Selamat Jalan, Nak!

“Kamu tega, Mas,” ucapnya dengan suara bergetar.

“Kamu biarkan aku berusaha mencintaimu sendirian, sementara hatimu tetap milik perempuan lain.”

Rayyan bangkit dari duduknya, menatap Ayra dari atas ke bawah.

“Justru kamu yang terlalu berharap. Aku tidak pernah berjanji mencintaimu.”

Ucapan itu langsung menancap dalam ke jantung Ayra dan memberi rasa sakit yang luar biasa. Tapi Ayra masih bisa tersenyum, meski getir.

“Kalau begitu,” katanya tegas, menatap lurus ke mata Rayyan sambil menahan rasa sakit di perutnya yang menegang.

“Mulai malam ini, aku juga tidak akan lagi mempertahankan pernikahan yang dibangun dari kebohongan.”

Rayyan terdiam sesaat. Untuk kali ini, ekspresi santainya sedikit goyah.

“Apa maksudmu?” tanyanya tajam.

Ayra mengangkat dagunya, matanya merah tapi sorotnya kuat.

“Aku tidak akan jadi istri bodoh yang menutup mata. Kalau kamu memilih dia, maka aku juga akan memilih diriku sendiri.”

Keheningan menggantung di antara mereka. Udara terasa berat.

Dan kini Rayyan menyadari, perempuan yang selama ini ia anggap lemah, ternyata berani melangkah diluar perkiraannya.

"Tapi kamu sedang hamil Ayra. Hamil anakku dan aku tak ingin terjadi apa-apa sama dia kelak."

Ayra menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan pendengarannya.

"Apa Mas? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah selama ini kamu tidak perduli dengan kehamilanku? Bahkan kamu membiarkan aku menjalaninya sendirian dan memeriksakan kandunganku pun sendirian. Sudahlah, tidak usah sok ingin menjadi ayah yang baik. Itu sangat menggelikan bagiku... argh..." Ucapan lantang Ayra diakhiri ringisan yang ditahan. Tangannya refleks menekan perutnya yang semakin terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang memaksa ingin keluar.

Mendengar ucapan Ayra, Rayyan hanya mengedikkan bahunya sambil mencibir.

"Ya sudah, kalau begitu urus saja dirimu." Lelaki itu berdiri dari duduknya. Ia melangkah melewati Ayra yang mulai terengah. Keringat dingin membanjir di sekujur tubuhnya. Semakin ditahan, rasa sakit itu semakin menjadi dan tiba-tiba, serrr...

Seperti ada sesuatu yang pecah di dalam rahimnya, lalu ada cairan yang merembes ke sela-sela kaki mulusnya.

"Argh..." Ayra memekik, tak kuasa lagi menahan rasa sakit yang luar biasa.

Membuat Rayyan menghentikan langkahnya.

Ia berbalik dan seketika wajahnya menegang. Matanya membelalak saat melihat darah menggenang di lantai, mengalir dari kaki Ayra yang gemetar hebat.

“Ayra…?” suaranya tercekat.

Tubuh Ayra limbung. Tangan kirinya refleks mencengkeram perutnya yang terasa seperti diremat dari dalam. Rasa nyeri itu jauh lebih hebat dari sebelumnya, membuat napasnya terengah dan pandangannya mengabur.

“Argh… sakit, Mas…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar sebelum tubuhnya ambruk.

Refleks, Rayyan menangkapnya sebelum jatuh sepenuhnya ke lantai. Tangannya berlumur darah, Rayyan benar-benar panik.

“Ayra! Ayra, sadar Ayra.. lihat aku!” Ia menepuk pipi istrinya pelan, tapi mata Ayra sudah terpejam rapat, wajahnya pucat pasi.

Jantung Rayyan berdegup kencang. Tangannya gemetar saat meraih ponsel.

“Sial… sial!” gumamnya sambil menekan nomor darurat.

Tak ada lagi nada dingin atau sikap acuh. Yang tersisa hanya ketakutan yang menyesakkan dada.

Beberapa menit kemudian, suara sirene ambulans memecah keheningan malam. Ayra segera dilarikan ke rumah sakit. Rayyan duduk di samping brankar, menatap wajah pucat itu dengan perasaan yang sulit diartikan.

Tiba di rumah sakit, Ayra langsung dibawa ke ruang IGD.

