Katakan Dimana Mutiara Itu?

Ji Yayi memandang Boqin Changing dengan tatapan sinis, bibirnya mencibir dingin. Pemuda itu tampak seusia dengannya namun ia berani menggertaknya.

"Kau ini pemuda bodoh," katanya, suaranya bergetar oleh emosi. "Tidak tahu apa-apa, hanya bisa menebak-nebak tanpa bukti apa pun."

Boqin Changing tetap tenang, suaranya halus namun penuh keyakinan.

"Batu giok hijau itu memang indah," ujarnya sambil mengangguk ringan, "tapi itu hanyalah sampah. Tidak memiliki nilai sama sekali. Binatang Suci tidak akan repot-repot memerintahkan para siluman untuk menyerang kota hanya demi benda sepele seperti itu."

Ucapan itu membuat Ji Yayi semakin marah. Ia menatap pemuda itu dengan mata menyala, bibirnya bergerak dengan keras, melontarkan cacian.

"Sok tahu! Kau pikir kau siapa sampai berani menilai apa yang penting atau tidak bagi Binatang Suci?"

Boqin Changing tidak tergoyahkan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Ji Yayi dengan tatapan menusuk.

"Kalau begitu," katanya, suaranya tetap tenang, "langsung saja, dimana mutiara itu kau sembunyikan?"

Seketika itu juga, raut muka Ji Yayi berubah pucat. Kepanikan samar tersirat di matanya, meski ia berusaha menutupinya dengan marah dan sikap defensif. Sha Nuo, yang sejak tadi tampak bosan, tiba-tiba menegakkan tubuhnya, matanya berbinar dengan ketertarikan yang baru muncul. Ada sesuatu yang mengagetkannya, seolah Boqin Changing mengetahui sesuatu yang bahkan ia sendiri tak menyangka.

Ji Wei, Tetua Ai, dan Tetua Yu segera menangkap perubahan ekspresi di wajah Ji Yayi. Ada ketegangan yang menebal di udara, di mana anak muda itu tampak berusaha keras menutupi sesuatu, namun kegugupan dan ketakutan mulai terpancar.

"Aku… aku tidak tahu apa-apa!" bentak Ji Yayi, suaranya bergetar dan napasnya semakin cepat. Ia marah karena terus ditekan, rasa takutnya bercampur dengan arogansi. Tanpa pikir panjang, ia menghunuskan pedangnya dan menodongkan ujungnya ke arah Boqin Changing. Ujung pedang itu hanya beberapa centimeter dari leher pemuda itu.

Namun Boqin Changing tetap tenang, matanya menatap lurus ke mata Ji Yayi tanpa sedikit pun ragu. Tidak ada gerakan mundur, tidak ada ketakutan. Seolah dunia di sekitarnya berhenti, hanya menyisakan tatapan dingin dan fokus penuh.

Ji Wei, yang menyaksikan kelakuan putranya, terkejut. Ia segera bangkit, wajahnya tegang, mencoba menenangkan anaknya.

"Yi’er! Turunkan pedangmu! Kau tidak bisa bersikap seperti itu di hadapan tamu kita!"

Tetua Ai dan Tetua Yu terbelalak, menahan napas. Seorang tuan muda keluarga Ji, berani menodongkan pedang kepada Boqin Changing, pendekar terkuat di Kekaisaran Qin. Hal itu tidak hanya mengejutkan mereka, tetapi juga menimbulkan rasa ngeri samar.

Sha Nuo, yang duduk sedikit miring, menelan ludah tipis. Wajahnya memancarkan kombinasi antara aneh dan terkejut. Ia menatap Boqin Changing dan kemudian ke Ji Yayi, menyadari satu hal penting, pemuda itu telah memancing reaksi yang seharusnya tidak terjadi jika Boqin Changing tidak tahu rahasia lebih dalam.

Boqin Changing menghela napas tipis, suaranya tenang, penuh pengendalian, seolah menertawakan situasi itu dalam pikirannya sendiri.

"Sekali lagi, bocah," katanya perlahan, "dimana mutiara itu kau sembunyikan?"

