SUAMI TITIPAN MALAIKAT TAK BERSAYAP
"Mas, aku ingin cerai!"
Rahmi memegang perutnya yang membesar. Perutnya yang sedari tadi sakit ditahannya. Rasa sakit hatinya lebih daripada perih perutnya kini.
Daster ukuran XXL itu tidak lagi muat di badannya yang kian lama makin membengkak. Cardigan yang menambah hangat badannya pun sudah mulai melar benangnya karena sesak dipakainya.
"Kamu jangan sembarang bicara Rahmi!" ucap suaminya.
"Massss, aku sudah tidak tahan lagi, ceraikan saja aku!" Rahmi mengusap air matanya yang tanpa henti mengalir sedari tadi.
Tiba-tiba perutnya kram hebat, sakit tak terhingga.
"Ahhhhh!" rintih Rahmi.
Darah segar mengalir pelan dari sela celananya. Dia pendarahan.
***
6 TAHUN YANG LALU
Cerita ini bermula dari kisah seorang gadis bernama Rahmi. Dia sekolah di sebuah pondok pesantren Ummi Abi. Di sana dia menimba ilmu dan memperdalam ilmu agama. Dia cukup populer di pondok selain pintar ia juga punya paras yang cantik. Kelak dialah yang meneruskan kegiatan di pondok tersebut.
"Rahmi..." Seorang perempuan seumuran ibunya memanggil Rahmi.
Rahmi menoleh ke belakang melihat pada orang yang memanggilnya. Ustadzah Ana menyodorkan buku padanya. Buku yang kemarin ia tanyakan pada ustadzah.
"Ini buku kamu yang cari, bacalah."
"Oh, iya, ustadzah, benar ini buku yang saya cari."
"Bukunya sudah tidak diterbitkan lagi, tapi saya punya bukunya. Masih tersimpan di lemari kamar. Bacalah, semoga jadi pahala buat saya."
"Alhamdulillah, iya, ustadzah, terima kasih."
"Oh iya, Rahmi, hari Minggu pagi datanglah ke acara pengajian Mesjid Al-Haraqah. Ada pengajian dan ustadzah yang datang adalah Ustadzah Halimah, Lc."
"InsyaAllah ustadzah, insyaAllah saya akan datang."
Rahmi menerima buku pemberian Ustadzah Ana dengan senang hati. Itu adalah buku yang dicari-carinya beberapa minggu. Ia mencarinya di perpustakaan pondok tidak ada. Ia mengira memang buku itu sudah tidak diterbitkan lagi.
Mungkin dia bisa order online saja ke penerbitnya atau cari bukunya di toko buku bekas di Jakarta.
Ternyata Ustadzah Ana punya bukunya. Padahal dia tidak pernah nanya ke ustadzah anak. Mungkin teman-temannya yang menyampaikan pada Ustadzah Ana kalau dia sedang mencari buku tersebut.
"Baiklah Rahmi, Ustadzah pulang dulu, ya."
"Baik Ustadzah, sekali lagi terima kasih, ya, Ustadzah."
Dengan perasaan gembira ia masuk kembali ke kelasnya. Ia duduk di bangkunya dan mulai membaca buku tersebut. Halaman demi halaman ia baca buku tersebut. Tidak terasa sudah mau adzan Maghrib saja.
Padahal tadi rasanya baru pukul setengah 4 sejak ia bertemu Ustadzah Ana, waktu tidak terasa tahu-tahu sudah adzan mau adzan Maghrib.
ia buru-buru mematikan kipas angin yang tadi dinyalakannya saat duduk di bangkunya.
Ia memang ada piket hari ini. Jadwal piketnya di kelas hari Kamis. Jadi setiap kamis dari pagi sampai selesai pelajaran dia bertugas untuk piket bersama kelompok piketnya pada hari itu.
Ada Salsa, Mutia, dan Rahma yang bertugas piket pada hari ini. Di pondoknya memang menerima putra dan putri tapi kelas antara putra dan putri dipisah.
Kalau hari Jumat biasanya diadakan kegiatan Jumat iman, barulah digabungkan antara anak putra dan putri dalam kegiatan tersebut di mesjid.
kalau hari Sabtu biasanya ada kegiatan Muhadoroh, kegiatan itu pun sama putra dan putri juga digabung dalam kegiatan. Secara bergiliran secara berkelompok mereka akan menampilkan kebiasaan mereka.
Penampilan mereka antara lain: ada yang pidato bahasa arab, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Ada juga yang tampil jadi qori dan saritilawah, ada yang menampilkan nasyid, ada yang menampilkan Hadroh, dan membaca puisi tema Islam.
Namun, pada Minggu terakhir hari sabtu dan Minggu kegiatan pondoknya libur kegiatan sekolah karena seringnya keluarganya ada yang datang atau mengajak anak-anak yang mondok untuk keluar oleh orang tuanya.
Begitu juga dengan Rahmi. Rahmi tiap hari Sabtu dan Minggu di Minggu terakhir tiap bulannya akan pulang ke Ciamis. Dia akan kangen sama adiknya, si Asep, begitu juga kangen pada ibu dan bapaknya.
Biasanya kalau pulang neneknya memberikannya bekal makanan dan bekal uang untuk dirinya biar dia nanti ada pegangan untuk kembali ke pondoknya.
Rahmi bisa mondok di pondok pesantren Ummi Abbi karena saran dari pamannya. Kata pamannya mondok di sana bagus. Lulusan pondok di sana biasanya sering diberangkatkan ke Qairo dan dapat beasiswa melanjutkan kuliah dan dapat gelar Lc.
Kalaupun tidak melanjutkan ke Qairo, lulusan sana biasanya jadi tenaga pengajar di pondok Ummi Abi dan beberapa sekolah swasta Islam lainnya di kota tersebut. Banyak yang meminang lulusan tersebut untuk dijadikan pengajar di sekolahnya.
Rahmi memang bercita-cita menjadi guru agama sama persis seperti keinginan ibunya.
"Teh, walaupun nanti Teteh jadi istri, ibu mah pengennya Teteh bisa ngajar teh. Minimal Teteh bisa ngajar ngaji."
"Ya Bu, insyaAllah Teteh mah, bakal ngaji terus dan pengen jadi guru ngaji Bu."
"Alhamdulillah kalau begitu teh. Ibu ikut senang mendengarnya."
Rahmi selalu menghabiskan berkumpul bersama keluarganya, terutama pas makan malam. Ia selalu berkumpul dengan keluarganya.Baginya makan bersama adalah momen dia bisa berbicara apa saja pada ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
THE GIRL COOL😑
ustaza ana atau anak?
2026-07-10
0
Lenny Utami
🥲 jadi guru ngaji gajinya kecil...GK cuma guru ngaji guru² yang lain juga. padahal dari mereka lah anak² di didik dan bisa tumbuh menjadi anak yang Soleh/Solehah. miris sekali..🥲
2026-07-23
1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ☕︎⃝❥☠️⃝♛ ⃟$R☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
gambar di novel nya pada pakek Ai semua🤭🤭🤭
2026-03-30
1