Kenikmatan Semu

Tak lama setelah Rayyan pergi, suara derap langkah terburu-buru terdengar dari lorong rumah sakit. Pintu kamar kembali terbuka, menampakkan sosok Elly dan Herman, ibu dan ayah mertua Ayra. Keduanya terlihat sangat lelah, maklumlah, dari luar kota langsung menuju rumah sakit tanpa istirahat terlebih dahulu.

“Ayra, apa yang terjadi sampai seperti ini?” tanya Elly yang segera menghambur ke sisi ranjang. Tatapannya menyapu wajah dan perut Ayra yang sudah rata. Lalu kembali ke wajah pucat menantunya.

“Sabar ya, Nak. Kami langsung berangkat ke Jakarta begitu Rayyan menelepon semalam,” ucap Herman yang berdiri di ujung ranjang dengan raut wajah berduka, sementara Elly masih berdiri di sisi Ayra. Tatapannya sulit diartikan. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Aku sudah kehilangan cucuku. Kenapa kamu tak bisa menjaganya? Padahal kamu tidak bekerja,” ucap Elly pelan tapi tajam di telinga Ayra. Lebih mirip seperti gerutuan.

“Bu, jangan menyalahkan Ayra. Ini bukan keinginan Ayra juga, dong. Lihat menantu kita, dia sudah sangat tertekan. Kehilangan ini memang berat, tapi Tuhan pasti punya rencana lain.” Herman menatap istrinya. Menasihatinya dengan suara yang lembut dan bijak.

Ayra pun hanya diam, mencoba memaksakan senyum kecil meski dadanya sesak. Ibu mertuanya tak pernah tahu, bagaimana ia menjalani kehamilannya selama lima bulan ini.

"Lalu Rayyan ke mana? Pasti kamu menyalahkan dia, kan? Makanya dia lebih baik pergi daripada bertengkar." Kata-kata Elly tetap menyudutkan. Nadanya sinis dan menyalahkan. Namun mendengar ucapan ibu mertuanya itu, Ayra hanya bisa menghela napas berat, lalu mengembuskannya perlahan.

"Bu, kenapa bicara seperti itu? Sudah seharusnya Rayyan ada di sini menjaga istrinya. Tapi sekarang dia mana? Malah membiarkan Ayra menanggung semuanya sendirian. Dasar anak tak tahu adat!"

Elly mendengus kesal mendengar ucapan suaminya. Lalu melangkah menuju sofa dan duduk di sana sambil menumpang kaki.

Ayah mertuanya memang orang yang tulus. Dia adalah orang baik yang selama ini selalu memperlakukannya seperti keluarga kandung. Berbeda dengan ibu dan adik-adiknya Rayyan. Di mata mereka Ayra layaknya hanya benalu yang numpang hidup pada putra dan kakak mereka. Namun, ada rasa sakit baru yang menyelinap, mereka sama sekali tidak tahu bahwa putra dan kakak kebanggaan mereka adalah penyebab dari semua kehancuran ini.

“Jangan terlalu larut dalam sedih ya, Nak. Kamu masih muda, masih punya peluang besar untuk bisa punya anak lagi,” hibur sang ayah mertua sambil membetulkan selimut Ayra di kakinya yang sedikit terbuka.

“Bu, lebih baik kita doakan anak-anak kita semoga lekas dipercaya lagi untuk mendapatkan momongan. Yang ini mungkin belum rezekinya. Tapi Bapak yakin, suatu saat nanti Ayra pasti akan mengandung lagi. Ayra dan Rayyan akan memberikan kita cucu yang lebih dari satu dan lucu-lucu,” kekeh Herman sambil melangkah ke arah sofa dan duduk di dekat istrinya.

“Iya tapi kapan? Itu kan pasti masih lama. Setahun, dua tahun? Kelamaan! Padahal Ibu sudah pengumuman sama teman-teman arisan, kalau beberapa bulan lagi Ibu akan punya cucu dari Rayyan. Tapi taunya, kayak gini.” Mulut Elly bersungut-sungut dengan wajah kesal.

"Percaya sama ketentuan Tuhan. Semua itu adalah rezeki dari Tuhan. Sudah, daripada Ibu terus ngomel-ngomel dan menyalahkan Ayra yang pasti perasaannya lebih terluka dari kita, lebih baik Ibu rawat Ayra saja biar lekas sembuh."

