Bab 3

Tepat pukul empat sore, di gerbang megah kediaman Adyatama, terdengar suara mesin motor tua yang sengaja dibuat sedikit bising. Di atas motor butut itu, duduk seorang pria dengan postur tubuh yang luar biasa. Dia adalah Raditya Mahardika, yang kini menjelma menjadi Rio.

Penampilan Rio benar-benar disamarkan: kaos gelap yang menonjolkan otot-otot lengannya yang terbentuk sempurna, celana cargo kokoh, dan jam tangan kulit sederhana. Ia menghentikan motornya, mematikan mesinnya, lalu membuka helm. Rambutnya sedikit acak-acakan.

Ia menatap gerbang besi hitam yang tinggi itu—kontras sekali dengan motor bututnya. Raditya tersenyum miring. Ia sudah menduga rumah rekan bisnis ayahnya ini dijaga ketat.

Di pos satpam, duduk seorang pria paruh baya, yang di seragamnya terdapat bordir nama Karman. Wajahnya ramah, tetapi matanya tetap waspada. Ia adalah suami dari Bi Tuti, juru masak di rumah ini.

"Selamat sore, Pak. Saya Rio. Dipanggil Tuan Haris Adyatama untuk wawancara pekerjaan jadi supir," sapa Raditya dengan suara husky yang ia latih, sedikit merendah, tetapi tetap terdengar percaya diri.

Pak Karman segera bangkit. Ia sudah mendapat kabar dari Ayah Haris. Ia mengamati Rio sejenak—posturnya terlalu bagus untuk seorang supir. Tapi ia cepat-cepat menepis pikiran itu.

"Oh, ya. Silakan, Mas Rio. Mari saya tunjukkan jalan ke pintu utama. Tuan Haris sudah menunggu di dalam," sambut Pak Karman ramah, kemudian membukakan gerbang kecil. "Saya Karman, satpam di sini. Senang Anda mau bekerja di sini."

"Terima kasih, Pak Karman. Senang bertemu Anda," balas Rio, menjabat tangan Pak Karman erat.

Rio melangkah masuk. Ia berjalan melintasi halaman depan yang terawat, menuju pintu kayu besar rumah utama. Ia sengaja memperlambat langkahnya. Sebelum mengetuk, ia mengambil kacamata bening tanpa bingkai dari saku kaosnya dan mengenakannya. Kacamata ini adalah props vital—untuk menyamarkan tatapan mata elangnya dan menambah kesan "pintar dan hati-hati" yang diharapkan oleh keluarga kelas atas.

Klik, klik. Rio mengetuk pintu.

Pintu terbuka, dan di sana berdiri Bi Tuti. Wanita paruh baya itu tersenyum lelah setelah seharian bekerja.

"Mas Rio, ya?”

“Iya.” Rio mengangguk ramah.

“Silakan masuk, Mas. Sudah ditunggu Tuan Haris," kata Bi Tuti sambil mempersilakan Rio masuk ke foyer yang dihiasi marmer dan patung-patung antik.

"Terima kasih, Bu," ucap Rio sopan.

Bi Tuti tertegun sejenak. Sudah lama tidak ada pekerja baru yang memanggilnya 'Ibu'. Kebanyakan hanya memanggil 'Bibi'.

"Saya panggilkan Tuan Haris sebentar, ya, Mas. Silakan duduk," ujar Bi Tuti, sedikit tersipu oleh kesopanan Rio.

Haris Adyatama muncul dari lorong, mengenakan polo shirt dengan celana bahan. Ia menyambut Rio dengan lambaian tangan dan mengajak Rio langsung menuju ruang kerjanya.

"Rio, silakan duduk. Saya Haris Adyatama," sambut Haris, suaranya lugas dan to the point.

"Terima kasih, Tuan Haris. Saya Rio. Siap untuk bekerja," balas Raditya, kini dalam mode Rio: tenang, profesional, dan sedikit kaku.

Ayah Haris menatap Rio. Pria muda ini memang tampak lebih berkelas dari supir yang biasa ia temui, dan posturnya sangat meyakinkan. Berkas CV yang ia baca sudah menyatakan semua kualifikasi.

"Saya lihat riwayat kerjamu bagus, Rio. Kau punya sertifikasi mengemudi keamanan dan juga ahli bela diri. Itu poin plusnya," kata Ayah Haris sambil memeriksa berkas Rio sekilas.

