Tiket ke Bali

"Ha, gila. Ini benar-benar di luar nalar saya Perl. Maaf yah saya malah kembali membuka luka kamu. Tapi kamu tetap semangat yah, berarti Tuhan sayang sama kamu. Kelakuan bejat mereka malah ditunjukin saat kamu belum menikah dengan Vito."

        "Awalnya aku memang sedih, marah dan sangat kecewa tapi setelah dipikir-pikir ternyata Tuhan sayang sama aku. Seandainya semuanya terbongkar saat kami sudah sah menjadi pasangan suami istri, mungkin itu akan membuat saya lebih hancur lagi kak.'

       "Saya yakin kamu perempuan kuat. Masih banyak kok laki-laki baik di luaran sana. Mati satu bisa tumbuh seribu. Lupakan yang memang hanya melukai saja dan kembali lanjutkan hidup kamu yang sangat berharga ini." Kata Nathan menghibur Perlita. Dia merasa tidak menyangka dengan kelakuan sepupunya itu.

        "Ini semua pesanan kamu?" tanya Nathan ketika pelayan restoran menghidangkan banyak menu makanan di atas meja.

       "Iya kak, kenapa memangnya kak? Terlalu kebanyakan yah? Beginilah kalau suasana hati aku lagi nggak baik. Pasti aku lampiaskan ke makanan. Nanti setelah menghabiskan semua ini suasana hati aku akan baik-baik lagi kak," balas Perlita dengan sedikit tersenyum karena melihat raut wajah Nathan yang terkejut melihat makanan yang dia pesan.

       "Memangnya kamu sanggup menghabiskan ini semua?"

       "Sanggup kok. Kakak nggak percaya yah? Kakak lihat aja nanti, semua akan habis tak tersisa nantinya." Kata Perlita lagi sambil tersenyum.

      "Kalau memang kamu bisa ngabisin semua ini, maka saya yang akan bayarin semua pesanan kamu ini. Saya juga akan kasih kamu tiket liburan ke Bali selama seminggu."

       "Beneran kak?"tanya Perlita dengan mata membulat.

       "Iya benaran, tapi harus habis ya. Nggak boleh tersisa sedikitpun loh."

       "Oke, siapa takut. Siap-siap saldo kakak terkuras loh yah."

       "Tapi kalau nggak habis kamu nih yang harus bayarin liburan saya ke Bali selama seminggu. Gimana, deal?"

      "Deal."

      Perlita pun mulai memakan makanan yang tersaji di meja tersebut satu persatu. Perlita makan dengan lahapnya tanpa ada jaga image di depan Nathan. Terakhir dia makan adalah kemarin pagi, itupun hanya sedikit. Hal itu tentu membuat Perlita dengan mudah menghabiskan menu yang dirinya pesan.

      Nathan yang memperhatikan Perlita menghabiskan makanannya hanya bisa terdiam dan salut melihat Perlita yang tidak ada jaim-jaimnya di depan dirinya. Biasanya perempuan yang makan bersama dirinya pasti selalu menjaga cara makannya. Tapi lihat sekarang perempuan cantik di depannya. Makan dengan kalapnya. Nathan membayangkan betapa penuhnya lambung Perlita dengan menghabiskan semua menu makanan yang tersaji di atas meja mereka.

      "Kakak nggak makan?" tanya Perlita di sela-sela makannya.

      "Kakak udah makan tadi, kamu lanjut aja makannya," ujar Nathan yang terus memperhatikan Perlita.

      Perlita kembali melanjutkan makannya.

      Nathan benar-benar tidak menyangka melihat satu persatu piring dan mangkok yang sudah kosong di hadapannya. Semua isinya sudah berpindah ke dalam perut Perlita.

      "Berarti aku menang yah kak. Lihat semuanya licin. Bahkan minuman aku juga habis loh. Jadi kakak harus tepati perkataan kakak tadi. Kakak harus bayarin semuanya dan aku tunggu tiket liburan ke Balinya," kata Perlita sambil mengulas senyum manisnya sehingga langsung tampak lesung pipinya yang membuat Perlita semakin terlihat cantik.

       Deg!

       Jantung Nathan bergetar saat melihat senyum manis Perlita. Nathan merasa berbeda saat melihat Perlita. Berbeda dari biasanya. Dulu saat bertemu Perlita, Nathan merasa biasa saja, tapi saat ini muncul perasaan itu secara tiba-tiba dan tidak bisa dielakkan begitu saja.

        "Iya kamu tenang saja, semua makananmu akan kakak bayarin dan tiketnya besok kakak kirim ke kamu."

       "Yeaaah, liburan gratis." Ucap Perlita dengan wajah senang seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah.

       Perlita tentu sangat senang karena akan mendapatkan tiket liburan gratis ke Bali selama seminggu. Dirinya bisa refreshing selama berada di Bali. Mungkin dengan liburan ke Bali bisa membuat semua luka dan sakit hatinya terobati.

      "Perl, setelah ini kamu mau ke mana?"

      "Pulang kak. Lagi males juga mau ke mana-mana saat ini, nanti ketemu lagi  sama kenalan aku terus pasti nanya lagi soal pernikahanku yang gagal ini."

      "Maaf deh kalau tadi pertanyaan kakak malah bikin kamu kesal. Kakak benar-benar nggak tahu. Kakak jadi nggak enak sama kamu."

      "Iya nggak apa-apa kok kak. Mungkin sudah jalannya harus begini. Lagian buat apa juga mikirin laki-laki yang suka selingkuh. Laki-laki seperti itu tidak pantas dimaafkan ataupun dipertahankan, karena dia pasti akan selingkuh lagi nantinya. Selingkuh Itu kan seperti penyakit dan tidak akan pernah sembuh kalau memang orangnya tidak memiliki keinginan untuk berubah. Jadi aku seharusnya merasa senang karena bisa terbebas dari laki-laki seperti itu." Kata Perlita menjelaskan.

      Nathan setuju dengan ucapan Perlita dan menyukai cara berpikir Perlita.

       "Ya udah kalau begitu aku duluan yah kak. Jangan lupa tiket ke Balinya, dan ini kartu nama aku. Dan terima kasih untuk semuanya." Kata Perlita lagi sambil tersenyum. Setelah itu dia langsung meninggalkan Nathan yang memandangi kartu nama yang ditinggalkan oleh Perlita.

      "Perlita Cascata," gumam Nathan sambil memandangi kartu nama Perlita.

      Perlita melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Dia lebih memilih untuk di rumah saja hari ini. Apalagi selama ini rumah tersebut sangat jarang dikunjungi karena kesibukannya.

  ☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

      "Jadi kalian akan tinggal di sini?" tanya Diana ketika mereka baru aja selesai makan siang.

     "Iya, Ma. Soalnya uang Vito masih belum cukup untuk membeli rumah. Dari pada ngontrak kan malah sayang uangnya Ma. Lagian di rumah ini kan cuma ada mama dan papa aja. Kalau di rumah Vito setiap hari selalu ramai Ma. Aku mana nyaman kalau ada banyak orang di rumah. Atau kalau mama punya uang, tolong pinjam dulu uangnya buat beli rumah."

      "Mama mana ada uang. Selama ini mama punya uang kan dari Perlita. Tapi kenapa kalian tidak tinggal di rumah yang Perlita siapkan kemarin itu. Bukankah kemarin Vito mengatakan kalau dia akan tinggal untuk sementara waktu di rumah yang di siapkan oleh Perlita? Buat apa membeli rumah lagi, mending tinggal di rumah itu. Nanti biar mama yang meminta pada Perlita agar rumah itu diberikan untuk kalian saja. Lagian Perlita kan masih single jadi buat apa juga punya rumah. Mending dia tinggal di sini saja. Kalau kalian sudah memiliki anak, pasti kalian ingin tinggal hanya dengan keluarga kecil kalian saja. Mama juga pernah seperti kalian dulu, dan saat itu awal mama menikah dengan papa. Soalnya kalau tinggal di rumah mertua rasanya tidak nyaman sekali. Terlambat bangun sedikit aja mertua udah ngomel, ngatur-ngatur, suka ngomongin mantunya lagi. Masih banyak deh, jadi mending kamu jangan pernah mau tinggal dengan mertuamu. Mendingan tinggal di rumah Perlita itu."

Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊

Terpopuler

Comments

checangel_

checangel_

Apakah mertua se-mengerikan itu? /Facepalm/, segitunya kata mertua itu menggema, bahkan di realita pun banyak bayang² menantu yang tak pernah bersuara, dan semua itu kembali lagi pada niat dan langkah awal saat menyapa🤧

2025-12-30

1

🍒WINA🍒

🍒WINA🍒

Enak aja rumah jerih payah perlita mau diminta buat ariana dan vita, dimana pikiran dan hati nurani seorang ibu...

2026-03-10

2

mimief

mimief

orangvtu ya..kalau jadi parasit urat malu nya udah putus kali ya🫣😜.
eh..kalau punya malu,pasti ga bakalan jadi parasit ya🤣🤣

2026-02-22

2

lihat semua
Episodes
1 Marah-marah
2 Pernikahan
3 Pergi
4 Sepupu Vito
5 Tiket ke Bali
6 Taman
7 Kedatangan orang tua
8 Ke butik
9 Makan siang
10 Kantor Polisi
11 Menyesal
12 Laki-laki Kere
13 Kontrakan
14 Kosan dan kontrakan
15 Tidak mungkin
16 Makan Malam
17 Keponakan Mami
18 Cafe
19 Liburan
20 Teman masa SMA
21 Bali
22 Arisan
23 Rumah Sakit
24 Kontrakan
25 Kedatangan Silvi
26 Pantai
27 Pemandangan
28 Siapa wanita itu?
29 Cuma teman
30 Rumah Zahra dan Daniel
31 Kalian cocok
32 Lambat
33 Rahasia kamu
34 Apa tanggung jawabmu?
35 Aku masih mencintaimu
36 Pearl Fashion
37 Jorok
38 Meeting
39 Kosan Raya
40 foto
41 Klien Perlita
42 Jelek dan dekil
43 Lari sore
44 Makan bersama
45 Kedatangan Viona dan Yuri
46 Tidak tega
47 Sibuk
48 Kere
49 Rumah Klien
50 Jatuh Cinta
51 Tidak ingin dia pergi
52 Menantu kesayangan
53 Benar-benar bodoh
54 Nongkrong
55 Memikirkan Perlita
56 Mami Sophia
57 Mokondo
58 Cafe
59 Bertemu Ariana dan Vito
60 Ingin Honeymoon
61 Event
62 Butik
63 Ucapan Selamat
64 Tante mau jadi mertua Perlita
65 Gerak Cepat
66 Promo besar-besaran
67 Mencari Perlita
68 Paket
69 Menjelek-jelekkan
70 Semakin mesra
71 Dinner
72 Sarapan
73 Orang tua kandung Perlita.
74 Terlambat
75 Makan Malam
76 Kesal
77 Pernikahan Tasya dan Risky
78 Istri Pak Hendri
79 Ibu Perlita
80 Adik Perlita
81 Lamaran
82 Kabar Mengejutkan
83 Pernikahan
84 Bertemu
85 Diana dan Roby
86 Keadaan Diana dan Roby
87 Malam Pertama
88 Kesiangan.
89 Selingkuh
90 Makam Deniz Aydin
91 Jadi tulang punggung
92 Mual
93 Bayi Ariana
94 Kondisi Vito
95 Karma
96 Ami dan Perlita
97 Rujak
98 Jordan
99 Kedatangan Cici
100 Ke rumah Roby dan Diana
101 Cici
102 Pertanggung jawaban
103 Melihat Tasya
104 CICI
105 Tujuh bulanan
106 Hinaan
107 ROSSA VALERIO
108 Kos Rossa
109 Hari pertama Magang
110 CEO
111 Susah di dekati
112 Mall
113 Membeli Perlengkapan
114 Ariana
115 Hutang
116 Tes DNA
117 Penipu
118 Menyebalkan
119 Makan siang
120 Teman Cici
121 Papa tiri Cici
122 Dinner
123 Wulan
124 Elena dan Rossa
125 Arisan
126 Perasaan Reyhan
127 Rossa
128 Reyhan dan Rossa.
129 Pemeriksaan
130 Sepupu Arga
131 Jawaban Rossa
132 Anggi dan keluarga
133 Jatuh Cinta
134 Bunga
135 Makan malam
136 Rossa
137 Vito
138 Bertemu orang tua Rossa
139 Vito
140 Vino
141 Nongkrong
142 Kantor Reyhan.
143 Kamu dalangnya
144 Keadaannya
145 Meeting
146 Rumah sakit
147 Baby Darren
148 Melihat Baby Darren
149 Mirip Nathan
150 Pulang
151 Perempuan Muda
152 Aqiqah Baby Darren
153 Anindya
154 Sebaiknya Menikah
155 Indri
156 Amir
157 Diusir
158 Silvi
159 Vino
160 Acara Lamaran
161 Mendekati Anindya
162 Persiapan
163 Kedatangan Amir
164 Amara
165 Sah
166 Malu
