Love After Getting Married

Love After Getting Married

Kesepakatan

*

*

*

Qistina Aulia, seorang mahasiswi tingkat empat jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta. Bukan dari keluarga kaya namun dia memiliki tekad yang kuat untuk menyelesaikan pendidikannya.

"Kemana aja kamu Qis?" Zifa sahabat Qistina, menyambut kedatangannya dengan pertanyaan dan tatapan heran. "Pertandingannya sudah mau selesai kamu baru datang!"

"Sorry!" seru Qistina, "Aku baru dapat izin dari Bos. Soalnya kafe hari ini lagi ramai banget."

Zifa menyipitkan mata, "Loh, bukannya shift kamu cuma sampai jam dua belas? Sekarang sudah jam tiga Qis."

"Karna rame pengunjung, " Qistina menaik turunkan pudaknya, "jadi bos minta aku bantu-bantu."

"Gila bos kamu, namanya ngambil tenaga orang seenaknya dong." Zifa melotot setengah sebal.

"Udah nggak apa-apa" Qistina masih tetap tenang, "Yang penting, aku masih di bolehin kerja. Lumayan aku jadi punya tambahan uang."

"Iya, tapi tuh lihat!" Zifa menunjuk dengan dagunya ke arah lapangan, "Pangeran kamu dari tadi cemberut, nyariin kamu terus."

Hari ini adalah pertandingan futsal yang di tunggu-tunggu oleh penghuni kampus. Seorang kapten futsal andalan yang terkenal tampan dan berasal dari keluarga kaya sejak tahun lalu sudah menjadi tempat Qistina melabuhkan cintanya.

Calvin Rahardian, siapa yang tak kenal dengan sosok tinggi beralis tebal dengan hidung mancung itu. Hampir semua penghuni kampus mengenalnya sebagai raja lapangan. Semua orang juga tahu tentang hubungannya dengan Qistina yang memang berwajah cantik.

Hubungan yang berjalan satu tahun itu nampak baik-baik saja, meski perbedaan latar belakang jelas kentara.Calvin si anak orang kaya sedang Qistina mahasiswi yang mengandalkan beasiswa, pontang panting kerja sambilan demi memenuhi kebutuhan.

Namun begitu, tak jarang pula keduanya bertengkar karna waktu Qistina yang lebih sering di habiskan untuk bekerja. Calvin sering merasa tak memiliki kesempatan untuk berduaan dengannya. Seperti saat ini, saat pertandingan futsal yang seharusnya Calvin mendapat dukungan langsung dari Qistina tapi dia malah tidak ada. Terlambat, karna bos tempatnya bekerja memberi kerja tambahan.

"Udah selesai tuh pertandingannya, cepet kamu samperin" Zifa sedikit mendorong punggung Qistina, "Minta maaf, ntar ngambek lagi tuh cowok."

Qistina mengangguk, "Iya, aku samperin dia dulu."

"Gih sana!"

Qistina turun mendatangi Calvin yang masih di pinggiran lapangan. Semua mata menatap ke arah mereka. Apalagi saat Calvin mengacak lembut puncak kepala Qistina jelas membuat pemandangan yang membuat iri dengan keromantisan mereka.

"Abis ini ada acara sama anak-anak?" tanya Qistina sambil menyodorkan botol air mineral untuk Calvin.

"Nggak ada, aku mau sama kamu aja." Calvin menerima botol minuman yang di berikan Qistina lalu menenggaknya setengah, "Temani aku santai ya, mau kan Qis?"

Qistina mengangguk, tentu dia mau. Menghabiskan waktu bersama kekasih yang selama ini di cintainya tentu akan menjadi moment yang ia tunggu-tunggu.

Calvin tersenyum, lantas bertanya, "Tadi kenapa kamu datangnya telat?"

Qistina diam sebentar, mencoba mencari kata yang tepat untuk beralasan, "Maaf Calvin, tadi bos minta aku kerja tambahan. Karna pengunjung kafe lagi ramai banget. Jadi aku baru bisa sampai ke sini saat pertandingan kamu selesai."

