Reinkarnasi Pendekar Dewa : Kehidupan Kedua Dunia Yang Berubah

Reinkarnasi Pendekar Dewa : Kehidupan Kedua Dunia Yang Berubah

Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru

Langit malam di Kekaisaran Qin tetap sama, namun bagi Boqin Changing, setiap kegelapan ini kini terasa asing. Sembilan tahun telah berlalu sejak ia menapaki jalan kehidupan keduanya. Jalan yang sama sekali berbeda dari yang pernah ia jalani di kehidupan pertamanya.

Ia, pendekar terkuat yang pernah ada, telah menempuh jalan yang penuh darah dan pengkhianatan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia gagal melindungi orang-orang yang ia sayangi, kehilangan mereka satu demi satu, dan menyaksikan tempat kelahirannya dihancurkan oleh kelompok Tengkorak Hitam. Ia kehilangan semua itu karena saat itu dirinya sangat lemah. Tetapi sekarang, dengan ingatan masa depannya sebagai bekal, ia telah menulis ulang sejarah itu.

Sebuah artefak berbentuk bola ajaib membawanya kembali ke masa anak-anaknya. Dengan pengetahuan yang ia dapatkan di kehidupan pertamnya, Boqin Changing memperkuat tubuh dan jiwanya, melindungi ayah, ibu, gurunya, dan banyak jiwa tak berdosa lainnya. Ia menapaki peristiwa demi peristiwa dengan campur tangannya sendiri dan akhirnya membasmi Tengkorak Hitam. Sebuah kelompok yang berusaha menghancurkan Kekaisaran Qin. Ia telah memastikan bahwa masa lalunya yang kelam itu kini menjadi masa kini yang lebih aman.

Namun, tidak semua yang ia kenal tetap sama. Dunia yang kini ia jalani telah berubah, bukan hanya karena kekuatannya, tapi karena setiap tindakan dan keputusan yang ia buat di masa ini telah membentuk alur baru. Ingatannya tentang masa lalu tidak sepenuhnya berlaku lagi. Orang-orang yang dulu ia kenal, peristiwa yang dulu ia yakini, bahkan persaingan antar kekaisaran kini menampilkan wajah yang berbeda, seringkali mengejutkan dan tak terduga.

Boqin Changing menatap bintang di langit dengan mata yang tajam namun penuh pertimbangan. Ia tahu, sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat, dan masa kini, dunia yang ia tinggali sekarang, berbeda jauh dari yang ia bayangkan. Di balik damainya dunia, bahaya baru, ancaman yang lebih licik, dan misteri yang belum terpecahkan menunggu.

Kini, pendekar yang telah menaklukkan takdirnya sendiri harus bersiap untuk menghadapi dunia yang sama sekali berbeda. Dunia yang telah ia ubah, namun masih memiliki rahasia yang belum ia mengerti sepenuhnya.

...*******...

Hutan Lembah Embun diselimuti kabut tipis selepas Boqin Changing berhasil membunuh Binatang Suci. Hari telah berubah menjadi gelap. Para murid Sekte Awan Putih mulai menyalakan api unggun di sebuah area yang aman di tengah hutan. Aroma kayu terbakar menyebar, memberikan kehangatan di udara dingin. Mereka duduk mengelilingi api, menatap Boqin Changing dengan kagum dan penuh rasa hormat.

“Pendekar Chang benar-benar luar biasa… Binatang Suci itu…” seorang murid berbicara dengan suara gemetar. “Aku… aku tak pernah melihat kekuatan seperti itu.”

Murid lain mengangguk, matanya berbinar-binar.

“Aku mendengar dari tetua, hanya pendekar tingkat tinggi yang mampu menandinginya… tapi ia membunuhnya dengan satu jurus!”

Sha Nuo, seseorang yang memilih menjadi pengikut Boqin Changing di kehidupannya sekarang, tersenyum tipis, menatap Boqin Changing yang kini duduk santai di pinggir api unggun.