Mendengar kata-kata itu, hati Ayra terasa seperti diremas. Harapan mereka begitu besar, begitu murni, namun mereka tidak tahu bahwa pernikahan ini akan segera berakhir. Sudah berada di ambang kehancuran. Ayra ingin sekali berteriak, menceritakan bahwa Rayyan telah mengkhianatinya, bahwa tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengandung anak dari pria itu.

Tapi melihat wajah ibu mertuanya yang tengah memendam kekesalan, lidah Ayra mendadak kelu. Ia juga tidak tega menghancurkan harapan ayah mertuanya, setidaknya tidak saat ia sendiri masih terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.

Herman kemudian berdeham, menatap sekeliling kamar. “Sekarang di mana Rayyan? Kenapa dia belum datang juga?”

Ayra menelan ludah, mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar bergetar. “Mas Rayyan baru saja keluar sebentar, Pak. Ada urusan yang harus diselesaikan.”

Ayra memejamkan mata sesaat. Di dalam hatinya, ia sudah membuat keputusan. Dukungan dari mertuanya memang sangat berarti, namun itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa harga dirinya telah diinjak-injak oleh anak mereka.

***

Kepulangan Rayyan pada Liztha disambut dengan barang-barang yang melayang ke arahnya, serta pemandangan seisi kamar yang tak jauh berbeda dengan kapal pecah.

"Buat apa kamu pulang? Sana, kelonin saja istrimu!" teriak wanita itu sambil terus melempar barang-barang yang ada di dekatnya.

"Aku minta maaf, Liz, tapi kejadiannya tidak seperti yang kamu bayangkan. Ayra..."

"Cukup, aku tidak mau dengar alasan apa pun dari mulut kamu! Apa kamu tidak puas dengan pelayananku? Sehebat apa si Ayra di ranjang?"

Liztha meraih bantal dan melemparkannya pada Rayyan. Sigap, lelaki itu menangkapnya, lalu merangsek masuk ke dalam kamar.

Rayyan segera mencengkeram kedua pergelangan tangan Liztha, mengunci pergerakan wanita itu yang tengah dikuasai amarah. Napas Liztha memburu, matanya merah dan basah, menatap tajam ke arah Rayyan. Di tengah kekacauan itu, Rayyan justru menarik Liztha ke dalam pelukannya, berusaha meredam badai yang berkecamuk meski hatinya sendiri sedang terbagi. Ia berbisik lirih, menenangkan dengan kata-kata manis untuk menenangkan selingkuhannya itu.

"Ayra keguguran semalam Liz. Dia kehilangan bayinya dan aku tidak mungkin meninggalkan dia semalam." Ucap Rayyan dengan suara lemah. Tak dipungkiri, dia juga sangat merasa kehilangan calon anaknya, meski tak pernah memperhatikan Ayra selama kehamilannya.

Liztha merenggangkan pelukan Rayyan dan menatap lekat lelaki itu.

"Benarkah? Kamu tidak bohong, kan?"

Rayyan menggeleng lemah, matanya terlihat sendu.

"Bagaimana mungkin aku berbohong tentang hal ini." Nada suara Rayyan lemah. Tapi senyum senang terbit di bibir Liztha.

"Bagus dong, berarti sudah saatnya kalian berpisah. Kamu nggak usah khawatir, aku pasti akan memberi kamu anak yang lucu-lucu."

Rayyan tertegun sejenak melihat binar bahagia di mata Liztha. Ada rasa aneh yang mengganjal di hatinya, namun ia segera menepisnya. Baginya, pernikahan dengan Ayra hanyalah sebatas tuntutan sang Ayah yang harus ia jalani tanpa sedikit pun melibatkan perasaan. Ia tidak pernah mencintai Ayra, dan selama ini ia menutup mata pada setiap usaha Ayra yang mencoba menjadi istri sempurna dan berusaha mencintainya dengan tulus.

"Jangan bahas itu sekarang, Liz. Aku lelah," gumam Rayyan sambil membenamkan wajahnya di bahu Liztha. Ia merasa tempatnya adalah di sini. Bukan berusaha menjadi suami dari wanita yang tidak ia cintai.

Sementara Liztha semakin erat memeluknya, seolah tidak ingin memberikan ruang bagi Rayyan untuk memikirkan hal lain.

"Aku hanya tidak ingin kamu terikat lebih lama dengan wanita itu, Ray. Sekarang penghalangnya sudah tidak ada. Kamu cepat-cepat menceraikan Ayra, lalu kita segera menikah."