Mendengar itu Calvin berdecak kesal, "Itu lagi, nggak ada alasan lain? Sebenarnya upah kamu kerja itu berapa? Sampai kamu harus bekerja seperti ini. Tapi perasaan kamu masih gini-gini aja. Nggak kaya-kaya juga."

Latar belakang yang berbeda, seorang Calvin yang serba mudah sering kali menimbulkan perselisihan di antara keduanya. Calvin yang seorang anak pengusaha tambang, memiliki segalanya. Berpenampilan dengan barang branded sudah menjadi kebiasaannya. Kemana-mana di temani dengan mobil mewah atau motor sport seharga milyaran rupiah. Sangat jauh berbeda dengan Qistina yang berpenampilan asal bersih,rapi dan wangi. Merk bukanlah prioritas utama untuknya, asal masih terjangkau dengan isi dompet baru ia membelinya. Kemana-mana pun hanya di temani dengan motor bebek milik Ayahnya yang kadang sudah harus keluar masuk bengkel.

Namun meski begitu, harga diri Qistina sangat tinggi. Dia tidak mau menerima begitu saja pemberian Calvin. Baginya sebelum ada pernikahan, dirinya tidak boleh menerima apa saja pemberian laki-laki walaupun itu seorang Calvin yang sudah berstatus pacar. Qistina selalu menolak dengan tegas meski dengan cara yang halus.Hal ini sering membuat Calvin kesal. Ia kesal dengan pendirian Qistina yang seperti itu.

Calvin mengacak rambutnya sendiri. Mencoba menetralkan kekesalannya, "Ya sudah, aku maafin. Tapi kali ini kamu nurut aku kemanapun aku ajak. Dan jangan menolak."

"Memangnya mau kemana?"

"Sudah ikut saja."

Qistina tidak bisa menolak, ia mengikuti begitu saja langkah kaki Calvin membawanya.

***

Calvin berdiri di depan bar. Siku kirinya bertumpu santai di meja marmer hitam, sementara tangannya masih menggenggam jemari Qistina.

Ini pertama kalinya untuk Qistina, masuk ke bar sebagai pengunjung. Biasanya dia masuk ke tempat itu sebagai pelayan. Qistina pernah bekerja di Bar sebelum mendapat pekerjaan di kafe yang sekarang tempatnya bekerja. Dan Qistina cukup tahu harga setiap menu dan minuman yang ada disana. Setara dengan gajihnya satu Minggu bekerja.

"Calvin, ngapain kita kesini?" Qistina yang merasa tidak cukup memiliki uang, ragu-ragu untuk tetap berada di tempat seperti itu.

"Aku ingin menikmati di mana tempatku seharusnya. Itu saja." Calvin menjawab tanpa menoleh pada Qistina.

Qistina tahu, tempat ini bukanlah tempat yang sulit untuk seorang Calvin. Tapi, harga diri Qistina yang selalu split bill selama ini di manapun mereka makan merasa keberatan. 'Aku mana punya uang sebanyak itu untuk membayar, mana harus nebus motor ke bengkel lagi. Duh gimana ini?'

Mereka duduk di sofa pengunjung. Qistina juga tahu bahwa di tempat ini tidak semua orang duduk dan mabuk. Banyak orang-orang yang datang hanya ingin bersantai melepas lelah bersama teman, atau sekedar menikmati es lemon tea. 'Tapi Calvin, mana mungkin dia hanya akan memesan es lemon tea.'

Seorang pelayan mendekat. Kemeja hitamnya rapi, senyum profesional terpasang.

“Untuk Anda?”

Calvin tak langsung menjawab. Ia melirik rak botol di belakang bar, matanya berhenti sebentar, lalu kembali lurus ke depan.

"Rosemary Gin" katanya singkat. "Double."

Pelayan mengangguk.

Qistina yang masih sedikit kaku, bahunya tegang, matanya bergerak gelisah mengikuti lampu-lampu bar.

"Dan untuk dia," lanjut Calvin pelan, "...Raspberry Mint Cocktail"

Qistina menoleh cepat. "Aku—"

"Kali ini aku yang bayar, kamu ngga usah khawatir."

Pelayan kembali mengangguk, kemudian berlalu.

