Jangan Naif!

Ayra melihat Jam di dinding menunjukkan pukul 8:30 PM. Hujan di luar sangat lebat, membuat suasana terasa mencekam. Selama ini Ayra tak pernah merasa takut sendirian di rumah dalam keadaan apapun. Sekalipun listrik mati dan ia harus gelap-gelapan sendirian di tengah malam dan hujan lebat.

Tapi kali ini, ada rasa takut yang begitu mengusik hatinya. Bagaimana jika Rayyan meninggalkannya demi wanita itu? Bagaimana dengan nasib anak yang sedang dikandungnya kelak jika ia sampai berpisah dengan Rayyan? Ia tak punya pekerjaan. Bagaimana ia harus menghidupi anaknya nanti?

Ayra mengusap kasar pipinya yang basah. Lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Dicarinya nomor Rayyan. Lalu diklik nya nama itu.

Terdengar bunyi sambungan, tapi Rayyan belum juga mengangkatnya.

"Angkat mas..." Desahnya. Tapi sampai beberapa detik Rayan tak kunjung mengangkat teleponnya.

Ayra tak menyerah. Ia terus mengulang panggilannya. Hingga akhirnya Rayyan mengangkatnya.

"Kamu apa-apaan sih? Ganggu orang lagi kerja aja!" Semprot Rayyan dengan nada bentakan sebelum Ayra sempat mengucapkan 'halo'.

"Assalamualaikum, Mas..." Sapa Ayra dengan suara lembut, meski hatinya bergejolak.

"Waalaikumsalam. Kamu ngapain malam-malam telepon aku? Aku harus istirahat, besok pagi harus kerja." Ucap Rayyan ketus.

"Mas... ayo tidur!"

Telinga Ayra masih normal. Suara manja barusan terdengar sangat jelas, masuk ke indera pendengarannya.

"Itu siapa, Mas? Aku minta Mas Rayyan pulang sekarang juga!"

"Siapa apa? Kamu jangan gila, aku kan sedang di luar kota." Elak Rayyan, membuat Ayra tertawa sumbang.

"Aku tadi ke supermarket yang ada di dekat kantormu. Aku melihatmu dengan seorang perempuan yang menggandeng tangan kamu mesra." Pekik Ayra, saking tidak tahannya memendam luka yang kini tengah menganga di hatinya.

Hening. Sunyi yang panjang sempat tercipta beberapa detik di seberang telepon. Rayyan seolah tersedak oleh kata-katanya sendiri,

"Supermarket? Ayra, jangan gila! Aku benar-benar sedang di luar kota. Kamu pasti salah lihat orang," ucap Rayyan akhirnya. Suaranya terdengar berusaha tenang, namun ada nada gugup yang sangat kentara.

"Penglihatanku masih sangat normal, Mas! Aku melihatmu dengan jelas. Dan baru saja... aku dengar sendiri suara perempuan itu mengajakmu tidur!" Ayra berteriak, air matanya kembali tumpah deras.

"Kenapa kamu tega berbohong sejahat ini saat aku sedang mengandung anak kita, Mas?"

"Ayra, sudahlah! Kamu sedang hamil, pikiranmu jadi ke mana-mana. Suara tadi itu suara televisi, jangan mulai drama!" kilah Rayyan, mencoba mencari alasan paling tidak masuk akal.

"Jangan teruskan kebohonganmu, Mas! Cukup!" potong Ayra dengan suara gemetar. "Kalau Mas tidak pulang malam ini juga ke rumah, besok pagi aku sendiri yang akan datang ke kantormu. Aku akan pastikan semua rekan kerjamu termasuk atasanmu, tahu apa yang sedang kamu lakukan di belakang istri yang sedang mengandung."

Terdengar suara kasur yang berderit dan langkah kaki yang terburu-buru di seberang telepon. Mungkin Rayyan sedang menjauh dari perempuan itu agar bisa bicara lebih bebas.

"Kamu berani mengancamku? Kamu tahu kan kalau pekerjaan ini yang menghidupi kita?" nada suara Rayyan berubah menjadi rendah dan tajam.

"Aku tidak peduli lagi. Aku akan datang ke sana dengan kondisi seperti ini dan menceritakan semuanya kalau Mas tidak pulang sekarang juga!"

Kembali ada jeda beberapa detik yang terasa sangat menyesakkan. Terdengar suara Rayyan yang mendengus frustrasi sebelum akhirnya ia memberikan jawaban terakhirnya.