Keheningan seketika menyelimuti aula. Semua mata tertuju pada Ji Yayi, pedangnya masih menodong, tubuhnya tegang, namun wajahnya tak lagi bisa menutupi kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Ia menelan ludah, matanya berkeliling, mencari jalan keluar dari situasi yang mendadak menjadi sangat berbahaya.

Boqin Changing tetap duduk, tanpa bergerak sedikit pun, aura ketenangannya mengalir deras, menekan ruang di sekitarnya. Semua orang merasakan beratnya tekanan itu, seolah satu gerakan salah bisa memicu bencana. Ji Wei menggigit bibirnya, menahan rasa marah sekaligus prihatin pada putranya.

Sha Nuo berbisik pelan dengan setengah senyum di wajahnya.

"Akhirnya, permainan ini menjadi menarik."

Di sisi lain, Ji Yayi mengerutkan alis, napasnya tersengal, pedangnya masih menodong. Ia tahu tindakannya salah. Namun di dalam hatinya, rasa ego dan harga diri masih memaksa dia untuk bertahan, meski setiap detik semakin terasa menakutkan. Lagipula ayahnya adalah Tuan Kota Kashgar. Di kota ini ayahnya adalah penguasanya.

Suasana aula kini tegang, dan hanya satu pertanyaan yang menggantung di udara. Apakah Ji Yayi akan mampu menurunkan pedangnya atau apakah ketegangan ini akan meledak menjadi konflik yang tak terelakkan?

Tetua Ai menatap Boqin Changing dengan mata yang menahan gejolak perasaan. Ia ingin sekali membuka identitas pemuda itu di depan Ji Wei dan Ji Yayi. Menunjukkan bahwa pemuda itu yang membantu mereka untuk misi memberantas siluman kepada Tuan Kota.

Bagaimanapun juga, kota ini tidak akan mampu menahan kemarahan Boqin Changing jika ia menginginkannya. Napas Tetua Ai tercekat, tangannya terangkat hendak bersuara…

Namun sebelum kata-kata itu bisa keluar, Ji Yayi sudah menggerakkan pedangnya dengan kecepatan penuh, menodongkan ujungnya ke leher Boqin Changing. Sorot matanya membara, seakan membunuh adalah sesuatu yang wajar di kediamannya sendiri. Dengan ayahnya sebagai penguasa kota, ia merasa aman, bahkan tak menyadari siapa sebenarnya pemuda yang ia ancam.

Wajah Boqin Changing tetap tenang, matanya menembus jiwa Ji Yayi. Saat ujung pedang itu menyentuh lehernya… ledakan energi membekukan waktu seketika. Bilah pedang itu retak, kemudian hancur berkeping-keping, serpihannya beterbangan di udara, memercik cahaya yang menusuk mata semua orang di aula. Suasana mencekam, seolah alam ikut menahan napas. Semua yang hadir merasakan gelombang tekanan yang menakutkan itu.

Sha Nuo, yang semula duduk santai, berdiri seketika, matanya menyala penuh kemarahan. Ia ingin menghajar pemuda itu, namun sebelum tangannya sempat bergerak, Tetua Yu melompat ke depan dan menendang Ji Yayi terlebih dahulu. Anak muda itu terpelanting ke lantai, tubuhnya berguling, wajahnya memucat oleh rasa malu dan ketakutan.

“Bocah bodoh!” teriak Tetua Yu, suaranya menggema menembus aula. “Berani-beraninya kau mengancam tamu yang kekuatannya… bisa menumbangkan seluruh keluargamu!”

Ji Yayi tersungkur, napasnya tersengal, mata menatap Boqin Changing dengan campuran amarah dan ketakutan. Pedangnya hancur di tangan, tubuhnya seolah tak mampu bergerak. Setiap aura yang memancar dari Boqin Changing menekan hingga rasa takut membungkus hatinya. Satu gerakan salah, dan nyawanya mungkin akan melayang.

Boqin Changing mengangkat kepalanya perlahan. Suaranya pelan, tapi setiap kata seperti dibalut besi dingin yang menampar kesadaran Ji Yayi.

“Kau terlalu percaya diri,” ucapnya. “Di sini… di kediamanmu sendiri, kau pikir pedangmu bisa menentukan segalanya? Hanya karena kau putra tuan kota, kau merasa dunia ini aman bagimu? Salah. Terlalu salah.”

