.

“Duduklah,” kata Ji Wei singkat. “Tetua Yu ingin menyampaikan laporan penting.”

Ji Yayi pun duduk, tepat di sisi ayahnya. Ketika semua orang telah lengkap, Tetua Yu baru kembali membuka suara.

“Berdasarkan penyelidikan kami,” ucapnya perlahan, seolah setiap kata sengaja diberi bobot, “jumlah siluman yang berada di hutan itu… sekitar tiga ribu.”

“Apa?!” Ji Wei dan Ji Yayi berseru hampir bersamaan. Mata mereka membelalak, wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.

“Tetua Yu, apakah Anda sedang bercanda?” tanya Ji Wei, suaranya terdengar tertahan.

Tetua Yu menggeleng. “Aku tidak bercanda.”

Ia melanjutkan tanpa memberi mereka waktu untuk menenangkan diri.

“Di antara ribuan siluman itu, terdapat siluman berusia seratus tahun. Bahkan… ada Raja Siluman.”

Wajah Ji Wei semakin pucat. Ji Yayi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Aula yang luas itu mendadak terasa sempit.

Ji Wei meraih cangkir tehnya dengan tangan sedikit gemetar. Ia meneguknya dalam-dalam, seolah berharap cairan hangat itu mampu menenangkan jantungnya yang berdegup liar.

Namun kata-kata Tetua Yu berikutnya justru menghancurkan sisa ketenangan itu.

“Di hutan tersebut,” kata Tetua Yu dengan suara rendah namun jelas, “ada seekor binatang suci.”

Prang!

Cangkir teh di tangan Ji Wei terlepas dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Teh tumpah membasahi lantai, namun tidak ada seorang pun yang bergerak.

“Keberadaan binatang suci itulah,” lanjut Tetua Yu tanpa memedulikan pecahan di lantai, “yang membuat para siluman berkumpul. Mereka bersiap. Target mereka bukan sekadar hutan… melainkan Kota Kashgar.”

Ruangan itu hening. Nafas Ji Wei terdengar berat.

Tetua Yu belum selesai.

“Binatang suci itu… sempat berbicara kepada kami,” katanya pelan. “Ia menyebut satu nama.”

Tatapan Ji Wei menegang. “Nama siapa?”

“Ji Yayi.”

Kepala Ji Wei langsung berputar menatap putranya. Tatapan itu penuh keterkejutan, kebingungan, dan… ketakutan yang berusaha ia sembunyikan.

Ji Yayi membeku. Wajahnya memucat, matanya bergetar. Namun detik berikutnya, ia berdiri setengah bangkit dari kursinya.

“Itu bohong!” serunya lantang. “Tetua Yu berbohong!”

Ia menuding ke arah Tetua Yu dengan tangan gemetar.

“Binatang suci hanyalah mitos! Cerita untuk menakut-nakuti orang bodoh! Kalau memang ada, mana mungkin Tetua Yu masih hidup? Kau pasti sudah mati karena bukan lawannya!”

Kata-katanya menggema di aula. Namun alih-alih mengendurkan ketegangan, ucapan itu justru membuat suasana semakin mencekam.

Tatapan Boqin Changing sejak tadi diam kini terasa semakin dalam, seolah ia sedang menatap bukan hanya Ji Yayi, melainkan jalur takdir yang berbelok tajam dan kembali menyusahkannya.

Terpopuler

Comments

Agus Rose

Agus Rose

Masih terlalu banyak kilas balik kehidupan masa lalu.
Tak kirain di season 2 ini berkurang atau sudah tidak ada lagi membahas kehidupan pertama tapi masih saha malahan paaaannnjjjaaaaaaaaaaaang lebar !!!!

2025-12-15

0

Ahmad Ridwan

Ahmad Ridwan

thor gk ada naik dunia rendah . menengah . atas . dewa kah thor . sapa tau kan nnti ada 🤣🤣

2025-12-15

0

cahya wisnu

cahya wisnu

qris sent thor.. nunggu up nya lagi.