"Ini pekerjaan penuh waktu. Kau harus siap menginap di mess belakang. Kau akan mengantar kedua putriku, terutama yang bungsu, Bianca. Dia sibuk kuliah dan kegiatan sosial. Putriku yang sulung, Kirana, juga butuh diantar-jemput sesekali ke kafe tempatnya bekerja."

"Saya siap, Tuan Haris. Saya tidak memiliki tanggungan, dan saya siap bekerja 24 jam. Saya akan menjamin keselamatan kedua Nona Adytama," jawab Rio, tegas.

Ayah Haris mengangguk puas. Pria ini tidak banyak bertanya soal gaji atau tunjangan, yang merupakan nilai jual tertinggi di mata Ayah Haris—tidak matre, hanya profesional. Ayah Haris tidak tahu bahwa Rio bisa membeli 10 perusahaan Ayah Haris jika ia mau.

"Baiklah. Wawancara selesai. Kau diterima, Rio. Besok pagi jam enam, kau harus sudah ada di sini. Bi Tuti akan menunjukkan kamar dan fasilitasmu. Malam ini, kau bisa kembali ke tempat tinggalmu untuk berkemas," putus Ayah Haris.

"Terima kasih banyak, Tuan Haris. Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya." Raditya berjabat tangan dengan Ayah Haris, pertanda kesepakatan sudah terjalin.

Saat Rio keluar dari ruang kerja, langkahnya terhenti di lorong utama menuju pintu keluar. Matanya tertuju pada sebuah pigura besar yang dipajang di dinding, menampilkan foto keluarga Adytama.

Foto itu adalah foto yang diambil beberapa tahun lalu. Di sana ada Ayah Haris dan Mama Reva yang tersenyum lebar. Diapit oleh dua gadis cantik.

Rio mendekat, tatapan matanya fokus di balik kacamata. Ada salah satu gadis yang menarik perhatiannya. Gadis itu tersenyum tipis, tatapannya lebih teduh, dan pakaiannya lebih sederhana. Wajahnya memang cantik, tetapi auranya cenderung pemalu di foto itu.

Rio berharap jika gadis itu adalah perempuan yang dijodohkan oleh keluarganya, meski dia masih belum tahu apakah itu Bianca atau anak Ayah Haris lainnya.

**

Mal mewah di pusat kota Surabaya sore itu dipenuhi kilauan lampu kristal dan aroma parfum mahal. Di antara keramaian kaum elite, Bianca Adyatama berjalan dengan langkah yang penuh percaya diri, seolah seluruh lantai marmer itu adalah karpet merah pribadinya.

Ia ditemani oleh Sarah, sahabatnya dari jurusan Desain Interior, yang berusaha keras menyamai langkah cepat Bianca.

"Sarah, lihat tas yang itu! Apakah limited edition warna champagne itu akan lebih menonjol dibandingkan yang navy?" tanya Bianca, menunjuk etalase butik high-end dengan ujung jarinya yang berkilauan.

"Yang champagne lebih elegan, Bian. Cocok dengan gaun Dior-mu," jawab Sarah, suaranya sedikit mendesah kagum.

Bianca tersenyum puas. "Tentu saja. Malam ini, aku harus sempurna."

"Memangnya malam ini ada acara apa, Bian? Kamu terlihat sangat serius," tanya Sarah, sedikit penasaran.

Bianca berbalik, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi sombong dan rahasia. Ia menarik Sarah ke sudut yang lebih sepi.

"Malam ini, keluargaku diundang makan malam keluarga oleh... Mahardika."

Mata Sarah langsung membulat. "Mahardika? Tunggu, maksudmu... Mahardika Group (MG)? Yang punya proyek properti raksasa di setiap sudut kota?"

Bianca mendongakkan dagunya, tersenyum jumawa, menikmati reaksi Sarah.

"Tentu saja. Siapa lagi? Ayahku dan Papi Rivaldo Mahardika adalah rekan bisnis."

Sarah benar-benar tercengang. "Ya ampun, Bianca! Itu gila! Keluargamu benar-benar berada di liga tertinggi!"

"Tentu saja," Bianca mendengus. "Aku harus tampil sempurna. Malam ini bukan sekadar makan malam biasa, Sar. Malam ini adalah pertemuan penjodohan."

Sarah terlonjak kaget. "Penjodohan?! Dengan siapa? Pewaris tunggalnya?"