Rayyan hanya diam, membiarkan kata-kata Liztha meresap ke dalam benaknya. Ia tidak peduli bahwa di rumah sakit sana, Ayra mungkin sedang berjuang sendirian melawan rasa sakit dan kekecewaan. Baginya, Ayra hanyalah kewajiban yang dipaksakan, sedangkan Liztha adalah pilihannya sendiri. Ia merasa tidak perlu merasa bersalah atas kehilangan itu, karena sejak awal, ia memang tidak pernah mengharapkan kehadiran buah hati dari rahim wanita yang tidak ia inginkan.

Di dalam kamar yang berantakan itu, Rayyan akhirnya memilih untuk hanyut dalam buaian Liztha. Mereguk jerat kenikmatan semu duniawi yang ditawarkan Liztha. Membiarkan nuraninya mati perlahan. Mengabaikan fakta bahwa ia telah melepaskan berlian demi seonggok batu kali!

Terpopuler

Comments

Evy

Evy

Tipe wanita selingkuhan yang seperti itu kalo dijadiin istri hanya akan membuat sakit kepala.. egois..salah dikit langsung ngamuk...

2026-05-22

2

Kembarr Kembaarr

Kembarr Kembaarr

rayan ternyata buta hati buta mata tuli telinga. sbg seorang lelaki yg mencitai perempuan yg tempramen sprt itu hrs mukir ribuan x buat di pacari pa lagi dijadi,in istri.

2026-08-02

0

Marina Tarigan

Marina Tarigan

berarti Litza itu pelacur mknya belum menikahpun sdh nganga mulut bawahnya itu tanpa jeda itu yg kamu cintsi Rayyan. terima kasih banyak pernikahan segera diahiri

