Selama di perjalanan Pulang, Alesya hanya diam . Dia hanya fokus mengemudi .
" Al , lo nggak papa ?" tanya Jeni yang saat itu nebeng mobil Alesya . Mobil Jeni sedang berada di bengkel .
Alesya hanya diam dan bermain dengan pikirannya .
" Alesya Bavelary " teriak Jeni .
" Apa sih jeni blackpink teriak teriak " kesal Alesya .
" Lo yang apa ? Dari tadi gue panggil diam " ucap Jeni .
" Oh sorry " ucap Alesya nyengir kuda.
" Lo nggak papa ?" tanya Jeni lagi .
" Enggak jeni sayang . Gye nggak papa oke . Tenang aja " ucap Alesya meyakinkan sahabatnya itu .
" Kalau ada apa-apa lo bilang ya sama gue atau Karin . Kita selalu ada buat lo " ucap Jeni .
" Iya iya . Makasih ya " ucap Alesya .
" Dah turun " ucap Alesya .
" Lo ngusir gue ?" tanya Jeni tak terima .
" Hlah lo mau ikut ke rumah gue ?" tanya Alesya .
" Enggak " ucap Jeni .
" Ya udah . Ini di depan rumah lo . Dan lo udah sampai mau apa lagi ?" tanya Alesya .
" Oke gue yang salah . Tanks yaa Al . Mau mampir nggak ?" tanya Jeni .
" Enggak gue langsung balik aja ya " Alesya lalu mengendarai mobilnya .
" Hati-hati" teriak jeni padahal Alesya tidak akan dengar juga .
Alesya mengemudi dengan pelan . Sebenarnya kalau di minta untuk memilih , dia akan memilih untuk tidak pulang . Tapi karena Mami Cintya memintanya pulang cepat .
Alesya melihat orang yang di kenal sedang berada di sebuah cafe . Tapi Alesya tak ingin ikut campur dengan orang itu .
" Tahulah . Gue nggak peduli " ucap Alesya .
Mobil Alesya sudah terparkir di depan rumahnya .
" Lo bisa Al " ucap Alesya .
Alesya turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah . Namun Mami Cintya tidak ada di rumah . Sepi seperti biasa . Alesya kembali melangkahkan kakinya . Hingga deru suara mobil terdengar oleh Alesya . Yang di pastikan itu kedua orang tua Alesya .
Alesya tetap menuju ke kamarnya . Alesya segera menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri . Alesya memilih untuk berendam . Meredakan lelah yang dia rasakan hari ini . Bukan hukuman yang di berikan anggota penjajah itu . Namun lelah harus menghadapi kedua orangtuanya . Terlebih sang Mami .
Alesya memejamkan matanya perlahan . Merasakan wangi aroma vanila yang membuat tubuh Alesya menjadi rileks . Namun sebuah ketukan pintu membuyarkan semua harapan Alesya untuk beristirahat sejenak .
" Sya , Alesya " teriak Mami Cintya dari balik pintu .
" Buka pintunya . Mami tahu kamu ada di dalam " teriak Mami Cintya lagi .
" Ita mi . Sebentar " jawab Alesya segera meraih handuk .
ceklek
" Ada apa mi ?" tanya Alesya .
" Di sekolah kamu bikin ulah ya sama anak pak Herman ?" tanya Mami Cintya to the point .
" Dia yang mulai duluan mi . Bukan Alesya " jelas Alesya .
" Tapi Mami dapat laporan kalau kamu yang bikin ulah . Kamu itu harusnya lebih jaga sikap Alesya . Bagaimana jika kamu di keluarkan dari sekolah ? Bikin malu keluarga saja . Seharusnya kejadian yang menimpa kakak kamu . Kamu harus lebih jaga sikap Alesya " ucap Mami Cintya lalu meninggalkan kamar Alesya yang masih mematung .
Alesya terduduk lemas rasanya apapun yang di lakukan Alesya semua salah . Di mata Mami Cintya, Alesya tak pernah ada dan tak pernah benar . Meskipun Alesya selalu mendapatkan juara dan berbagai penghargaan . Semua itu tak terlihat oleh Mami Cintya . Seolah-olah semua yang di lakukan oleh Alesya tidak ada artinya .
Air mata Alesya terjatuh . Bibi yang merawat Alesya sedari kecil masuk dan membantu Alesya . Seakan tahu akan kejadian tadi .
