Anak yang Seharusnya Mati

Tetua Ai yang sejak tadi diam akhirnya bicara. Wajahnya tetap tenang, namun senyum tipis sengaja ia tampilkan untuk meredakan suasana yang kian memanas.

“Tuan Kota, Tuan Muda,” ucap Tetua Ai dengan suara datar namun bersahabat, “harap tenang terlebih dahulu.”

Ia menoleh sejenak ke arah Tetua Yu, lalu kembali memandang Ji Wei dan Ji Yayi.

“Apa yang disampaikan Tetua Yu memang mengejutkan,” lanjutnya, “namun tidak semuanya harus dipahami sebagai ancaman yang belum terkendali. Faktanya, rombongan kami berhasil keluar dari hutan itu dengan selamat.”

Ji Yayi langsung menyela, nada suaranya masih keras.

“Itu justru yang aneh! Jika benar ada Raja Siluman dan Binatang Suci, mana mungkin kalian bisa keluar hidup-hidup?”

Tetua Ai tidak tersinggung. Ia justru mengangguk pelan, seolah sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.

“Kami berhasil pergi dari hutan,” katanya perlahan, “karena mendapat bantuan dari pendekar lainnya.”

Ucapan itu membuat alis Ji Wei sedikit terangkat. Ji Yayi pun terdiam sejenak, namun sorot matanya justru semakin tajam.

“Pendekar lain?” ulang Ji Yayi. “Siapa?”

Tetua Ai tersenyum samar.

“Pendekar yang kebetulan berada di sekitar hutan pada waktu itu.”

Ia sengaja berhenti di sana. Tidak satu pun kata keluar mengenai bagaimana siluman-siluman itu dibantai, bagaimana Raja Siluman dan binatang suci telah tumbang, atau siapa sebenarnya yang memberi perintah. Nama Boqin Changing dan Nuo sama sekali tidak disebutkan.

“Kami hanya bisa mengatakan,” lanjut Tetua Ai, “bahwa tanpa bantuan mereka, mungkin kami tidak akan duduk di sini sekarang.”

Ji Yayi mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menoleh cepat ke arah Boqin Changing dan Sha Nuo yang duduk tidak jauh darinya. Tatapannya meneliti keduanya dari atas ke bawah.

Yang satu tampak terlalu muda. Yang satu lagi, meski auranya tenang, tidak memancarkan tekanan seorang pendekar hebat.

“Hanya murid senior dan junior,” batinnya dingin. “Mereka jelas hanya pengikut para tetua.”

Pikiran bahwa dua orang di hadapannya inilah yang dimaksud Tetua Ai sama sekali ia tepis. Baginya, itu tidak masuk akal.

Melihat ekspresi putranya yang masih penuh emosi, Ji Wei menghela napas pelan. Ia meletakkan tangannya di atas meja, lalu berbicara dengan nada lebih berat namun terkendali.

“Yi'er,” ucapnya, “cukup.”

Ji Yayi menoleh. “Ayah....”

“Aku sudah mengenal Tetua Ai dan Tetua Yu selama bertahun-tahun,” potong Ji Wei. “Mereka bukan orang yang akan membohongiku, apalagi dalam urusan sepenting ini.”

Tatapan Ji Wei menajam, bukan mengancam, melainkan penuh tekanan seorang ayah dan pemimpin kota.

“Apa pun yang kau dengar barusan, sikapmu barusan tidak pantas,” lanjutnya. “Baik kepada para tetua, maupun kepada tamu kita.”

Ji Yayi menggertakkan giginya. Dadanya naik turun. Jelas terlihat ia masih tidak terima, namun wibawa ayahnya membuatnya sulit membantah.

“Mintalah maaf,” kata Ji Wei singkat, tanpa memberi ruang tawar-menawar.

Keheningan kembali menyelimuti aula. Semua mata tertuju pada Ji Yayi.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Bahunya sedikit merosot, seolah menelan harga diri yang pahit.

“Aku… terlalu emosional,” katanya kaku. Ia berdiri dan membungkukkan badan setengah hormat ke arah Tetua Yu dan Tetua Ai. “Mohon maaf atas sikapku barusan.”

Tetua Ai mengangguk ramah. “Tidak apa-apa. Reaksi Tuan Muda masih wajar.”