Calvin menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, terlihat lebih santai, ia mulai membuka pembicaraan "Qis, mau sampai kapan kamu begini terus?"

"Maksud kamu apa?"

"Jujur Qis, aku sudah nggak tahan lagi ngikutin gaya hidup kamu. Kamu selalu minta makan di pinggir jalan karna harganya lebih murah, jalan-jalan cuma ke pantai, menginap di penginapan murah. Aku nggak bisa lagi nurutin kemauan kamu."

Qistina mengernyitkan dahinya, "Kenapa tiba-tiba kamu ngomong gini?"

"Karna aku sudah muak Qis, aku muak lihat kamu kerja setiap hari sampe nggak bisa menikmati waktu. Padahal kita pacaran, tapi aku yang selalu sendirian nungguin sampe kamu punya waktu buat aku."

Qistina menoleh, sedikit terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Calvin. Ini pertama kalinya ia mengeluhkan pekerjaan nya, "Tapi aku butuh pekerjaan Vin."

Calvin tersenyum sinis, "Aku bisa biayain kamu. Kalau perlu kuliah kamu aku yang bayar. Tapi apa? Kamu selalu menolak kan. Kamu terlalu mementingkan harga diri kamu. Padahal kamu malah terlihat menyedihkan."

Qistina terhenyak, kata menyedihkan dari Calvin tadi terasa seperti 'Menyakitkan!'.

Ia tertunduk, jemarinya mengepal di atas paha. 'Enak saja, dia nyebut aku menyedihkan. Memangnya dia tahu apa?'

"Dari awal masuk bar ini kamu seperti takut bukan karna kamu takut mabuk kan? Tapi karna kamu takut nggak sanggup bayar. Iya kan?"

"Qis, aku mau kasih kamu penawaran. Aku nggak bisa terus-terusan begini. Apa kata orang-orang kalau aku harus nurunin standar aku demi ngikutin gaya hidup kamu yang menyedihkan itu. Kecuali kalau kamu mau nurut, ikut gaya hidup aku. Aku nggak keberatan keluar banyak uang buat kamu."

Qistina sudah menahannya sejak tadi. Sejak pertama Calvin meyebut kehidupannya menyedihkan, namun tidak untuk kali keduanya. Kepalan tangan nya semakin kuat tergenggam. Harga dirinya seolah sedang di hina habis-habisan oleh orang yang selama ini ia cintai.

"Oke kalau kamu mau tetap dengan prinsip kamu. Teruslah berpendirian, tapi aku tidak bisa lagi. Aku mau kita putus."

Kata putus dari Calvin membuat kemarahan Qistina berada di puncaknya. 'Nggak, bisa... Aku nggak bisa di rendahkan begini. Dia sebut hidup aku menyedihkan, akan aku buktikan kalau hidupku baik-baik saja. Tanpa ada dia.'

Qistina menegakkan punggungnya, dengan percaya diri ia menjawab...

"Oke, kita putus!"

"Sudah aku duga, sebenarnya kamu cuma pentingkan diri kamu sendiri. Fine! Kita benar-benar putus. Tapi untuk terakhir kali, aku akan bayar minuman untuk kamu. Setidaknya, aku pernah beliin kamu minuman mahal yang nggak pernah bisa kamu bayar sendiri. Aku permisi, selamat tinggal Qistina."

Calvin berdiri,berlalu meninggalkan Qistina sendiri.

Kepalan tangan Qistina yang sejak tadi menunggu untuk di layangkan, akhirnya mendarat juga di meja.

"Brak!!"

Di tengah suasana hati yang terbakar oleh amarah Qistina tidak bisa berfikir lagi. Ia langsung saja meminum minuman yang di pesan oleh Calvin.

"Brengsek!"

"Menyedihkan katanya? Dia tahu apa soal hidup ku!"

Gluk

Lagi, Qistina meneguk minuman yang terasa asing untuknya itu.

"Dia pikir ini kemauan ku hidup seperti ini? Aku juga mau hidup kaya raya, banyak harta, bisa beli apa saja. Bukan seperti ini, mau beli lipstik saja harus mikir besok bisa makan apa nggak."

