Bab 2

Pagi di kediaman Adyatama dimulai dengan kontras yang mencolok. Di lantai atas, sinar matahari memantul dari lampu kristal di kamar Bianca Adyatama, yang bahkan dalam tidurnya tampak seperti sampul majalah. Kamar seluas apartemen studio itu didominasi warna peach dan putih gading, hasil desainnya sendiri yang mahal dan glamor. Di sana, Bianca tidur tanpa beban, dikelilingi barang-barang branded yang ia dapat dengan mudah.

Sebaliknya, di kamar sederhana di lantai bawah, Kirana Adyatama (27) sudah sepenuhnya terjaga. Kamarnya jauh lebih kecil dan bernuansa kayu gelap, tempat tidur tunggal yang nyaman, dan rak buku penuh jurnal ilmiah. Kamar ini adalah bentengnya; tempat ia bisa bernapas bebas dari penilaian keluarga.

Kirana sudah selesai bersiap. Ia mengenakan celana jeans biru tua yang pas di tubuh, dipadukan dengan kemeja katun putih lengan tiga perempat. Rambut panjangnya yang berombak diikat menjadi ponytail yang rapi. Tidak ada riasan mahal, hanya lip balm sederhana. Penampilannya memancarkan energi praktis dan kecerdasan, jauh dari citra sosialita.

Ia keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur, menghindari ruang makan formal yang terasa dingin. Dapur adalah zona terhangat di rumah itu, terutama karena ada Bi Tuti, juru masak setia yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga Adyatama.

"Pagi, Bi!" sapa Kirana dengan senyum ramah dan tulus, suaranya lembut dan renyah seperti biji kopi yang baru digiling.

Bi Tuti yang sedang menyiapkan sarapan, balas tersenyum hangat. Senyum itu tidak pernah gagal ia berikan untuk Kirana, gadis yang ia anggap seperti anak sendiri. Di mata Bi Tuti, Kirana adalah satu-satunya Adyatama yang memperlakukannya dengan manusiawi.

"Pagi, Non Kirana. Sudah Bi Tuti siapkan bekal makan siang Non. Nasi goreng teri kesukaan Non. Biar kuat mengurus kafe," ujar Bi Tuti sambil menyerahkan kotak bekal stainless steel yang dibungkus kain kecil.

"Ya ampun, Bi. Tidak perlu repot-repot, aku kan bisa masak sendiri di kafe. Tapi terima kasih banyak, Bi. Masakan Bi Tuti yang paling enak," balas Kirana tulus, matanya mengerling penuh terima kasih.

"Tidak repot, Non. Lagipula, siapa lagi yang mau Bi Tuti masakkan?" gumam Bi Tuti pelan, pandangannya melirik ke arah tangga mewah—isyarat halus tentang Bianca dan Mama Reva yang tidak pernah menghargai masakannya.

Kirana mengerti. Ia menepuk lembut lengan Bi Tuti. "Aku berangkat, ya, Bi. Hati-hati di rumah."

Ia pun bergegas keluar, melewati ruang tamu yang sepi. Di garasi, ia menghidupkan mesin mobil tuanya yang setia, sebuah Honda Jazz lama yang sudah menemaninya sejak awal kuliah. Mobil itu, meskipun sudah dimakan usia, selalu terawat bersih. Inilah aset pribadinya yang tidak pernah dicampuri oleh uang keluarganya.

Kirana mengemudi keluar dari gerbang rumah megah itu, menuju hiruk pikuk jalanan Surabaya, siap berganti peran dari putri yang diremehkan menjadi seorang barista yang dikagumi di Kafe Teras Senja.

Tak lama setelah Kirana pergi, Ayah Haris dan Mama Reva turun dari lantai dua. Keduanya tampak rapi, siap menghadapi hari, tetapi dengan aura kemalasan khas orang kaya yang tidak perlu bekerja keras.

Mereka duduk di meja makan yang kini dihiasi hidangan lengkap: scrambled egg, sosis, dan aneka roti.

"Bi Tuti, apa Kirana sudah berangkat?" tanya Ayah Haris pada Bi Tuti yang baru saja selesai menuangkan teh ke cangkir porselen Mama Reva.

"Sudah, Tuan Haris. Baru saja lima menit yang lalu."