Sha Nuo menelan ludahnya. Ia sadar nasib pemuda ini sekarang hanya akan sia-sia, bahkan mungkin akan berakhir tragis di tangan Boqin Changing. Tetua Ai dan Tetua Yu saling menatap, napas mereka tercekat. Mereka tahu, siapa pun yang mencoba melawan Boqin Changing sekarang, akan menanggung akibat yang mengerikan.

Ji Wei maju, wajahnya tegang. Ia menggigit bibir, menahan amarah sekaligus rasa takut. Putranya, Ji Yayi, terlalu gegabah, dan sekarang hampir menimbulkan bencana. Tapi bahkan ia pun tak berani melangkah lebih jauh.

Boqin Changing sedikit mencondongkan tubuh, matanya tak pernah lepas dari Ji Yayi. Suaranya menembus keheningan, tajam dan menusuk.

“Jawab. Di mana mutiara itu kau sembunyikan?”

Ji Yayi menatap pemuda itu. Seluruh kesombongan dan rasa aman yang dulu ia banggakan kini terkoyak. Suasana aula terasa berat, setiap detik seakan melambat, napasnya tercekat. Ia sadar satu hal yang menakutkan. Pemuda ini bukanlah orang  yang bisa ia ancam.

Keheningan mencekam menyelimuti aula. Dentuman bilah pedang yang hancur masih bergema di telinga, menjadi pengingat pahit bahwa pemuda yang datang bersama Tetua Sekte Awan Putih bukan sekadar pemuda biasa. Ia adalah badai yang siap menelan siapa pun yang menantangnya.

Di tengah semua itu, Ji Yayi hanya bisa menunduk, wajah memucat, napas tersengal, menelan pahitnya kesombongan yang hancur seketika. 

Terpopuler

Comments

syarif ibrahim

syarif ibrahim

lagi seru2nya... eh... habis tulisannya.... bersambung...