Tetua Yu hanya mendengus pelan, tidak memperpanjang urusan. Sementara itu, Boqin Changing tetap duduk tenang, wajahnya datar seolah semua ini tidak ada hubungannya dengan dirinya. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bergerak cepat.

Ji Yayi… Anak yang seharusnya mati karena wabah. Kini hidup, emosional, dan berada tepat di tengah pusaran takdir yang telah ia ubah.

“Ini baru permulaan,” batinnya dingin. “Konsekuensi dari perubahan sejarah mulai menampakkan wujudnya.”

Tetua Yu akhirnya angkat bicara. Nada suaranya datar, namun mengandung tekanan yang halus namun nyata.

“Tuan Kota,” katanya sambil memandang Ji Wei, lalu mengalihkan pandangan ke Ji Yayi, “sebelum urusan ini ditutup, ada satu hal yang harus kami pastikan.”

Ji Yayi mengerutkan kening.

“Hal apa lagi?”

Tatapan Tetua Yu mengeras.

“Artefak yang disebutkan oleh Binatang Suci di hutan itu,” ucapnya perlahan. “Kami meminta agar Tuan Muda Ji Yayi mengembalikannya.”

Ucapan itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang. Ji Wei menegang. Ji Yayi langsung berdiri dari kursinya.

“Apa maksud Tetua Yu?” katanya tajam. “Aku tidak pernah mengambil artefak apa pun!”

Permintaan itu sejatinya bukan inisiatif Tetua Yu sendiri. Itu adalah perintah Boqin Changing sebelum mereka memasuki kediaman Tuan Kota. Namun tentu saja, baik Ji Wei maupun Ji Yayi sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.

Di sisi lain meja, Sha Nuo memiringkan tubuhnya sedikit dan berbisik ke arah Boqin Changing, nyaris tanpa menggerakkan bibirnya.

“Sial… mereka benar-benar berakting sesuai keinginanmu.”

Sudut bibir Boqin Changing terangkat tipis. Ia menjawab dengan suara yang sama pelannya.

“Aku memang guru teater yang hebat,” bisiknya santai. “Kurasa mereka berdua cukup berbakat dalam seni peran.”

Baik Boqin Changing maupun Sha Nuo tidak tahu satu hal. Tetua Ai dan Tetua Yu saat ini sedang mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk berakting sebaik mungkin. Bukan demi skema yang rumit, melainkan demi sesuatu yang jauh lebih sederhana, nyawa mereka sendiri. Satu kesalahan kecil, satu kata yang melenceng, bisa memicu kemarahan Boqin Changing. Mereka berdua tahu betul, kemarahan itu bukan sesuatu yang bisa ditanggung siapa pun.

Sementara itu, Ji Yayi masih bersikeras.

“Aku bersumpah atas nama leluhur keluarga Ji!” katanya lantang. “Aku tidak pernah mengambil artefak Binatang Suci, tidak sekarang, tidak sebelumnya!”

Ia bahkan mengangkat tangan kanannya, membentuk sumpah dengan wajah memerah oleh emosi.

Sha Nuo menyeringai tipis. Ia kembali berbisik ke arah Boqin Changing.

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku penggal saja kepala anak ini, lalu kita periksa cincin ruangnya?”

Boqin Changing mengerutkan kening, lalu menggeleng pelan.

“Jangan dulu,” balasnya singkat. “Mari kita ikuti alur cerita yang kubuat.”

Di hadapan penolakan keras itu, Tetua Ai dan Tetua Yu saling pandang sesaat. Wajah mereka tetap tenang, namun sorot mata keduanya bergerak cepat ke arah Boqin Changing, seolah meminta instruksi selanjutnya.

Namun sebelum salah satu dari mereka sempat berbicara, suara berat Ji Wei menghantam keheningan.

“Cukup, Yi’er!”

Ji Yayi tersentak dan menoleh.

“Jangan berbohong di hadapan para tetua dan tamu terhormat,” lanjut Ji Wei dengan nada dingin. “Apakah kau ingin mempermalukan nama keluarga Ji di depan orang luar?”

“Ayah, aku....”

“Jawab dengan jujur!” bentak Ji Wei, telapak tangannya menghantam meja. “Apakah kau menemukan sesuatu di hutan itu atau tidak?”

