Kemarahan Herman

Ayra sudah keluar dari rumah sakit. Tapi dia lebih memilih pulang ke rumah peninggalan orang tuanya. Meski kedua orang tua Rayyan mempertanyakan alasannya, tapi Ayra hanya mengatakan ingin merehatkan tubuh dan pikirannya dulu.

​"Halahhh, memangnya anakku itu monster yang sangat berbahaya sampai kamu tak ingin tinggal serumah dengannya?" ketus Elly sambil mencibir sinis.

​"Bu, Ayra tidak bilang dia tak ingin serumah dengan Rayyan, tapi dia ingin memulihkan dirinya juga hati dan pikirannya dulu. Beri Ayra kesempatan dan kita harus hormati keputusannya."

​"Tapi sebagai istri dia harus mengurus suaminya. Rasakan saja nanti kalau Rayyan benar-benar diurus oleh perempuan lain." Perkataan Elly semakin tajam dan provokatif. Andai saja Ayra masih punya tenaga, ingin sekali dia berteriak dan mengatakan kalau putra kebanggaan merekalah yang sudah membuat semuanya hancur. Dia sudah tak peduli lagi dengan rumah tangganya. Bahkan terang-terangan lebih memilih kekasih masa lalunya itu.

​Ayra memilih diam, mendengar perdebatan antara kedua mertuanya itu. Dia sudah terlalu lelah untuk menanggapi, apalagi membela diri. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi ucapan Elly terasa jauh lebih menyakitkan daripada rasa perih di tubuhnya.

​Dia berdiri dan pamit tanpa banyak bicara. Tak ada lagi yang menahannya.

***

​Di rumah peninggalan orang tuanya, suasana masih sama seperti terakhir kali ia tinggali. Penuh kenangan dan terasa lebih nyaman. Meski sunyi, berdebu tipis, dan terlalu luas untuk seorang diri.

​Ayra meletakkan tasnya di sofa. Meskipun tubuhnya belum fit seratus persen, tapi ia tidak mungkin meninggali rumah yang berdebu dan sedikit bau lembap. Mau tak mau ia pun langsung mengambil penyedot debu dan mulai membersihkan rumahnya.

​Dari ruang tamu, kamar dirinya semasa gadis, kamar orang tuanya, kamar tamu, dan tempat-tempat lainnya. Semua ia bersihkan tanpa satu pun yang terlewat. Mengesampingkan tubuhnya yang masih lemah karena baru saja keluar dari rumah sakit.

​AKhirnya hal yang melelahkan itu pun selesai sudah. Ayra duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Kepalanya mulai terasa berat, tapi pikirannya justru kosong.

​Saat itulah terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Saat dilihat, itu bukan panggilan ataupun pesan, tapi notifikasi dari media sosialnya.

​Ayra pun membukanya dan mendapati unggahannya tadi pagi yang berisi kata-kata penyemangat hidupnya, sudah mendapatkan ribuan like. Selain itu ada juga DM yang masuk dari akun @z_zvn. Ayra mengernyitkan keningnya.

​"Siapa ini?" gumamnya penasaran. Lalu membukanya.

​"Ayra, kamu baik-baik saja kan? Saya khawatir tapi tak punya nomor teleponmu. Akhirnya saya mencari akun media sosialmu. Untungnya saat itu kamu menyebut nama lengkapmu. Dan syukurlah saya menemukan akun ini. Masih ingat saya kan, Zavian Zovano?"

​Ayra termenung. "Laki-laki ini bukan siapa-siapa. Dia hanya orang yang menolongku saat di supermarket. Tapi kenapa malah dia yang memberikan perhatian padaku, bukan suamiku?" bisik Ayra dengan hati yang terasa tersayat. Air matanya meleleh tanpa diminta. Tapi cepat-cepat ia hapus dengan gerakan kasar. Dia tak ingin lagi menangisi laki-laki yang jelas-jelas sudah berkhianat, menginjak-injak harga dirinya dan membuat lubang yang sangat dalam di hatinya.

​Ayra berpikir, mencari kalimat yang tepat untuk membalas DM tersebut. Kemudian mulai mengetik setelah beberapa saat.

​"Pak Zavian, Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa bernapas (emoticon senyum). Bagaimana dengan Anda dan Kenzie? Titip salam untuknya dan terima kasih untuk semuanya." Setelah itu Ayra menekan send.

​Sambil melepas lelahnya, Ayra masih asyik me-scroll media sosialnya, hingga matanya terasa berat dan ketiduran di sofa.

***

​Tiba di rumah Rayyan, Herman langsung menelepon putranya. Raut wajah lelaki paruh baya itu merah padam dengan rahang mengeras menahan amarah.

​"Rayyan, pulang sekarang! Bapak dan Ibu tunggu di rumahmu. Tidak ada alasan apapun!" tegas Herman begitu telepon diangkat. Dan langsung mematikan sambungan telepon, bahkan sebelum Rayyan sempat menjawab.

​"Bapak kenapa kasar begitu? Dia itu anakmu, bukan bawahan yang bisa disuruh-suruh!" Elly langsung menyalak tidak terima. Matanya yang kecil melotot pada Herman.

​"Justru karena dia anakku! Laki-laki yang tidak punya rasa tanggung jawab terhadap istrinya memang sudah sepantasnya dihajar kalau sudah tidak mempan dinasihati. Apa Ibu mau kalau Sherly dan Anika diperlakukan seperti itu juga kelak oleh suami-suami mereka?"

