BAB 3

Selama di perjalanan Pulang, Alesya hanya diam . Dia hanya fokus mengemudi .

" Al , lo nggak papa ?" tanya Jeni yang saat itu nebeng mobil Alesya . Mobil Jeni sedang berada di bengkel .

Alesya hanya diam dan bermain dengan pikirannya .

" Alesya Bavelary " teriak Jeni .

" Apa sih jeni blackpink teriak teriak " kesal Alesya .

" Lo yang apa ? Dari tadi gue panggil diam " ucap Jeni .

" Oh sorry " ucap Alesya nyengir kuda.

" Lo nggak papa ?" tanya Jeni lagi .

" Enggak jeni sayang . Gye nggak papa oke . Tenang aja " ucap Alesya meyakinkan sahabatnya itu .

" Kalau ada apa-apa lo bilang ya sama gue atau Karin . Kita selalu ada buat lo " ucap Jeni .

" Iya iya . Makasih ya " ucap Alesya .

" Dah turun " ucap Alesya .

" Lo ngusir gue ?" tanya Jeni tak terima .

" Hlah lo mau ikut ke rumah gue ?" tanya Alesya .

" Enggak " ucap Jeni .

" Ya udah . Ini di depan rumah lo . Dan lo udah sampai mau apa lagi ?" tanya Alesya .

" Oke gue yang salah . Tanks yaa Al . Mau mampir nggak ?" tanya Jeni .

" Enggak gue langsung balik aja ya " Alesya lalu mengendarai mobilnya .

" Hati-hati" teriak jeni padahal Alesya tidak akan dengar juga .

Alesya mengemudi dengan pelan . Sebenarnya kalau di minta untuk memilih , dia akan memilih untuk tidak pulang . Tapi karena Mami Cintya memintanya pulang cepat .

Alesya melihat orang yang di kenal sedang berada di sebuah cafe . Tapi Alesya tak ingin ikut campur dengan orang itu .

" Tahulah . Gue nggak peduli " ucap Alesya .

Mobil Alesya sudah terparkir di depan rumahnya .

" Lo bisa Al " ucap Alesya .

Alesya turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah . Namun Mami Cintya tidak ada di rumah . Sepi seperti biasa . Alesya kembali melangkahkan kakinya . Hingga deru suara mobil terdengar oleh Alesya . Yang di pastikan itu kedua orang tua Alesya .

Alesya tetap menuju ke kamarnya . Alesya segera menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri . Alesya memilih untuk berendam . Meredakan lelah yang dia rasakan hari ini . Bukan hukuman yang di berikan anggota penjajah itu . Namun lelah harus menghadapi kedua orangtuanya . Terlebih sang Mami .

Alesya memejamkan matanya perlahan . Merasakan wangi aroma vanila yang membuat tubuh Alesya menjadi rileks . Namun sebuah ketukan pintu membuyarkan semua harapan Alesya untuk beristirahat sejenak .

" Sya , Alesya " teriak Mami Cintya dari balik pintu .

" Buka pintunya . Mami tahu kamu ada di dalam " teriak Mami Cintya lagi .

" Ita mi . Sebentar " jawab Alesya segera meraih handuk .

ceklek

" Ada apa mi ?" tanya Alesya .

" Di sekolah kamu bikin ulah ya sama anak pak Herman ?" tanya Mami Cintya to the point .

" Dia yang mulai duluan mi . Bukan Alesya " jelas Alesya .

" Tapi Mami dapat laporan kalau kamu yang bikin ulah . Kamu itu harusnya lebih jaga sikap Alesya . Bagaimana jika kamu di keluarkan dari sekolah ? Bikin malu keluarga saja . Seharusnya kejadian yang menimpa kakak kamu . Kamu harus lebih jaga sikap Alesya " ucap Mami Cintya lalu meninggalkan kamar Alesya yang masih mematung .

Alesya terduduk lemas rasanya apapun yang di lakukan Alesya semua salah . Di mata Mami Cintya, Alesya tak pernah ada dan tak pernah benar . Meskipun Alesya selalu mendapatkan juara dan berbagai penghargaan . Semua itu tak terlihat oleh Mami Cintya . Seolah-olah semua yang di lakukan oleh Alesya tidak ada artinya .

Air mata Alesya terjatuh . Bibi yang merawat Alesya sedari kecil masuk dan membantu Alesya . Seakan tahu akan kejadian tadi .

