Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Bab 1

Halo, semuanya pembaca setia Noveltoon/Mangatoon.

Terima kasih sudah meluangkan waktu buat buka bab pertama cerita ini. Semoga setiap babnya bisa buat kalian suka dan betah buat bacanya. Jangan lupa untuk terus mengikuti perjalanan para tokoh sampai akhir, ya. Jangan lupa juga kasih tanda ❤️ dan juga jadikan favoritmu supaya bisa terus mengikuti setiap update-annya. (Kalian bisa juga add IG aku. @andarashan_)

Terima kasih..

**

Hening. Hanya denting halus sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar di ruang makan mewah keluarga Adyatama di kawasan elit Surabaya Barat. Langit-langit tinggi, lampu kristal, dan aroma truffle oil yang baru saja disajikan menciptakan suasana formal, bahkan cenderung dingin.

Di ujung meja, Haris Adyatama, sang kepala keluarga, tampak tenang menikmati steak mahalnya. Di sampingnya, Reva Adyatama, sang istri, atau yang akrab dipanggil Mama Reva, tampak anggun dengan perhiasan berliannya.

Di sisi lain, ada dua putri yang sangat berbeda, Bianca Adyatama, mahasiswi cantik dengan gaun mini dari merek desainer ternama, sibuk memotret hidangannya untuk unggahan di media sosial. Auranya tampak ceria, tetapi sedikit angkuh.

Di seberangnya, Kirana Adyatama (27), yang oleh keluarganya hanya dikenal sebagai barista kafe, tampak paling santai. Rambut panjangnya ia cepol seadanya, dan ia mengenakan blus sederhana. Ia menikmati makan malamnya dengan tenang, seolah percakapan di meja ini tak ada hubungannya dengan dirinya.

Setelah menelan potongan terakhirnya, Ayah Haris meletakkan pisau dan garpu dengan bunyi tegas. Suara itu cukup untuk membungkam ponsel Bianca.

"Ada yang ingin Ayah sampaikan pada kalian semua," ujar Ayah Haris, suaranya berat dan berwibawa.

Mama Reva langsung mencondongkan tubuh dengan antusias. "Mengenai bisnis baru, Yah? Atau perluasan vila di Bali?"

Ayah Haris menggeleng kecil. "Ini lebih penting. Ini menyangkut masa depan. Ayah dan Pak Rivaldo telah sepakat untuk menjodohkan salah satu putri kita dengan putra tunggalnya, Raditya."

Mendengar kata "dijodohkan", Bianca spontan meletakkan garpu hingga menimbulkan bunyi klik keras. Wajahnya langsung cemberut.

"Dijodohkan? Siapa, Yah? Bianca atau Kirana?" tanya Mama Reva, nadanya terdengar seperti sedang menimbang barang dagangan.

Bianca langsung menyahut, nadanya penuh penolakan. "Aku menolak, Aku masih muda, Ma. Aku baru dua puluh! Aku masih mau clubbing, aku masih mau main-main. Aku enggak mau dijodohkan dengan cowok tua bangka yang pasti membosankan."

Ia melirik tajam ke arah Kirana di seberangnya. "Mending Mbak Kirana saja, Yah. Usianya sudah 27. Sudah cocok untuk cepat menikah. Biar Mbak Kirana saja yang mengambil jatah ini, ya, Mbak?" tanyanya, diselingi senyum meremehkan.

Kirana mendongak pelan. Matanya yang cokelat gelap menatap santai. Ia hanya mengambil sepotong udang lagi ke piringnya.

"Kalau Ayah bilang itu urusan kalian, aku ikut saja. Aku lebih suka menghabiskan malamku di Kafe daripada membahas pernikahan." Ia kembali fokus pada makanannya, seolah topik perjodohan ini sama membosankannya dengan menu makan malam setiap hari.

"Tuh, Yah! Mbak Kirana saja yang dijodohkan. Dia kan sukanya tempat sepi, biar dia cepat dapat suami," desak Bianca.

Ayah Haris menoleh ke Kirana, tetapi tatapannya langsung kembali ke Bianca dan Mama Reva.

"Mau Bianca atau Kirana, itu tidak masalah. Yang penting, salah satu dari putri keluarga ini. Ini adalah kesepakatan bisnis yang sangat menguntungkan. Kalian harus tahu, calon yang akan dijodohkan ini adalah Raditya Mahardika."

Mendengar nama belakang itu, senyum cemberut di wajah Bianca mendadak lenyap. Mata Bianca yang awalnya menyipit kesal kini langsung membulat sempurna. Ia menatap Ayahnya dengan tatapan tak percaya.

"Mahardika? Tunggu, Ayah serius? Maksud Ayah... Mahardika Group (MG)?" Suara Bianca tercekat, penuh gairah yang tiba-tiba membara.

Ayah Haris mengangguk tenang. "Tentu saja. Rivaldo Mahardika adalah sahabat Ayah sekaligus rekan bisnis terbesar kita di proyek Bali."

