Sepupu Vito

"Iya kamu benar, nanti Mama akan minta uang bulanan setiap bulannya ke Perlita."

      Sedangkan Vito hanya diam menyimak obrolan istri dan mertuanya. Untuk sementara Vito dan Ariana memang akan tinggal di rumah orang tua Ariana. Karena uangnya belum cukup untuk membeli rumah. Di tambah lagi kemarin uang itu di pinjam oleh Ariana untuk membeli perhiasan. Sementara di rumah orang tua Vito sudah banyak orang yang tinggal di sana. Ariana juga tidak begitu menyukai rumah yang begitu ramai dengan anggota keluarga. Apalagi harus satu atap dengan mertua dan para iparnya. Ariana tidak bisa membayangkan hal tersebut. Pasti setiap hari rumah mertuanya akan ramai dan berisik sekali. Apalagi ada banyak keponakan Vito di sana. Ariana memang tidak begitu menyukai anak kecil. Baginya anak kecil itu sangat merepotkan, berisik, dan jorok. Entah bagaimana Ariana akan mengurus dan merawat anaknya nanti. Bahkan dia udah pusing duluan memikirkan anaknya nanti. Andai boleh memilih, dia tidak akan mau memiliki anak. Sekarang dia terpaksa menjaga anak yang ada di dalam kandungannya, karena anak itu yang menyatukannya dengan Vito. Kalau dia tidak hamil mungkin Vito sudah menikah dengan Perlita.

      Sedangkan di tempat lain, Perlita melajukan motornya menuju rumah yang dirinya beli dengan jerih payahnya selama ini dari berjualan pakaian. Awalnya Perlita melarang Vito membeli rumah, karena dia sudah memiliki rumah, tapi sayangnya pria itu tidak setuju dengan alasan ingin membeli rumah yang lebih besar dari rumahnya.

      Rencananya setelah acara pernikahan selesai, mereka akan tinggal untuk sementara waktu di rumah yang di beli oleh Perlita. Dan jika Vito sudah membeli rumah yang dia inginkan, baru mereka akan pindah ke rumah itu. Tapi semua itu hanya tinggal rencana saja, karena Vito malah menikah dengan Ariana.

     Mungkin Tuhan lebih sayang kepada Perlita dengan memperlihatkan pengkhianatan Vito sebelum mereka sah menjadi pasangan suami istri. Perlita membuka pintu rumahnya dan membawa kopernya masuk ke dalam rumah dua lantai tersebut.

    "Aku harus kuat dan tetap semangat. Aku akan membuat mereka menyesal telah melakukan hal ini kepadaku. Aku harus lebih sukses lagi." Gumam Perlita memasuki kamarnya dan menata barang-barangnya ke dalam lemari.

     Barang-barang Perlita sudah sebagian besar berada di rumah ini. Barang yang dirinya bawa tadi hanyalah beberapa pakaian saja.

    "Lelahnya!"

    Perlita merebahkan badannya di atas ranjangnya. Dia memandangi langit-langit kamarnya dan mengingat kenangan indah bersama Vito saat mereka berpacaran.

    Selama ini Perlita selalu mendampingi Vito mencapai cita-citanya untuk menjadi dokter. Perlita bahkan sering membantu Vito mengerjakan tugas kuliahnya. Bahkan di saat Vito membutuhkan uang, dia juga sering membantunya. Perlita adalah perempuan yang sangat cerdas, waktu duduk di bangku SMA dia berencana ingin kuliah di fakultas kedokteran, tapi saat Perlita duduk di bangku SMA kelas tiga, bisnis fashion Perlita meroket sehingga membuat Perlita sibuk dengan bisnisnya dan lebih memilih kuliah di jurusan Manajemen Bisnis. Perlita lebih memilih kuliah secara online dengan tujuan agar bisa sambil mengurus usahanya.

     Pakaian yang Perlita jual sebenarnya adalah hasil ranjangannya sendiri. Tapi Vito dan keluarganya tidak pernah tahu akan hal ini. Mereka mengira kalau pakaian yang di jual Perlita di ambil dari distributor. Makanya mereka sering meremehkan usaha Perlita, bahkan Vito tidak pernah mau mendukung usaha Perlita.

    Bisnis fashion Perlita sudah banyak mengubah hidupnya. Perlita bisa memiliki rumah dua lantai yang sekarang akan menjadi tempat tinggalnya yang berlokasi di pusat kota. Perlita juga memiliki satu unit mobil dan beberapa usaha kos-kosan dan kontrakan.