2026-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Kenyataan Pahit
2 Jangan Naif!
3 Selamat Jalan, Nak!
4 Kenikmatan Semu
5 Kemarahan Herman
6 Godaan Liztha
7 Habis Kesabaran
8 Ambil Laki-laki Itu!
9 Melepas Rayyan
10 CEO Baru
11 pesona Bos Baru
12 Dipermalukan
13 Menyongsong Kebebasan
14 Jawaban Telak
15 Masuk Perangkap Sendiri
16 Bukti Tambahan
17 Seperti Menjerat Leher Sendiri
18 Berakhir
19 Terkuras
20 Bertemu Tak Sengaja
21 Berjuang
22 Teman Baru?
23 Perasaan Yang Mulai Tumbuh
24 Tidak Penting!
25 Ajakan Dinner
26 Zavian Yang Jahil
27 Ke Mana Ayra?
28 Tolon Jangan Ceritakan Dulu!
29 Tak Bisa Dibantah
30 Permainan Marissa
31 Pikiran Aneh
32 Superwoman
33 Intrik Licik
34 Sadar Dijebak
35 Kamu Cemburu?
36 Ikatan Tak Kasat Mata
37 Kamu Milik Aku!
38 Siapa Yang Menghadang?
39 Kecurigaan
40 Siapa Dalangnya?
41 Geram
42 Sekelumit Masa Lalu
43 Tak Terduga
44 Skakmat!
45 Siasat Licik
46 Aku Setuju
47 Penyelidikan Dimulai
48 Semua Kepanasan
49 Happy Wedding
50 Kedatangan Marissa
51 Ajang Pertengkaran
52 Dia Bukan...
53 Predator
54 Bergerak Cepat
55 Dilema
56 Adu Cerdik
57 Penyerangan
58 Terluka
59 pembalasan
60 Kondisi Euginia
61 Tabur Tuai
62 Di Ambang Kehancuran
63 Kabar Mengejutkan
64 Semua Ada Akibatnya!
65 Menunggu Hasil
66 Titik Nadir
67 Rasa Kesal
68 Kembali Mesra
69 Ketakutan Yang Menyesakkan
70 Kabar Duka
71 Akhir Kisah
72 Madu Pernikahan
73 Pingsan
74 Bonus Terindah
75 Bumil Random
76 Demi Bumil
77 Sentuhan Dendam
78 Siaga Satu!
79 Pesta Dimulai
80 Cerdik Dan Gesit
81 Rencana Cadangan
82 Detik Terakhir.
83 Menjelang Kelahiran
84 Tegang
85 Aku Istri Sah!
86 Kalah Telak
87 Alfian Beraksi Lagi
88 Sanksi Berat
89 Menyongsong Bahagia
90 Kembali
91 Kegidupan Baru
92 Kamu Bukan Robot
93 Kapan Waktunu Untuk Aku?
94 Gigit Jari
95 Penasaran
96 Tak Terima
97 Kepergok
98 Mulai Detik Ini, Kita Putus!
99 Perasaan Ingin Melindungi
100 Ancaman Kenzie
101 Lamaran Tak Diundang
102 Diusir
103 Mengambil Langkah Hukum
104 Kebimbangan Alara
105 Waspada
106 Sebuah Jebakan
107 Senjata Makan Tuan!
108 Kegemparan
109 Tak Ada Jalan Keluar
110 Tak Terduga
111 Terpaksa Melawan Rasa Jijik
112 Menjerat Tety
113 Gagal
114 Malam Pertaruhan
115 Ditemdang Ke Jalanan
116 SAH!
117 Apa Kita Saling Kenal?
118 Kisah Haru
119 Menuju Tamat.
120 Dua Bab Terakhir
121 Tamat
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Kenyataan Pahit
2
Jangan Naif!
3
Selamat Jalan, Nak!
4
Kenikmatan Semu
5
Kemarahan Herman
6
Godaan Liztha
7
Habis Kesabaran
8
Ambil Laki-laki Itu!
9
Melepas Rayyan
10
CEO Baru
11
pesona Bos Baru
12
Dipermalukan
13
Menyongsong Kebebasan
14
Jawaban Telak
15
Masuk Perangkap Sendiri
16
Bukti Tambahan
17
Seperti Menjerat Leher Sendiri
18
Berakhir
19
Terkuras
20
Bertemu Tak Sengaja
21
Berjuang
22
Teman Baru?
23
Perasaan Yang Mulai Tumbuh
24
Tidak Penting!
25
Ajakan Dinner
26
Zavian Yang Jahil
27
Ke Mana Ayra?
28
Tolon Jangan Ceritakan Dulu!
29
Tak Bisa Dibantah
30
Permainan Marissa
31
Pikiran Aneh
32
Superwoman
33
Intrik Licik
34
Sadar Dijebak
35
Kamu Cemburu?
36
Ikatan Tak Kasat Mata
37
Kamu Milik Aku!
38
Siapa Yang Menghadang?
39
Kecurigaan
40
Siapa Dalangnya?
41
Geram
42
Sekelumit Masa Lalu
43
Tak Terduga
44
Skakmat!
45
Siasat Licik
46
Aku Setuju
47
Penyelidikan Dimulai
48
Semua Kepanasan
49
Happy Wedding
50
Kedatangan Marissa
51
Ajang Pertengkaran
52
Dia Bukan...
53
Predator
54
Bergerak Cepat
55
Dilema
56
Adu Cerdik
57
Penyerangan
58
Terluka
59
pembalasan
60
Kondisi Euginia
61
Tabur Tuai
62
Di Ambang Kehancuran
63
Kabar Mengejutkan
64
Semua Ada Akibatnya!
65
Menunggu Hasil
66
Titik Nadir
67
Rasa Kesal
68
Kembali Mesra
69
Ketakutan Yang Menyesakkan
70
Kabar Duka
71
Akhir Kisah
72
Madu Pernikahan
73
Pingsan
74
Bonus Terindah
75
Bumil Random
76
Demi Bumil
77
Sentuhan Dendam
78
Siaga Satu!
79
Pesta Dimulai
80
Cerdik Dan Gesit
81
Rencana Cadangan
82
Detik Terakhir.
83
Menjelang Kelahiran
84
Tegang
85
Aku Istri Sah!
86
Kalah Telak
87
Alfian Beraksi Lagi
88
Sanksi Berat
89
Menyongsong Bahagia
90
Kembali
91
Kegidupan Baru
92
Kamu Bukan Robot
93
Kapan Waktunu Untuk Aku?
94
Gigit Jari
95
Penasaran
96
Tak Terima
97
Kepergok
98
Mulai Detik Ini, Kita Putus!
99
Perasaan Ingin Melindungi
100
Ancaman Kenzie
101
Lamaran Tak Diundang
102
Diusir
103
Mengambil Langkah Hukum
104
Kebimbangan Alara
105
Waspada
106
Sebuah Jebakan
107
Senjata Makan Tuan!
108
Kegemparan
109
Tak Ada Jalan Keluar
110
Tak Terduga
111
Terpaksa Melawan Rasa Jijik
112
Menjerat Tety
113
Gagal
114
Malam Pertaruhan
115
Ditemdang Ke Jalanan
116
SAH!
117
Apa Kita Saling Kenal?
118
Kisah Haru
119
Menuju Tamat.
120
Dua Bab Terakhir
121
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!