Seolah tombol reset telah ditekan, seluruh penolakan Bianca sebelumnya lenyap ditelan ambisi. Wajahnya berseri-seri, nyaris histeris.

"Aku mau! Aku mau, Yah! Aku yang akan dijodohkan!" teriak Bianca, mengabaikan etika di meja makan.

Mama Reva, yang awalnya setengah hati, kini mengerutkan kening. "Lho, Bian? Tadi kamu bilang tidak mau. Kamu kan masih muda, Sayang. Mama pikir yang lebih cocok itu Kirana. Dia kan sudah matang."

Bianca mendengus, menatap Mama Reva seolah ibunya baru saja datang dari zaman batu.

"Mama itu sama sekali enggak tahu! Mama enggak tahu siapa itu Mahardika! MG itu bukan sekadar properti dan vila! Mereka itu raja properti dan teknologi di Indonesia, Ma! Kalau aku bisa jadi nyonya muda Mahardika, aku enggak hanya hidup tenang, tapi aku bakalan hidup nyaman sampai tujuh turunan! Kemewahan yang kita punya sekarang ini enggak ada apa-apanya, Ma, dibandingkan dengan kekayaan mereka!" Ucapan Bianca begitu jujur, vulgar, dan penuh perhitungan, membuat Mama Reva terdiam. Sesaat, wajah Mama Reva tampak takjub.

"Benarkah itu, Yah? Mahardika sebegitu besarnya?" tanya Mama Reva, kini matanya memancarkan keserakahan yang sama dengan putrinya.

"Ya, jauh lebih besar dari yang bisa kalian bayangkan," jawab Ayah Haris, tersenyum bangga atas keberhasilan kesepakatan bisnisnya. "Jadi, bagaimana? Siapa yang akan kita jodohkan?"

Tanpa menunggu jawaban Ayah Haris, Bianca sudah membusungkan dada dan menyanggah.

"Aku, Yah! Bianca yang akan pergi. Aku yang paling cocok. Aku akan mengurusnya."

"Tentu, Sayang," ujar Mama Reva, kini sepenuhnya mendukung Bianca. "Bianca memang yang paling pantas."

Kirana, yang sedari tadi menjadi penonton bisu, akhirnya selesai makan. Ia meletakkan sendok dan garpu dengan rapi.

"Kalau begitu, aku permisi ke Kafe Teras Senja, Ayah. Aku ada janji dengan supplier biji kopi," ucap Kirana santai, bangkit dari kursi, tidak menunjukkan minat sedikit pun terhadap nama "Mahardika" yang baru saja membuat ibu tiri dan adik tirinya kalap.

"Tunggu, Kirana," potong Ayah Haris, membuat Kirana berhenti di ambang pintu. "Besok malam, kita diundang makan malam di kediaman Mahardika. Kau ikut juga."

Alis Kirana sedikit terangkat. "Aku? Bukannya Bianca yang akan dijodohkan?"

"Ini pertemuan keluarga informal, Kirana. Kau harus ikut untuk menunjukkan betapa solidnya keluarga kita. Dan, yah... berjaga-jaga saja," ujar Ayah Haris ambigu.

Bianca tampak sedikit kesal, tetapi ia menahan diri. "Ya, biar Mbak Kirana ikut saja, Ma. Biar dia tahu bagaimana rasanya masuk ke rumah yang sesungguhnya. Tapi, Mbak, besok jangan pakai baju barista, ya! Itu akan memalukan!"

Kirana hanya mengangguk kecil, senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang penuh rahasia.

"Tentu, Bianca. Sampai besok malam."

Ia melangkah pergi, meninggalkan ruang makan yang kini dipenuhi tawa dan bisikan rencana antara Bianca dan Mama Reva tentang gaun, tas, dan perhiasan apa yang akan mereka kenakan untuk memikat pewaris Mahardika.

Mereka tidak tahu, batin Kirana, saat ia berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilnya sendiri, bahwa ia bisa membeli seluruh isi rumah keluarga Mahardika jika ia mau.

**

Sementara itu, di sebuah penthouse mewah dengan pemandangan kota Surabaya yang berkilauan, Raditya Mahardika (33) baru saja menyelesaikan panggilan video bisnisnya. Ia mengenakan hoodie abu-abu dan celana training—pakaian yang sangat jauh dari citra CEO properti dan teknologi.

Di hadapannya, Ayahnya, Rivaldo Mahardika, duduk di kursi berlengan kulit.

"Jadi, kau sudah memutuskan, Radit?" tanya Papi Rivaldo, dengan nada serius.

Raditya menyandarkan punggung ke sofa, menghela napas panjang. "Aku akan melihat mereka besok, Pi. Tapi aku tidak akan langsung memutuskan pertunangan. Aku tidak suka dijodohkan. Apalagi dengan gadis muda yang masih suka main-main dan hanya mengincar hartaku."

"Namanya Bianca Adyatama. Dia memang baru dua puluh tahun," kata Papi Rivaldo. "Tapi bisnis kita membutuhkannya, Nak."