Minuman di gelasnya sudah tandas. Tapi Qistina masih belum berhenti juga. Ia lanjutkan meneguk minuman di gelas milik Calvin yang belum sempat di minumnya.

"Kalau saja ada pekerjaan yang cepat bikin aku kaya, aku pasti mau melakukannya. Tapi kerja apa ya?.

Apa aku jual ginjal aja?, atau jadi simpenan pejabat?, atau kurir narkoba?... Ah tidak, tidak boleh kerja kriminal. Tidak baik. Nanti di jemput pak polisi."

Qistina sepertinya sudah berada di ambang kesadaran. Dia mabuk, kata orang-orang gejalanya seperti itu. Ngomong nggak jelas.

"Ah ...aku tahu!"

"Nikah sama duda kaya raya saja, jenius sekali Qistina.

Tapi, nyari duda kaya raya di mana ya?"

Qistina benar-benar mabuk, ini pertama kali dalam hidupnya. Itu pun secara tidak sengaja.

Tiba-tiba seorang pria tampan sudah duduk di depannya.

“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,juga bisa membahagiakanmu, aku kaya raya dan bukan duda. Kamu mau nggak?"

Qistina mendongak, menatap dengan tanda tanya.

"Memangnya kamu siapa? Kamu pakai jam tangan sama seperti Calvin, beneran kaya ya kamu?"

"Nikah dulu, nanti aku akan kasih tahu aku siapa."

"Jadi kamu mau nikahin aku? Ya udah ayo nikah, kalau kamu kaya aku pasti mau."

Dua orang yang sama-sama dalam pengaruh alkohol membuat kesepakatan bersama.

*

*

*

~ Siapakah pria itu?

~ Lalu bagaimana kelanjutan kisah mereka?

~Akankah kesepakatan mereka terjadi?

~Ikutin terus cerita ini ... jangan lupa like ,koment, subcribe dan rating bintang 5 ya