Mama Reva mendengus. "Gadis itu. Tidak pernah berubah. Sudah bertahun-tahun hidup di rumah ini, pergi tapi tidak pernah pamit. Sama sekali tidak punya sopan santun. Kalau diajak makan malam pun, lebih sibuk dengan piringnya sendiri."

Ayah Haris menghela napas, nadanya terdengar sedikit lelah. "Sudahlah, Ma. Tidak usah dipermasalahkan. Kita sudah hidup bersama bertahun-tahun. Sekarang lebih baik kita sarapan saja. Dan di mana Bianca?"

"Masih tidur, Yah. Semalam dia sibuk merencanakan gaun apa yang akan dia pakai untuk pertemuan dengan Keluarga Mahardika nanti malam. Biar dia istirahat saja," jawab Mama Reva sambil mengoleskan selai pada rotinya.

Ayah Haris meletakkan pisau dengan sedikit frustrasi. "Reva, ini bukan waktunya memanjakan. Kita diundang makan malam keluarga Raditya Mahardika. Kita harus terlihat sempurna dan tepat waktu. Bianca harus dibangunkan dan mulai bersiap dari sekarang."

"Bi Tuti," panggil Ayah Haris tegas, "Tolong bangunkan Non Bianca. Bilang padanya, Ayah yang suruh."

Bi Tuti mengangguk patuh. "Baik, Tuan Haris."

Bi Tuti pun melangkah cepat menuju tangga, hatinya merasa miris. Non Kirana yang selalu mandiri pergi sendiri tanpa sarapan, sedangkan Non Bianca yang sudah dewasa masih harus dibangunkan.

Saat Bi Tuti tiba di lantai dua, Bianca ternyata sudah bangun. Dia sedang duduk di depan meja riasnya, berkonsultasi dengan ponselnya, membandingkan koleksi tas branded-nya.

"Non Bianca?"

"Oh, Bi Tuti. Ada apa? Ayah atau Mama sudah bangun?" tanya Bianca tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar.

"Iya, Non. Tuan Haris minta Non segera turun sarapan dan mulai bersiap untuk acara nanti malam di kediaman Mahardika."

"Ah, iya. Bilang pada mereka aku sebentar lagi. Aku harus memastikan wajahku sempurna untuk pewaris MG," jawab Bianca dengan nada self-centered yang khas, kembali fokus memilih anting.

Bi Tuti hanya bisa menghela napas dalam hati, lalu kembali turun untuk menyampaikan pesan itu.

**

Setelah Bi Tuti memberitahu bahwa Bianca sudah bangun, tidak butuh waktu lama bagi Bianca untuk bergabung dengan keluarganya. Namun, penampilannya bukan untuk sarapan santai. Ia mengenakan dress sutra ringan bermerek yang ia klaim sebagai "pakaian rumahan", rambutnya sudah ditata gelombang longgar, dan wajahnya dihiasi riasan nude sempurna. Ia sudah bersiap untuk acara besar malam ini.

Ia berjalan ke meja makan, lalu duduk dengan anggun—sebuah upaya keras untuk terlihat matang dan berkelas di hadapan calon mertuanya.

"Pagi, Ayah, Mama," sapanya, nadanya lebih manja dari biasanya.

"Pagi, Sayang. Ayo, sarapan," jawab Mama Reva lembut, langsung mengisi piring Bianca dengan hidangan terbaik.

Bianca mulai menyantap sarapannya, tetapi tak lama kemudian, ia meletakkan garpu dengan suara klak yang terkesan dibuat-buat.

"Ayah, Mama, aku jadi ingat sesuatu," rengeknya, memasang wajah cemberut.

"Apa, Sayang? Soal gaun untuk nanti malam?" tanya Mama Reva.

"Bukan! Soal supir! Ayah, kapan supir baru itu datang? Aku sudah sangat lelah harus menyetir Mercedes-Benz S-Class sendiri. Capek tahu! Aku harus menjaga kuku dan kulitku. Aku butuh supir hari ini juga!" tuntut Bianca, menekan setiap kata.

Ayah Haris meletakkan korannya, tampak sedikit terganggu dengan nada rengekan putrinya.

"Astaga, Bian. Kita baru membicarakannya semalam. Ayah sudah menghubungi agency sewa supir profesional. Mereka sudah mengirimkan beberapa CV. Ayah akan meminta mereka datang hari ini, kamu bisa memilih sendiri."