" Al nggak papa bi " ucap Alesya lalu menghapus air matanya .

" Kalau non mau nangis nggak papa . Jangan di tahan . Ada bibi di sini " ucap bibi dengan penuh kasih sayang .

Alesya lalu memakai baju dan memilih untuk tidur . Mungkin hanya dengan ini Alesya tidak akan merasa sakit .

Bibi lalu menghubungi Kirana dan juga Jeni . Bibi memang di minta oleh kedua sahabat Alesya . Jika Alesya ada masalah . Bibi di minta menghubungi keduanya .

Kirana dan Jeni segera menuju rumah Alesya . Dan keduanya memang sudah bersiap . Seakan tahu hal yang akan terjadi . Kirana kini berada di rumah Jeni .

" Semua sudah siap . Kita berangkat " ucap Kirana .

" Lets go " ucap Jeni yang memang sudah tidak sabaran .

" Nyokap lo tuh baru pulang " ucap Kirana yang memang berpapasan dengan mobil maminya Jeni .

" Telpon aja . Tadi juga sudah telpon papi " ucap Jeni .

Kirana hanya mengangguk .

Sesampainya di rumah Alesya . Kirana langsung memasukkan mobilnya .Ya mereka akan menginap seperti biasa .

" Hai Kirana dan Jeni blackpink " sapa Papi Dion yang memang sudah akrab dengan sahabat sang putri.

" Hallo papi " teriak keduanya .

Lalu Jeni berjoget ala ala blackpink du du du .

" Gayaan lo " ucap Kirana.

" Oleh-olehnya sudah di siapkan " ucap Papi Dion .

" Dengan senang hati kami menerima " ucap Jeni .

" Alesya ada om ?" tanya Kirana .

" Iya dia di kamar . Mungkin masih tidur . Tadi Papi ke kamar dia masih kayak kebo " ucap Papi Dion .

" Y sudah pi kita ke kamar ya " ucap Jeni .

Mereka memang sudah sangat akrab . Sehingga sudah seperti keluarga .

Kirana dan Jeni lalu menaiki tangga . Keduanya lalu membuka pintu kamar Alesya . Dan benar saja Alesya sedang meringkuk di balik selimut tebalnya .

" Al lo tidur ?" ucap Jeni .

" Lah bocah . Udah jelas dia merem ya tidur " ucap Kirana di buat kesal dengan ucapan Jeni .

" Kita tunggu dia bangun . Jangan di ganggu . Dia capek habis lari tadi " ucap Kirana .

" Iya " ucap Jeni lalu menyalakan ponselnya .

" Laku lo ?" tanya Kirana .

" Ki, lo ngeledek gue . Ya jelas belumlah . Kata Mami belum boleh pacaran . Ingat jangan bandel . Tapi kalau cuma chat okelah . Pilih aja dulu . Siapa tahu ada yang nyantol " ucap Jeni .

" Geblek . Itu sama aja kali " ucap Kirana .

Cukup lama Alesya tertidur dan Kedua sahabat itu juga ikut tidur di samping Alesya . Hingga tak terasa matahari sudah berganti bulan .

" Ki , bangun . Sudah malam " ucap Jeni .

" Hemm " Kirana menggeliat masih memejamkan matanya ingin kembali tidur .

" Ayo bangun . Jangan tidur lagi " Jeni menggoyangkan tubuh Kirana .

" Iya Je bentar kenapa sih " kesal Kirana karena Jeni terlalu bawel melebihi Maminya .

Lalu Jeni menghidupkan lampu kamar . Dan berusaha membangunkan Alesya juga .

" Al bangun . Tunggu " Jeni menempelkan punggung tangannya ke kening Alesya . Dan Alesya ternyata demam. Tubuh Alesya panas .

" Al bangun lo demam . Ki ya ampun , Alesya demam Ki "ucap Jeni lalu bergantian membangunkan Kirana .

" Coba gue cek " ucap Kirana yang masih belum terkumpul nyawanya .

" Iya Je . Kita kompres dulu . Lo ambil obat di laci " ucap Kirana .

" Ok" jawab Jeni .

Mereka tidak bilang ke orang tua Alesya . Karena Alesya akan marah . Hadi mereka akan merawat Alesya terlebih dahulu . Biasanya Demam Alesya akan segera turun .

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!