“Kau benar-benar tahu cara tampil. Mereka melihatmu sebagai legenda,” bisiknya, setengah bercanda, setengah serius.

Boqin Changing tidak menjawabnya dan hanya menatap api unggun. Pikirannya melayang pada dunia yang telah ia ubah, pada masa lalu yang telah ia perbaiki. Ia tahu perjalanan masih panjang, ancaman lebih besar menunggu, dan rahasia dunia ini belum semuanya terbuka. Tapi malam itu, di tengah api unggun, diantara bisik kagum para murid, satu hal terlihat jelas. Kekuatan Boqin Changing yang kembali ke masa lalu sudah semakin kuat. Walaupun belum mencapai puncaknya namun keberadaannya sekarang jelas sangat diperhitungkan.

Bintang di langit hutan itu berkelap-kelip, seolah menjadi saksi atas kemenangan dan ketenangan yang sementara. Besok, mereka akan kembali ke Kota Kashgar, namun malam ini, Boqin Changing dan para orang-orang Sekte Awan Putih menikmati sejenak keheningan yang layak setelah menghadapi sesuatu yang di luar bayangan mereka.

Api unggun terus berderak pelan, sesekali memercikkan bara kecil ke udara malam yang lembap. Kabut Hutan Lembah Embun perlahan menipis, namun hawa dingin masih menyelimuti area peristirahatan Sekte Awan Putih. Para murid mulai bergantian berjaga, sementara sebagian lain telah terlelap setelah kelelahan dan ketegangan yang akhirnya mereda.

Tidak jauh dari lingkaran api utama, dua sosok berdiri berdampingan. Tetua Zhe Yu menyilangkan tangan di balik jubahnya, wajahnya tampak lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Di sampingnya, Tetua Hua Ai menghembuskan napas panjang, seolah baru benar-benar menyadari bahwa misi berbahaya itu telah berakhir.

“Bagaimanapun juga,” ujar Tetua Yu memecah keheningan, suaranya rendah namun jelas, “misi memberantas siluman di Hutan Lembah Embun bisa dianggap selesai. Walaupun aku tidak menyangka ada Binatang Suci Serigala di tempat ini. Sekarang, para siluman telah mati, dan tidak ada lagi siluman yang tersisa.”

Tetua Ai mengangguk perlahan.

“Benar. Dengan kematian Binatang Suci Serigala itu, wilayah ini akan kembali aman. Setidaknya, untuk waktu yang sangat lama.” Nada suaranya mengandung kelegaan yang tak ia sembunyikan. “Besok pagi, kita akan kembali ke Kota Kashgar dan langsung menghadap Tuan Kota. Ia harus tahu bahwa ancaman yang ia khawatirkan telah disingkirkan.”

Tetua Yu mengangguk setuju, namun raut wajahnya tidak sepenuhnya lepas dari kerutan tipis di dahinya. Ia terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Tetua Ai.

“Ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku,” katanya pelan. “Kata-kata terakhir Binatang Suci itu… sebelum ia mati.”

Tetua Ai mengangkat alisnya.

“Maksudmu soal artefak itu?”

“Ya,” jawab Tetua Yu. “Ia dengan tegas mengatakan bahwa artefaknya dicuri. Dan lebih dari itu, ia menyebut bahwa pelakunya adalah… anak dari Tuan Kota Kashgar.” Tatapan Tetua Yu menjadi lebih tajam. “Jika itu benar, apakah kita perlu menanyakan hal tersebut saat menghadap Tuan Kota besok?”

Tetua Ai terdiam sejenak. Api unggun memantulkan cahaya jingga di wajahnya yang mulai menua, mempertegas garis-garis pengalaman yang terukir di sana. Ia tampak mempertimbangkan kata-kata Tetua Yu dengan serius, namun akhirnya menggeleng pelan.

“Binatang Suci itu sudah mati,” katanya akhirnya. “Apa pun yang ia katakan, tidak lagi mengikat kita. Tidak ada kewajiban bagi Sekte Awan Putih untuk mencampuri urusan artefak siluman, apalagi jika sumbernya adalah makhluk yang telah terbunuh.”

Tetua Yu tampak hendak menyela, namun Tetua Ai melanjutkan dengan suara yang lebih tegas.

“Lagipula, itu hanya pengakuan sepihak. Tanpa bukti, menyinggung masalah tersebut di hadapan Tuan Kota justru bisa menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu.”

Namun, di akhir kalimatnya, pandangan Tetua Ai perlahan bergeser. Matanya melirik ke arah sosok yang duduk agak terpisah dari yang lain, di tepi cahaya api unggun, Boqin Changing.

Pemuda itu tampak tenang, seolah dunia di sekelilingnya tak mampu mengusik pikirannya. Wajahnya diterangi cahaya api yang berpendar, namun sorot matanya tetap dalam dan sulit ditebak. Sha Nuo duduk tak jauh darinya, namun bahkan kehadiran pendekar kuat itu pun terasa samar dibandingkan aura alami yang mengelilingi Boqin Changing.

Tetua Ai menyipitkan mata, lalu berkata dengan nada yang lebih pelan, hampir seperti gumaman.

“Meski begitu… keputusan soal artefak itu sebenarnya bukan berada di tangan kita.”

Tetua Yu mengikuti arah pandang Tetua Ai dan terdiam saat menyadari maksudnya.

“Orang yang membunuh Binatang Suci itu adalah Boqin Changing,” lanjut Tetua Ai. “Jika memang artefak itu benar-benar ada, dan jika memang anak Tuan Kota yang terlibat… maka hanya dia yang berhak memutuskan apakah masalah ini perlu diungkit atau dibiarkan terkubur bersama kematian para siluman itu.”

Tetua Yu menghela napas panjang.

“Kau benar. Dengan kekuatan dan posisinya sekarang, pendapat Boqin Changing jauh lebih menentukan daripada kita berdua.”

Keduanya kembali terdiam, menatap api unggun yang mulai mengecil. Di kejauhan, Boqin Changing tetap duduk dengan sikap tenang, seolah sama sekali tidak menyadari bahwa namanya sedang menjadi pusat pertimbangan dua tetua Sekte Awan Putih.

Namun, jauh di dalam hatinya, Boqin Changing tahu, kata-kata terakhir Binatang Suci Serigala itu bukanlah kebohongan tanpa makna. Dunia yang telah ia ubah ini kembali memperlihatkan satu cabang takdir baru, dan cepat atau lambat, artefak yang disebutkan siluman itu akan kembali muncul ke permukaan. Entah sebagai masalah… atau sebagai peluang.

******

Fajar menyingsing perlahan di Hutan Lembah Embun. Kabut pagi yang semalam menyelimuti hutan kini bergerak pelan, tersibak oleh cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan tinggi. Udara terasa lembap namun segar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Para murid Sekte Awan Putih telah terbangun sejak pagi. Suasana yang semalam tenang kini kembali hidup. Beberapa murid memadamkan sisa api unggun, sementara sebagian sibuk merapikan senjata dan bekal. Hari ini, mereka akan kembali ke Kota Kashgar setelah misi memberantas siluman dinyatakan berhasil.

Di sebuah batu datar tak jauh dari pusat perkemahan, Boqin Changing duduk dengan sikap santai. Di hadapannya, sebuah mangkuk kayu berisi bubur hangat dan roti kering sederhana. Di sampingnya, Sha Nuo juga tengah menyantap sarapan yang sama, wajahnya tenang seperti biasa.

“Tak kusangka murid-murid sekte ini cukup sigap,” ujar Sha Nuo sambil melirik ke sekeliling. “Dalam satu malam, suasana mereka sudah kembali seperti semula.”

Boqin Changing hanya mengangguk pelan.