2025-12-15

3

Arie Chaniago70

Arie Chaniago70

🙂🙂🙂🙂👍👍 kamu berikan artefak tersebut sebelu dapat penyiksaan dari boqin 🍎🍎🍎🍎

2025-12-20

0

Nanik S

Nanik S

Jawab saja Ji Yayi... jika Chang'er marah, kamu bisa jadi debu

2025-12-19

0

lihat semua
Episodes
1 Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru
2 Menemui Tuan Kota Kashgar
3 Anak Tuan Kota Dihadirkan
4 Anak yang Seharusnya Mati
5 Katakan Dimana Mutiara Itu?
6 Mutiara Gerbang Dimensi
7 Kegunaan Mutiara Gerbang Dimensi
8 Meninggalkan Kota Kashgar
9 Sampai di Kota Caocao
10 Kediaman Keluarga Shang
11 Bersiap Untuk Pergi
12 Petualangan Baru Dimulai
13 Kota Longjing yang Berantakan
14 Sarang Musuh
15 Kekuatan Sha Nuo
16 Membasmi Kelompok Kabut Iblis
17 Di Depan Api Unggun
18 Tujuan Selanjutnya
19 Membawa Shang Ni Ikut
20 Memasuki Kota Jiankang
21 Suasana Kota di Malam Hari
22 Jangan Membuat Masalah Dulu
23 Sisi Gelap Kota Jiankang
24 Salah Sasaran
25 Mendapatkan Sedikit Informasi
26 Pencarian Dimulai
27 Kediaman Keluarga Feng
28 Rumah Makan Giok Bulan
29 Saling Mengenal
30 Tingkatan Beladiri
31 Kejadian Empat Tahun Lalu
32 Bersiap Merebut Tahta
33 Keputusan Shang Mu
34 Menemui Keluarga Ma
35 Aku Sudah Ingin Mengamuk
36 Pertemuan Dua Kubu
37 Pertarungan Siap Pecah
38 Sha Nuo yang Tidak Sabaran
39 Tidak Sesuai Rencana
40 Kalah Taruhan
41 Ide Gila Sha Nuo
42 Mengeksekusi Tuan Kota Jiankang
43 Seperti Sahabat Lama
44 Bertemu Kelompok Gerbang Darah
45 Kemampuan Gerbang Darah
46 Shang Mu vs Gerbang Darah
47 Menyerang Orang yang Salah
48 Mengambil Sandera
49 Kabur Bukan Pilihan
50 Lupa Menyisakan Satu
51 Sumpah Sha Nuo
52 Tujuan Selanjutnya
53 Bukit Tanah Merah
54 Mengintai Musuh
55 Mengorek Informasi
56 Melakukan Penyamaran
57 Hampir Ketahuan
58 Hari Dimulainya Ritual Persembahan
59 Menunggu Pemimpin Gerbang Darah Tiba
60 Ritual Berdarah Siap Dimulai
61 Mendukung Kaisar Shang Yao
62 Shang Mu Ketahuan
63 Aura Kematian yang Pekat
64 Musuh Mencoba Kabur
65 Melawan Ilusi
66 Jangan Pernah Menjadi Orang Tuaku
67 Dewa Kematian vs Raja Darah Hitam
68 Dua Pertarungan Selesai
69 Kekalahan Raja Darah Hitam
70 Membangunkan Mereka
71 Menuju Tempat Baru
72 Ada yang Aneh
73 Sekte Cahaya Langit
74 Sampai di Sekte Cahaya Langit
75 Yang Terjadi di Sekte
76 Sekte Telah Dikepung Sejak Lama
77 Meyakinkan Tetua Wei
78 Menyembuhkan Patriak Sekte Cahaya Langit
79 Siapa yang Lebih Kuat
80 Kegelapan Tunduk Padanya
81 Reaksi Musuh
82 Balik Menyerang?
83 Aku Akan Ikut Dalam Peperangan
84 Bala Bantuan Musuh Tiba
85 Perang Siap Dimulai
86 Patriak Dao Ba Melawan Semuanya
87 Keluar Dari Persembunyian
88 Akhirnya Muncul
89 Hantu Pedang, Sha Nuo
90 Kemunculan Boqin Changing
91 Dasar Tukang Pamer
92 Permainan Catur
93 Hantu Pedang vs Penyihir Kutukan Kegelapan
94 Serangan Sihir
95 Dewa Kematian vs Pencabut Nyawa
96 Kemenangan Semu
97 Berhenti Bermain Main
98 Pendekar Bumi Puncak
99 Menolak Tawaran
100 Kematian An Zhu
101 Benturan Dua Kekuatan Besar
102 Kematian Pencabut Nyawa
103 Monster yang Disambut Sebagai Penyelamat
104 Pemberian Patriak Dao Ba
105 Mendapatkan Kitab Kuno
106 Benteng Hidup Mulai Ditempa
107 Pergantian Pengajar
108 Melangkah Keluar dari Masa Lalu
109 Roh Baju Zirah Naga
110 Menuju Utara Kembali
111 Mencari Shang Yuan