"Memilih? Tidak bisakah Ayah saja yang pilih? Pokoknya aku mau yang tidak bau rokok, tidak berisik, dan tahu diri! Yang jelas, aku tidak mau supir tua. Pasti mereka banyak pikun, jalannya lambat, dan suka mengeluh!" sembur Bianca. Ia melirik tajam ke arah Bi Tuti yang berdiri di sudut ruangan, seolah ucapan itu ditujukan juga untuknya.

Mama Reva tertawa kecil. "Memang, yang muda itu lebih enak dipandang, Sayang."

"Tentu saja! Ayah, pastikan mereka muda dan gagah. Agar tidak memalukan jika menjemputku di kampus," desak Bianca lagi.

Ayah Haris mengangguk lelah. "Baiklah, baiklah. Setelah ini, temui Ayah di ruang kerja. Ayah sudah menyiapkan beberapa berkas kandidat. Kamu yang akan menyaringnya."

Ekspresi Bianca langsung berubah puas. "Baik, Ayah. Aku akan pastikan aku mendapatkan supir terbaik hari ini juga."

Setelah sarapan usai, Bianca mengikuti Ayah Haris menuju ruang kerja pribadinya yang luas di lantai satu. Ruangan itu dipenuhi rak buku tebal dan dihiasi plakat-plakat penghargaan bisnis.

"Ini tiga kandidat terbaik dari agensi, Bian. Semuanya berpengalaman. Kamu baca baik-baik, jangan hanya lihat foto," ujar Ayah Haris sambil menyodorkan tiga map CV.

Bianca duduk di kursi kulit mahal di hadapan ayahnya, langsung mengambil berkas-berkas itu dengan jemari yang terawat sempurna.

Bianca melihat foto kandidat pertama, wajahnya sudah berumur, dan di bagian Riwayat Pekerjaan tertulis pengalaman 20 tahun.

"Ugh, tua. Budi Santoso lima puluh lima tahun? Tidak, terima kasih. Pasti jalannya pelambat, dan sebentar-sebentar minta izin untuk buang air. Langsung singkirkan!" Bianca melempar berkas itu ke sudut meja dengan jijik.

"Empat puluh delapan tahun. Lumayan, tapi tetap tua. Wajahnya juga tidak bersahabat. Aku butuh seseorang yang ceria. Dia terlihat seperti supir yang suka mengomentari outfit-ku. Next!" Berkas kedua bernasib sama.

Bianca mengambil berkas ketiga. Mata hitamnya langsung terpaku pada foto pria di sana. Foto itu menunjukkan pria dengan tatapan yang tenang, sedikit misterius, dan postur yang jelas atletis. Meskipun memakai kacamata baca dan pakaian sederhana, auranya sangat berbeda dari supir pada umumnya.

"Hmm... Rio. Tiga puluh tiga tahun. Usia yang pas. Tidak terlalu tua, tapi juga tidak terlalu muda dan bodoh," gumam Bianca. Ia membaca sekilas riwayat pekerjaan: Pengemudi profesional dengan sertifikasi keamanan tingkat tinggi.

"Dia terlihat... lumayan. Tidak memalukan untuk dibawa keluar," Bianca tersenyum miring. Ia mengabaikan bahwa riwayat pekerjaannya terasa terlalu canggih untuk sekadar mengantar mahasiswi. Yang penting, Rio muda, gagah, dan rapi.

"Aku pilih yang ini, Yah. Rio. Hubungi dia. Aku mau dia datang nanti sore untuk wawancara dan langsung mulai kerja besok," putus Bianca, menggeser berkas Rio ke tengah meja.

Ayah Haris mengambil berkas itu dan memeriksanya lagi. "Rio? Baiklah. Pilihanmu bagus. Dia memiliki rekam jejak yang bersih dan direkomendasikan. Ayah akan segera menghubungi agensi dan meminta dia datang sore ini."

"Sip. Aku harus melatih diriku untuk bersikap dingin dan berwibawa di depannya. Aku harus memastikan dia tahu posisinya sebagai bawahanku," kata Bianca dengan nada kemenangan.