" Al nggak papa bi " ucap Alesya lalu menghapus air matanya .
" Kalau non mau nangis nggak papa . Jangan di tahan . Ada bibi di sini " ucap bibi dengan penuh kasih sayang .
Alesya lalu memakai baju dan memilih untuk tidur . Mungkin hanya dengan ini Alesya tidak akan merasa sakit .
Bibi lalu menghubungi Kirana dan juga Jeni . Bibi memang di minta oleh kedua sahabat Alesya . Jika Alesya ada masalah . Bibi di minta menghubungi keduanya .
Kirana dan Jeni segera menuju rumah Alesya . Dan keduanya memang sudah bersiap . Seakan tahu hal yang akan terjadi . Kirana kini berada di rumah Jeni .
" Semua sudah siap . Kita berangkat " ucap Kirana .
" Lets go " ucap Jeni yang memang sudah tidak sabaran .
" Nyokap lo tuh baru pulang " ucap Kirana yang memang berpapasan dengan mobil maminya Jeni .
" Telpon aja . Tadi juga sudah telpon papi " ucap Jeni .
Kirana hanya mengangguk .
Sesampainya di rumah Alesya . Kirana langsung memasukkan mobilnya .Ya mereka akan menginap seperti biasa .
" Hai Kirana dan Jeni blackpink " sapa Papi Dion yang memang sudah akrab dengan sahabat sang putri.
" Hallo papi " teriak keduanya .
Lalu Jeni berjoget ala ala blackpink du du du .
" Gayaan lo " ucap Kirana.
" Oleh-olehnya sudah di siapkan " ucap Papi Dion .
" Dengan senang hati kami menerima " ucap Jeni .
" Alesya ada om ?" tanya Kirana .
" Iya dia di kamar . Mungkin masih tidur . Tadi Papi ke kamar dia masih kayak kebo " ucap Papi Dion .
" Y sudah pi kita ke kamar ya " ucap Jeni .
Mereka memang sudah sangat akrab . Sehingga sudah seperti keluarga .
Kirana dan Jeni lalu menaiki tangga . Keduanya lalu membuka pintu kamar Alesya . Dan benar saja Alesya sedang meringkuk di balik selimut tebalnya .
" Al lo tidur ?" ucap Jeni .
" Lah bocah . Udah jelas dia merem ya tidur " ucap Kirana di buat kesal dengan ucapan Jeni .
" Kita tunggu dia bangun . Jangan di ganggu . Dia capek habis lari tadi " ucap Kirana .
" Iya " ucap Jeni lalu menyalakan ponselnya .
" Laku lo ?" tanya Kirana .
" Ki, lo ngeledek gue . Ya jelas belumlah . Kata Mami belum boleh pacaran . Ingat jangan bandel . Tapi kalau cuma chat okelah . Pilih aja dulu . Siapa tahu ada yang nyantol " ucap Jeni .
" Geblek . Itu sama aja kali " ucap Kirana .
Cukup lama Alesya tertidur dan Kedua sahabat itu juga ikut tidur di samping Alesya . Hingga tak terasa matahari sudah berganti bulan .
" Ki , bangun . Sudah malam " ucap Jeni .
" Hemm " Kirana menggeliat masih memejamkan matanya ingin kembali tidur .
" Ayo bangun . Jangan tidur lagi " Jeni menggoyangkan tubuh Kirana .
" Iya Je bentar kenapa sih " kesal Kirana karena Jeni terlalu bawel melebihi Maminya .
Lalu Jeni menghidupkan lampu kamar . Dan berusaha membangunkan Alesya juga .
" Al bangun . Tunggu " Jeni menempelkan punggung tangannya ke kening Alesya . Dan Alesya ternyata demam. Tubuh Alesya panas .
" Al bangun lo demam . Ki ya ampun , Alesya demam Ki "ucap Jeni lalu bergantian membangunkan Kirana .
" Coba gue cek " ucap Kirana yang masih belum terkumpul nyawanya .
" Iya Je . Kita kompres dulu . Lo ambil obat di laci " ucap Kirana .
" Ok" jawab Jeni .
Mereka tidak bilang ke orang tua Alesya . Karena Alesya akan marah . Hadi mereka akan merawat Alesya terlebih dahulu . Biasanya Demam Alesya akan segera turun .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments