LUKA CINTA

LUKA CINTA

Marah-marah

"Kak, kamu kenapa sih? Sebentar lagi kita akan menikah, tapi kamu dari kemarin selalu cuek dan nggak mau ikut mengurus pernikahan kita. Aku juga sudah memakai tabungan aku sendiri untuk biaya pernikahan ini, setidaknya bantuin aku kek. Aku juga capek kak. Aku juga capek karena harus bolak-balik kesana kemari setelah pulang kerja, tapi aku coba nikmati karena ini adalah mimpi kita dari lama. Tapi kamu kenapa jadi seperti ini sih kak? Kenapa kamu seakan-akan enggan untuk mengurus pernikahan kita? Apa kakak sedang ada masalah? Kalau iya, cerita sama aku." Kata Perlita saat bertemu dengan calon suaminya yaitu Vito.

    Perlita dan Vito sudah berpacaran cukup lama. Mereka berpacaran sedari Perlita duduk di bangku SMA, sedangkan Vito adalah teman Ariana.

   Ya, semua biaya pernikahan memang di keluarkan oleh Perlita, dan itu adalah uang yang dia tabung selama lima tahun. Sedangkan Vito tidak ikut mengeluarkan uang karena pria itu ingin menggunakan uangnya untuk membeli rumah. Tadinya Perlita tidak setuju memakai uangnya sendiri, tapi Vito memaksa, jadinya Perlita terpaksa memberikannya. Sebenarnya Vito berasal dari keluarga yang cukup mampu, tapi dia tidak mau di bantu oleh keluarganya.

   Vito tidak membalas perkataan Perlita,  pria itu terus memilih diam, lalu kemudian pergi begitu saja saat Perlita menunggu jawaban yang menguras emosinya.

   Tapi tanpa Vito sadari ponselnya justru tertinggal. Deringan telepon langsung mengangetkan Perlita yang tadinya melamun. Terpampang nama Ariana di layar ponselnya.

   Perlita pun membaca nama yang tertera di layar ponsel milik Vito. Ketika dia akan menjawab panggilan telepon itu, tiba-tiba Vito datang dan langsung merebut secara paksa ponsel itu.

  "Mau ngapain kamu dengan ponselku? Jangan macem-macem yah!! Kita juga belum menikah, jadi jangan seenaknya membuka ponsel orang lain," ucap Vito marah-marah.

   Vito yang ingin segera pergi dicekal oleh Perlita dengan cekalan yang cukup kencang.

   "Sebentar kak, kenapa kak Ariana menghubungimu? Apa kamu sering berkomunikasi dengan kak Ariana?" tanya Perlita dengan raut wajah yang terlihat sangat serius.

     Vito melepaskan tangannya dari cekalan Perlita, dia menatap Perlita dengan kemarahan yang berkobar.

   "Lancang kamu Perlita, kamu telah mengganggu privasiku padahal aku nggak suka itu," ujar Vito dengan tatapan tajam.

    "Kenapa kamu marah sih kak? Padahal aku juga belum menjawab panggilan telepon itu. Kamu ini aneh banget tahu nggak," teriak Perlita terlihat emosi. Bagaimana dia tidak emosi, semuanya dia urus sendiri, sedangkan Vito kerjaannya marah-marah terus.

     Teriakan Perlita membuat beberapa orang yang sedang menikmati makanannya melihat ke arah keduanya,  tiba-tiba Vito menyeret  Perlita dari restoran itu.

    Di lobby sebuah mall perbelanjaan mereka kembali berdebat dengan sama-sama emosi.

   "Ingat yah Perlita!! Bukankah sudah berkali-kali aku katakan, jangan terlalu ikut campur dengan apa yang aku lakukan, karena kita belum menikah dan aku juga nggak suka itu, kalau kamu terus cerewet seperti ini, maka aku bisa saja membatalkan pernikahan kita."

      Perlita menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang keluar dari mulut calon suaminya, dia tak menyangka bahwa pernikahan yang tinggal dua minggu lagi, tapi Vito tetap menganggap Perlita sebagai orang yang tidak berhak tau mengenai kehidupan pribadi calon suaminya, dan yang lebih menyedihkan adalah ancaman pembatalan pernikahan. Padahal semuanya sudah di depan mata dengan persiapan yang hampir 95%.

    Perlita akhirnya mengalah, dia pergi begitu saja dan pergi dengan sepeda motornya. Tapi di dalam pikirannya terus memikirkan kakaknya yang menghubungi calon suaminya.

       Sedangkan di sebuah apartement, Ariana dikejutkan dengan gedoran pintu yang begitu kencang. Ariana berlari dan membuka secara perlahan pintu apartemennya.

      Terlihat Vito dengan wajah datar sekaligus dingin. Ariana mempersilahkan Vito masuk dan mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu dengan berhadap-hadapan. Sebenarnya apartement ini adalah milik keluarga Vito, tapi Vito dan Ariana sering menggunakan apartement ini untuk berbuat mesum.

     Ariana yang sedikit senang akhirnya berbicara apa yang menjadi keresahan hati dan pikirannya akhir-akhir ini.

   "Sayang, aku belum datang bulan. Kalau aku hamil gimana? Apalagi kita sering melakukannya tanpa pengaman. Kamu mau bertanggung jawab kan kalau aku hamil?" tanya Ariana dengan santainya.

    Vito seketika menatap Ariana dengan tajam.

    "Kamu tadi menghubungiku karena ingin mengatakan ini?" tanya Vito dengan raut wajah serius.

      "Iya sayang. Tadi aku menghubungi karena ingin memberitahumu kalau aku belum datang bulan, tapi kamu malah nggak menjawab telepon dariku. Padahal aku takut banget. Aku takut hamil," jawab Ariana tanpa rasa bersalah.

       Seketika Vito berdiri, dia mendekati Ariana yang terlihat ketakutan.

       "Kenapa? Apa aku salah ngomong?"

       Vito kembali menjauh dan duduk bersila dengan santainya.

       "Sebaiknya gugurkan kandunganmu itu jika kamu memang hamil. Aku akan menikah dengan adikmu, jadi nggak mungkin aku bertanggung jawab dengan anak itu. Lagian kita juga sudah sepakat bahwa hubungan kita hanya kesenangan semata. Jadi kalau sampai hamil yah itu risiko kamu sendiri."

      Ariana yang mendengarnya langsung marah, dia tidak terima bahwa dia yang harus menanggung sendiri, padahal Vito juga turut menikmati hubungan mereka.

    "Nggak Vit, aku nggak mau menggugurkan anak ini. Lagian aku dari dulu sangat mencintaimu. Tapi kamu malah memilih Perlita. Anak ini akan hidup walaupun kamu akan menikah sekalipun, tapi satu hal yang harus kamu tahu, keluargaku dan juga adikku berhak tahu semua ini. Kita lihat akankah dia tetap akan menikah sama kamu atau membatalkan pernikahannya? Kamu juga nanti akan melihat reaksi keluarga kita kalau mereka tahu semua ini."

     "Jangan gila Riana! Aku mencintai Perlita. Apa kamu tidak kasihan pada adik kamu? Aku akan sangat marah kalau kamu sampai melakukan itu. Kalau kamu memang ingin anak itu maka baiklah kita akan besarkan secara bersama-sama, tapi aku nggak mau Perlita dan keluarga kita tahu bahwa kamu sedang hamil anakku. Karena aku nggak mau kehilangan Perlita."

    "Sadarlah Vit! Masalah seperti ini tidak bisa disembunyikan. Perutku ini semakin hari akan semakin membesar. Dan keluargaku pasti akan menanyakan ini suatu saat nanti. Cobalah belajar mencintaiku Vit! Aku sangat mencintaimu. Apa kamu tidak kasihan pada calon bayi yang ada di perutku ini? Dia tidak salah apa-apa. Lagian kamu selalu merasa puas dengan pelayananku kan? Memangnya kamu bisa tanpa aku?" kata Ariana yang berusaha merayu Vito.

     Vito dan Perlita memang sudah berpacaran cukup lama, tapi mereka belum pernah tidur bersama, karena Perlita selalu menolaknya. Perlita hanya mau melakukannya jika mereka sudah menikah, karena itulah Vito terpaksa melampiaskan nafsunya dengan Ariana. Dan dia sudah melakukannya bersama Ariana sekitar empat tahun lebih. Bahkan hampir setiap hari mereka bertemu hanya untuk melakukan itu.

Terpopuler

Comments

Novi Marlinda

Novi Marlinda

lebay

2026-06-09

1

_Nic

_Nic

Ingin ku terbangkan segera pada orang bernama Vito🔪🔪🔪

2025-12-30

1

lihat semua
Episodes
1 Marah-marah
2 Pernikahan
3 Pergi
4 Sepupu Vito
5 Tiket ke Bali
6 Taman
7 Kedatangan orang tua
8 Ke butik
9 Makan siang
10 Kantor Polisi
11 Menyesal
12 Laki-laki Kere
13 Kontrakan
14 Kosan dan kontrakan
15 Tidak mungkin
16 Makan Malam
17 Keponakan Mami
18 Cafe
19 Liburan
20 Teman masa SMA
21 Bali
22 Arisan
23 Rumah Sakit
24 Kontrakan
25 Kedatangan Silvi
26 Pantai
27 Pemandangan
28 Siapa wanita itu?
29 Cuma teman
30 Rumah Zahra dan Daniel
31 Kalian cocok
32 Lambat
33 Rahasia kamu
34 Apa tanggung jawabmu?
35 Aku masih mencintaimu
36 Pearl Fashion
37 Jorok
38 Meeting
39 Kosan Raya
40 foto
41 Klien Perlita
42 Jelek dan dekil
43 Lari sore
44 Makan bersama
45 Kedatangan Viona dan Yuri
46 Tidak tega
47 Sibuk
48 Kere
49 Rumah Klien
50 Jatuh Cinta
51 Tidak ingin dia pergi
52 Menantu kesayangan
53 Benar-benar bodoh
54 Nongkrong
55 Memikirkan Perlita
56 Mami Sophia
57 Mokondo
58 Cafe
59 Bertemu Ariana dan Vito
60 Ingin Honeymoon
61 Event
62 Butik
63 Ucapan Selamat
64 Tante mau jadi mertua Perlita
65 Gerak Cepat
66 Promo besar-besaran
67 Mencari Perlita
68 Paket
69 Menjelek-jelekkan
70 Semakin mesra
71 Dinner
72 Sarapan
73 Orang tua kandung Perlita.
74 Terlambat
75 Makan Malam
76 Kesal
77 Pernikahan Tasya dan Risky
78 Istri Pak Hendri
79 Ibu Perlita
80 Adik Perlita
81 Lamaran
82 Kabar Mengejutkan
83 Pernikahan
84 Bertemu
85 Diana dan Roby
86 Keadaan Diana dan Roby
87 Malam Pertama
88 Kesiangan.
89 Selingkuh
90 Makam Deniz Aydin
91 Jadi tulang punggung
92 Mual
93 Bayi Ariana
94 Kondisi Vito
95 Karma
96 Ami dan Perlita
97 Rujak
98 Jordan
99 Kedatangan Cici
100 Ke rumah Roby dan Diana
101 Cici
102 Pertanggung jawaban
103 Melihat Tasya
104 CICI
105 Tujuh bulanan
106 Hinaan
107 ROSSA VALERIO
108 Kos Rossa
109 Hari pertama Magang
110 CEO
111 Susah di dekati
112 Mall
113 Membeli Perlengkapan
114 Ariana
115 Hutang
116 Tes DNA
117 Penipu
118 Menyebalkan
119 Makan siang
120 Teman Cici
121 Papa tiri Cici
122 Dinner
123 Wulan
124 Elena dan Rossa
125 Arisan
126 Perasaan Reyhan
127 Rossa
128 Reyhan dan Rossa.
129 Pemeriksaan
130 Sepupu Arga
131 Jawaban Rossa
132 Anggi dan keluarga
133 Jatuh Cinta
134 Bunga
135 Makan malam
136 Rossa
137 Vito
138 Bertemu orang tua Rossa
139 Vito
140 Vino
141 Nongkrong
142 Kantor Reyhan.
143 Kamu dalangnya
144 Keadaannya
145 Meeting
146 Rumah sakit
147 Baby Darren
148 Melihat Baby Darren
149 Mirip Nathan
150 Pulang
151 Perempuan Muda
152 Aqiqah Baby Darren
153 Anindya
154 Sebaiknya Menikah
155 Indri
156 Amir
157 Diusir
158 Silvi
159 Vino
160 Acara Lamaran
161 Mendekati Anindya
162 Persiapan
163 Kedatangan Amir
164 Amara
165 Sah
166 Malu
167 Mama Risky
168 Menggoda
169 Roby
170 Kencan
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Marah-marah
2
Pernikahan
3
Pergi
4
Sepupu Vito
5
Tiket ke Bali
6
Taman
7
Kedatangan orang tua
8
Ke butik
9
Makan siang
10
Kantor Polisi
11
Menyesal
12
Laki-laki Kere
13
Kontrakan
14
Kosan dan kontrakan
15
Tidak mungkin
16
Makan Malam
17
Keponakan Mami
18
Cafe
19
Liburan
20
Teman masa SMA
21
Bali
22
Arisan
23
Rumah Sakit
24
Kontrakan
25
Kedatangan Silvi
26
Pantai
27
Pemandangan
28
Siapa wanita itu?
29
Cuma teman
30
Rumah Zahra dan Daniel
31
Kalian cocok
32
Lambat
33
Rahasia kamu
34
Apa tanggung jawabmu?
35
Aku masih mencintaimu
36
Pearl Fashion
37
Jorok
38
Meeting
39
Kosan Raya
40
foto
41
Klien Perlita
42
Jelek dan dekil
43
Lari sore
44
Makan bersama
45
Kedatangan Viona dan Yuri
46
Tidak tega
47
Sibuk
48
Kere
49
Rumah Klien
50
Jatuh Cinta
51
Tidak ingin dia pergi
52
Menantu kesayangan
53
Benar-benar bodoh
54
Nongkrong
55
Memikirkan Perlita
56
Mami Sophia
57
Mokondo
58
Cafe
59
Bertemu Ariana dan Vito
60
Ingin Honeymoon
61
Event
62
Butik
63
Ucapan Selamat
64
Tante mau jadi mertua Perlita
65
Gerak Cepat
66
Promo besar-besaran
67
Mencari Perlita
68
Paket
69
Menjelek-jelekkan
70
Semakin mesra
71
Dinner
72
Sarapan
73
Orang tua kandung Perlita.
74
Terlambat
75
Makan Malam
76
Kesal
77
Pernikahan Tasya dan Risky
78
Istri Pak Hendri
79
Ibu Perlita
80
Adik Perlita
81
Lamaran
82
Kabar Mengejutkan
83
Pernikahan
84
Bertemu
85
Diana dan Roby
86
Keadaan Diana dan Roby
87
Malam Pertama
88
Kesiangan.
89
Selingkuh
90
Makam Deniz Aydin
91
Jadi tulang punggung
92
Mual
93
Bayi Ariana
94
Kondisi Vito
95
Karma
96
Ami dan Perlita
97
Rujak
98
Jordan
99
Kedatangan Cici
100
Ke rumah Roby dan Diana
101
Cici
102
Pertanggung jawaban
103
Melihat Tasya
104
CICI
105
Tujuh bulanan
106
Hinaan
107
ROSSA VALERIO
108
Kos Rossa
109
Hari pertama Magang
110
CEO
111
Susah di dekati
112
Mall
113
Membeli Perlengkapan
114
Ariana
115
Hutang
116
Tes DNA
117
Penipu
118
Menyebalkan
119
Makan siang
120
Teman Cici
121
Papa tiri Cici
122
Dinner
123
Wulan
124
Elena dan Rossa
125
Arisan
126
Perasaan Reyhan
127
Rossa
128
Reyhan dan Rossa.
129
Pemeriksaan
130
Sepupu Arga
131
Jawaban Rossa
132
Anggi dan keluarga
133
Jatuh Cinta
134
Bunga
135
Makan malam
136
Rossa
137
Vito
138
Bertemu orang tua Rossa
139
Vito
140
Vino
141
Nongkrong
142
Kantor Reyhan.
143
Kamu dalangnya
144
Keadaannya
145
Meeting
146
Rumah sakit
147
Baby Darren
148
Melihat Baby Darren
149
Mirip Nathan
150
Pulang
151
Perempuan Muda
152
Aqiqah Baby Darren
153
Anindya
154
Sebaiknya Menikah
155
Indri
156
Amir
157
Diusir
158
Silvi
159
Vino
160
Acara Lamaran
161
Mendekati Anindya
162
Persiapan
163
Kedatangan Amir
164
Amara
165
Sah
166
Malu
167
Mama Risky
168
Menggoda
169
Roby
170
Kencan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!