Sementara Rayyan terduduk lemas. Baju putihnya sudah berubah warna, berlumur darah Ayra. Matanya kosong menatap lantai. Suara ponselnya yang dari tadi berdering tak dihiraukannya. Dia tahu, itu pasti telepon dari Liztha. Tapi dia tak bisa meninggalkan Ayra dalam keadaan seperti ini. Setidaknya ini untuk menebus rasa bersalahnya. Karena sikap bajingannya membuat Ayra pendarahan.

Di tengah kecemasannya, Rayyan teringat ibunya. Diapun segera menelepon wanita yang sudah melahirkannya itu

***

Matahari pagi telah memancarkan sinarnya, memberi kehangatan di bumi. Senyum cerah seharusnya mengawali semangat pagi untuk menyambut harapan agar hari ini bisa lebih baik lagi dari hari kemarin.

Tapi tidak dengan Ayra. Perasaannya sudah hancur berkeping-keping. Harapannya sudah punah oleh pengkhianatan suami dan kehilangan... Jabang bayinya.

"Selamat jalan, Nak, tunggu Mama di sana..." Bisiknya pilu, sambil menahan isak dan mengusap lembut perutnya yang sudah rata.

​Tadi, saat ia tersadar, dokter mengatakan kalau janin di dalam rahimnya tak bisa diselamatkan akibat guncangan batin yang hebat dan kontraksi dini yang memicu pendarahan hebat. Ayra memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit pagi yang biru namun terlihat abu-abu di matanya. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi bantal rumah sakit yang dingin.

​Pintu kamar rawat terbuka pelan. Langkah kaki yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Itu Rayyan. Ayra tidak bergerak, bahkan tidak ingin melirik sedikit pun pada pria yang kini berdiri di samping ranjangnya.

​"Ayra," panggil Rayyan lirih. Suaranya tidak lagi tajam seperti semalam. Ada nada parau dan sisa kelelahan di sana.

​"Pergi, Mas," sahut Ayra datar. Suaranya hampir habis, kering oleh rasa sakit dan tangis yang tertahan.

​Rayyan menghela napas berat, mencoba meraih tangan Ayra, namun Ayra segera menariknya menjauh. Penolakan itu membuat Rayyan tertegun. Ia melihat tangan Ayra yang masih terpasang jarum infus, tampak sangat rapuh.

​"Aku tahu aku salah. Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini," gumam Rayyan. Ia menunduk, menatap lantai yang seolah jauh lebih menarik daripada harus menghadapi tatapan terluka istrinya.

​Ayra tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan.

​"Tidak menyangka? Kamu yang mendorongku ke jurang ini, Mas. Kamu yang membunuh harapan kecil yang sempat aku punya untuk pernikahan ini." Ayra akhirnya menoleh, menatap Rayyan dengan mata yang bengkak namun penuh dengan kilatan kebencian.

​"Sekarang setelah anak itu tidak ada, bukankah jalanmu untuk bersama wanita itu sudah terbuka lebar? Tidak ada lagi penghalang dan tidak ada lagi pengikat diantara kita."

​"Bukan begitu, Ayra. Aku tetap merasa kehilangan. Dia juga anakku," potong Rayyan cepat.

​"Anakmu?" Ayra mengulang kata itu dengan nada mengejek.

"Anak yang tidak pernah kamu sapa? Anak yang keberadaannya kamu anggap tidak ada? Jangan munafik! Kamu hanya ingin orang tahu kalau kamu adalah lelaki sempurna. Tapi lihat bajumu yang berlumuran darahnya, itu harga yang harus dia bayar akibat kelakuan bajingan Ayahnya!"

​Rayyan bungkam. Kalimat Ayra tepat sasaran, menusuk langsung ke titik terlemah dalam nuraninya yang baru saja terbangun.

​Tiba-tiba, ponsel di saku Rayyan kembali bergetar. Nama Liztha muncul di layar untuk kesekian kalinya. Rayyan menatap layar itu, lalu menatap Ayra. Ada keraguan yang nyata di matanya.

​"Angkatlah," ujar Ayra dingin sambil kembali membuang muka.

"Setelah itu pergilah. Urusan kita sudah selesai sejak kepergian dia. Setelah aku keluar dari sini, sebaiknya Mas cepat urus perpisahan kita."