“Mereka akan terbiasa dengan misi berbahaya. Kematian Binatang Suci memang mengguncang, tapi juga memberi mereka keyakinan.”

Dua sosok lain mendekat dan ikut duduk tidak jauh dari mereka. Tetua Hua Ai meletakkan mangkuknya dengan hati-hati, sementara Tetua Zhe Yu memandang para murid yang lalu-lalang dengan raut puas.

“Pendekar Chang,” kata Tetua Ai membuka percakapan, suaranya lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya. “Setelah semua murid siap, kita akan langsung berangkat menuju Kota Kashgar.”

Boqin Changing menoleh, sorot matanya tenang namun penuh perhatian.

“Kapan kalian akan menghadap Tuan Kota untuk melaporkan misi ini?”

“Hari ini juga,” jawab Tetua Yu menggantikan. “Setibanya di kota, aku dan Tetua Ai akan langsung melapor. Misi pemberantasan siluman di Hutan Lembah Embun telah selesai. Wilayah itu kini aman.”

Boqin Changing terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Sha Nuo meliriknya sekilas, menangkap perubahan halus di ekspresi sahabatnya itu.

“Kalau begitu,” ujar Boqin Changing akhirnya, nadanya datar namun jelas, “bolehkah aku ikut menghadap Tuan Kota?”

Ucapan itu membuat Tetua Ai dan Tetua Yu sama-sama terdiam. Sendok kayu di tangan Tetua Ai berhenti bergerak, sementara alis Tetua Yu terangkat tipis tanpa ia sadari.

“Ikut… menghadap Tuan Kota?” ulang Tetua Ai perlahan.

“Benar,” jawab Boqin Changing tanpa ragu. “Aku hanya ingin mendengar langsung laporan itu disampaikan. Tidak lebih.”

Sha Nuo tidak berkata apa-apa, namun sikap diamnya justru menambah bobot permintaan tersebut. Dua pendekar kuat duduk berdampingan, tenang, seolah permintaan itu adalah hal paling wajar di dunia.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh. Burung-burung pagi berkicau di kejauhan, namun bagi Tetua Ai dan Tetua Yu, suara itu terasa jauh.

Entah mengapa, firasat buruk tiba-tiba menyelinap ke hati mereka berdua. Tetua Ai menatap Boqin Changing dengan seksama. Wajah pemuda itu terlihat tenang, nyaris tanpa emosi, namun pengalaman puluhan tahun sebagai tetua membuatnya tahu, ketenangan seperti itu sering kali menyembunyikan badai besar.

“Pendekar Chang,” kata Tetua Ai akhirnya, memilih kata-katanya dengan hati-hati, “tentu saja kami tidak keberatan. Kehadiranmu justru akan menjadi kehormatan bagi Sekte Awan Putih.”

Tetua Yu mengangguk setuju, meski di dalam dadanya ada kegelisahan yang sulit ia jelaskan.

“Tuan Kota Kashgar pasti ingin bertemu dengan orang yang membunuh Binatang Suci itu.”

Namun di balik sikap formal mereka, pikiran keduanya berlari ke arah yang sama. Kata-kata terakhir Binatang Suci Serigala itu… Artefak yang dicuri… Anak Tuan Kota…

Tetua Ai mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia merasakan firasat yang semakin berat, seolah langkah Boqin Changing menuju Kota Kashgar bukanlah kebetulan.

“Sepertinya… kedatangan Pendekar Chang memang tidak sesederhana menghadiri laporan misi,” batinnya.

Tetua Yu pun merasakan hal yang sama. Ia menatap punggung Boqin Changing yang kembali menyantap sarapannya dengan santai, lalu menarik napas panjang.

Jika benar artefak itu terkait dengan keluarga Tuan Kota… Maka pertemuan hari ini bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Boqin Changing menyesap buburnya tanpa tergesa-gesa. Wajahnya tetap datar, namun jauh di dalam pikirannya, roda takdir telah mulai berputar kembali.