~Salam hangat dari Penulis 🤍

Terpopuler

Comments

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

Cerita baru lagi ini👍

2025-12-31

2

Sishrye

Sishrye

iya bener. bos emang suka gitu laa/Facepalm/

2026-01-15

2

Mingyu gf😘

Mingyu gf😘

entar pasti badainya bawa ekonomi

2026-01-20

0

lihat semua
Episodes
1 Kesepakatan
2 Antara Cinta dan Ambisi
3 Patah Hati Yang Sama
4 Prasangka
5 Kamu Harus Tes...!
6 Hasil Tes
7 Keputusan Final
8 Tatapan Sinis
9 Status Sarat Makna
10 Trauma Mayor 1
11 Trauma Mayor 2
12 Trauma Mayor 3
13 Pengasuh 1
14 Pengasuh 2
15 Pengasuh 3
16 Perdarahan Subdural
17 Panggilan Mama
18 Afirmasi Positif
19 Mengenal 1
20 Mengenal 2
21 Bonus Satu Bulan
22 Eutanasia
23 Friend Zone 1
24 Friend Zone 2
25 Friend Zone 3
26 Tak lagi takut
27 Bukan tujuan akhir
28 Awal kekacauan
29 Perihal Jodoh
30 Cinta bisa di adjust, apa iya?
31 Perjalanan 1
32 Perjalanan 2
33 Perjalanan 3
34 Perjalanan 4
35 Perjalanan 5
36 Perjalanan 6
37 Perjalanan 7
38 Perjalanan 8
39 Perjalanan 9
40 Perjalanan 10
41 Video berdurasi 35 detik
42 Perjalanan 11
43 Perjalanan 12
44 Perjalanan 13
45 Perjalanan 14
46 Perjalanan 15
47 Perjalanan 16
48 Perjalanan 17
49 Perjalanan 18
50 Perjalanan 19
51 Perjalanan 20
52 Perjalanan 21
53 Perjalanan 22
54 Perjalanan 23
55 Perjalanan 24
56 Perjalanan 25
57 Perjalanan 26
58 Perjalanan 27
59 Perjalanan 28
60 Perjalanan 29
61 Perjalanan 30
62 Perjalanan 31
63 Perjalanan 32
64 Perjalanan 33
65 Perjalanan 34
66 Perjalanan 35
67 Perjalanan 36
68 Perjalanan 37
69 Perjalanan 38
70 Perjalanan 39
71 Perjalanan 40
72 Perjalanan 41
73 Perjalanan 42
74 Perjalanan 43
75 Perjalanan 44
76 Perjalanan 45
77 Perjalanan 46
78 Perjalanan 47
79 Perjalanan 48
80 Perjalanan 49
81 Perjalanan 50
82 Perjalanan 51
83 Perjalanan 52
84 Perjalanan 53
85 Perjalanan 54
86 Perjalanan 55
87 Perjalanan 56
88 Perjalanan 57
89 Perjalanan 58
90 Perjalanan 59
91 Perjalanan 60
92 Perjalanan 61
93 Perjalanan 62
94 Perjalanan 63
95 Perjalanan 64
96 Perjalanan 65
97 Perjalanan 66
98 Perjalanan 67
99 Perjalanan 68
100 Perjalanan 69
101 Perjalanan 70
102 Perjalanan 71
103 Perjalanan 72
104 Perjalanan 73
105 Perjalanan 74
106 Perjalanan 75
107 Perjalan 76
108 Perjalanan 77
109 Rumah Tangga 1
110 Rumah Tangga 2
111 Rumah Tangga 3
112 Rumah Tangga 4
113 Rumah Tangga 5
114 Rumah Tangga 6
115 Rumah Tangga 7
116 Rumah Tangga 8
117 Rumah Tangga 9
118 Rumah Tangga 10
119 Rumah Tangga 11
120 Rumah Tangga 12
121 Rumah Tangga 13
122 Rumah Tangga 14
123 Rumah Tangga 15
124 Rumah Tangga 16
125 Rumah Tangga 17
126 Rumah Tangga 18
127 Rumah Tangga 19
128 Rumah Tangga 20
129 Rumah Tangga 21
130 Rumah Tangga 22
131 Rumah tangga 23
132 Rumah Tangga 24
133 Rumah Tangga 24
134 Rumah Tangga 25
135 Rumah Tangga 26
136 Rumah Tangga 27
137 Rumah Tangga 28
138 Rumah Tangga 29
139 Rumah Tangga 30
140 Rumah Tangga 31
141 Rumah Tangga 32
142 Rumah Tangga 33
143 Rumah Tangga 34
144 Rumah Tangga 35
145 Rumah Tangga 36
146 Rumah Tangga 37
147 Rumah Tangga 38
148 Badai Rumah Tangga 1
149 Badai Rumah Tangga 2
150 Badai Rumah Tangga 3
151 Badai Rumah Tangga 4
152 Badai Rumah Tangga 5
153 Badai Rumah Tangga 6
154 Badai Rumah Tangga 7
155 Badai Rumah Tangga 8
156 Badai Rumah Tangga 10
157 Badai Rumah Tangga 11
158 Badai Rumah Tangga 12
159 Badai Rumah Tangga 13
160 Badai Rumah Tangga 14
161 Badai Rumah Tangga 15
162 Love is Journey
163 Pengumuman Part Lanjutan
Episodes