167 Mama Risky
168 Menggoda
169 Roby
170 Kencan
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Marah-marah
2
Pernikahan
3
Pergi
4
Sepupu Vito
5
Tiket ke Bali
6
Taman
7
Kedatangan orang tua
8
Ke butik
9
Makan siang
10
Kantor Polisi
11
Menyesal
12
Laki-laki Kere
13
Kontrakan
14
Kosan dan kontrakan
15
Tidak mungkin
16
Makan Malam
17
Keponakan Mami
18
Cafe
19
Liburan
20
Teman masa SMA
21
Bali
22
Arisan
23
Rumah Sakit
24
Kontrakan
25
Kedatangan Silvi
26
Pantai
27
Pemandangan
28
Siapa wanita itu?
29
Cuma teman
30
Rumah Zahra dan Daniel
31
Kalian cocok
32
Lambat
33
Rahasia kamu
34
Apa tanggung jawabmu?
35
Aku masih mencintaimu
36
Pearl Fashion
37
Jorok
38
Meeting
39
Kosan Raya
40
foto
41
Klien Perlita
42
Jelek dan dekil
43
Lari sore
44
Makan bersama
45
Kedatangan Viona dan Yuri
46
Tidak tega
47
Sibuk
48
Kere
49
Rumah Klien
50
Jatuh Cinta
51
Tidak ingin dia pergi
52
Menantu kesayangan
53
Benar-benar bodoh
54
Nongkrong
55
Memikirkan Perlita
56
Mami Sophia
57
Mokondo
58
Cafe
59
Bertemu Ariana dan Vito
60
Ingin Honeymoon
61
Event
62
Butik
63
Ucapan Selamat
64
Tante mau jadi mertua Perlita
65
Gerak Cepat
66
Promo besar-besaran
67
Mencari Perlita
68
Paket
69
Menjelek-jelekkan
70
Semakin mesra
71
Dinner
72
Sarapan
73
Orang tua kandung Perlita.
74
Terlambat
75
Makan Malam
76
Kesal
77
Pernikahan Tasya dan Risky
78
Istri Pak Hendri
79
Ibu Perlita
80
Adik Perlita
81
Lamaran
82
Kabar Mengejutkan
83
Pernikahan
84
Bertemu
85
Diana dan Roby
86
Keadaan Diana dan Roby
87
Malam Pertama
88
Kesiangan.
89
Selingkuh
90
Makam Deniz Aydin
91
Jadi tulang punggung
92
Mual
93
Bayi Ariana
94
Kondisi Vito
95
Karma
96
Ami dan Perlita
97
Rujak
98
Jordan
99
Kedatangan Cici
100
Ke rumah Roby dan Diana
101
Cici
102
Pertanggung jawaban
103
Melihat Tasya
104
CICI
105
Tujuh bulanan
106
Hinaan
107
ROSSA VALERIO
108
Kos Rossa
109
Hari pertama Magang
110
CEO
111
Susah di dekati
112
Mall
113
Membeli Perlengkapan
114
Ariana
115
Hutang
116
Tes DNA
117
Penipu
118
Menyebalkan
119
Makan siang
120
Teman Cici
121
Papa tiri Cici
122
Dinner
123
Wulan
124
Elena dan Rossa
125
Arisan
126
Perasaan Reyhan
127
Rossa
128
Reyhan dan Rossa.
129
Pemeriksaan
130
Sepupu Arga
131
Jawaban Rossa
132
Anggi dan keluarga
133
Jatuh Cinta
134
Bunga
135
Makan malam
136
Rossa
137
Vito
138
Bertemu orang tua Rossa
139
Vito
140
Vino
141
Nongkrong
142
Kantor Reyhan.
143
Kamu dalangnya
144
Keadaannya
145
Meeting
146
Rumah sakit
147
Baby Darren
148
Melihat Baby Darren
149
Mirip Nathan
150
Pulang
151
Perempuan Muda
152
Aqiqah Baby Darren
153
Anindya
154
Sebaiknya Menikah
155
Indri
156
Amir
157
Diusir
158
Silvi
159
Vino
160
Acara Lamaran
161
Mendekati Anindya
162
Persiapan
163
Kedatangan Amir
164
Amara
165
Sah
166
Malu
167
Mama Risky
168
Menggoda
169
Roby
170
Kencan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!