Bab 5

Malam di Surabaya terasa lebih sunyi dari biasanya ketika lampu-lampu kota mulai meredup, menyisakan sorotan kuning dari gedung-gedung tinggi. Penthouse Mahardika—yang tadi ramai oleh suara gelas kristal dan tawa sopan—kini hanya menyisakan keheningan mahal yang menggantung di udara.

Begitu pintu utama menutup setelah keluarga Adytama pulang, suasana rumah kembali jatuh pada ritme aslinya: tenang, luas, dan sedikit terlalu sepi bagi seseorang yang tinggal sendirian di lantai atas.

Raditya muncul dari arah lorong, melepaskan jaket hitamnya sembari menghela napas panjang. Kaos gelap yang melekat di tubuh atletisnya tampak kontras dengan interior rumah yang serba putih. Ia baru saja kembali dari lantai bawah—tempat ia bersembunyi saat makan malam berlangsung.

Mami Dela yang duduk anggun di sofa velvet biru laut langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki putranya.

“Kamu akhirnya keluar juga,” ucapnya lembut, menepuk sofa di sampingnya. “Sini, duduk dulu.”

Papi Rivaldo yang sedang membaca berkas perjanjian kerja sama meletakkan kacamatanya.

“Papi pikir kamu nggak akan muncul malam ini.”

Raditya tersenyum tipis dan duduk di hadapan mereka. “Mereka sudah pulang, kan?”

“Baru saja,” jawab Mami Dela. “Sekarang ceritakan. Kamu lihat sendiri bagaimana anak-anak keluarga Adytama itu. Bagaimana pendapatmu tentang Bianca? Calonmu itu.”

Raditya tidak langsung menjawab. Ia meneguk kopi hitam yang tersisa di meja lalu baru bicara.

“Bianca… cantik,” katanya jujur. “Modis. Elegan. Dan, yah… seperti perempuan seusianya yang masih dua puluh tahun.”

“Ada ketertarikan?” tanya Mami Dela, tajam namun penuh harap.

Raditya pelan menggeleng. “Aku belum bisa memutuskan apa pun, Mi. Aku cuma lihat tampilan luarnya, belum lihat tampilan dalamnya. Belum tahu siapa dia sebenarnya.”

Papi Rivaldo mengangguk lambat, memahami lebih dalam daripada sang istri. “Papi mengerti. Cantik itu bonus, bukan inti.”

Raditya mencondongkan tubuhnya sedikit. Ada ketegasan di matanya. “Dan bukan bermaksud merendahkan siapa pun, tapi kalau dipikir pakai logika, siapa sih yang nggak mau masuk ke dalam kehidupan keluarga Mahardika? Semua orang pasti akan memberikan kesan terbaiknya saat pertama kali bertemu kita. Semua orang pasti menunjukkan sisi paling bagusnya.”

Mami Dela tertawa kecil, suara yang elegan namun penuh makna. “Kamu ini. Tapi Mami setuju. Jangan terburu-buru memutuskan. Lihat dulu apakah dia benar-benar cocok. Dan kalau memang tidak ada yang cocok, itu tidak apa-apa. Kerja sama antara keluarga tetap berjalan.”

“Setuju.” Raditya mengangguk pelan.

Untuk beberapa detik mereka hanya diam. Ada sesuatu di udara—bukan canggung, tapi lebih seperti… sesuatu yang tertunda.

Lalu Papi Rivaldo bersandar dan menatap putranya lebih lekat. “Tadi saat makan malam,” ucapnya sambil menunjuk meja seolah adegannya masih terbayang jelas, “daripada Bianca yang ditawarkan untuk dijodohkan, kenapa justru Papi merasa lebih cocok dengan Kirana? Putri sulung Pak Haris itu.”

Mami Dela menoleh cepat. “Kirana?”

“Ya,” jawab Papi. “Penampilannya memang sederhana. Tapi ada sesuatu yang menarik. Entah apa… Papi pun tidak yakin. Senyumnya, mungkin. Atau cara dia bicara. Seperti ada ketenangan.”