Tekanan dari seorang ayah sekaligus Tuan Kota membuat Ji Yayi terdiam. Napasnya memburu. Matanya bergerak ke sana kemari, hingga akhirnya tertunduk.

Beberapa detik berlalu.

“Aku…” suaranya melemah. “…aku memang menemukan sesuatu.”

Ruangan itu langsung senyap.

Ji Yayi mengangkat kepalanya, wajahnya pucat.

“Tapi itu bukan artefak seperti yang kalian maksud. Aku menemukannya di dekat bangkai siluman.”

Ia mengangkat tangannya dan mengayunkan cincin ruangnya.

Cahaya hijau lembut berkilau, lalu sebuah batu giok muncul di atas telapak tangannya. Batu itu berwarna hijau zamrud, bening, berkilau indah, dengan permukaan halus seolah dipahat oleh alam sendiri.

Tetua Ai dan Tetua Yu menghela napas lega. Menurut mereka, konflik ini akhirnya selesai. Ji Yayi telah mengakui dan mengeluarkan benda yang diambilnya. Artefak atau apa pun itu telah muncul. Dengan demikian, benturan antara Tuan Kota dan Boqin Changing bisa dihindari.

Sha Nuo justru mengerutkan kening. Ia menatap batu giok itu dengan mata tajam, lalu kembali berbisik.

“Aneh. Itu hanya batu giok biasa. Indah, iya. Tapi jelas bukan artefak atau pusaka.”

Ia mendengus pelan.

“Tidak mungkin Binatang Suci mengerahkan ribuan siluman hanya demi benda seperti ini.”

Boqin Changing hanya tersenyum tipis mendengar itu. Tatapannya tenang, seolah semua ini berjalan tepat seperti yang ia perkirakan.

Ji Yayi melangkah maju setengah langkah, hendak menyerahkan batu giok itu kepada Tetua Yu.

Namun pada saat itulah, suara Boqin Changing akhirnya terdengar. Tenang. Dingin. Namun membuat udara di ruangan itu seakan membeku.

“Hei, bocah,” katanya tanpa berdiri dari kursinya. “Jangan membodohi kami.”

Semua mata langsung tertuju padanya. Tatapan Boqin Changing menancap lurus ke arah Ji Yayi, tajam seperti bilah pedang.

“Berikan artefak yang kau curi itu.”

Terpopuler

Comments

Adek Darmansyah

Adek Darmansyah

hr senin ini thorr,, katanya senin up udh lancrrr🤦😮‍💨😭😭

2025-12-15

1

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

hahahaha...masih nunggu update bab baru lagi🤣🤣asiiiikkkk makin penasaran dan makin seru makasih Thor 🤣😄

2025-12-15

0

Nanik S

Nanik S

Masa Artefak kayak baru Giok.. lucu amat.. mau bohongi Chang, memang sudah bosan hidup