Artefak yang dicuri. Anak Tuan Kota Kashgar. Lalu sebuah kota yang tampak damai di permukaan.

Ia tahu, perjalanan kembali ke Kota Kashgar bukan sekadar kepulangan setelah misi selesai. Itu adalah langkah menuju cabang takdir baru yang berbeda dengan sejarah masa lalunya.

Kali ini, Boqin Changing berniat memastikan bahwa apa pun kebenarannya… tidak akan dibiarkan tersembunyi terlalu lama.

Terpopuler

Comments

rafli basyari

rafli basyari

Alhamdulillah terimakasih thor, aku pikir bakal nunggu beberapa Minggu untuk lanjutan cerita bokin changing, ternyata baru beberapa hari sudah muncul aja lanjutan ceritanya👍👍👍👍

2025-12-15

4

angin kelana

angin kelana

kelanjutannya gak nunggu lama ternyata,maksih thor dah up lg...semangat berkarya..💪💪💪💪👍👍👍👍

2025-12-15

1

Daniel Simamora

Daniel Simamora

Mudah-mudahan sebagus yang pertama.
Dan jangan terlalu lama updatednya thor.
Good Luck.

2025-12-30

0

lihat semua
Episodes
1 Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru
2 Menemui Tuan Kota Kashgar
3 Anak Tuan Kota Dihadirkan
4 Anak yang Seharusnya Mati
5 Katakan Dimana Mutiara Itu?
6 Mutiara Gerbang Dimensi
7 Kegunaan Mutiara Gerbang Dimensi
8 Meninggalkan Kota Kashgar
9 Sampai di Kota Caocao
10 Kediaman Keluarga Shang
11 Bersiap Untuk Pergi
12 Petualangan Baru Dimulai
13 Kota Longjing yang Berantakan
14 Sarang Musuh
15 Kekuatan Sha Nuo
16 Membasmi Kelompok Kabut Iblis
17 Di Depan Api Unggun
18 Tujuan Selanjutnya
19 Membawa Shang Ni Ikut
20 Memasuki Kota Jiankang
21 Suasana Kota di Malam Hari
22 Jangan Membuat Masalah Dulu
23 Sisi Gelap Kota Jiankang
24 Salah Sasaran
25 Mendapatkan Sedikit Informasi
26 Pencarian Dimulai
27 Kediaman Keluarga Feng
28 Rumah Makan Giok Bulan
29 Saling Mengenal
30 Tingkatan Beladiri
31 Kejadian Empat Tahun Lalu
32 Bersiap Merebut Tahta
33 Keputusan Shang Mu
34 Menemui Keluarga Ma
35 Aku Sudah Ingin Mengamuk
36 Pertemuan Dua Kubu
37 Pertarungan Siap Pecah
38 Sha Nuo yang Tidak Sabaran
39 Tidak Sesuai Rencana
40 Kalah Taruhan
41 Ide Gila Sha Nuo
42 Mengeksekusi Tuan Kota Jiankang
43 Seperti Sahabat Lama
44 Bertemu Kelompok Gerbang Darah
45 Kemampuan Gerbang Darah
46 Shang Mu vs Gerbang Darah
47 Menyerang Orang yang Salah
48 Mengambil Sandera
49 Kabur Bukan Pilihan
50 Lupa Menyisakan Satu
51 Sumpah Sha Nuo
52 Tujuan Selanjutnya
53 Bukit Tanah Merah
54 Mengintai Musuh
55 Mengorek Informasi
56 Melakukan Penyamaran
57 Hampir Ketahuan
58 Hari Dimulainya Ritual Persembahan
59 Menunggu Pemimpin Gerbang Darah Tiba
60 Ritual Berdarah Siap Dimulai
61 Mendukung Kaisar Shang Yao
62 Shang Mu Ketahuan