Raditya tertawa kecil, seperti baru mendengar seseorang mengucapkan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan diam-diam.

“Aku setuju,” katanya jujur. “Justru Kirana itu yang bikin aku penasaran. Sederhana, tapi… ada ‘sesuatu’ yang bikin pengen tahu lebih banyak.”

“Sesuatu apa?” Mami Dela langsung bertanya.

Raditya bersandar, menatap langit-langit seolah kata-kata susah ditangkap. “Aura. Atau mungkin cara dia memandang orang. Matanya tenang, tapi seperti menyimpan banyak beban. Tadi saat dia duduk, cara dia menjawab pertanyaan Mami—ada wibawa halus yang tidak dibuat-buat. Dewasa. Rendah hati, tapi bukan orang yang bisa diremehkan.”

Papi tersenyum lebar. “Itu yang Papi maksud.”

Mami Dela memandang keduanya dengan ekspresi campuran antara terkejut dan terkesan.

“Tapi Kirana bukan calon yang ditawarkan,” gumam Mami Dela, seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Justru Bianca yang didorong orang tuanya…”

“Justru itu,” jawab Raditya. “Bianca terlalu… jelas menunjukkan tujuannya.”

“Ambisius?” tebak Mami.

“Ambisi itu bagus,” kata Raditya setengah bercanda. “Tapi kalau ambisinya terlihat banget sampai menutupi karakter lain, itu jadi kurang menarik.”

Papi Rivaldo tertawa pelan. “Katamu tadi semua orang pasti menampilkan sisi terbaiknya.”

“Iya,” Raditya membalas tawa itu. “Makanya aku tidak mau menilai dari satu malam saja.”

Mami Dela lalu memberi tatapan khas seorang ibu yang mengenal putranya lebih dari siapa pun. “Jadi… apa yang kamu rencanakan?”

Raditya merapikan posisi duduknya. Tatapannya tajam.

“Besok aku mulai bekerja di rumah mereka sebagai Rio. Supir baru.”

Mami Dela mengangkat alis. “Kamu serius dengan penyamaran itu?”

“Sangat,” jawab Raditya tegas. “Kalau aku ingin tahu siapa yang benar-benar tulus, aku harus turun langsung. Aku harus lihat bagaimana dua kakak-adik itu memperlakukan orang biasa. Bukan pewaris Mahardika.”

Papi Rivaldo menepuk meja, puas. “Itu yang Papi suka dari kamu. Cara berpikir yang tidak mudah dipengaruhi.”

Raditya tersenyum, lalu berdiri. “Besok akan menarik.”

Mami Dela ingin bertanya lebih panjang, tetapi langkah kaki putranya yang menuju balkon membuatnya mengurungkan niat. Ia hanya menatap dari jauh—putranya itu tampak tinggi, kuat, sekaligus sendirian dengan segala beban yang ia pikul.

**

Di balkon, angin Surabaya yang lembab menerpa wajah Raditya. Dari atas sini, kota terlihat seperti miniatur kehidupan—ramai, sibuk, tapi semuanya tampak kecil.

Tadi saat makan malam, ia memang tidak hadir sebagai dirinya. Tapi ia melihat semuanya dari balik pilar rumahnya. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik keluarga itu. Setiap ekspresi.

Bianca yang terlalu berusaha terlihat sempurna. Kirana yang justru tidak berusaha apa pun, tapi memancarkan sesuatu yang membuat mata sulit terlepas.

“Aku ingin tahu kamu, Kirana…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar, seolah hanya angin yang menjadi saksi.

Lalu, ia kembali ke dalam rumah. Membiarkan malam menutup halaman awal dari kisah besar yang baru akan dimulai.