"Oke! Aku pulang malam ini. Puas kamu?!"

Klik.

Sambungan telepon diputus secara sepihak. Ayra perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Tubuhnya luruh ke lantai, ia bersandar pada kaki tempat tidur sambil memeluk perutnya yang mendadak terasa kencang. Meski ia berhasil memaksa suaminya pulang, tak ada rasa tenang di hatinya. Yang ada hanya rasa ngeri membayangkan amarah seperti apa yang akan dibawa Rayyan nanti saat tiba.

***

Di tempat lain Rayyan memang tengah bersama wanita yang tadi dilihat Ayra di supermarket. Wanita itu nampak tidak suka saat Rayyan bersiap untuk pergi.

"Kamu mau kemana, Mas?" Tanyanya galak. Dia bangkit dari tempat tidur dan membungkus tubuh polosnya dengan selimut. Lalu menghampiri Rayyan yang tengah mengancingkan kemejanya.

"Aku harus pulang dulu, Liztha." Jawab Rayyan singkat.

"Tidak bisa! Aku tak akan mengizinkan kamu menemui wanita yang sudah merebut kamu dariku!"

Liztha cepat-cepat berdiri di depan pintu, menghalangi supaya Rayyan tak bisa keluar.

"Aku harus pulang, sayang. Kalau aku tidak pulang, Ayra akan pergi ke kantor dan membocorkan hubungan kita. Kita pasti akan dipecat dari perusahaan." Rayyan mencoba memberi pengertian pada wanita itu.

Sejenak Liztha terdiam. Tapi dia masih belum beranjak dari depan pintu.

"Tapi kamu jangan lama-lama di sana. Malam ini juga kamu harus balik ke sini. Awas kalau kamu sampai berhubungan dulu sama dia. Tadi kita sudah bertarung habis-habisan. Aku tidak mau kamu loyo saat datang lagi ke sini!" Ujarnya tanpa rasa malu. Di otak wanita itu hanya urusan l*ndir.

Tapi Rayyan malah tersenyum. Dia mendekat tanpa menyisakan jarak diantara mereka. Tangannya meraih pinggang ramping Liztha dan menariknya. Senyum nakal bermain di bibirnya. Setelah itu bibir Rayyan menempel di telinga Liztha dan membisikkan sesuatu. Membuat wanita itu cekikikan. Tangan yang memegang selimut itu naik ke leher Rayyan hingga selimut yang membungkus tubuhnya terjun bebas. Menyisakan tubuhnya yang polos tanpa terhalang selembar benangpun.

Setelah itu Rayyan mengangkat tubuh sang wanita dan melemparnya ke tengah kasur sambil leduanya cekikikkan menjijikkan.

***

Hampir tiga jam kemudian, barulah Rayyan tiba di rumah Ayra. Lelaki itu terlihat tenang. Raut wajahnya datar.

"Ada apa kamu nyuruh aku pulang?" Tanyanya santai dan duduk di sofa yang ada di hadapan Ayra.

Wanita itu sampai menarik napas dalam untuk menahan supaya tidak langsung meledak.

"Mas seakan tidak merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan? Mas sadar tidak sudah menglhianati aku dan mengkhianati janji pernikahan kita di depan Tuhan?"

Rayyan tak segera bereaksi. Dia masih terlihat santai, seolah apa yang dia lakukan bukanlah keaalahan

"Kalau kamu sudah tahu, lalu apa mau kamu sekarang?"Tanyanya.

Ayra menatap tajam wajah suaminya. Ia tak percaya jika orang yang ada di hadapannya ini benar-benar suaminya. Di bibir lelaki itu malah terlihat senyum yang sangat samar. Tapi jelas senyum itu menunjukkan ejekan untuk Ayra.

"Aku minta, putuskan hubungan kamu dengan dia, Mas!" Baru kali ini Ayra berkata tegas dan sedikit keras pada suaminya.

"Apa? Enak saja. Asal kamu tahu, jauh sebelum aku menikah denganmu, dia sudah menjadi kelasihku! Tapi karena ibumu yang memohon pada ibuku untuk menjodohkan kita, aku terpaksa harus mengorbankan cinta kami."

Ayra ternganga. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat.

“Apa…?” suaranya bergetar. “Jadi selama ini… aku cuma jadi penghalang hubungan kalian?”

Rayyan mengangguk kuat seraya menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kaki dengan santai. Tatapannya dingin, tak ada rasa bersalah sedikit pun.