     Orang tuanya sama sekali tidak mengetahui semua itu, mereka tidak tahu kalau bisnis Perlita sudah sebesar dan sesukses ini. Mereka hanya tahu kalau Perlita berjualan pakaian saja. Perlita memang terlihat hanya memiliki toko pakaian kecil saja. Semua itu sengaja dilakukan Perlita supaya bisnisnya tidak direbut oleh kakaknya. Ariana akan selalu iri kalau Perlita bisa lebih sukses dari dirinya. Mereka hanya tahu kalau Perlita memiliki rumah pribadi sedangkan yang lain mereka sama sekali tidak mengetahuinya. Kemarin Perlita terpaksa memberitahu Vito mengenai rumah yang dia beli, dia terpaksa memberi tahu rumah itu lantaran bingung mau tinggal dimana setelah menikah.

"Aduh mana lapar lagi, jam berapa sih ini?" Ucap Perlita yang baru saja bangun. Tadi tanpa sadar dia tertidur di ranjangnya.

"Ternyata udah jam dua belas, pantesan aja aku laper. Pagi tadi nggak dapat sarapan lagi. Hmmm, makan di luar aja deh kalau begitu."

Perlita beranjak dari ranjangnya lalu bersiap untuk pergi makan siang di luar.

      Perlita lebih memilih mengendarai mobilnya siang itu. Apalagi cuaca yang panas saat ini. Perlita membelokan mobilnya ke sebuah restoran. Dia turun dari mobilnya, karena keadaan restoran yang sangat ramai membuat Perlita menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya, terutama para kaum laki-laki. Siang itu Perlita memakai outfit simple tapi tetap saja dapat memancarkan kecantikannya apalagi di tunjang dengan body yang bagus.

Perlita memilih duduk di meja yang berada di pojok ruangan, karena hanya meja itu yang masih kosong saat ini. Dia membuka buku menu dan memesan menu makanan yang disediakan restoran tersebut.

"Hai, kamu Perlita bukan?" tanya seorang laki-laki yang datang menghampiri meja Perlita.

     "Oh, dokter Nathanael ?"

"Ternyata masih ingat dengan saya. Apa saya boleh gabung di sini?"

"Silahkan, dok!"

"Panggil Nathan aja."

"Hmmm, sepertinya kurang sopan kalau panggil nama aja. Soalnya umur saya lebih muda dari dokter."

"Hmmm, panggil kakak juga boleh kok."

"Kalau begitu aku panggil kakak aja deh."

"Sendirian aja Perl?" tanya Nathan sembari menatap Perlita.

"Iya kak."

"Kok pengantin baru sendirian aja sih? Baru juga kemarin menikah kan? Maaf ya Perl, saya dan keluarga nggak bisa hadir di pernikahan kamu dan Vito. Soalnya kami sekeluarga baru saja pulang dari Paris tadi pagi."

"Ya tidak apa-apa kok kak, lagian saya memang tidak jadi menikah," balas Perlita yang langsung berubah jadi sedih karena mengingat kejadian kemarin.

"Ha? Maksudnya tidak jadi bagaimana? Kalian menunda acara pernikahannya? Tapi saya lihat di grup keluarga ada banyak ucapan happy wedding untuk Vito dan kamu loh."

Nathanael adalah sepupu Vito, kedua Ibu mereka adalah adik kakak sehingga Nathan bisa kenal dan juga ikut diundang di pernikahan Vito dan Perlita.

"Bukan untuk saya itu kak, tapi untuk kak Vito dan kakak perempuan saya."

"Maksudnya bagaimana? Kok saya jadi bingung yah?" tanya Nathan dengan dahi berkerut dan mata menyipit.

"Hufftt, sebenarnya saya malas membahas hal ini. Tapi nggak apa-apa lah dari pada kak Nathan bingung sendiri. Jadi aku tidak jadi menikah dengan kak Vito karena di hari pernikahan aku kemarin itu, Ariana yang merupakan kakak kandung aku ketahuan hamil dengan kak Vito. Sehingga keluarga memutuskan untuk mengganti mempelai perempuannya dengan kakak aku kak. Kalau seperti itu aku tidak bisa apa-apa kan? Ya udah aku mengalah dan sekarang mereka udah resmi jadi suami istri. Mungkin kami memang tidak berjodoh," terang Perlita menjelaskan.

Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejekinya selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊

Yuk mampir juga di karya author yg lain, kalian tinggal klik profil author nanti akan muncul karya author yg lain. Terima kasih🙏

Terpopuler

Comments

🍒WINA🍒

🍒WINA🍒

Semoga Nathan dan perlita berjodoh, ternyata perlita gadis yg mandiri Vito pastinya menyesal telah sia-sia perlita...

2026-03-10

0

lihat semua
Episodes
1 Marah-marah
2 Pernikahan
3 Pergi
4 Sepupu Vito
5 Tiket ke Bali
6 Taman
7 Kedatangan orang tua
8 Ke butik
9 Makan siang
10 Kantor Polisi
11 Menyesal
12 Laki-laki Kere
13 Kontrakan
14 Kosan dan kontrakan
15 Tidak mungkin
16 Makan Malam
17 Keponakan Mami
18 Cafe
19 Liburan
20 Teman masa SMA
21 Bali
22 Arisan
23 Rumah Sakit
24 Kontrakan
25 Kedatangan Silvi
26 Pantai
27 Pemandangan
28 Siapa wanita itu?
29 Cuma teman
30 Rumah Zahra dan Daniel
31 Kalian cocok
32 Lambat
33 Rahasia kamu
34 Apa tanggung jawabmu?
35 Aku masih mencintaimu
36 Pearl Fashion
37 Jorok
38 Meeting
39 Kosan Raya
40 foto
41 Klien Perlita
42 Jelek dan dekil
43 Lari sore
44 Makan bersama
45 Kedatangan Viona dan Yuri
46 Tidak tega
47 Sibuk
48 Kere
49 Rumah Klien
50 Jatuh Cinta
51 Tidak ingin dia pergi
52 Menantu kesayangan
53 Benar-benar bodoh
54 Nongkrong
55 Memikirkan Perlita
56 Mami Sophia
57 Mokondo
58 Cafe
59 Bertemu Ariana dan Vito
60 Ingin Honeymoon
61 Event
62 Butik
63 Ucapan Selamat
64 Tante mau jadi mertua Perlita
65 Gerak Cepat
66 Promo besar-besaran
67 Mencari Perlita
68 Paket
69 Menjelek-jelekkan
70 Semakin mesra
71 Dinner
72 Sarapan
73 Orang tua kandung Perlita.
74 Terlambat
75 Makan Malam
76 Kesal
77 Pernikahan Tasya dan Risky
78 Istri Pak Hendri
79 Ibu Perlita
80 Adik Perlita
81 Lamaran
82 Kabar Mengejutkan
83 Pernikahan
84 Bertemu
85 Diana dan Roby
86 Keadaan Diana dan Roby
87 Malam Pertama
88 Kesiangan.
89 Selingkuh
90 Makam Deniz Aydin
91 Jadi tulang punggung
92 Mual
93 Bayi Ariana
94 Kondisi Vito
95 Karma
96 Ami dan Perlita
97 Rujak
98 Jordan
99 Kedatangan Cici
100 Ke rumah Roby dan Diana
101 Cici
102 Pertanggung jawaban
103 Melihat Tasya
104 CICI
105 Tujuh bulanan
106 Hinaan
107 ROSSA VALERIO
108 Kos Rossa
109 Hari pertama Magang
110 CEO
111 Susah di dekati
112 Mall
113 Membeli Perlengkapan
114 Ariana
115 Hutang
116 Tes DNA
117 Penipu
118 Menyebalkan
119 Makan siang
120 Teman Cici
121 Papa tiri Cici
122 Dinner
123 Wulan
124 Elena dan Rossa
125 Arisan
126 Perasaan Reyhan
127 Rossa
128 Reyhan dan Rossa.
129 Pemeriksaan
130 Sepupu Arga
131 Jawaban Rossa
132 Anggi dan keluarga
133 Jatuh Cinta
134 Bunga
135 Makan malam
136 Rossa
137 Vito
138 Bertemu orang tua Rossa
139 Vito
140 Vino
141 Nongkrong
142 Kantor Reyhan.
143 Kamu dalangnya
144 Keadaannya
145 Meeting
146 Rumah sakit
147 Baby Darren
148 Melihat Baby Darren
149 Mirip Nathan
150 Pulang
151 Perempuan Muda
152 Aqiqah Baby Darren
153 Anindya
154 Sebaiknya Menikah
155 Indri
156 Amir
157 Diusir