**

Keesokan paginya, rumah keluarga Adytama mulai ramai. Tapi bukan karena suara Kirana—karena perempuan itu bahkan sebelum matahari naik sudah pergi ke Kafe Teras Senja untuk membuka toko. Aroma kopi adalah rutinitas paginya.

Justru Bianca yang paling berisik.

Mama Reva mengetuk pintu kamar Bianca. “Bianca, supir baru sudah datang. Kamu harus berangkat kuliah.”

“Bentar, Ma!” teriak Bianca sambil memilih tas mana yang cocok dengan outfit hari ini.

Ayah Haris yang sedang membaca koran di ruang makan hanya geleng-geleng. “Anakmu itu kalau dandan bisa bikin Surabaya pindah ke Jakarta, Reva.”

Mama Reva tertawa sambil menuruni tangga. “Namanya juga anak perempuan.”

Suasana rumah seperti biasa—ramai, hangat, dan sedikit kacau. Dan di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pria berdiri di depan rumah dengan kaos hitam polos, celana kargo, dan jam tangan sederhana. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya bersih namun tidak mencolok, cukup membuat orang mengira ia hanya laki-laki biasa.

Dia mengetuk pintu—dan menunduk saat Bi Tuti membuka.

“Selamat pagi, Bu. Saya Rio. Supir baru.”

"Masuk, Mas Rio. Tunggu di ruang tamu." Bi Tuti menyambut ramah kedatangan Rio.

Dan di sanalah Rio—atau Raditya—duduk. Dengan ekspresi santai namun matanya awas, memperhatikan setiap detail rumah, setiap foto keluarga yang menggantung.

“Non Bianca masih siap-siap, ditunggu ya Mas Rio,” kata Bi Tuti.

Raditya tersenyum sopan. “Siap, Bu.”

Baru saja ia berdiri, Bianca turun dari tangga, mengibas rambut panjangnya, wajah full makeup, parfum mahal menguar ke seluruh ruangan.

Ia melihat pria baru itu dan langsung memicingkan mata.

“Kamu supir baru?” tanyanya dengan nada menilai.

Raditya menunduk hormat. “Iya, Non.”

Bianca mengangguk kecil. Tidak terlalu peduli.

“Bawa tas aku, ya. Hati-hati, itu limited edition.”

Raditya menahan senyum. Ini menarik. Ia mengambil tas itu—yang harganya hampir sama dengan gaji tiga bulan seorang supir.

Sambil berjalan menuju mobil, ia mendengar Bianca mengomel pelan tentang jadwal kuliahnya, panasnya cuaca Surabaya, dan betapa capeknya menjadi mahasiswi jurusan desain interior.

Raditya membuka pintu mobil dan menunggu Bianca masuk. Dan di detik itu, sesaat sebelum Bianca duduk, suara motor meliuk masuk halaman.

Raditya refleks menoleh dan dunianya seolah berhenti sebentar.

Kirana turun dari motor, rambutnya terikat sederhana, memakai kemeja coklat muda dan apron hitam bertuliskan "Teras Senja". Keringat tipis di pelipisnya membuatnya terlihat… nyata.

Bukan glamor. Bukan dibuat-buat hanya… dirinya sendiri.

Begitu Kirana melihat pria asing itu, ia menahan langkah.

“Oh, kamu supir baru? Rio, ya?” tanyanya sopan.

Raditya menahan detak jantung yang anehnya naik setengah detik.

“Iya, Non. Saya Rio.”

Kirana mengangguk. “Selamat bekerja di keluarga kami. Kalau ada yang tidak jelas, bisa tanya Bi Tuti.”

Raditya ingin tersenyum lebih lebar daripada yang seharusnya. “Baik, Non.”

Bianca turun dari mobil, memutar bola mata. “Mbak Kirana, kamu berangkat pake motor lagi? Aduh, panas banget loh hari ini. Kenapa gak nyuruh supir antar?”

Kirana tertawa kecil. “Kafe ramai. Lebih cepat pakai motor.”

“Ya udah sana, cepat. Aku telat kuliah gara-gara nunggu supir baru dateng,” keluh Bianca.