2025-12-19

0

lihat semua
Episodes
1 Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru
2 Menemui Tuan Kota Kashgar
3 Anak Tuan Kota Dihadirkan
4 Anak yang Seharusnya Mati
5 Katakan Dimana Mutiara Itu?
6 Mutiara Gerbang Dimensi
7 Kegunaan Mutiara Gerbang Dimensi
8 Meninggalkan Kota Kashgar
9 Sampai di Kota Caocao
10 Kediaman Keluarga Shang
11 Bersiap Untuk Pergi
12 Petualangan Baru Dimulai
13 Kota Longjing yang Berantakan
14 Sarang Musuh
15 Kekuatan Sha Nuo
16 Membasmi Kelompok Kabut Iblis
17 Di Depan Api Unggun
18 Tujuan Selanjutnya
19 Membawa Shang Ni Ikut
20 Memasuki Kota Jiankang
21 Suasana Kota di Malam Hari
22 Jangan Membuat Masalah Dulu
23 Sisi Gelap Kota Jiankang
24 Salah Sasaran
25 Mendapatkan Sedikit Informasi
26 Pencarian Dimulai
27 Kediaman Keluarga Feng
28 Rumah Makan Giok Bulan
29 Saling Mengenal
30 Tingkatan Beladiri
31 Kejadian Empat Tahun Lalu
32 Bersiap Merebut Tahta
33 Keputusan Shang Mu
34 Menemui Keluarga Ma
35 Aku Sudah Ingin Mengamuk
36 Pertemuan Dua Kubu
37 Pertarungan Siap Pecah
38 Sha Nuo yang Tidak Sabaran
39 Tidak Sesuai Rencana
40 Kalah Taruhan
41 Ide Gila Sha Nuo
42 Mengeksekusi Tuan Kota Jiankang
43 Seperti Sahabat Lama
44 Bertemu Kelompok Gerbang Darah
45 Kemampuan Gerbang Darah
46 Shang Mu vs Gerbang Darah
47 Menyerang Orang yang Salah
48 Mengambil Sandera
49 Kabur Bukan Pilihan
50 Lupa Menyisakan Satu
51 Sumpah Sha Nuo
52 Tujuan Selanjutnya
53 Bukit Tanah Merah
54 Mengintai Musuh
55 Mengorek Informasi
56 Melakukan Penyamaran
57 Hampir Ketahuan
58 Hari Dimulainya Ritual Persembahan
59 Menunggu Pemimpin Gerbang Darah Tiba
60 Ritual Berdarah Siap Dimulai
61 Mendukung Kaisar Shang Yao
62 Shang Mu Ketahuan
63 Aura Kematian yang Pekat
64 Musuh Mencoba Kabur
65 Melawan Ilusi
66 Jangan Pernah Menjadi Orang Tuaku
67 Dewa Kematian vs Raja Darah Hitam
68 Dua Pertarungan Selesai
69 Kekalahan Raja Darah Hitam
70 Membangunkan Mereka
71 Menuju Tempat Baru
72 Ada yang Aneh
73 Sekte Cahaya Langit
74 Sampai di Sekte Cahaya Langit
75 Yang Terjadi di Sekte
76 Sekte Telah Dikepung Sejak Lama
77 Meyakinkan Tetua Wei
78 Menyembuhkan Patriak Sekte Cahaya Langit
79 Siapa yang Lebih Kuat
80 Kegelapan Tunduk Padanya
81 Reaksi Musuh
82 Balik Menyerang?
83 Aku Akan Ikut Dalam Peperangan
84 Bala Bantuan Musuh Tiba
85 Perang Siap Dimulai
86 Patriak Dao Ba Melawan Semuanya
87 Keluar Dari Persembunyian
88 Akhirnya Muncul
89 Hantu Pedang, Sha Nuo
90 Kemunculan Boqin Changing
91 Dasar Tukang Pamer
92 Permainan Catur
93 Hantu Pedang vs Penyihir Kutukan Kegelapan
94 Serangan Sihir
95 Dewa Kematian vs Pencabut Nyawa
96 Kemenangan Semu
97 Berhenti Bermain Main
98 Pendekar Bumi Puncak
99 Menolak Tawaran
100 Kematian An Zhu
101 Benturan Dua Kekuatan Besar
102 Kematian Pencabut Nyawa
103 Monster yang Disambut Sebagai Penyelamat
104 Pemberian Patriak Dao Ba
105 Mendapatkan Kitab Kuno
106 Benteng Hidup Mulai Ditempa
107 Pergantian Pengajar
108 Melangkah Keluar dari Masa Lalu
109 Roh Baju Zirah Naga
110 Menuju Utara Kembali
111 Mencari Shang Yuan
112 Pembebas Tanah Shang
113 Menemukan Shang Yuan
114 Adik Ipar?
115 Keluarga Istana yang Menyebalkan
116 Tabib Chang Siap Beraksi