2025-12-15

0

lihat semua
Episodes
1 Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru
2 Menemui Tuan Kota Kashgar
3 Anak Tuan Kota Dihadirkan
4 Anak yang Seharusnya Mati
5 Katakan Dimana Mutiara Itu?
6 Mutiara Gerbang Dimensi
7 Kegunaan Mutiara Gerbang Dimensi
8 Meninggalkan Kota Kashgar
9 Sampai di Kota Caocao
10 Kediaman Keluarga Shang
11 Bersiap Untuk Pergi
12 Petualangan Baru Dimulai
13 Kota Longjing yang Berantakan
14 Sarang Musuh
15 Kekuatan Sha Nuo
16 Membasmi Kelompok Kabut Iblis
17 Di Depan Api Unggun
18 Tujuan Selanjutnya
19 Membawa Shang Ni Ikut
20 Memasuki Kota Jiankang
21 Suasana Kota di Malam Hari
22 Jangan Membuat Masalah Dulu
23 Sisi Gelap Kota Jiankang
24 Salah Sasaran
25 Mendapatkan Sedikit Informasi
26 Pencarian Dimulai
27 Kediaman Keluarga Feng
28 Rumah Makan Giok Bulan
29 Saling Mengenal
30 Tingkatan Beladiri
31 Kejadian Empat Tahun Lalu
32 Bersiap Merebut Tahta
33 Keputusan Shang Mu
34 Menemui Keluarga Ma
35 Aku Sudah Ingin Mengamuk
36 Pertemuan Dua Kubu
37 Pertarungan Siap Pecah
38 Sha Nuo yang Tidak Sabaran
39 Tidak Sesuai Rencana
40 Kalah Taruhan
41 Ide Gila Sha Nuo
42 Mengeksekusi Tuan Kota Jiankang
43 Seperti Sahabat Lama
44 Bertemu Kelompok Gerbang Darah
45 Kemampuan Gerbang Darah
46 Shang Mu vs Gerbang Darah
47 Menyerang Orang yang Salah
48 Mengambil Sandera
49 Kabur Bukan Pilihan
50 Lupa Menyisakan Satu
51 Sumpah Sha Nuo
52 Tujuan Selanjutnya
53 Bukit Tanah Merah
54 Mengintai Musuh
55 Mengorek Informasi
56 Melakukan Penyamaran
57 Hampir Ketahuan
58 Hari Dimulainya Ritual Persembahan
59 Menunggu Pemimpin Gerbang Darah Tiba
60 Ritual Berdarah Siap Dimulai
61 Mendukung Kaisar Shang Yao
62 Shang Mu Ketahuan
63 Aura Kematian yang Pekat
64 Musuh Mencoba Kabur
65 Melawan Ilusi
66 Jangan Pernah Menjadi Orang Tuaku
67 Dewa Kematian vs Raja Darah Hitam
68 Dua Pertarungan Selesai
69 Kekalahan Raja Darah Hitam
70 Membangunkan Mereka
71 Menuju Tempat Baru
72 Ada yang Aneh
73 Sekte Cahaya Langit
74 Sampai di Sekte Cahaya Langit
75 Yang Terjadi di Sekte
76 Sekte Telah Dikepung Sejak Lama
77 Meyakinkan Tetua Wei
78 Menyembuhkan Patriak Sekte Cahaya Langit
79 Siapa yang Lebih Kuat
80 Kegelapan Tunduk Padanya
81 Reaksi Musuh
82 Balik Menyerang?
83 Aku Akan Ikut Dalam Peperangan
84 Bala Bantuan Musuh Tiba
85 Perang Siap Dimulai
86 Patriak Dao Ba Melawan Semuanya
87 Keluar Dari Persembunyian
88 Akhirnya Muncul
89 Hantu Pedang, Sha Nuo
90 Kemunculan Boqin Changing
91 Dasar Tukang Pamer
92 Permainan Catur
93 Hantu Pedang vs Penyihir Kutukan Kegelapan
94 Serangan Sihir
95 Dewa Kematian vs Pencabut Nyawa
96 Kemenangan Semu
97 Berhenti Bermain Main
98 Pendekar Bumi Puncak
99 Menolak Tawaran
100 Kematian An Zhu
101 Benturan Dua Kekuatan Besar
102 Kematian Pencabut Nyawa
103 Monster yang Disambut Sebagai Penyelamat
104 Pemberian Patriak Dao Ba
105 Mendapatkan Kitab Kuno
106 Benteng Hidup Mulai Ditempa
107 Pergantian Pengajar
108 Melangkah Keluar dari Masa Lalu
109 Roh Baju Zirah Naga
110 Menuju Utara Kembali
111 Mencari Shang Yuan
112 Pembebas Tanah Shang
113 Menemukan Shang Yuan
114 Adik Ipar?
115 Keluarga Istana yang Menyebalkan
116 Tabib Chang Siap Beraksi
