"Rahmi masuklah."
"Iya, Nyai Haji."
"Sini masuk, Nyai barusan selesai buat nasi liwet, Rahmi. Jadi sekalian makan, ayuh."
"Hatur nuhun Nyai, tadi teh sudah makan di pondok."
"Eh, ini mah lain lagi atuh, makan di rumah Nyai Haji, atuh. Rahmi belum pernah kan makan di rumah, Nyai."
"Iya, Nyai, hatur nuhun."
"Sini masuk ke dalam."
"Baik, Nyai."
Rahmi masuk ke rumah yang luas itu. Rumah yang luas tanahnya sangat luas. Yang halamannya dikelilingi pohon rambutan dan pohon mangga. Ada beberapa bunga yang menghiasi pekarangan rumah itu. Bahkan di pojokan halaman itu Nyai Haji menanam tanaman durian yang katanya berbuah setahun sekali.
Di terasnya ada kursi taman yang terbuat dari rotan dan dihiasi oleh bunga matahari dalam pot, sebanyak tiga pot. Bunganya merekah indah.
"Ayo, Neng, duduk di sini."
Nyai Haji sudah di dalam ruang tengah.
Rahmi masih terpaku di depan pintu rumah Nyai haji. Ia agak sungkan masuk ke dalam. Biasanya ia ditugaskan hanya membersihkan bagian luar rumah itu, tepatnya bagian halaman dan teras. Akan tetapi, kali ini Nyi Haji meminta khusus agar dia membersihkan bagian dalam rumahnya.
Nyai haji melihat ke arah Rahmi yang masih ragu untuk masuk ke dalam.
"Rahmi, kenapa masih berdiri di situ. Ayo masuk."
Rahmi mengangguk ke Nyai Haji, dia tersenyum tersipu.
Nyai haji lalu berjalan kembali keluar dan dipegangnya tangan Rahmi.
"Ayo, sepertinya nyai harus tuntun dulu baru masuk, ya."
"Hampura, Nyai, saya teh sungkan masuk ke dalam."
"Gak perlu sungkan atuh."
"Ayo, nyai ajak dulu berkeliling."
"Nyai mengajak Rahmi berkeliling ruang tamu dan ruang baca miliknya."
"Ini foto-foto keluarga Nyai, dari kakek buyut nyai, keluarga Ki Haji Makmur dan Hajah Sarah, ibunda Nyai. Ini keluarga besar Nyai, kakak adik, Nyai."
"Ini foto waktu nyai dan keluarga ke Qairo, ada foto nyai ke Istambul, dan foto Nyai sekeluarga naik haji."
"Wah, keluarga besar ya, Nyai."
"Iya, dan ini foto anak Nyai."
Sebuah foto pemuda yang berwajah tampan dengan rambut hitam legam memakai T-shirt dan celana sport, pakaian sepakbola di lapangan bola.
"Anak Nyai tidak mau mengikuti jejak Nyai dan keluarga. Dia lebih memilih kuliah di jurusan olah raga. Sesuatu yang berbeda dari takdir seorang penerus yayasan pondok pesantren."
"Ini dia foto wisudanya."
"Sekarang anak Nyai ada di mana?"
"Di Jakarta, jadi dosen olah raga."
"Jarang pulang Nyai?"
"Sebenarnya tiap bulan pulang, tapi sudah tiga bulan ini belum pulang lagi, katanya ada beberapa seminar di luar kota dan dia diminta jadi komentator pertandingan sepakbola nasional, kegiatan bergengsi bulan lalu."
"Oh begitu, Nyai."
"Sibuk betul anak itu, padahal Nyai di sini cuma tinggal sama Bi Imah dan Bi Sumi di rumah. Kadang kesepian juga Nyai rasanya. Kalau nyai tidak ngajar dan urus yayasan entah bagaimana rasanya sepi tiap hari."
Rahmi mengangguk-angguk mendengar cerita Nyai Haji. Dia juga merasakan perasaan yang dirasakan Nyai Haji, ibunya sering bilang kalau dia suka kangen padanya. Walaupun ada adiknya tapi ibu masih kangen kadang tiap malam teringat dia.
"Jangan lupa solat malam ya, teh, doakan ibu dan ayah sehat selalu."