117 Lengan Baru Shang Yuan
118 Padang Rumput Tanpa Jalan Pulang
119 Langkah Pertama Menuju Ibukota
120 Mutiara Gerbang Dimensi Kembali Digunakan
121 Ibukota yang Tak Lagi Sama
122 Paviliun Teratai Naga Kekaisaran Shang
123 Raja Ilusi Hitam
124 Memainkan Psikologi Lawan Bicara
125 Paviliun Teratai Naga Memilih Ikut
126 Menawarkan Kepemilikan Paviliun
127 Rencana Penyerangan Istana
128 Amarah Kaisar Shang
129 Menuju Gerbang Istana
130 Gerbang Istana Runtuh
131 Bertemu Musuh Sesungguhnya
132 Kaisar Naga Merah, Youlong Chidi
133 Hantu Pedang vs Kaisar Naga Merah
134 Pendekar Seribu Cahaya vs Iblis Berwajah Manusia
135 Dewa Kematian vs Para Pendekar Suci
136 Mengendalikan Medan Pertempuran
137 Fokus Musuh Terganggu
138 Tekanan yang Mengguncang Istana
139 Saat Sang Penguasa Bergerak
140 Di Luar Prediksi
141 Aku Mengingatmu
142 Pendekar Gila Gunung Selatan
143 Kematian Iblis Berwajah Manusia
144 Dominasi Hantu Pedang Sha Nuo
145 Pil Kaisar Iblis
146 Pertahanan Hantu Pedang
147 Waktunya Akhirnya Tiba
148 Boqin Changing vs Pendekar Gila Gunung Selatan
149 Rahasia Dibalik Dominasi
150 Tekanan Ini Berbeda
151 Monster Boqin Changing
152 Pertarungan Memasuki Akhir
153 Berita Kemenangan Menyebar
154 Hari Eksekusi Tiba
155 Pelindung Dua Kekaisaran
156 Bagian dari Kitab Firasat Langit
157 Propaganda yang Disebar
158 Tujuan Selanjutnya
159 Rencana Boqin Changing untuk Paviliun
160 Meninggalkan Ibukota
161 Penginapan Awan Sunyi
162 Aura Kematian Sha Nuo
163 Wilayah yang Dilupakan
164 Penginapan akan Ditutup
165 Ingin Membuat Biro Informasi
166 Tujuan Selanjutnya
167 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru
2
Menemui Tuan Kota Kashgar
3
Anak Tuan Kota Dihadirkan
4
Anak yang Seharusnya Mati
5
Katakan Dimana Mutiara Itu?
6
Mutiara Gerbang Dimensi
7
Kegunaan Mutiara Gerbang Dimensi
8
Meninggalkan Kota Kashgar
9
Sampai di Kota Caocao
10
Kediaman Keluarga Shang
11
Bersiap Untuk Pergi
12
Petualangan Baru Dimulai
13
Kota Longjing yang Berantakan
14
Sarang Musuh
15
Kekuatan Sha Nuo
16
Membasmi Kelompok Kabut Iblis
17
Di Depan Api Unggun
18
Tujuan Selanjutnya
19
Membawa Shang Ni Ikut
20
Memasuki Kota Jiankang
21
Suasana Kota di Malam Hari
22
Jangan Membuat Masalah Dulu
23
Sisi Gelap Kota Jiankang
24
Salah Sasaran
25
Mendapatkan Sedikit Informasi
26
Pencarian Dimulai
27
Kediaman Keluarga Feng
28
Rumah Makan Giok Bulan
29
Saling Mengenal
30
Tingkatan Beladiri
31
Kejadian Empat Tahun Lalu
32
Bersiap Merebut Tahta
33
Keputusan Shang Mu
34
Menemui Keluarga Ma
35
Aku Sudah Ingin Mengamuk
36
Pertemuan Dua Kubu
37
Pertarungan Siap Pecah
38
Sha Nuo yang Tidak Sabaran
39
Tidak Sesuai Rencana
40
Kalah Taruhan
41
Ide Gila Sha Nuo
42
Mengeksekusi Tuan Kota Jiankang
43
Seperti Sahabat Lama
44
Bertemu Kelompok Gerbang Darah
45
Kemampuan Gerbang Darah
46
Shang Mu vs Gerbang Darah
47
Menyerang Orang yang Salah
48
Mengambil Sandera
49
Kabur Bukan Pilihan
50
Lupa Menyisakan Satu
51
Sumpah Sha Nuo
52
Tujuan Selanjutnya
53
Bukit Tanah Merah
54
Mengintai Musuh
55
Mengorek Informasi
56
Melakukan Penyamaran
57
Hampir Ketahuan
58
Hari Dimulainya Ritual Persembahan
59
Menunggu Pemimpin Gerbang Darah Tiba
60
Ritual Berdarah Siap Dimulai