112 Pembebas Tanah Shang
113 Menemukan Shang Yuan
114 Adik Ipar?
115 Keluarga Istana yang Menyebalkan
116 Tabib Chang Siap Beraksi
117 Lengan Baru Shang Yuan
118 Padang Rumput Tanpa Jalan Pulang
119 Langkah Pertama Menuju Ibukota
120 Mutiara Gerbang Dimensi Kembali Digunakan
121 Ibukota yang Tak Lagi Sama
122 Paviliun Teratai Naga Kekaisaran Shang
123 Raja Ilusi Hitam
124 Memainkan Psikologi Lawan Bicara
125 Paviliun Teratai Naga Memilih Ikut
126 Menawarkan Kepemilikan Paviliun
127 Rencana Penyerangan Istana
128 Amarah Kaisar Shang
129 Menuju Gerbang Istana
130 Gerbang Istana Runtuh
131 Bertemu Musuh Sesungguhnya
132 Kaisar Naga Merah, Youlong Chidi
133 Hantu Pedang vs Kaisar Naga Merah
134 Pendekar Seribu Cahaya vs Iblis Berwajah Manusia
135 Dewa Kematian vs Para Pendekar Suci
136 Mengendalikan Medan Pertempuran
137 Fokus Musuh Terganggu
138 Tekanan yang Mengguncang Istana
139 Saat Sang Penguasa Bergerak
140 Di Luar Prediksi
141 Aku Mengingatmu
142 Pendekar Gila Gunung Selatan
143 Kematian Iblis Berwajah Manusia
144 Dominasi Hantu Pedang Sha Nuo
145 Pil Kaisar Iblis
146 Pertahanan Hantu Pedang
147 Waktunya Akhirnya Tiba
148 Boqin Changing vs Pendekar Gila Gunung Selatan
149 Rahasia Dibalik Dominasi
150 Tekanan Ini Berbeda
151 Monster Boqin Changing
152 Pertarungan Memasuki Akhir
153 Berita Kemenangan Menyebar
154 Hari Eksekusi Tiba
155 Pelindung Dua Kekaisaran
156 Bagian dari Kitab Firasat Langit
157 Propaganda yang Disebar
158 Tujuan Selanjutnya
159 Rencana Boqin Changing untuk Paviliun
160 Meninggalkan Ibukota
161 Penginapan Awan Sunyi
162 Aura Kematian Sha Nuo
163 Wilayah yang Dilupakan
164 Penginapan akan Ditutup
165 Ingin Membuat Biro Informasi
166 Tujuan Selanjutnya
167 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Masa Lalu yang Membentuk Alur Baru
2
Menemui Tuan Kota Kashgar
3
Anak Tuan Kota Dihadirkan
4
Anak yang Seharusnya Mati
5
Katakan Dimana Mutiara Itu?
6
Mutiara Gerbang Dimensi
7
Kegunaan Mutiara Gerbang Dimensi
8
Meninggalkan Kota Kashgar
9
Sampai di Kota Caocao
10
Kediaman Keluarga Shang
11
Bersiap Untuk Pergi
12
Petualangan Baru Dimulai
13
Kota Longjing yang Berantakan
14
Sarang Musuh
15
Kekuatan Sha Nuo
16
Membasmi Kelompok Kabut Iblis
17
Di Depan Api Unggun
18
Tujuan Selanjutnya
19
Membawa Shang Ni Ikut
20
Memasuki Kota Jiankang
21
Suasana Kota di Malam Hari
22
Jangan Membuat Masalah Dulu
23
Sisi Gelap Kota Jiankang
24
Salah Sasaran
25
Mendapatkan Sedikit Informasi
26
Pencarian Dimulai
27
Kediaman Keluarga Feng
28
Rumah Makan Giok Bulan
29
Saling Mengenal
30
Tingkatan Beladiri
31
Kejadian Empat Tahun Lalu
32
Bersiap Merebut Tahta
33
Keputusan Shang Mu
34
Menemui Keluarga Ma
35
Aku Sudah Ingin Mengamuk
36
Pertemuan Dua Kubu
37
Pertarungan Siap Pecah
38
Sha Nuo yang Tidak Sabaran
39
Tidak Sesuai Rencana
40
Kalah Taruhan
41
Ide Gila Sha Nuo
42
Mengeksekusi Tuan Kota Jiankang
43
Seperti Sahabat Lama
44
Bertemu Kelompok Gerbang Darah
45
Kemampuan Gerbang Darah
46
Shang Mu vs Gerbang Darah
47
Menyerang Orang yang Salah
48
Mengambil Sandera
49
Kabur Bukan Pilihan
50
Lupa Menyisakan Satu
51
Sumpah Sha Nuo
52
Tujuan Selanjutnya
53
Bukit Tanah Merah
54
Mengintai Musuh
55
Mengorek Informasi
56
Melakukan Penyamaran
57
Hampir Ketahuan
58
Hari Dimulainya Ritual Persembahan