​Rayyan masih terpaku di tempatnya. Getaran ponsel itu seolah menjadi pengingat akan dunia yang ia pilih, sementara di hadapannya, dunianya yang lain baru saja hancur berantakan karenanya.

Rayyan akhirnya melangkah keluar dengan bahu yang merosot. Awalnya dia bimbang. Tapi jika ia tak memenuhi panggilan Liztha, ia yakin wanitanya itu akan ngambek dan sulit untuk membujuknya. Rayyan tidak mau lagi kehilangan wanita itu.

Dan tanpa memperdulikan bagaimana perasaan istrinya yang baru saja mengalami guncangan, Rayyan lebih memilih menemui kekasihnya.

Terpopuler

Comments

Marina Tarigan

Marina Tarigan

tdk apa Ayra Rayyan laki2 psikopat bercerai paling baik tata hidupmu kedepannya laki 2berselingkuh ttp berselingkuh

2026-07-18

1

Yunita Asep

Yunita Asep

sabarr alya, suami laknat nanti kena karma...

2026-07-29

0

Deni Siahaan

Deni Siahaan

laki-laki bintang gak ada otak manusia udang

2026-06-11

0

lihat semua
Episodes
1 Kenyataan Pahit
2 Jangan Naif!
3 Selamat Jalan, Nak!
4 Kenikmatan Semu
5 Kemarahan Herman
6 Godaan Liztha
7 Habis Kesabaran
8 Ambil Laki-laki Itu!
9 Melepas Rayyan
10 CEO Baru
11 pesona Bos Baru
12 Dipermalukan
13 Menyongsong Kebebasan
14 Jawaban Telak
15 Masuk Perangkap Sendiri
16 Bukti Tambahan
17 Seperti Menjerat Leher Sendiri
18 Berakhir
19 Terkuras
20 Bertemu Tak Sengaja
21 Berjuang
22 Teman Baru?
23 Perasaan Yang Mulai Tumbuh
24 Tidak Penting!
25 Ajakan Dinner
26 Zavian Yang Jahil
27 Ke Mana Ayra?
28 Tolon Jangan Ceritakan Dulu!
29 Tak Bisa Dibantah
30 Permainan Marissa
31 Pikiran Aneh
32 Superwoman
33 Intrik Licik
34 Sadar Dijebak
35 Kamu Cemburu?
36 Ikatan Tak Kasat Mata
37 Kamu Milik Aku!
38 Siapa Yang Menghadang?
39 Kecurigaan
40 Siapa Dalangnya?
41 Geram
42 Sekelumit Masa Lalu
43 Tak Terduga
44 Skakmat!
45 Siasat Licik
46 Aku Setuju
47 Penyelidikan Dimulai
48 Semua Kepanasan
49 Happy Wedding
50 Kedatangan Marissa
51 Ajang Pertengkaran
52 Dia Bukan...
53 Predator
54 Bergerak Cepat
55 Dilema
56 Adu Cerdik
57 Penyerangan
58 Terluka
59 pembalasan
60 Kondisi Euginia
61 Tabur Tuai
62 Di Ambang Kehancuran
63 Kabar Mengejutkan
64 Semua Ada Akibatnya!
65 Menunggu Hasil
66 Titik Nadir
67 Rasa Kesal
68 Kembali Mesra
69 Ketakutan Yang Menyesakkan
70 Kabar Duka
71 Akhir Kisah
72 Madu Pernikahan
73 Pingsan
74 Bonus Terindah
75 Bumil Random
76 Demi Bumil
77 Sentuhan Dendam
78 Siaga Satu!
79 Pesta Dimulai
80 Cerdik Dan Gesit
81 Rencana Cadangan
82 Detik Terakhir.
83 Menjelang Kelahiran
84 Tegang
85 Aku Istri Sah!
86 Kalah Telak
87 Alfian Beraksi Lagi
88 Sanksi Berat
89 Menyongsong Bahagia
90 Kembali
91 Kegidupan Baru
92 Kamu Bukan Robot
93 Kapan Waktunu Untuk Aku?
94 Gigit Jari
95 Penasaran
96 Tak Terima
97 Kepergok
98 Mulai Detik Ini, Kita Putus!
99 Perasaan Ingin Melindungi