61
Mendukung Kaisar Shang Yao
62
Shang Mu Ketahuan
63
Aura Kematian yang Pekat
64
Musuh Mencoba Kabur
65
Melawan Ilusi
66
Jangan Pernah Menjadi Orang Tuaku
67
Dewa Kematian vs Raja Darah Hitam
68
Dua Pertarungan Selesai
69
Kekalahan Raja Darah Hitam
70
Membangunkan Mereka
71
Menuju Tempat Baru
72
Ada yang Aneh
73
Sekte Cahaya Langit
74
Sampai di Sekte Cahaya Langit
75
Yang Terjadi di Sekte
76
Sekte Telah Dikepung Sejak Lama
77
Meyakinkan Tetua Wei
78
Menyembuhkan Patriak Sekte Cahaya Langit
79
Siapa yang Lebih Kuat
80
Kegelapan Tunduk Padanya
81
Reaksi Musuh
82
Balik Menyerang?
83
Aku Akan Ikut Dalam Peperangan
84
Bala Bantuan Musuh Tiba
85
Perang Siap Dimulai
86
Patriak Dao Ba Melawan Semuanya
87
Keluar Dari Persembunyian
88
Akhirnya Muncul
89
Hantu Pedang, Sha Nuo
90
Kemunculan Boqin Changing
91
Dasar Tukang Pamer
92
Permainan Catur
93
Hantu Pedang vs Penyihir Kutukan Kegelapan
94
Serangan Sihir
95
Dewa Kematian vs Pencabut Nyawa
96
Kemenangan Semu
97
Berhenti Bermain Main
98
Pendekar Bumi Puncak
99
Menolak Tawaran
100
Kematian An Zhu
101
Benturan Dua Kekuatan Besar
102
Kematian Pencabut Nyawa
103
Monster yang Disambut Sebagai Penyelamat
104
Pemberian Patriak Dao Ba
105
Mendapatkan Kitab Kuno
106
Benteng Hidup Mulai Ditempa
107
Pergantian Pengajar
108
Melangkah Keluar dari Masa Lalu
109
Roh Baju Zirah Naga
110
Menuju Utara Kembali
111
Mencari Shang Yuan
112
Pembebas Tanah Shang
113
Menemukan Shang Yuan
114
Adik Ipar?
115
Keluarga Istana yang Menyebalkan
116
Tabib Chang Siap Beraksi
117
Lengan Baru Shang Yuan
118
Padang Rumput Tanpa Jalan Pulang
119
Langkah Pertama Menuju Ibukota
120
Mutiara Gerbang Dimensi Kembali Digunakan
121
Ibukota yang Tak Lagi Sama
122
Paviliun Teratai Naga Kekaisaran Shang
123
Raja Ilusi Hitam
124
Memainkan Psikologi Lawan Bicara
125
Paviliun Teratai Naga Memilih Ikut
126
Menawarkan Kepemilikan Paviliun
127
Rencana Penyerangan Istana
128
Amarah Kaisar Shang
129
Menuju Gerbang Istana
130
Gerbang Istana Runtuh
131
Bertemu Musuh Sesungguhnya
132
Kaisar Naga Merah, Youlong Chidi
133
Hantu Pedang vs Kaisar Naga Merah
134
Pendekar Seribu Cahaya vs Iblis Berwajah Manusia
135
Dewa Kematian vs Para Pendekar Suci
136
Mengendalikan Medan Pertempuran
137
Fokus Musuh Terganggu
138
Tekanan yang Mengguncang Istana
139
Saat Sang Penguasa Bergerak
140
Di Luar Prediksi
141
Aku Mengingatmu
142
Pendekar Gila Gunung Selatan
143
Kematian Iblis Berwajah Manusia
144
Dominasi Hantu Pedang Sha Nuo
145
Pil Kaisar Iblis
146
Pertahanan Hantu Pedang
147
Waktunya Akhirnya Tiba
148
Boqin Changing vs Pendekar Gila Gunung Selatan
149
Rahasia Dibalik Dominasi
150
Tekanan Ini Berbeda
151
Monster Boqin Changing
152
Pertarungan Memasuki Akhir
153
Berita Kemenangan Menyebar
154
Hari Eksekusi Tiba
155
Pelindung Dua Kekaisaran
156
Bagian dari Kitab Firasat Langit
157
Propaganda yang Disebar
158
Tujuan Selanjutnya
159
Rencana Boqin Changing untuk Paviliun
160
Meninggalkan Ibukota
161
Penginapan Awan Sunyi
162
Aura Kematian Sha Nuo
163
Wilayah yang Dilupakan
164
Penginapan akan Ditutup
165
Ingin Membuat Biro Informasi
166
Tujuan Selanjutnya
167
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!