“Anggap saja begitu. Aku menikah denganmu karena perjodohan, Ayra. Bukan karena cinta.”

Kalimat itu menghantam telinga Ayra lebih keras dari tamparan mana pun. Tubuhnya gemetar, namun ia berusaha tetap berdiri tegak.

“Awalnya aku juga tidak mencintai kamu, Mas. Tapi pernikahan kita adalah perjanjian di hadapan Tuhan, bukan ajang permainan! Itulah kenapa aku berusaha keras untuk mencintaimu dan menyerahkan diriku seutuhnya padamu. Tapi ternyata aku hanya berjuang sendirian." Ucapnya lirih, nyaris seperti berbisik.

Rayyan terkekeh pelan. “Jangan naif. Aku bukan kamu. Tapi selama ini aku juga sudah menjalankan peran sebagai suami yang baik, kan?”

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh kembali. Namun Ayra segera mengusapnya kasar, menolak terlihat lemah di hadapan pria yang telah menghancurkan hatinya.

Terpopuler

Comments

Siti Saodah

Siti Saodah

kasian aiyra,,pergi aja kamu ay daripada sakit hati,nanti juga dia akan menuai hasil,,nya

2026-06-09

1

Marina Tarigan

Marina Tarigan

kalau sdh begini caranya Ayra pernikahanmu harus berakhir karena kamu akan tersiksa selamanya karena adab suamimu itu tdk ada lagi

2026-07-18

0

Yunita Sophi

Yunita Sophi

karma pasti ada walau mungkin waktu nya lama...

