Mengungkapkan Perasaan

♧  ♧  ♧

Suasana dalam mobil itu terasa begitu hening, hanya suara mesin dan sesekali desiran angin yang terdengar dari jendela yang sedikit terbuka.

Ariana duduk di samping Marvin, keduanya terbungkus dalam keheningan yang tebal. Ariana, yang beberapa jam sebelumnya ketahuan mengejek bosnya, merasa malu yang begitu mendalam sehingga tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Pipinya merona, matanya menatap lurus ke depan, berusaha menghindari kontak mata dengan Marvin.

" Segitu menyebalkan nya saya sampai kamu ngejekin saya dari belakang gitu?" Tanya Marvin memecah kesunyian.

" Nggak, Pak... nggak. Maaf pak. Itu tadi yang pertama kok saya ngomong gitu soal bapak. Sumpah Pak. Selama ini saya nggak pernah kok jelekin bapak di belakang. Mana berani saya pak. Sumpah demi apa pun kalau bapak nggak percaya." Jawab Ariana dengan antusias yang merasa sudah tersudut.

" Nggak usah pakai sumpah segala. Saya percaya kok sama kamu."

" Bapak nggak marah?" Tanya Ariana heran.

" Menurut kamu, apa saya bisa marah sama kamu?" Marvin malah bertanya balik.

" Ha?"

" Ya bisa saja sih kalau bapak mau." Ucap Ariana.

Ariana menoleh. Menatap Marvin dengan wajah keheranan. Dan melihat wajah Ariana yang penuh kebingungan, membuat Marvin tersenyum.

" Sudah jangan bingung - bingung. Kita mau langsung ke lokasi atau mau mampir dulu?" Tawar Marvin.

" Langsung ke lokasi saja, Pak." Jawab Ariana.

“Lapar tidak? Bagaimana kalau makan siang dulu?" Ajak Marvin sambil menoleh sejenak kepada Ariana.

Suaranya lembut, berusaha mencairkan suasana yang kaku.

Ariana terkejut sejenak, namun segera menyadari niat baik Marvin. Dia mengangguk pelan.

“Iya, makan siang terdengar bagus.” Suaranya masih sedikit gemetar, namun setidaknya dia sudah mulai tidak bingung lagi.

Marvin tersenyum kecil, lega karena berhasil mengeluarkan wajah lucu Ariana.

" Saya memang tidak salah jatuh cinta dengan kamu, Ariana. Bahkan siapa pun yang melihat senyum lucu kamu itu, pasti akan jatuh cinta melihat kamu." Bathin Marvin.

Dia kemudian mengarahkan mobil menuju restoran, berharap makanan yang enak bisa mengembalikan suasana hati mereka seperti semula.

*

*

*

Nama nya Ariana. Gadis yang mampu mengalihkan dunia Marvin dalam sekejap.

Marvin, pria yang terselimuti aura ketidakpedulian, seolah membeku sejak dia mengambil alih perusahaan sang papa. Luka hatinya atas pergi nya sang kekasih tanpa alasan yang jelas menciptakan benteng es di sekitar jiwanya.

Namun, tatkala Ariana, seorang wanita berparas menawan, mulai bekerja di kantor tersebut, serpihan es di hati Marvin perlahan mencair. Sosoknya yang dulunya jarang tersenyum, kini terpergok sering tersipu-sipu sendiri, terbuai oleh ingatan pada senyum manis Ariana.

Setiap pandangan pada wajahnya adalah titik terang yang perlahan menerangi kegelapan yang telah lama melanda hati Marvin.

Sikap dinginnya perlahan pudar, digantikan oleh kehangatan yang mulai terpancar dari matanya. Marvin selalu mencari alasan pekerjaan untuk bisa menghabiskan waktu berdua dengan Ariana, seperti saat mereka harus pergi bersama untuk urusan di luar kantor.

Dia mulai menunjukkan sisi lain yang lebih lembut dan perhatian, yang sangat bertentangan dengan imejnya sebelumnya. Kehadiran Ariana telah membawa sinar baru dalam kehidupan Marvin, mengubahnya menjadi pria yang lebih bahagia dan terbuka.

*

*

*

Ariana melangkah keluar dari mobilnya, matanya terbelalak takjub. Di depannya, terpampang sebuah restoran yang mengusung tema pedesaan dengan begitu anggun.

Dinding-dindingnya yang terbuat dari kayu tua berwarna coklat muda, memberi kesan hangat dan mengundang. Atap jerami yang rapi menambah sentuhan rustic yang autentik.

Ariana terhanyut sejenak, mengagumi setiap detail dari restoran itu, dari jendela-jendela kayu yang terbuka menghadap ke taman yang dipenuhi bunga-bunga musim panas, hingga lampu-lampu gantung yang menerangi setiap sudut dengan lembut. Serasa waktu berhenti sejenak bagi Ariana, dia merasa seperti memasuki sebuah dunia yang jauh dari kebisingan kota.

" Ayo duduk. Kenapa diam saja." Ajak Marvin yang terlebih dahulu duduk di lesehan sebuah gazebo kecil.