"Tentu saja dengan siapa lagi? Raditya Mahardika. Usianya 33 tahun, pewaris utama, tampan, atletis, dan yang terpenting: kaya raya yang tidak terhingga." Bianca mengucapkan kalimat terakhirnya dengan intonasi memuja, seolah nama Raditya adalah mantra ajaib.

"Aku tak percaya, Bian. Kamu akan menjadi Nyonya Mahardika?" Sarah menatap Bianca dengan campuran iri dan kekaguman.

"Aku akan memastikan itu, Sarah. Aku tidak akan membiarkan kesempatan emas ini lepas. Bayangkan, harta yang kami miliki sekarang bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan Mahardika. Aku akan hidup seperti ratu, tanpa perlu mengkhawatirkan mata kuliah yang menyebalkan itu lagi."

Ia melirik ke jam tangan emasnya. "Sudah. Pilih tas champagne itu dan sepatu heels yang baru datang. Setelah ini, kita ke salon. Aku butuh perawatan total, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kulitku harus bersinar, rambutku harus bervolume, dan kukuku harus sempurna. Setiap detail harus menarik perhatian keluarga Mahardika, terutama Raditya itu sendiri."

Setelah mengeluarkan puluhan juta Rupiah tanpa berkedip, Bianca dan Sarah bergegas menuju salon langganan. Di benak Bianca, investasi pada penampilan adalah langkah strategis pertama untuk mengamankan masa depan sebagai Nyonya Mahardika.

***

Terpopuler

Comments

Yasinta Niken

Yasinta Niken

jangan sombong Bianca awass nanti jatuh 🤭

2026-08-03

0

shabiru Al

shabiru Al

buseeett holang kaya mah bebas ya...🤭

2026-01-13

0

Siti Saadah

Siti Saadah

sombong sekali

2026-08-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 GALA DINNER
69 Bab 67
70 Bab 68
71 Bab 69
72 Bab 70
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Bab 80
83 Bab 81
84 Bab 82
85 Bab 83
86 Bab 84
87 Bab 85
88 Bab 86
89 Bab 87
90 Bab 88
91 Bab 89
92 Bab 90
93 Bab 91
94 Bab 92
95 Bab 93
96 Bab 94
97 Bab 95
98 Bab 96
99 Bab 97
100 Bab 98
101 Bab 99
102 Bab 100
103 Bab 101
104 Bab 102
105 Pesta Pertunangan
106 Bab 103
107 Bab 104
108 Bab 105
109 Bab 106
110 Bab 107
111 Bab 108
112 Bab 109
113 Bab 110
114 Bab 111
115 Bab 112
116 Bab 113
117 Bab 114
118 Bab 115
119 Bab 116
120 Bab 117
121 Bab 118
122 Bab 119
123 Bab 120
124 Bab 121
125 Bab 122
126 Bab 123
127 Bab 124
128 Bab 125
129 Bab 126
130 Bab 127
131 Bab 128
132 PESTA PERNIKAHAN
133 Bab 129
134 Bab 130
135 Bab 131
136 Bab 132
137 Bab 133 - EPILOG
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
RADITYA MAHARDIKA (RIO)
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
GALA DINNER
69
Bab 67
70
Bab 68
71
Bab 69
72
Bab 70
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Bab 80
83
Bab 81
84
Bab 82
85
Bab 83
86
Bab 84
87
Bab 85
88
Bab 86
89
Bab 87
90
Bab 88
91
Bab 89
92
Bab 90
93
Bab 91
94
Bab 92
95
Bab 93
96
Bab 94
97
Bab 95
98
Bab 96
99
Bab 97
100
Bab 98
101
Bab 99
102
Bab 100
103
Bab 101
104
Bab 102
105
Pesta Pertunangan
106
Bab 103
107
Bab 104
108
Bab 105
109
Bab 106
110
Bab 107
111
Bab 108
112
Bab 109
113
Bab 110
114
Bab 111
115
Bab 112
116
Bab 113
117
Bab 114
118
Bab 115
119
Bab 116
120
Bab 117
121
Bab 118
122
Bab 119
123
Bab 120
124
Bab 121
125
Bab 122
126
Bab 123
127
Bab 124
128
Bab 125
129
Bab 126
130
Bab 127
131
Bab 128
132
PESTA PERNIKAHAN
133
Bab 129
134
Bab 130
135
Bab 131
136
Bab 132
137
Bab 133 - EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!