2026-05-21

1

lihat semua
Episodes
1 Kenyataan Pahit
2 Jangan Naif!
3 Selamat Jalan, Nak!
4 Kenikmatan Semu
5 Kemarahan Herman
6 Godaan Liztha
7 Habis Kesabaran
8 Ambil Laki-laki Itu!
9 Melepas Rayyan
10 CEO Baru
11 pesona Bos Baru
12 Dipermalukan
13 Menyongsong Kebebasan
14 Jawaban Telak
15 Masuk Perangkap Sendiri
16 Bukti Tambahan
17 Seperti Menjerat Leher Sendiri
18 Berakhir
19 Terkuras
20 Bertemu Tak Sengaja
21 Berjuang
22 Teman Baru?
23 Perasaan Yang Mulai Tumbuh
24 Tidak Penting!
25 Ajakan Dinner
26 Zavian Yang Jahil
27 Ke Mana Ayra?
28 Tolon Jangan Ceritakan Dulu!
29 Tak Bisa Dibantah
30 Permainan Marissa
31 Pikiran Aneh
32 Superwoman
33 Intrik Licik
34 Sadar Dijebak
35 Kamu Cemburu?
36 Ikatan Tak Kasat Mata
37 Kamu Milik Aku!
38 Siapa Yang Menghadang?
39 Kecurigaan
40 Siapa Dalangnya?
41 Geram
42 Sekelumit Masa Lalu
43 Tak Terduga
44 Skakmat!
45 Siasat Licik
46 Aku Setuju
47 Penyelidikan Dimulai
48 Semua Kepanasan
49 Happy Wedding
50 Kedatangan Marissa
51 Ajang Pertengkaran
52 Dia Bukan...
53 Predator
54 Bergerak Cepat
55 Dilema
56 Adu Cerdik
57 Penyerangan
58 Terluka
59 pembalasan
60 Kondisi Euginia
61 Tabur Tuai
62 Di Ambang Kehancuran
63 Kabar Mengejutkan
64 Semua Ada Akibatnya!
65 Menunggu Hasil
66 Titik Nadir
67 Rasa Kesal
68 Kembali Mesra
69 Ketakutan Yang Menyesakkan
70 Kabar Duka
71 Akhir Kisah
72 Madu Pernikahan
73 Pingsan
74 Bonus Terindah
75 Bumil Random
76 Demi Bumil
77 Sentuhan Dendam
78 Siaga Satu!
79 Pesta Dimulai
80 Cerdik Dan Gesit
81 Rencana Cadangan
82 Detik Terakhir.
83 Menjelang Kelahiran
84 Tegang
85 Aku Istri Sah!
86 Kalah Telak
87 Alfian Beraksi Lagi
88 Sanksi Berat
89 Menyongsong Bahagia
90 Kembali
91 Kegidupan Baru
92 Kamu Bukan Robot
93 Kapan Waktunu Untuk Aku?
94 Gigit Jari
95 Penasaran
96 Tak Terima
97 Kepergok
98 Mulai Detik Ini, Kita Putus!
99 Perasaan Ingin Melindungi
100 Ancaman Kenzie
101 Lamaran Tak Diundang
102 Diusir
103 Mengambil Langkah Hukum
104 Kebimbangan Alara
105 Waspada
106 Sebuah Jebakan
107 Senjata Makan Tuan!
108 Kegemparan
109 Tak Ada Jalan Keluar
110 Tak Terduga
111 Terpaksa Melawan Rasa Jijik
112 Menjerat Tety
113 Gagal
114 Malam Pertaruhan
115 Ditemdang Ke Jalanan
116 SAH!
117 Apa Kita Saling Kenal?
118 Kisah Haru
119 Menuju Tamat.
120 Dua Bab Terakhir
121 Tamat
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Kenyataan Pahit
2
Jangan Naif!
3
Selamat Jalan, Nak!
4
Kenikmatan Semu
5
Kemarahan Herman
6
Godaan Liztha
7
Habis Kesabaran
8
Ambil Laki-laki Itu!
9
Melepas Rayyan
10
CEO Baru
11
pesona Bos Baru
12
Dipermalukan
13
Menyongsong Kebebasan
14
Jawaban Telak
15
Masuk Perangkap Sendiri
16
Bukti Tambahan
17
Seperti Menjerat Leher Sendiri
18
Berakhir
19
Terkuras
20
Bertemu Tak Sengaja
21
Berjuang
22
Teman Baru?
23
Perasaan Yang Mulai Tumbuh
24
Tidak Penting!
25
Ajakan Dinner
26
Zavian Yang Jahil
27
Ke Mana Ayra?
28
Tolon Jangan Ceritakan Dulu!
29
Tak Bisa Dibantah
30
Permainan Marissa
31
Pikiran Aneh
32
Superwoman
33
Intrik Licik
34
Sadar Dijebak
35
Kamu Cemburu?
36
Ikatan Tak Kasat Mata
37
Kamu Milik Aku!
38
Siapa Yang Menghadang?
39
Kecurigaan
40
Siapa Dalangnya?
41
Geram
42
Sekelumit Masa Lalu
43
Tak Terduga
44
Skakmat!
45
Siasat Licik
46
Aku Setuju
47
Penyelidikan Dimulai
48
Semua Kepanasan
49
Happy Wedding
50
Kedatangan Marissa
51
Ajang Pertengkaran
52
Dia Bukan...
53
Predator
54
Bergerak Cepat
55
Dilema
56
Adu Cerdik
57
Penyerangan
58
Terluka
59
pembalasan
60
Kondisi Euginia
61
Tabur Tuai
62
Di Ambang Kehancuran
63
Kabar Mengejutkan
64
Semua Ada Akibatnya!
65
Menunggu Hasil
66
Titik Nadir
67
Rasa Kesal
68
Kembali Mesra
69
Ketakutan Yang Menyesakkan
70
Kabar Duka
71
Akhir Kisah
72
Madu Pernikahan
73
Pingsan
74
Bonus Terindah
75
Bumil Random
76
Demi Bumil
77
Sentuhan Dendam
78
Siaga Satu!
79
Pesta Dimulai
80
Cerdik Dan Gesit
81
Rencana Cadangan
82
Detik Terakhir.
83
Menjelang Kelahiran
84
Tegang
85
Aku Istri Sah!
86
Kalah Telak
87
Alfian Beraksi Lagi
88
Sanksi Berat
89
Menyongsong Bahagia
90
Kembali
91
Kegidupan Baru
92
Kamu Bukan Robot
93
Kapan Waktunu Untuk Aku?
94
Gigit Jari
95
Penasaran
96
Tak Terima
97
Kepergok
98
Mulai Detik Ini, Kita Putus!
99
Perasaan Ingin Melindungi
100
Ancaman Kenzie
101
Lamaran Tak Diundang
102
Diusir
103
Mengambil Langkah Hukum
104
Kebimbangan Alara
105
Waspada
106
Sebuah Jebakan
107
Senjata Makan Tuan!
108
Kegemparan
109
Tak Ada Jalan Keluar
110
Tak Terduga
111
Terpaksa Melawan Rasa Jijik
112
Menjerat Tety
113
Gagal
114
Malam Pertaruhan
115
Ditemdang Ke Jalanan
116
SAH!
117
Apa Kita Saling Kenal?
118
Kisah Haru
119
Menuju Tamat.
120
Dua Bab Terakhir
121
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!