" Bapak sering makan di sini, Pak?"

" Lumayan sering. Kalau ada teman makan saja. Kalau sendiri saya tidak pernah kesini."

" Kenapa bertanya begitu? Kamu nggak suka sama tempat nya?" Tanya Marvin balik.

" Suka, Pak. Tempat nya asri. Saya serasa berada di desa sekarang." Jawab Ariana tersenyum.

Marvin melihat Ariana memejamkan mata nya sejenak. Menikmati suasana yang sangat mendamaikan hati sekarang ini.

" Selamat siang, Mas Marvin. Apa kabar? Sudah lama tidak mampir kesini. Gitu ke sink malah bawa pacar baru lagi. Lebih cantik lagi dari sebelum nya." Sapa seorang pelayan yang terlihat akrab dengan Marvin dengan ramah.

" Kabar saya baik, Mas. Belakangan ini sibuk makanya nggak sempat mampir kesini." Balas Marvin.

" Pacar nya cantik, Mas. Kalau sudah cantik begini, pasti baik." Puji pelayan tersebut.

" Kalau yang ini pasti lebih baik, Mas." Jawab Marvin menatap mata Ariana yang juga menatap nya.

" Mau pesan apa, Mas Marvin?" Tanya pelayan itu.

" Kamu mau pesan apa, Ari?" Tanya Marvin pada Ariana.

Ariana mengambil buku menu dan melihat deretan menu yang tertulis di sana.

" Pesan apa ya. Saya jadi bingung. Mana makanan nya enak - enak semua lagi." Jawab Ariana.

" Kalau begitu saya pesan menu yang biasa saja ya, Mas." Kata Marvin pada pelayan tersebut.

" Baik Mas Marvin, Mbak. Di tunggu sebentar. Pesanan nya saya buatkan dulu." Kata pelayan itu mengambil buku menu nya.

" Iya, Mas." Jawab Marvin.

" Ternyata bapak sering bawa pacar nya kesini ya!" Ledek Ariana tersenyum lebar.

" Kamu percaya kalau saya sudah punya pacar?"

" Ya percaya saja sih, Pak. Walau pun saya nggak pernah lihat bapak bawa pacar nya ke kantor."

Marvin malah tertawa kecil menanggapi ucapan Ariana.

" Justru karena itu. Berarti saya kan belum punya pacar. Gimana bisa punya pacar, kalau saya malah nungguin kamu jomblo."

" Bapak bilang apa tadi?"

Ariana bertanya balik. Dia merasa salah mendengar ucapan Marvin barusan.

" Saya nunggu kamu jomblo. Jadi kalau kamu jomblo kan bisa saya jadikan pacar." Jawab Marvin.

" Ih... bapak ah. Saya juga nggak punya pacar, Pak. Mana sempat saya mikirin soal pacar, Pak. Mending mikirin soal adik saya yang belum selesai kuliah."

" Berarti saya bisa dong ngajuin diri buat jadi pacar kamu?" Tanya Marvin secara terang - terangan.

Ariana terpaku di tempat, tak berdaya menemukan jawaban atas pertanyaan Marvin yang datangnya begitu tiba-tiba.

Seakan kata-kata telah membeku di bibirnya, semuanya terasa berat dan tidak terkendali. Matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang, dan napasnya tercekat di tenggorokan. Kejutan yang tidak terduga ini telah mencabut segala kata dari lisan nya.

" Kenapa malah diam? Ayo di jawab. Saya lagi nungguin jawaban kamu loh ini." Ucap Marvin lagi yang semakin membuat Ariana bingung dk posisi nya.

Meski nada suara Marvin terdengar gurau, matanya tak bisa menyembunyikan harap yang mendalam. Setiap kata yang terucap seakan menggantung, menanti jawaban yang akan memutuskan nasib hatinya dari bibir Ariana.

* Mungkin jika saya bertemu dengan pembaca lama... Ini kelanjutan kisah Rocky dan Ariana ya. Saya edit bab baru di sini karena di bab yang lama di hide sama yang nggak bertanggung jawab 

Terima kasih. Jangan lupa tinggalkan komentar ya.

