Bab 4

Pukul tujuh malam. Kediaman Adyatama terasa tegang. Mama Reva mengenakan gaun sutra ungu yang mahal dan perhiasan berlian terbesar yang ia miliki. Sementara Ayah Haris tampak gagah dengan setelan jas hitam elegan.

Di ruang keluarga, Kirana duduk diam. Ia mengenakan gaun yang paling sederhana di antara mereka, tetapi tetap anggun: long dress berwarna deep emerald yang memeluk tubuhnya dengan elegan. Rambutnya diurai dan hanya dihiasi anting-anting mutiara kecil. Ia memilih pakaian yang tidak mencolok, mencoba menjadi invisible di acara yang bukan urusannya ini.

Tiba-tiba, Bianca muncul dari tangga.

Hening.

Bianca tampak seperti bintang film yang baru turun dari limusin. Wajahnya dipoles riasan smoky eyes yang dramatis, rambutnya ditata ikal sempurna, dan ia mengenakan gaun merah menyala yang sangat menonjol. Di bahunya, tas champagne yang baru dibeli tergantung, dan kakinya menjejak lantai dengan heels 12 cm.

"Bagaimana, Ma? Ayah?" tanya Bianca, berputar sekali di depan orang tuanya.

"Sempurna, Sayang! Kamu benar-benar akan menaklukkan Raditya malam ini!" seru Mama Reva bangga, matanya berbinar.

Ayah Haris mengangguk. "Kamu sangat cantik, Bian. Kirana, kamu juga harus lebih ceria. Jangan muram seperti itu."

Kirana tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Yah." Ia mendongak, menatap Bianca. "Gaun yang bagus, Bi. Itu warna yang berani."

"Tentu saja berani. Aku harus berani, Mbak. Ingat, aku sedang berburu!" balas Bianca, nadanya angkuh, lalu ia melirik gaun Kirana dengan pandangan meremehkan. "Mbak kenapa pakai warna hutan begitu? Jangan sampai keluarga Mahardika berpikir kita kekurangan uang sampai-sampai Mbak harus memakai gaun vintage seperti itu."

Mama Reva langsung menimpali. "Iya, Kirana. Kenapa kamu tidak memakai gaun baru saja? Gaunmu terlalu kusam. Tidak cocok untuk makan malam di rumah sebesar itu."

"Aku nyaman dengan ini, Ma. Dan aku tidak datang untuk pamer," jawab Kirana tenang, senyumnya tidak goyah. Ia tidak mau ambil pusing. Baginya, pakaian tidak menentukan nilai dirinya.

Ayah Haris menghentikan perdebatan itu. "Sudah! Kita harus berangkat. Pak Rustam sudah menyiapkan mobil untuk kita. Ayo!"

**

Mobil sedan mewah milik Haris Adyatama melaju mulus di jalanan elit Kota Surabaya. Di dalam mobil, suasana terasa kontras antara ketegangan formal dan kegembiraan yang meluap-luap.

Di kursi belakang, Bianca duduk tegap di antara Ayah Haris dan Mama Reva, gaun merah menyalanya menyita perhatian.

"Pak Rustam, tolong hati-hati ya, jangan sampai mobil ini kotor," ujar Bianca kepada Pak Rustam, supir lama keluarga Adyatama, yang duduk di belakang kemudi. Nadanya jelas meremehkan, seolah kotoran adalah penyakit menular yang dibawa oleh supirnya.

Pak Rustam hanya mengangguk sopan. "Siap, Nona Bianca."

Di kursi depan, di samping Pak Rustam, duduk Kirana. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menikmati pemandangan lampu-lampu malam yang berkilauan. Pakaiannya yang emerald kontras dengan euforia adiknya yang memantul di kaca.

"Aduh, Ma! Aku tidak sabar! Aku yakin rumah Mahardika itu pasti lebih mewah dari yang ada di majalah-majalah properti," celoteh Bianca riang. "Aku sudah membayangkan menjadi Nyonya muda di sana. Aku akan mengadakan pesta setiap minggu!"

Mama Reva tersenyum sambil menepuk punggung tangan Bianca dengan lembut. "Pelan-pelan, Sayang. Jangan terburu-buru. Ingat, kamu harus tampil penuh kesopanan dan keanggunan. Jangan sampai mempermalukan kita di depan keluarga Mahardika. Ini adalah acara penting untuk perjodohanmu dengan Raditya."