59
Menunggu Pemimpin Gerbang Darah Tiba
60
Ritual Berdarah Siap Dimulai
61
Mendukung Kaisar Shang Yao
62
Shang Mu Ketahuan
63
Aura Kematian yang Pekat
64
Musuh Mencoba Kabur
65
Melawan Ilusi
66
Jangan Pernah Menjadi Orang Tuaku
67
Dewa Kematian vs Raja Darah Hitam
68
Dua Pertarungan Selesai
69
Kekalahan Raja Darah Hitam
70
Membangunkan Mereka
71
Menuju Tempat Baru
72
Ada yang Aneh
73
Sekte Cahaya Langit
74
Sampai di Sekte Cahaya Langit
75
Yang Terjadi di Sekte
76
Sekte Telah Dikepung Sejak Lama
77
Meyakinkan Tetua Wei
78
Menyembuhkan Patriak Sekte Cahaya Langit
79
Siapa yang Lebih Kuat
80
Kegelapan Tunduk Padanya
81
Reaksi Musuh
82
Balik Menyerang?
83
Aku Akan Ikut Dalam Peperangan
84
Bala Bantuan Musuh Tiba
85
Perang Siap Dimulai
86
Patriak Dao Ba Melawan Semuanya
87
Keluar Dari Persembunyian
88
Akhirnya Muncul
89
Hantu Pedang, Sha Nuo
90
Kemunculan Boqin Changing
91
Dasar Tukang Pamer
92
Permainan Catur
93
Hantu Pedang vs Penyihir Kutukan Kegelapan
94
Serangan Sihir
95
Dewa Kematian vs Pencabut Nyawa
96
Kemenangan Semu
97
Berhenti Bermain Main
98
Pendekar Bumi Puncak
99
Menolak Tawaran
100
Kematian An Zhu
101
Benturan Dua Kekuatan Besar
102
Kematian Pencabut Nyawa
103
Monster yang Disambut Sebagai Penyelamat
104
Pemberian Patriak Dao Ba
105
Mendapatkan Kitab Kuno
106
Benteng Hidup Mulai Ditempa
107
Pergantian Pengajar
108
Melangkah Keluar dari Masa Lalu
109
Roh Baju Zirah Naga
110
Menuju Utara Kembali
111
Mencari Shang Yuan
112
Pembebas Tanah Shang
113
Menemukan Shang Yuan
114
Adik Ipar?
115
Keluarga Istana yang Menyebalkan
116
Tabib Chang Siap Beraksi
117
Lengan Baru Shang Yuan
118
Padang Rumput Tanpa Jalan Pulang
119
Langkah Pertama Menuju Ibukota
120
Mutiara Gerbang Dimensi Kembali Digunakan
121
Ibukota yang Tak Lagi Sama
122
Paviliun Teratai Naga Kekaisaran Shang
123
Raja Ilusi Hitam
124
Memainkan Psikologi Lawan Bicara
125
Paviliun Teratai Naga Memilih Ikut
126
Menawarkan Kepemilikan Paviliun
127
Rencana Penyerangan Istana
128
Amarah Kaisar Shang
129
Menuju Gerbang Istana
130
Gerbang Istana Runtuh
131
Bertemu Musuh Sesungguhnya
132
Kaisar Naga Merah, Youlong Chidi
133
Hantu Pedang vs Kaisar Naga Merah
134
Pendekar Seribu Cahaya vs Iblis Berwajah Manusia
135
Dewa Kematian vs Para Pendekar Suci
136
Mengendalikan Medan Pertempuran
137
Fokus Musuh Terganggu
138
Tekanan yang Mengguncang Istana
139
Saat Sang Penguasa Bergerak
140
Di Luar Prediksi
141
Aku Mengingatmu
142
Pendekar Gila Gunung Selatan
143
Kematian Iblis Berwajah Manusia
144
Dominasi Hantu Pedang Sha Nuo
145
Pil Kaisar Iblis
146
Pertahanan Hantu Pedang
147
Waktunya Akhirnya Tiba
148
Boqin Changing vs Pendekar Gila Gunung Selatan
149
Rahasia Dibalik Dominasi
150
Tekanan Ini Berbeda
151
Monster Boqin Changing
152
Pertarungan Memasuki Akhir
153
Berita Kemenangan Menyebar
154
Hari Eksekusi Tiba
155
Pelindung Dua Kekaisaran
156
Bagian dari Kitab Firasat Langit
157
Propaganda yang Disebar
158
Tujuan Selanjutnya
159
Rencana Boqin Changing untuk Paviliun
160
Meninggalkan Ibukota
161
Penginapan Awan Sunyi
162
Aura Kematian Sha Nuo
163
Wilayah yang Dilupakan
164
Penginapan akan Ditutup
165
Ingin Membuat Biro Informasi
166
Tujuan Selanjutnya
167
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!