Setelah urusan pemilihan supir selesai, Bianca berdiri. "Kalau begitu, aku permisi, Ayah. Aku ada janji dengan make up artist terbaik di Surabaya. Wajahku harus maksimal untuk pewaris Mahardika nanti malam."

"Tentu, Sayang. Berhati-hatilah."

Bianca pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah ringan, dipenuhi ambisi untuk memenangkan hati Raditya Mahardika dan kegembiraan karena akan mendapatkan supir pribadi yang "lumayan".

**

Di sisi lain kota, di sebuah kafe sederhana—bukan Kafe Teras Senja, melainkan kafe lain yang ramai—Raditya sedang menerima panggilan telepon dari ponsel murahnya.

"Ya, Pak Rudi. Saya Rio," jawab Raditya dengan suara husky yang ia latih untuk peran Rio.

"Selamat, Rio. Anda diterima. Nona Bianca Adyatama secara pribadi memilih CV Anda. Anda diminta datang sore ini pukul empat untuk wawancara formal dan pengarahan singkat. Anda akan mulai bekerja besok pagi."

"Terima kasih, Pak Rudi. Saya akan datang tepat waktu." Raditya tersenyum miring. Ia mematikan panggilan dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Misi tahap pertama sukses.

***

Terpopuler

Comments

Lili Riani

Lili Riani

kasihan Kirana anak tirinya, tapi memang bapaknya gedon banget mau ibuknya Bianca, kok rata" ibuk tiri ma anak tiri rakus dn serakah

2026-04-27

0

Yasinta Niken

Yasinta Niken

semangat ya Kirana anak baik pasti juga dapat yang baik sukses Kirana dengan kelembutan hatimu

2026-08-03

0

Markinyo

Markinyo

jgn d buat ukur 33 lah thor, d buat umur 27 atau sekitaran segitu

2026-04-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 GALA DINNER
69 Bab 67
70 Bab 68
71 Bab 69
72 Bab 70
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Bab 80
83 Bab 81
84 Bab 82
85 Bab 83
86 Bab 84
87 Bab 85
88 Bab 86
89 Bab 87
90 Bab 88
91 Bab 89
92 Bab 90
93 Bab 91
94 Bab 92
95 Bab 93
96 Bab 94
97 Bab 95
98 Bab 96
99 Bab 97
100 Bab 98
101 Bab 99
102 Bab 100
103 Bab 101
104 Bab 102
105 Pesta Pertunangan
106 Bab 103
107 Bab 104
108 Bab 105
109 Bab 106
110 Bab 107
111 Bab 108
112 Bab 109
113 Bab 110
114 Bab 111
115 Bab 112
116 Bab 113
117 Bab 114
118 Bab 115
119 Bab 116
120 Bab 117
121 Bab 118
122 Bab 119
123 Bab 120
124 Bab 121
125 Bab 122
126 Bab 123
127 Bab 124
128 Bab 125
129 Bab 126
130 Bab 127
131 Bab 128
132 PESTA PERNIKAHAN
133 Bab 129
134 Bab 130
135 Bab 131
136 Bab 132
137 Bab 133 - EPILOG
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
GALA DINNER
69
Bab 67
70
Bab 68
71
Bab 69
72
Bab 70
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Bab 80
83
Bab 81
84
Bab 82
85
Bab 83
86
Bab 84
87
Bab 85
88
Bab 86
89
Bab 87
90
Bab 88
91
Bab 89
92
Bab 90
93
Bab 91
94
Bab 92
95
Bab 93
96
Bab 94
97
Bab 95
98
Bab 96
99
Bab 97
100
Bab 98
101
Bab 99
102
Bab 100
103
Bab 101
104
Bab 102
105
Pesta Pertunangan
106
Bab 103
107
Bab 104
108
Bab 105
109
Bab 106
110
Bab 107
111
Bab 108
112
Bab 109
113
Bab 110
114
Bab 111
115
Bab 112
116
Bab 113
117
Bab 114
118
Bab 115
119
Bab 116
120
Bab 117
121
Bab 118
122
Bab 119
123
Bab 120
124
Bab 121
125
Bab 122
126
Bab 123
127
Bab 124
128
Bab 125
129
Bab 126
130
Bab 127
131
Bab 128
132
PESTA PERNIKAHAN
133
Bab 129
134
Bab 130
135
Bab 131
136
Bab 132
137
Bab 133 - EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!