Updated 163 Episodes

1
Kesepakatan
2
Antara Cinta dan Ambisi
3
Patah Hati Yang Sama
4
Prasangka
5
Kamu Harus Tes...!
6
Hasil Tes
7
Keputusan Final
8
Tatapan Sinis
9
Status Sarat Makna
10
Trauma Mayor 1
11
Trauma Mayor 2
12
Trauma Mayor 3
13
Pengasuh 1
14
Pengasuh 2
15
Pengasuh 3
16
Perdarahan Subdural
17
Panggilan Mama
18
Afirmasi Positif
19
Mengenal 1
20
Mengenal 2
21
Bonus Satu Bulan
22
Eutanasia
23
Friend Zone 1
24
Friend Zone 2
25
Friend Zone 3
26
Tak lagi takut
27
Bukan tujuan akhir
28
Awal kekacauan
29
Perihal Jodoh
30
Cinta bisa di adjust, apa iya?
31
Perjalanan 1
32
Perjalanan 2
33
Perjalanan 3
34
Perjalanan 4
35
Perjalanan 5
36
Perjalanan 6
37
Perjalanan 7
38
Perjalanan 8
39
Perjalanan 9
40
Perjalanan 10
41
Video berdurasi 35 detik
42
Perjalanan 11
43
Perjalanan 12
44
Perjalanan 13
45
Perjalanan 14
46
Perjalanan 15
47
Perjalanan 16
48
Perjalanan 17
49
Perjalanan 18
50
Perjalanan 19
51
Perjalanan 20
52
Perjalanan 21
53
Perjalanan 22
54
Perjalanan 23
55
Perjalanan 24
56
Perjalanan 25
57
Perjalanan 26
58
Perjalanan 27
59
Perjalanan 28
60
Perjalanan 29
61
Perjalanan 30
62
Perjalanan 31
63
Perjalanan 32
64
Perjalanan 33
65
Perjalanan 34
66
Perjalanan 35
67
Perjalanan 36
68
Perjalanan 37
69
Perjalanan 38
70
Perjalanan 39
71
Perjalanan 40
72
Perjalanan 41
73
Perjalanan 42
74
Perjalanan 43
75
Perjalanan 44
76
Perjalanan 45
77
Perjalanan 46
78
Perjalanan 47
79
Perjalanan 48
80
Perjalanan 49
81
Perjalanan 50
82
Perjalanan 51
83
Perjalanan 52
84
Perjalanan 53
85
Perjalanan 54
86
Perjalanan 55
87
Perjalanan 56
88
Perjalanan 57
89
Perjalanan 58
90
Perjalanan 59
91
Perjalanan 60
92
Perjalanan 61
93
Perjalanan 62
94
Perjalanan 63
95
Perjalanan 64
96
Perjalanan 65
97
Perjalanan 66
98
Perjalanan 67
99
Perjalanan 68
100
Perjalanan 69
101
Perjalanan 70
102
Perjalanan 71
103
Perjalanan 72
104
Perjalanan 73
105
Perjalanan 74
106
Perjalanan 75
107
Perjalan 76
108
Perjalanan 77
109
Rumah Tangga 1
110
Rumah Tangga 2
111
Rumah Tangga 3
112
Rumah Tangga 4
113
Rumah Tangga 5
114
Rumah Tangga 6
115
Rumah Tangga 7
116
Rumah Tangga 8
117
Rumah Tangga 9
118
Rumah Tangga 10
119
Rumah Tangga 11
120
Rumah Tangga 12
121
Rumah Tangga 13
122
Rumah Tangga 14
123
Rumah Tangga 15
124
Rumah Tangga 16
125
Rumah Tangga 17
126
Rumah Tangga 18
127
Rumah Tangga 19
128
Rumah Tangga 20
129
Rumah Tangga 21
130
Rumah Tangga 22
131
Rumah tangga 23
132
Rumah Tangga 24
133
Rumah Tangga 24
134
Rumah Tangga 25
135
Rumah Tangga 26
136
Rumah Tangga 27
137
Rumah Tangga 28
138
Rumah Tangga 29
139
Rumah Tangga 30
140
Rumah Tangga 31
141
Rumah Tangga 32
142
Rumah Tangga 33
143
Rumah Tangga 34
144
Rumah Tangga 35
145
Rumah Tangga 36
146
Rumah Tangga 37
147
Rumah Tangga 38
148
Badai Rumah Tangga 1
149
Badai Rumah Tangga 2
150
Badai Rumah Tangga 3
151
Badai Rumah Tangga 4
152
Badai Rumah Tangga 5
153
Badai Rumah Tangga 6
154
Badai Rumah Tangga 7
155
Badai Rumah Tangga 8
156
Badai Rumah Tangga 10
157
Badai Rumah Tangga 11
158
Badai Rumah Tangga 12
159
Badai Rumah Tangga 13
160
Badai Rumah Tangga 14
161
Badai Rumah Tangga 15
162
Love is Journey
163
Pengumuman Part Lanjutan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!