Kirana hanya tersenyum, menepuk bahu adiknya. “Jangan bawel.”

Kemudian ia pergi. Meninggalkan aroma kopi dan kesederhanaan yang entah kenapa menempel di ingatan Raditya lebih kuat dari parfum mahal mana pun.

Bianca masuk mobil dengan dramatis. “Buruan berangkat, Rio!”

Raditya duduk di kursi depan. Menghidupkan mesin dan sambil mobil bergerak keluar dari rumah keluarga Adytama, ia tersenyum tipis.

Hari pertama penyamarannya baru dimulai, tapi sesuatu dalam dirinya sudah berubah. Ia tidak hanya penasaran lagi. Ia ingin tahu lebih dalam tentang Kirana, tentang keluarganya dan tentang apa yang mungkin terjadi ketika seorang pewaris berpura-pura menjadi supir… tepat di tengah kehidupan dua bersaudara yang sangat berbeda.

***

Terpopuler

Comments

hikmah araffah

hikmah araffah

masa keluarga mahardika ga tau raditya yah ,pstinya orkay itu fto nya dmn saja

2026-06-13

0

Tati Tati

Tati Tati

biasanya ada gambar orangnya seperti apa gitu

2026-05-05

0

Rini Asih

Rini Asih

pelan tp pasti lanjut brooo

2026-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 GALA DINNER
69 Bab 67
70 Bab 68
71 Bab 69
72 Bab 70
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Bab 80
83 Bab 81
84 Bab 82
85 Bab 83
86 Bab 84
87 Bab 85
88 Bab 86
89 Bab 87
90 Bab 88
91 Bab 89
92 Bab 90
93 Bab 91
94 Bab 92
95 Bab 93
96 Bab 94
97 Bab 95
98 Bab 96
99 Bab 97
100 Bab 98
101 Bab 99
102 Bab 100
103 Bab 101
104 Bab 102
105 Pesta Pertunangan
106 Bab 103
107 Bab 104
108 Bab 105
109 Bab 106
110 Bab 107
111 Bab 108
112 Bab 109
113 Bab 110
114 Bab 111
115 Bab 112
116 Bab 113
117 Bab 114
118 Bab 115
119 Bab 116
120 Bab 117
121 Bab 118
122 Bab 119
123 Bab 120
124 Bab 121
125 Bab 122
126 Bab 123
127 Bab 124
128 Bab 125
129 Bab 126
130 Bab 127
131 Bab 128
132 PESTA PERNIKAHAN
133 Bab 129
134 Bab 130
135 Bab 131
136 Bab 132
137 Bab 133 - EPILOG
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
GALA DINNER
69
Bab 67
70
Bab 68
71
Bab 69
72
Bab 70
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Bab 80
83
Bab 81
84
Bab 82
85
Bab 83
86
Bab 84
87
Bab 85
88
Bab 86
89
Bab 87
90
Bab 88
91
Bab 89
92
Bab 90
93
Bab 91
94
Bab 92
95
Bab 93
96
Bab 94
97
Bab 95
98
Bab 96
99
Bab 97
100
Bab 98
101
Bab 99
102
Bab 100
103
Bab 101
104
Bab 102
105
Pesta Pertunangan
106
Bab 103
107
Bab 104
108
Bab 105
109
Bab 106
110
Bab 107
111
Bab 108
112
Bab 109
113
Bab 110
114
Bab 111
115
Bab 112
116
Bab 113
117
Bab 114
118
Bab 115
119
Bab 116
120
Bab 117
121
Bab 118
122
Bab 119
123
Bab 120
124
Bab 121
125
Bab 122
126
Bab 123
127
Bab 124
128
Bab 125
129
Bab 126
130
Bab 127
131
Bab 128
132
PESTA PERNIKAHAN
133
Bab 129
134
Bab 130
135
Bab 131
136
Bab 132
137
Bab 133 - EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!