Terpopuler

Comments

falea sezi

falea sezi

masih menyimak

2026-01-03

1

lihat semua
Episodes
1 Cerita Masa Lalu
2 Mengungkapkan Perasaan
3 Makan Siang Bersama
4 Dia Yang Kembali
5 Pertemuan Tak Terduga
6 Masih Terjebak Perasaan
7 Dia Yang Cemburu
8 Marahnya Rocky
9 Ajakan Bertemu
10 Hilang Mood
11 Melakukan Penawaran
12 Dia Yang Menunggu
13 Kembali Bertengkar
14 Tidak Akan Menyerah
15 Berharap Punya Kesempatan
16 Merasa Bersalah
17 Baju Baru
18 Bertemu Dengan Rizal
19 Kiriman Sebuah Foto
20 Menginap Dirumah Ariana
21 Dia Yang Rindu
22 Membuat Rocky Cemburu
23 Bertunangan
24 Sakit Hati Ariana
25 Ancaman Nelly
26 Disusul Amel
27 Saling Mengenal
28 Rumah Baru
29 Ulah Lily
30 Masak Bersama
31 Dokter Bikin Kesel
32 Bertengkar Dengan Mama
33 Pengakuan Rocky
34 Dilarikan Ke Rumah Sakit
35 Kabar Dari Rocky
36 Mengantar Amelia
37 Obat Untuk Rocky
38 Yusnita Sadar
39 Menjenguk Mama
40 Ajakan Putus
41 Bakal Sering Menginap
42 Mendapatkan Bukti
43 Kiriman Baju
44 Protes Pakaian Rocky
45 Dinner
46 Menjemput Ariana
47 Ketiduran Diruang Dokter
48 Tetap Terlihat Baik
49 Reaksi Obat
50 Ancaman Dari Nelly
51 Cerita Masa Lalu
52 Kurang Sehat
53 Teman Lama
54 Garis Dua
55 Pertemuan Tak Terduga
56 Tamparan Untuk Ariana
57 Mengantar Ariana Pulang
58 Ingin Mengakhiri
59 Kamar Mandi
60 Ancaman Yusnita
61 Pengharapan
62 Rumah Sakit
63 Rahasia Terbongkar
64 Meragu
65 Kedatangan Papa Rocky
66 Mengharap Pengertian
67 Keputusan Ariana
68 Cerita Masa Lalu
69 Rocky Menghilang
70 Berbohong Pada Ariana
71 Memilih Untuk Pergi
72 Permintaan Yusnita
73 Kebusukan Yang Terbongkar
74 Membatalkan Pernikahan
75 Menyusul Ariana
76 Memperjuangkan Kembali Cintanya
77 Dendam Nelly
78 Kabar Duka
79 Hari Pernikahan
80 Syarat Dari Amelia
81 Kejujuran
82 Persyaratan Dilengkapi
83 Bahagia Bersamamu
84 Ariana Sakit
85 Ngidam Roti Tart
86 Tart Tingkat Lima
87 Pemakaman Nelly
88 Hari Pernikahan
89 Akhir Yang Bahagia
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Cerita Masa Lalu
2
Mengungkapkan Perasaan
3
Makan Siang Bersama
4
Dia Yang Kembali
5
Pertemuan Tak Terduga
6
Masih Terjebak Perasaan
7
Dia Yang Cemburu
8
Marahnya Rocky
9
Ajakan Bertemu
10
Hilang Mood
11
Melakukan Penawaran
12
Dia Yang Menunggu
13
Kembali Bertengkar
14
Tidak Akan Menyerah
15
Berharap Punya Kesempatan
16
Merasa Bersalah
17
Baju Baru
18
Bertemu Dengan Rizal
19
Kiriman Sebuah Foto
20
Menginap Dirumah Ariana
21
Dia Yang Rindu
22
Membuat Rocky Cemburu
23
Bertunangan
24
Sakit Hati Ariana
25
Ancaman Nelly
26
Disusul Amel
27
Saling Mengenal
28
Rumah Baru
29
Ulah Lily
30
Masak Bersama
31
Dokter Bikin Kesel
32
Bertengkar Dengan Mama
33
Pengakuan Rocky
34
Dilarikan Ke Rumah Sakit
35
Kabar Dari Rocky
36
Mengantar Amelia
37
Obat Untuk Rocky
38
Yusnita Sadar
39
Menjenguk Mama
40
Ajakan Putus
41
Bakal Sering Menginap
42
Mendapatkan Bukti
43
Kiriman Baju
44
Protes Pakaian Rocky
45
Dinner
46
Menjemput Ariana
47
Ketiduran Diruang Dokter
48
Tetap Terlihat Baik
49
Reaksi Obat
50
Ancaman Dari Nelly
51
Cerita Masa Lalu
52
Kurang Sehat
53
Teman Lama
54
Garis Dua
55
Pertemuan Tak Terduga
56
Tamparan Untuk Ariana
57
Mengantar Ariana Pulang
58
Ingin Mengakhiri
59
Kamar Mandi
60
Ancaman Yusnita
61
Pengharapan
62
Rumah Sakit
63
Rahasia Terbongkar
64
Meragu
65
Kedatangan Papa Rocky
66
Mengharap Pengertian
67
Keputusan Ariana
68
Cerita Masa Lalu
69
Rocky Menghilang
70
Berbohong Pada Ariana
71
Memilih Untuk Pergi
72
Permintaan Yusnita
73
Kebusukan Yang Terbongkar
74
Membatalkan Pernikahan
75
Menyusul Ariana
76
Memperjuangkan Kembali Cintanya
77
Dendam Nelly
78
Kabar Duka
79
Hari Pernikahan
80
Syarat Dari Amelia
81
Kejujuran
82
Persyaratan Dilengkapi
83
Bahagia Bersamamu
84
Ariana Sakit
85
Ngidam Roti Tart
86
Tart Tingkat Lima
87
Pemakaman Nelly
88
Hari Pernikahan
89
Akhir Yang Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!