117 Lengan Baru Shang Yuan
118 Padang Rumput Tanpa Jalan Pulang
119 Langkah Pertama Menuju Ibukota
120 Mutiara Gerbang Dimensi Kembali Digunakan
121 Ibukota yang Tak Lagi Sama
122 Paviliun Teratai Naga Kekaisaran Shang
123 Raja Ilusi Hitam
124 Memainkan Psikologi Lawan Bicara
125 Paviliun Teratai Naga Memilih Ikut
126 Menawarkan Kepemilikan Paviliun
127 Rencana Penyerangan Istana
128 Amarah Kaisar Shang
129 Menuju Gerbang Istana
130 Gerbang Istana Runtuh
131 Bertemu Musuh Sesungguhnya
132 Kaisar Naga Merah, Youlong Chidi
133 Hantu Pedang vs Kaisar Naga Merah
134 Pendekar Seribu Cahaya vs Iblis Berwajah Manusia
135 Dewa Kematian vs Para Pendekar Suci
136 Mengendalikan Medan Pertempuran
137 Fokus Musuh Terganggu
138 Tekanan yang Mengguncang Istana
139 Saat Sang Penguasa Bergerak
140 Di Luar Prediksi
141 Aku Mengingatmu
142 Pendekar Gila Gunung Selatan
143 Kematian Iblis Berwajah Manusia
144 Dominasi Hantu Pedang Sha Nuo
145 Pil Kaisar Iblis
146 Pertahanan Hantu Pedang
147 Waktunya Akhirnya Tiba
148 Boqin Changing vs Pendekar Gila Gunung Selatan
149 Rahasia Dibalik Dominasi
150 Tekanan Ini Berbeda
151 Monster Boqin Changing
152 Pertarungan Memasuki Akhir
153 Berita Kemenangan Menyebar
154 Hari Eksekusi Tiba
155 Pelindung Dua Kekaisaran
156 Bagian dari Kitab Firasat Langit
157 Propaganda yang Disebar
158 Tujuan Selanjutnya
159 Rencana Boqin Changing untuk Paviliun
160 Meninggalkan Ibukota
161 Penginapan Awan Sunyi
162 Aura Kematian Sha Nuo
163 Wilayah yang Dilupakan
164 Penginapan akan Ditutup
165 Ingin Membuat Biro Informasi
166 Tujuan Selanjutnya
167 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru
2
Menemui Tuan Kota Kashgar
3
Anak Tuan Kota Dihadirkan
4
Anak yang Seharusnya Mati
5
Katakan Dimana Mutiara Itu?
6
Mutiara Gerbang Dimensi
7
Kegunaan Mutiara Gerbang Dimensi
8
Meninggalkan Kota Kashgar
9
Sampai di Kota Caocao
10
Kediaman Keluarga Shang
11
Bersiap Untuk Pergi
12
Petualangan Baru Dimulai
13
Kota Longjing yang Berantakan
14
Sarang Musuh
15
Kekuatan Sha Nuo
16
Membasmi Kelompok Kabut Iblis
17
Di Depan Api Unggun
18
Tujuan Selanjutnya
19
Membawa Shang Ni Ikut
20
Memasuki Kota Jiankang
21
Suasana Kota di Malam Hari
22
Jangan Membuat Masalah Dulu
23
Sisi Gelap Kota Jiankang
24
Salah Sasaran
25
Mendapatkan Sedikit Informasi
26
Pencarian Dimulai
27
Kediaman Keluarga Feng
28
Rumah Makan Giok Bulan
29
Saling Mengenal
30
Tingkatan Beladiri
31
Kejadian Empat Tahun Lalu
32
Bersiap Merebut Tahta
33
Keputusan Shang Mu
34
Menemui Keluarga Ma
35
Aku Sudah Ingin Mengamuk
36
Pertemuan Dua Kubu
37
Pertarungan Siap Pecah
38
Sha Nuo yang Tidak Sabaran
39
Tidak Sesuai Rencana
40
Kalah Taruhan
41
Ide Gila Sha Nuo
42
Mengeksekusi Tuan Kota Jiankang
43
Seperti Sahabat Lama
44
Bertemu Kelompok Gerbang Darah
45
Kemampuan Gerbang Darah
46
Shang Mu vs Gerbang Darah
47
Menyerang Orang yang Salah
48
Mengambil Sandera
49
Kabur Bukan Pilihan
50
Lupa Menyisakan Satu
51
Sumpah Sha Nuo
52
Tujuan Selanjutnya
53
Bukit Tanah Merah
54
Mengintai Musuh
55
Mengorek Informasi
56
Melakukan Penyamaran
57
Hampir Ketahuan
58
Hari Dimulainya Ritual Persembahan
59
Menunggu Pemimpin Gerbang Darah Tiba
60
Ritual Berdarah Siap Dimulai
61
Mendukung Kaisar Shang Yao
62
Shang Mu Ketahuan
63
Aura Kematian yang Pekat
64
Musuh Mencoba Kabur
65
Melawan Ilusi
66
Jangan Pernah Menjadi Orang Tuaku
67
Dewa Kematian vs Raja Darah Hitam
68
Dua Pertarungan Selesai
69
Kekalahan Raja Darah Hitam
70
Membangunkan Mereka
71
Menuju Tempat Baru
72
Ada yang Aneh
73
Sekte Cahaya Langit
74
Sampai di Sekte Cahaya Langit
75
Yang Terjadi di Sekte
76
Sekte Telah Dikepung Sejak Lama
77
Meyakinkan Tetua Wei
78
Menyembuhkan Patriak Sekte Cahaya Langit
79
Siapa yang Lebih Kuat
80
Kegelapan Tunduk Padanya
81
Reaksi Musuh
82
Balik Menyerang?
83
Aku Akan Ikut Dalam Peperangan
84
Bala Bantuan Musuh Tiba
85
Perang Siap Dimulai
86
Patriak Dao Ba Melawan Semuanya
87
Keluar Dari Persembunyian
88
Akhirnya Muncul
89
Hantu Pedang, Sha Nuo
90
Kemunculan Boqin Changing
91
Dasar Tukang Pamer
92
Permainan Catur
93
Hantu Pedang vs Penyihir Kutukan Kegelapan
94
Serangan Sihir
95
Dewa Kematian vs Pencabut Nyawa
96
Kemenangan Semu
97
Berhenti Bermain Main
98
Pendekar Bumi Puncak
99
Menolak Tawaran
100
Kematian An Zhu
101
Benturan Dua Kekuatan Besar
102
Kematian Pencabut Nyawa
103
Monster yang Disambut Sebagai Penyelamat
104
Pemberian Patriak Dao Ba
105
Mendapatkan Kitab Kuno
106
Benteng Hidup Mulai Ditempa
107
Pergantian Pengajar
108
Melangkah Keluar dari Masa Lalu
109
Roh Baju Zirah Naga
110
Menuju Utara Kembali
111
Mencari Shang Yuan
112
Pembebas Tanah Shang
113
Menemukan Shang Yuan
114
Adik Ipar?
115
Keluarga Istana yang Menyebalkan
116
Tabib Chang Siap Beraksi
117
Lengan Baru Shang Yuan
118
Padang Rumput Tanpa Jalan Pulang
119
Langkah Pertama Menuju Ibukota
120
Mutiara Gerbang Dimensi Kembali Digunakan
121
Ibukota yang Tak Lagi Sama
122
Paviliun Teratai Naga Kekaisaran Shang
123
Raja Ilusi Hitam
124
Memainkan Psikologi Lawan Bicara
125
Paviliun Teratai Naga Memilih Ikut
126
Menawarkan Kepemilikan Paviliun
127
Rencana Penyerangan Istana
128
Amarah Kaisar Shang
129
Menuju Gerbang Istana
130
Gerbang Istana Runtuh
131
Bertemu Musuh Sesungguhnya
132
Kaisar Naga Merah, Youlong Chidi
133
Hantu Pedang vs Kaisar Naga Merah
134
Pendekar Seribu Cahaya vs Iblis Berwajah Manusia
135
Dewa Kematian vs Para Pendekar Suci
136
Mengendalikan Medan Pertempuran
137
Fokus Musuh Terganggu
138
Tekanan yang Mengguncang Istana
139
Saat Sang Penguasa Bergerak
140
Di Luar Prediksi
141
Aku Mengingatmu
142
Pendekar Gila Gunung Selatan
143
Kematian Iblis Berwajah Manusia
144
Dominasi Hantu Pedang Sha Nuo
145
Pil Kaisar Iblis
146
Pertahanan Hantu Pedang
147
Waktunya Akhirnya Tiba
148
Boqin Changing vs Pendekar Gila Gunung Selatan
149
Rahasia Dibalik Dominasi
150
Tekanan Ini Berbeda
151
Monster Boqin Changing
152
Pertarungan Memasuki Akhir
153
Berita Kemenangan Menyebar
154
Hari Eksekusi Tiba
155
Pelindung Dua Kekaisaran
156
Bagian dari Kitab Firasat Langit
157
Propaganda yang Disebar
158
Tujuan Selanjutnya
159
Rencana Boqin Changing untuk Paviliun
160
Meninggalkan Ibukota
161
Penginapan Awan Sunyi
162
Aura Kematian Sha Nuo
163
Wilayah yang Dilupakan
164
Penginapan akan Ditutup
165
Ingin Membuat Biro Informasi
166
Tujuan Selanjutnya
167
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!