"Tentu, Ma. Aku akan menjaga diriku dengan baik. Aku tidak akan mungkin mengecewakan Mama dan Ayah. Aku akan memastikan Raditya jatuh cinta padaku malam ini juga," jawab Bianca, yakin seratus persen.

Ayah Haris tersenyum bangga. Ia sudah membayangkan merger bisnis yang akan segera terjadi.

Sementara itu, Kirana hanya tersenyum tipis di balik kegelapan mobil. Euforia Bianca terdengar seperti dengungan nyamuk di telinganya. Baginya, kemewahan itu hanya jerat, dan ia sudah muak dengan jaring-jaring sutra yang membungkus keluarganya.

"Mbak Kirana, kenapa diam saja? Apa kamu cemburu, Mbak?" sindir Bianca tiba-tiba. "Sudahlah, kamu tidak usah khawatir. Kalau aku sudah menikah dengan Mas Raditya, aku akan pastikan kamu tetap boleh bekerja di kafe itu. Aku bahkan akan mentraktirmu kopi setiap hari."

Kirana menoleh ke belakang, menatap adiknya dengan tatapan tenang. "Aku menikmati malamku, Bi. Dan aku tidak cemburu. Semoga rencanamu berhasil dan kamu bahagia."

Jawaban Kirana yang datar itu justru membuat Bianca kesal. Gadis itu selalu tenang, selalu membuat dirinya terlihat superior secara moral.

"Terserah," gumam Bianca, kembali fokus merapikan tata rambutnya.

**

Mobil keluarga Adytama memasuki kawasan paling eksklusif di kota Surabaya. Kompleks rumahnya terlihat lebih seperti resort mewah. Saat mobil Ayah Haris berhenti di sebuah gerbang tinggi yang dihiasi patung-patung seni modern, Bianca dan Mama Reva menahan napas kagum.

“Ma… ini beneran rumah orang?” bisiknya, suara meninggi karena terlalu takjub. “Kaya resort… no, no… lebih mewah dari resort!”

“Iya sayang, kamu benar. Mama terkejut.” Mama Reva mengangguk antusias.

Kirana tidak bereaksi sebesar adiknya. Ia duduk tenang di samping Pak Rustam, memandangi deretan rumah bergaya arsitektur modern tropis yang terlihat seperti karya seni hidup. Jalanan selebar lapangan bola, pepohonan rimbun, pagar batu bertekstur, dan lampu-lampu taman yang diarahkan khusus untuk menonjolkan setiap detail artistik di kawasan itu.

Mobil berhenti di depan sebuah gerbang setinggi enam meter, dihiasi patung abstrak hitam yang tampak seperti manusia dengan sayap patah. Gerbang itu otomatis terbuka, memperlihatkan halaman luas dengan jalan batu abu yang mengarah ke penthouse besar yang berdiri di tepi tebing buatan.

Bianca menahan napas sampai bahunya naik. “Ma! Lihat itu kolamnya! Oh my God, itu infinity pool kan?!”

Ayah Haris tersenyum sambil menggeleng. “Ya Tuhan, Bianca… kamu belum masuk sudah heboh.”

Saat mobil berhenti, dua sosok elegan sudah berdiri di pintu depan. Rivaldo Mahardika dan Dela Mahardika. Sosok pria setengah baya berwibawa yang tidak perlu bicara untuk terlihat berkelas, dan wanita anggun dengan postur sempurna, rambut terangkat rapi, wajah tanpa cela.

Aura mereka… berbeda. Aura orang yang lahir untuk memimpin. Keduanya pasangan yang elegan, berwibawa, dan sangat karismatik.

Papi Rivaldo tersenyum ramah sambil membuka tangan. “Selamat datang. Ayo, silakan masuk.”

Bianca hampir lupa cara berjalan. Ia buru-buru merapikan gaun merah wine yang dipakainya.

“Mama… aku gimana? Rambutku oke? Make-up ku masih on?”

Mama Reva memberi anggukan kecil. “Sempurna.”

Begitu mereka masuk, ruang tamu itu seperti pameran arsitektur. Dinding kaca dari lantai hingga langit-langit menampilkan panorama Surabaya malam hari. Angin sejuk dari balkon masuk melalui celah tirai tipis. Kolam infinity memantulkan cahaya lampu kota, seolah langit kedua berada di bawah mereka.