100 Ancaman Kenzie
101 Lamaran Tak Diundang
102 Diusir
103 Mengambil Langkah Hukum
104 Kebimbangan Alara
105 Waspada
106 Sebuah Jebakan
107 Senjata Makan Tuan!
108 Kegemparan
109 Tak Ada Jalan Keluar
110 Tak Terduga
111 Terpaksa Melawan Rasa Jijik
112 Menjerat Tety
113 Gagal
114 Malam Pertaruhan
115 Ditemdang Ke Jalanan
116 SAH!
117 Apa Kita Saling Kenal?
118 Kisah Haru
119 Menuju Tamat.
120 Dua Bab Terakhir
121 Tamat
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Kenyataan Pahit
2
Jangan Naif!
3
Selamat Jalan, Nak!
4
Kenikmatan Semu
5
Kemarahan Herman
6
Godaan Liztha
7
Habis Kesabaran
8
Ambil Laki-laki Itu!
9
Melepas Rayyan
10
CEO Baru
11
pesona Bos Baru
12
Dipermalukan
13
Menyongsong Kebebasan
14
Jawaban Telak
15
Masuk Perangkap Sendiri
16
Bukti Tambahan
17
Seperti Menjerat Leher Sendiri
18
Berakhir
19
Terkuras
20
Bertemu Tak Sengaja
21
Berjuang
22
Teman Baru?
23
Perasaan Yang Mulai Tumbuh
24
Tidak Penting!
25
Ajakan Dinner
26
Zavian Yang Jahil
27
Ke Mana Ayra?
28
Tolon Jangan Ceritakan Dulu!
29
Tak Bisa Dibantah
30
Permainan Marissa
31
Pikiran Aneh
32
Superwoman
33
Intrik Licik
34
Sadar Dijebak
35
Kamu Cemburu?
36
Ikatan Tak Kasat Mata
37
Kamu Milik Aku!
38
Siapa Yang Menghadang?
39
Kecurigaan
40
Siapa Dalangnya?
41
Geram
42
Sekelumit Masa Lalu
43
Tak Terduga
44
Skakmat!
45
Siasat Licik
46
Aku Setuju
47
Penyelidikan Dimulai
48
Semua Kepanasan
49
Happy Wedding
50
Kedatangan Marissa
51
Ajang Pertengkaran
52
Dia Bukan...
53
Predator
54
Bergerak Cepat
55
Dilema
56
Adu Cerdik
57
Penyerangan
58
Terluka
59
pembalasan
60
Kondisi Euginia
61
Tabur Tuai
62
Di Ambang Kehancuran
63
Kabar Mengejutkan
64
Semua Ada Akibatnya!
65
Menunggu Hasil
66
Titik Nadir
67
Rasa Kesal
68
Kembali Mesra
69
Ketakutan Yang Menyesakkan
70
Kabar Duka
71
Akhir Kisah
72
Madu Pernikahan
73
Pingsan
74
Bonus Terindah
75
Bumil Random
76
Demi Bumil
77
Sentuhan Dendam
78
Siaga Satu!
79
Pesta Dimulai
80
Cerdik Dan Gesit
81
Rencana Cadangan
82
Detik Terakhir.
83
Menjelang Kelahiran
84
Tegang
85
Aku Istri Sah!
86
Kalah Telak
87
Alfian Beraksi Lagi
88
Sanksi Berat
89
Menyongsong Bahagia
90
Kembali
91
Kegidupan Baru
92
Kamu Bukan Robot
93
Kapan Waktunu Untuk Aku?
94
Gigit Jari
95
Penasaran
96
Tak Terima
97
Kepergok
98
Mulai Detik Ini, Kita Putus!
99
Perasaan Ingin Melindungi
100
Ancaman Kenzie
101
Lamaran Tak Diundang
102
Diusir
103
Mengambil Langkah Hukum
104
Kebimbangan Alara
105
Waspada
106
Sebuah Jebakan
107
Senjata Makan Tuan!
108
Kegemparan
109
Tak Ada Jalan Keluar
110
Tak Terduga
111
Terpaksa Melawan Rasa Jijik
112
Menjerat Tety
113
Gagal
114
Malam Pertaruhan
115
Ditemdang Ke Jalanan
116
SAH!
117
Apa Kita Saling Kenal?
118
Kisah Haru
119
Menuju Tamat.
120
Dua Bab Terakhir
121
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!