63 Aura Kematian yang Pekat
64 Musuh Mencoba Kabur
65 Melawan Ilusi
66 Jangan Pernah Menjadi Orang Tuaku
67 Dewa Kematian vs Raja Darah Hitam
68 Dua Pertarungan Selesai
69 Kekalahan Raja Darah Hitam
70 Membangunkan Mereka
71 Menuju Tempat Baru
72 Ada yang Aneh
73 Sekte Cahaya Langit
74 Sampai di Sekte Cahaya Langit
75 Yang Terjadi di Sekte
76 Sekte Telah Dikepung Sejak Lama
77 Meyakinkan Tetua Wei
78 Menyembuhkan Patriak Sekte Cahaya Langit
79 Siapa yang Lebih Kuat
80 Kegelapan Tunduk Padanya
81 Reaksi Musuh
82 Balik Menyerang?
83 Aku Akan Ikut Dalam Peperangan
84 Bala Bantuan Musuh Tiba
85 Perang Siap Dimulai
86 Patriak Dao Ba Melawan Semuanya
87 Keluar Dari Persembunyian
88 Akhirnya Muncul
89 Hantu Pedang, Sha Nuo
90 Kemunculan Boqin Changing
91 Dasar Tukang Pamer
92 Permainan Catur
93 Hantu Pedang vs Penyihir Kutukan Kegelapan
94 Serangan Sihir
95 Dewa Kematian vs Pencabut Nyawa
96 Kemenangan Semu
97 Berhenti Bermain Main
98 Pendekar Bumi Puncak
99 Menolak Tawaran
100 Kematian An Zhu
101 Benturan Dua Kekuatan Besar
102 Kematian Pencabut Nyawa
103 Monster yang Disambut Sebagai Penyelamat
104 Pemberian Patriak Dao Ba
105 Mendapatkan Kitab Kuno
106 Benteng Hidup Mulai Ditempa
107 Pergantian Pengajar
108 Melangkah Keluar dari Masa Lalu
109 Roh Baju Zirah Naga
110 Menuju Utara Kembali
111 Mencari Shang Yuan
112 Pembebas Tanah Shang
113 Menemukan Shang Yuan
114 Adik Ipar?
115 Keluarga Istana yang Menyebalkan
116 Tabib Chang Siap Beraksi
117 Lengan Baru Shang Yuan
118 Padang Rumput Tanpa Jalan Pulang
119 Langkah Pertama Menuju Ibukota
120 Mutiara Gerbang Dimensi Kembali Digunakan
121 Ibukota yang Tak Lagi Sama
122 Paviliun Teratai Naga Kekaisaran Shang
123 Raja Ilusi Hitam
124 Memainkan Psikologi Lawan Bicara
125 Paviliun Teratai Naga Memilih Ikut
126 Menawarkan Kepemilikan Paviliun
127 Rencana Penyerangan Istana
128 Amarah Kaisar Shang
129 Menuju Gerbang Istana
130 Gerbang Istana Runtuh
131 Bertemu Musuh Sesungguhnya
132 Kaisar Naga Merah, Youlong Chidi
133 Hantu Pedang vs Kaisar Naga Merah
134 Pendekar Seribu Cahaya vs Iblis Berwajah Manusia
135 Dewa Kematian vs Para Pendekar Suci
136 Mengendalikan Medan Pertempuran
137 Fokus Musuh Terganggu
138 Tekanan yang Mengguncang Istana
139 Saat Sang Penguasa Bergerak
140 Di Luar Prediksi
141 Aku Mengingatmu
142 Pendekar Gila Gunung Selatan
143 Kematian Iblis Berwajah Manusia
144 Dominasi Hantu Pedang Sha Nuo
145 Pil Kaisar Iblis
146 Pertahanan Hantu Pedang
147 Waktunya Akhirnya Tiba
148 Boqin Changing vs Pendekar Gila Gunung Selatan
149 Rahasia Dibalik Dominasi
150 Tekanan Ini Berbeda
151 Monster Boqin Changing