Kirana terpaku. Ada rasa canggung merayap di kulitnya. Bukan karena tidak terbiasa pada kemewahan. Tapi karena ia merasa sedang memasuki markas keluarga yang terlalu besar untuk kehidupannya.

“Kalian tidak terjebak macet, kan?” tanya Papi Rivaldo sambil merangkul pundak Ayah Haris, mengarahkannya menuju ruang makan.

“Tidak sama sekali, Pak Rivaldo. Jalannya lancar,” jawab Ayah Haris sopan.

Ruang makan membuat napas Kirana membeku. Meja makan marmer hitam sepanjang hampir empat meter, lilin tinggi, porselen putih berlis emas, dan gelas kristal yang memantulkan cahaya lembut. Aroma rosemary, daging panggang, dan wine memenuhi udara.

Bianca langsung memilih kursi di samping Mami Dela, memamerkan gaun merahnya sambil tersenyum manis. Kirana duduk di antara ayah dan mama tirinya, berusaha setenang mungkin.

Saat semua siap, Mama Reva memecah keheningan. “Bu Dela, kalau boleh tahu, Raditya tidak ikut bergabung?”

Mami Dela menunjukkan senyum halus, sedikit meminta maaf. “Maaf sekali… Raditya mendadak melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Seharusnya dia ada di sini, tapi… kalian tahu bagaimana pekerjaannya.”

Bianca membelalakkan mata. “Ke… luar negeri? Malam ini juga?” Nadanya tampak kecewa, tapi lebih ke arah impian-impian glamornya yang buyar.

“Kalau aku jadi keluarga mereka… aku pasti sering ikut dia ke luar negeri…” batinnya berbisik.

Ayah Haris melanjutkan perkenalan. “Ini kedua putri saya, Kirana… dan Bianca.”

Kirana memberi salam yang sopan. “Senang bertemu dengan Pak Rivaldo dan Bu Dela.”

Bianca melengkungkan bibir, memberikan senyum elegan. “Senang bertemu juga. Tempatnya luar biasa indah.”

Papi Rivaldo menoleh ke Bianca. “Jadi… Bianca sekarang sedang apa?”

“Masih kuliah, Pak. Jurusan desain interior di universitas swasta,” jawabnya dengan nada bangga.

“Oh, bagus sekali,” puji Mami Dela. “Desain interior itu penting. Suatu hari bisa membantu mengembangkan bisnis ayahmu.”

Bianca tersipu-sipu. “Iya, Bu. Terima kasih banyak.”

Papi Rivaldo kemudian menatap Kirana. “Lalu kamu, Kirana?”

“Sekarang saya bekerja di kafe, Pak. Sebagai barista.”

“Barista?” Mami Dela tampak penasaran. “Apa Kirana juga kuliah?”

Kirana tersenyum. “Sudah lulus, Bu.”

“Berapa usiamu?” tanya Papi Rivaldo.

“Dua puluh tujuh.”

Papi Rivaldo mengangguk pelan. Matanya sempat memperhatikan cara Kirana berbicara—sederhana, tenang, tidak dibuat-buat.

“Dewasa.” ujarnya singkat namun bermakna.

Bianca melirik Kirana cepat. Ada rasa tak nyaman menyusup dalam tatapannya. Seolah ia tidak suka lawan “pertandingan tak terlihatnya” dipuji halus meskipun sedikit.

Para orang tua melanjutkan obrolan tentang bisnis, peluang kerja sama, hingga masa depan kedua keluarga itu.

Namun… tanpa mereka sadari, seseorang mendengarkan dari balik pilar marmer besar di dekat meja makan.

Sosok pria tinggi dengan kaos hitam polos, celana kargo gelap, dan rambutnya sedikit berantakan seperti baru keluar dari ruang gym. Sorot matanya tajam, seolah bisa membaca orang hanya dengan melihat.

Dia adalah Raditya Mahardika atau… Rio, nama samarannya.

Ia baru saja pulang dari melatih supir-supir perusahaan Mahardika Group—pekerjaan yang ia lakukan sebagai penyamaran untuk memahami perilaku karyawannya. Dan saat membuka pintu belakang penthouse, ia mendengar suara-suara asing.