"Bisnis yang solid tidak dibangun di atas pernikahan yang rapuh, Pi. Aku ingin seorang istri yang sepadan, bukan boneka manja." Raditya mengambil ponselnya, jarinya mulai mengetik cepat.

"Aku ingin tahu siapa gadis ini. Aku ingin tahu sifat aslinya."

Papi Rivaldo menatap putranya dengan tatapan skeptis. "Bagaimana caranya? Kau akan menguntitnya?"

Raditya tersenyum miring—senyum misterius yang membuat Papi Rivaldo tahu putranya sudah menyusun rencana gila.

"Tidak, Pi. Aku akan mendatanginya. Tapi bukan sebagai Raditya Mahardika. Aku akan menjadi Rio."

Rivaldo mengerutkan dahi. "Rio? Siapa itu?"

"Rio nama yang akan aku gunakan untuk menyamar dalam keluarga mereka. Aku sudah membuat CV palsu, dengan latar belakang yang sempurna sebagai mantan pengemudi profesional yang butuh pekerjaan baru."

Papi Rivaldo tertawa keras, tak percaya. "Kau gila, Raditya! Seorang CEO properti menyamar jadi supir? Jika Haris tahu, ia akan marah besar!"

"Tepat. Karena itu, Papi harus merahasiakannya. Besok malam, aku akan bertemu mereka sebagai Raditya, mengamati Bianca dari jauh, dan malam setelahnya... Rio sudah mulai bekerja di rumah Adyatama."

Raditya menatap pemandangan kota di luar jendela. Wajahnya kini tampak tekun dan penuh antisipasi.

Papi Rivaldo menggeleng. "Kau mempertaruhkan nama baikmu, Raditya."

"Aku mempertaruhkan hidupku, Pi. Dan aku harus memastikan aku tidak memilih kuda yang salah."

***

Terpopuler

Comments

Lisa sari katriani

Lisa sari katriani

Karya yg bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir di karya pertamaku
Judul : janji yang kau ingkari

Terimakasih 🙏

2026-07-30

0

Wirly Pena

Wirly Pena

semangat berkarya thor 💪👍

jangan lupa mampir ya temen2..
judul : aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏

2026-08-19

0

LENY

LENY

BAGUS BENER KAMU RADIT JGN SAMPE SALAH PILIH WANITA MARUK HARTA MATRE SOMBONG BIANCA 😡

2026-04-27

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 GALA DINNER
69 Bab 67
70 Bab 68
71 Bab 69
72 Bab 70
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Bab 80
83 Bab 81
84 Bab 82
85 Bab 83
86 Bab 84
87 Bab 85
88 Bab 86
89 Bab 87
90 Bab 88
91 Bab 89
92 Bab 90
93 Bab 91
94 Bab 92
95 Bab 93
96 Bab 94
97 Bab 95
98 Bab 96
99 Bab 97
100 Bab 98
101 Bab 99
102 Bab 100
103 Bab 101
104 Bab 102
105 Pesta Pertunangan
106 Bab 103
107 Bab 104
108 Bab 105
109 Bab 106
110 Bab 107
111 Bab 108
112 Bab 109
113 Bab 110
114 Bab 111
115 Bab 112
116 Bab 113
117 Bab 114
118 Bab 115
119 Bab 116
120 Bab 117
121 Bab 118
122 Bab 119
123 Bab 120
124 Bab 121
125 Bab 122
126 Bab 123
127 Bab 124
128 Bab 125
129 Bab 126
130 Bab 127
131 Bab 128
132 PESTA PERNIKAHAN
133 Bab 129
134 Bab 130
135 Bab 131
136 Bab 132
137 Bab 133 - EPILOG
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
GALA DINNER
69
Bab 67
70
Bab 68
71
Bab 69
72
Bab 70
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Bab 80
83
Bab 81
84
Bab 82
85
Bab 83
86
Bab 84
87
Bab 85
88
Bab 86
89
Bab 87
90
Bab 88
91
Bab 89
92
Bab 90
93
Bab 91
94
Bab 92
95
Bab 93
96
Bab 94
97
Bab 95
98
Bab 96
99
Bab 97
100
Bab 98
101
Bab 99
102
Bab 100
103
Bab 101
104
Bab 102
105
Pesta Pertunangan
106
Bab 103
107
Bab 104
108
Bab 105
109
Bab 106
110
Bab 107
111
Bab 108
112
Bab 109
113
Bab 110
114
Bab 111
115
Bab 112
116
Bab 113
117
Bab 114
118
Bab 115
119
Bab 116
120
Bab 117
121
Bab 118
122
Bab 119
123
Bab 120
124
Bab 121
125
Bab 122
126
Bab 123
127
Bab 124
128
Bab 125
129
Bab 126
130
Bab 127
131
Bab 128
132
PESTA PERNIKAHAN
133
Bab 129
134
Bab 130
135
Bab 131
136
Bab 132
137
Bab 133 - EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!