152 Pertarungan Memasuki Akhir
153 Berita Kemenangan Menyebar
154 Hari Eksekusi Tiba
155 Pelindung Dua Kekaisaran
156 Bagian dari Kitab Firasat Langit
157 Propaganda yang Disebar
158 Tujuan Selanjutnya
159 Rencana Boqin Changing untuk Paviliun
160 Meninggalkan Ibukota
161 Penginapan Awan Sunyi
162 Aura Kematian Sha Nuo
163 Wilayah yang Dilupakan
164 Penginapan akan Ditutup
165 Ingin Membuat Biro Informasi
166 Tujuan Selanjutnya
167 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru
2
Menemui Tuan Kota Kashgar
3
Anak Tuan Kota Dihadirkan
4
Anak yang Seharusnya Mati
5
Katakan Dimana Mutiara Itu?
6
Mutiara Gerbang Dimensi
7
Kegunaan Mutiara Gerbang Dimensi
8
Meninggalkan Kota Kashgar
9
Sampai di Kota Caocao
10
Kediaman Keluarga Shang
11
Bersiap Untuk Pergi
12
Petualangan Baru Dimulai
13
Kota Longjing yang Berantakan
14
Sarang Musuh
15
Kekuatan Sha Nuo
16
Membasmi Kelompok Kabut Iblis
17
Di Depan Api Unggun
18
Tujuan Selanjutnya
19
Membawa Shang Ni Ikut
20
Memasuki Kota Jiankang
21
Suasana Kota di Malam Hari
22
Jangan Membuat Masalah Dulu
23
Sisi Gelap Kota Jiankang
24
Salah Sasaran
25
Mendapatkan Sedikit Informasi
26
Pencarian Dimulai
27
Kediaman Keluarga Feng
28
Rumah Makan Giok Bulan
29
Saling Mengenal
30
Tingkatan Beladiri
31
Kejadian Empat Tahun Lalu
32
Bersiap Merebut Tahta
33
Keputusan Shang Mu
34
Menemui Keluarga Ma
35
Aku Sudah Ingin Mengamuk
36
Pertemuan Dua Kubu
37
Pertarungan Siap Pecah
38
Sha Nuo yang Tidak Sabaran
39
Tidak Sesuai Rencana
40
Kalah Taruhan
41
Ide Gila Sha Nuo
42
Mengeksekusi Tuan Kota Jiankang
43
Seperti Sahabat Lama
44
Bertemu Kelompok Gerbang Darah
45
Kemampuan Gerbang Darah
46
Shang Mu vs Gerbang Darah
47
Menyerang Orang yang Salah
48
Mengambil Sandera
49
Kabur Bukan Pilihan
50
Lupa Menyisakan Satu
51
Sumpah Sha Nuo
52
Tujuan Selanjutnya
53
Bukit Tanah Merah
54
Mengintai Musuh
55
Mengorek Informasi
56
Melakukan Penyamaran
57
Hampir Ketahuan
58
Hari Dimulainya Ritual Persembahan
59
Menunggu Pemimpin Gerbang Darah Tiba
60
Ritual Berdarah Siap Dimulai
61
Mendukung Kaisar Shang Yao
62
Shang Mu Ketahuan
63
Aura Kematian yang Pekat
64
Musuh Mencoba Kabur
65
Melawan Ilusi
66
Jangan Pernah Menjadi Orang Tuaku
67
Dewa Kematian vs Raja Darah Hitam
68
Dua Pertarungan Selesai
69
Kekalahan Raja Darah Hitam
70
Membangunkan Mereka
71
Menuju Tempat Baru
72
Ada yang Aneh
73
Sekte Cahaya Langit
74
Sampai di Sekte Cahaya Langit
75
Yang Terjadi di Sekte
76
Sekte Telah Dikepung Sejak Lama
77
Meyakinkan Tetua Wei
78
Menyembuhkan Patriak Sekte Cahaya Langit
79
Siapa yang Lebih Kuat
80
Kegelapan Tunduk Padanya
81
Reaksi Musuh