Awalnya ia ingin menyelinap ke kamar, tapi dengan santai dan waspada, ia memposisikan diri di tempat yang tidak terlihat, tapi cukup dekat untuk mendengar semuanya.

Matanya kemudian tertumbuk pada dua sosok perempuan di meja makan itu.

Pertama: Bianca. Gaun merah, make-up tajam, gesture penuh percaya diri, senyum manis yang… terlihat penuh perhitungan. Seperti seseorang yang tahu bagaimana memikat targetnya.

Kedua: Kirana. Long dress berwarna deep emerald, rambutnya diurai dan hanya dihiasi anting-anting mutiara kecil, raut wajah lembut dan kalem. Tidak terlalu menonjol, tapi justru itu yang membuatnya sulit tidak dilihat.

Satu penuh glamor dan satu penuh ketenangan. Raditya mengevaluasi mereka seperti orang yang membaca buku terbuka.

Dari balik pilar itu, Raditya mencuri detik demi detik untuk menganalisis keluarga yang diagendakan untuk dijodohkan dengannya. Tapi ia tersenyum tipis. Sebuah senyum yang hanya muncul saat ia sedang bermain-main dalam pikirannya.

“Jadi… ini calon ‘keluargaku’, ya?”

***

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

OH KIRANA TERNYATA ANAK TIRI YA PANTES PERLAKUAN NYA BEDA. BUANCA DAN MAMA NYA MATRE DAN SOMBONG 😡

2026-04-27

0

sukensri hardiati

sukensri hardiati

setahuku penthause tu apartemen supermewah...biasanya di bagian gedung yg paling tinggi...

2026-05-29

0

Marina Tarigan

Marina Tarigan

rupanya Kirana anak tiri Reva ya semoga papa kandung gak jadi papa tiri lebel atas

2026-05-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 GALA DINNER
69 Bab 67
70 Bab 68
71 Bab 69
72 Bab 70
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Bab 80
83 Bab 81
84 Bab 82
85 Bab 83
86 Bab 84
87 Bab 85
88 Bab 86
89 Bab 87
90 Bab 88
91 Bab 89
92 Bab 90
93 Bab 91
94 Bab 92
95 Bab 93
96 Bab 94
97 Bab 95
98 Bab 96
99 Bab 97
100 Bab 98
101 Bab 99
102 Bab 100
103 Bab 101
104 Bab 102
105 Pesta Pertunangan
106 Bab 103
107 Bab 104
108 Bab 105
109 Bab 106
110 Bab 107
111 Bab 108
112 Bab 109
113 Bab 110
114 Bab 111
115 Bab 112
116 Bab 113
117 Bab 114
118 Bab 115
119 Bab 116
120 Bab 117
121 Bab 118
122 Bab 119
123 Bab 120
124 Bab 121
125 Bab 122
126 Bab 123
127 Bab 124
128 Bab 125
129 Bab 126
130 Bab 127
131 Bab 128
132 PESTA PERNIKAHAN
133 Bab 129
134 Bab 130
135 Bab 131
136 Bab 132
137 Bab 133 - EPILOG
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
GALA DINNER
69
Bab 67
70
Bab 68
71
Bab 69
72
Bab 70
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Bab 80
83
Bab 81
84
Bab 82
85
Bab 83
86
Bab 84
87
Bab 85
88
Bab 86
89
Bab 87
90
Bab 88
91
Bab 89
92
Bab 90
93
Bab 91
94
Bab 92
95
Bab 93
96
Bab 94
97
Bab 95
98
Bab 96
99
Bab 97
100
Bab 98
101
Bab 99
102
Bab 100
103
Bab 101
104
Bab 102
105
Pesta Pertunangan
106
Bab 103
107
Bab 104
108
Bab 105
109
Bab 106
110
Bab 107
111
Bab 108
112
Bab 109
113
Bab 110
114
Bab 111
115
Bab 112
116
Bab 113
117
Bab 114
118
Bab 115
119
Bab 116
120
Bab 117
121
Bab 118
122
Bab 119
123
Bab 120
124
Bab 121
125
Bab 122
126
Bab 123
127
Bab 124
128
Bab 125
129
Bab 126
130
Bab 127
131
Bab 128
132
PESTA PERNIKAHAN
133
Bab 129
134
Bab 130
135
Bab 131
136
Bab 132
137
Bab 133 - EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!