Ya, Bu insyaAllah, Teteh selalu ingat. Solat Duha juga teteh selalu doain ibu dan bapak, adek, dan keluarga kita yang lain.
"Nah, ini Nyai sama anak Nyai lagi di Qairo, Nyai sampai nawarin biar dia kuliah di Qairo. Dak apa ngulang lagi kuliahnya dibayar full sama Nyai."
Nyai menunjukkan foto dia bersama anaknya. Beberapa potret Ibu dan anak yang penuh cinta kasih.
Tapi tetap dia tidak mau. Katanya bukan passionnya dunia pondok."
Nyai menghela nafas panjang. Lalu ia melanjutkan ceritanya kembali.
"Dia lebih suka kegiatan olah raga. Nyai juga gak henti-hentinya munajat sama Allah biar dibukakan pintu hidayah untuknya. Tapi sampai sekarang dia masih saja sibuk dengan dunianya."
"Malah sekarang jadi model iklan, Neng.
yang gak pernah ada dipikiran kami keturunan Ki Haji untuk jadi model iklan."
"Model iklan susu suplemen, ya, Nyai?"
"Iya, katanya juga jadi brand ambasador naon dei, mmm, apa ya namanya, tempat angkat barbel kitulah pokok na."
"Model iklan tempat nge-gym, Nyai."
"Nah, iya, begitulah. Dua tahun lalu juga jadi ajang pemilihan model peragawan di Jakarta. Itu Nyai sudah marah betul. Kata Nyai mencoreng nama pondok. Tapi, tetap saja ikut. Malah jadi model terfavorit.
"Alhamdulillah, atuh Nyai, dia berkembang di dunia kerja yang dia inginkan."
"Kok, Alhamdulillah, Rahmi, astagfirullah atuh."
"Maaf, Nyai, kalau boleh saya berpendapat. Mungkin anak Nyai tidak mau memaksakan pekerjaan yang dia tidak gemari. Mungkin dia menyukai bidang modelling dan olah raga karena dia yakin akan berkembang dan punya potensi di sana."
"Akan sangat disayangkan dia tetap mengurus pondok bersama Nyai tapi dia tidak berkembang, wawasan dan pergaulannya manjadi mandek."
"Dia tidak paham dengan dunia pesantren, baginya dunia yang sedang digelutinya sekarang adalah hal yang bisa membuat dia berkembang."
"Tapi teh, nyai khawatir, kan dunia model itu sering dikelilingi banyak perempuan. takut dia salah arah."
"InsyaAllah, Nyai, kalau putra Nyai tetap solat lima waktu, selalu ingat Allah, gak akan berani buat yang macam-macam Nyai. Kan Nyai selalu mendoakan dalam setiap solat Nyai. InsyaAllah anak Nyai akan dilindungi oleh Allah SWT."
"MasyaAllah, pemikiran kamu bagus sekali, Neng. Nyai jadi tambah kagum sama Kamu. Tidak sia-sia pondok punya santri seperti Kamu, Rahmi."
"Alhamdulillah nyai, berkat doa ibu dan bapak, berkat guru-guru di pondok Nyai."
"Ayo, kita makan dulu, keburu dingin masalah nyai. Ayo, Rahmi."
Rahmi lalu mengikut langkah Nyai Haji ke dalam ruang tengah. Di sana sudah ada masakan Nyai yang dihidangkan di meja makan. Ada nasi liwet beserta lauk dan lalapan. Aneka buah-buahan juga tersedia di sana.
Rahmi menyantap masakan yang disajikan oleh Nyai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
karena aku pernah berada di lingkungan pondok. aku sih mengerti banget dengan perasaan ibu nya.
karena kebanyakan anak pemilik pondok Sudah di didik sedari kecil untuk mendalami agama. yah meski banyak yang juga melenceng dari ajaran keluarga.
2026-07-02
0
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Ini bahasa daerah mana, ya? Aku yang dari Jawa Timur kok kayak familiar
2026-04-03
0
Mingyu gf😘
mau nanya, emang di pondok kita punya tugas membersihkan rumah kiyai juga? sorry gak tahu, soal nya aku selama mondok gak pernah lihat santri bersihin rumah kiyai
2026-07-08
0