82
Balik Menyerang?
83
Aku Akan Ikut Dalam Peperangan
84
Bala Bantuan Musuh Tiba
85
Perang Siap Dimulai
86
Patriak Dao Ba Melawan Semuanya
87
Keluar Dari Persembunyian
88
Akhirnya Muncul
89
Hantu Pedang, Sha Nuo
90
Kemunculan Boqin Changing
91
Dasar Tukang Pamer
92
Permainan Catur
93
Hantu Pedang vs Penyihir Kutukan Kegelapan
94
Serangan Sihir
95
Dewa Kematian vs Pencabut Nyawa
96
Kemenangan Semu
97
Berhenti Bermain Main
98
Pendekar Bumi Puncak
99
Menolak Tawaran
100
Kematian An Zhu
101
Benturan Dua Kekuatan Besar
102
Kematian Pencabut Nyawa
103
Monster yang Disambut Sebagai Penyelamat
104
Pemberian Patriak Dao Ba
105
Mendapatkan Kitab Kuno
106
Benteng Hidup Mulai Ditempa
107
Pergantian Pengajar
108
Melangkah Keluar dari Masa Lalu
109
Roh Baju Zirah Naga
110
Menuju Utara Kembali
111
Mencari Shang Yuan
112
Pembebas Tanah Shang
113
Menemukan Shang Yuan
114
Adik Ipar?
115
Keluarga Istana yang Menyebalkan
116
Tabib Chang Siap Beraksi
117
Lengan Baru Shang Yuan
118
Padang Rumput Tanpa Jalan Pulang
119
Langkah Pertama Menuju Ibukota
120
Mutiara Gerbang Dimensi Kembali Digunakan
121
Ibukota yang Tak Lagi Sama
122
Paviliun Teratai Naga Kekaisaran Shang
123
Raja Ilusi Hitam
124
Memainkan Psikologi Lawan Bicara
125
Paviliun Teratai Naga Memilih Ikut
126
Menawarkan Kepemilikan Paviliun
127
Rencana Penyerangan Istana
128
Amarah Kaisar Shang
129
Menuju Gerbang Istana
130
Gerbang Istana Runtuh
131
Bertemu Musuh Sesungguhnya
132
Kaisar Naga Merah, Youlong Chidi
133
Hantu Pedang vs Kaisar Naga Merah
134
Pendekar Seribu Cahaya vs Iblis Berwajah Manusia
135
Dewa Kematian vs Para Pendekar Suci
136
Mengendalikan Medan Pertempuran
137
Fokus Musuh Terganggu
138
Tekanan yang Mengguncang Istana
139
Saat Sang Penguasa Bergerak
140
Di Luar Prediksi
141
Aku Mengingatmu
142
Pendekar Gila Gunung Selatan
143
Kematian Iblis Berwajah Manusia
144
Dominasi Hantu Pedang Sha Nuo
145
Pil Kaisar Iblis
146
Pertahanan Hantu Pedang
147
Waktunya Akhirnya Tiba
148
Boqin Changing vs Pendekar Gila Gunung Selatan
149
Rahasia Dibalik Dominasi
150
Tekanan Ini Berbeda
151
Monster Boqin Changing
152
Pertarungan Memasuki Akhir
153
Berita Kemenangan Menyebar
154
Hari Eksekusi Tiba
155
Pelindung Dua Kekaisaran
156
Bagian dari Kitab Firasat Langit
157
Propaganda yang Disebar
158
Tujuan Selanjutnya
159
Rencana Boqin Changing untuk Paviliun
160
Meninggalkan Ibukota
161
Penginapan Awan Sunyi
162
Aura Kematian Sha Nuo
163
Wilayah yang Dilupakan
164
Penginapan akan Ditutup
165
Ingin Membuat Biro Informasi
166
Tujuan Selanjutnya
167
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!