158 Silvi
159 Vino
160 Acara Lamaran
161 Mendekati Anindya
162 Persiapan
163 Kedatangan Amir
164 Amara
165 Sah
166 Malu
167 Mama Risky
168 Menggoda
169 Roby
170 Kencan
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Marah-marah
2
Pernikahan
3
Pergi
4
Sepupu Vito
5
Tiket ke Bali
6
Taman
7
Kedatangan orang tua
8
Ke butik
9
Makan siang
10
Kantor Polisi
11
Menyesal
12
Laki-laki Kere
13
Kontrakan
14
Kosan dan kontrakan
15
Tidak mungkin
16
Makan Malam
17
Keponakan Mami
18
Cafe
19
Liburan
20
Teman masa SMA
21
Bali
22
Arisan
23
Rumah Sakit
24
Kontrakan
25
Kedatangan Silvi
26
Pantai
27
Pemandangan
28
Siapa wanita itu?
29
Cuma teman
30
Rumah Zahra dan Daniel
31
Kalian cocok
32
Lambat
33
Rahasia kamu
34
Apa tanggung jawabmu?
35
Aku masih mencintaimu
36
Pearl Fashion
37
Jorok
38
Meeting
39
Kosan Raya
40
foto
41
Klien Perlita
42
Jelek dan dekil
43
Lari sore
44
Makan bersama
45
Kedatangan Viona dan Yuri
46
Tidak tega
47
Sibuk
48
Kere
49
Rumah Klien
50
Jatuh Cinta
51
Tidak ingin dia pergi
52
Menantu kesayangan
53
Benar-benar bodoh
54
Nongkrong
55
Memikirkan Perlita
56
Mami Sophia
57
Mokondo
58
Cafe
59
Bertemu Ariana dan Vito
60
Ingin Honeymoon
61
Event
62
Butik
63
Ucapan Selamat
64
Tante mau jadi mertua Perlita
65
Gerak Cepat
66
Promo besar-besaran
67
Mencari Perlita
68
Paket
69
Menjelek-jelekkan
70
Semakin mesra
71
Dinner
72
Sarapan
73
Orang tua kandung Perlita.
74
Terlambat
75
Makan Malam
76
Kesal
77
Pernikahan Tasya dan Risky
78
Istri Pak Hendri
79
Ibu Perlita
80
Adik Perlita
81
Lamaran
82
Kabar Mengejutkan
83
Pernikahan
84
Bertemu
85
Diana dan Roby
86
Keadaan Diana dan Roby
87
Malam Pertama
88
Kesiangan.
89
Selingkuh
90
Makam Deniz Aydin
91
Jadi tulang punggung
92
Mual
93
Bayi Ariana
94
Kondisi Vito
95
Karma
96
Ami dan Perlita
97
Rujak
98
Jordan
99
Kedatangan Cici
100
Ke rumah Roby dan Diana
101
Cici
102
Pertanggung jawaban
103
Melihat Tasya
104
CICI
105
Tujuh bulanan
106
Hinaan
107
ROSSA VALERIO
108
Kos Rossa
109
Hari pertama Magang
110
CEO
111
Susah di dekati
112
Mall
113
Membeli Perlengkapan
114
Ariana
115
Hutang
116
Tes DNA
117
Penipu
118
Menyebalkan
119
Makan siang
120
Teman Cici
121
Papa tiri Cici
122
Dinner
123
Wulan
124
Elena dan Rossa
125
Arisan
126
Perasaan Reyhan
127
Rossa
128
Reyhan dan Rossa.
129
Pemeriksaan
130
Sepupu Arga
131
Jawaban Rossa
132
Anggi dan keluarga
133
Jatuh Cinta
134
Bunga
135
Makan malam
136
Rossa
137
Vito
138
Bertemu orang tua Rossa
139
Vito
140
Vino
141
Nongkrong
142
Kantor Reyhan.
143
Kamu dalangnya
144
Keadaannya
145
Meeting
146
Rumah sakit
147
Baby Darren
148
Melihat Baby Darren
149
Mirip Nathan
150
Pulang
151
Perempuan Muda
152
Aqiqah Baby Darren
153
Anindya
154
Sebaiknya Menikah
155
Indri
156
Amir
157
Diusir
158
Silvi
159
Vino
160
Acara Lamaran
161
Mendekati Anindya
162
Persiapan
163
Kedatangan Amir
164
Amara
165
Sah
166
Malu
167
Mama Risky
168
Menggoda
169
Roby
170
Kencan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!