​Jawaban Herman yang telak membuat Elly bungkam. Herman menatap istrinya dengan sorot kecewa karena Elly selalu saja memanjakan dan membela kesalahan putra pertama mereka.

​Elly tidak menjawab lagi, meski dalam hatinya ia masih terus ngedumel

"Awas kalau nanti bapak menasehati anak itu, Ibu masih membelanya." Ancam Heeman sebelum pergi le kamar tamu.

Elly mendelik, menatap lesal punggung suaminya.

"Kamu enak saja memarahi putra yang kukandung dengan susah payah dan kulahirkan dengan bertaruh nyawa." Sungutnya, sambil meninju-ninju bantal kursi dengan hati kesal.

***

Rayyan keluar dari ruangan manajer setelah menerima telepon dari ayahnya. Wajah lelaki itu terlihat cemas sekaligus menahan amarah.

"Ini pasti ulah Ayra yang mengadu pada Bapak. Awas kamu, Ayra!" Umpatnya dalam hati, sambil terus melangkah menuju ruangan staf marketing, dimana kekasihnya Liztha berada.

Dari luar ruangan yang semua dindingnya terbuat dari kaca, ia berdiri. Tatapannya mengarah ke dalam, pada sosok Liztha yang tengah tertunduk menekuni pekerjaannya. Tapi teman Liztha yang duduk di sisinya dan kebetulan menengok ke luar ruangan, langsung menyenggol lengan Liztha dan menunjuk pada Rayyan dengan dagunya.

"Sebentar." Kata Liztha pada Rayyan, tanpa suara. Cepat-cepat ia menyelesaikan laporannya yang tinggal beberapa kalimat. Lalu beranjak dari kursinya dan menghampiri Rayyan.

"Ada apa? Kenapa kamu seperti panik gitu?" Tanyanya memperhatikan wajah kekasih gelapnya.

"Barusan Bapak meneleponku. Dia minta aku pulang sekarang juga. Ini pasti ada hubungannya dengan Ayra. Aku yakin dia sudah mengadu pada Bapak."

Liztha mendesis geram, wajahnya seketika mengeras.

"Brengsek juga si Ayra! Dia yang sudah merebut kamu dari aku, sekarang dia juga yang merasa jadi korban. Dasar wanita munafik!"

Rayyan hanya diam, napasnya memburu selaras dengan makian Liztha yang terasa membenarkan posisinya.

"Bapak terdengar sangat marah. Aku tidak tahu apa saja yang sudah dia bicarakan. Mungkin sebagian dia mengarang bebas, membuat cerita yang memojokkan aku, sampai suara bapak terdengar berapi-api." Ucap Rayyan, tidak menyadari kesalahan fatalnya. Di otaknya, hanya Ayra lah yang bersalah.

"Ya sudah, temui saja dulu. Selesaikan secepatnya," sahut Liztha sambil melipat tangan di dada dengan angkuh.

"Tapi jangan sampai kamu kalah oleh drama air mata si Ayra. Kamu harus ingat siapa yang sebenarnya lebih dulu memilikimu sebelum dia datang menghancurkan semuanya."

Rayyan mengangguk singkat, merasa mendapatkan dukungan yang ia butuhkan untuk menghadapi ayahnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju parkiran. Sepanjang jalan, tangannya mengepal kuat pada kemudi mobil. Di kepalanya kini hanya ada kebencian yang mendalam pada Ayra, sosok yang ia anggap telah mengusik kehidupannya dan kini mulai berani mengadu pada Bapaknya.

"Awas kau Ayra, aku tak akan menunda lagi untuk menceraikanmu!"

Terpopuler

Comments

Fitrian

Fitrian

cuuuuhhhhhhh bagaimana pun sebutan nya pelakor tetap pelakor dadar jalang beracun kutukupret tempijit bau taik ba biiii🖕🖕🖕🖕

2026-07-02

0

Sumini Ningsih

Sumini Ningsih

siapa takut emang ayra udah minta pisah dari kamu, kepedean banget emang kamu pikir orang yg paling benar

2026-08-14

0

Yunita Asep

Yunita Asep

nafsu banget mau cerein alya, kamu sendiri ntar yg nyesel...

2026-07-29

0

lihat semua
Episodes
1 Kenyataan Pahit
2 Jangan Naif!
3 Selamat Jalan, Nak!
4 Kenikmatan Semu
5 Kemarahan Herman
6 Godaan Liztha
7 Habis Kesabaran
8 Ambil Laki-laki Itu!
9 Melepas Rayyan
10 CEO Baru
11 pesona Bos Baru
12 Dipermalukan
13 Menyongsong Kebebasan
14 Jawaban Telak
15 Masuk Perangkap Sendiri
16 Bukti Tambahan
17 Seperti Menjerat Leher Sendiri
18 Berakhir
19 Terkuras
20 Bertemu Tak Sengaja
21 Berjuang
22 Teman Baru?
23 Perasaan Yang Mulai Tumbuh
24 Tidak Penting!
25 Ajakan Dinner
26 Zavian Yang Jahil
27 Ke Mana Ayra?
28 Tolon Jangan Ceritakan Dulu!
29 Tak Bisa Dibantah
30 Permainan Marissa
31 Pikiran Aneh
32 Superwoman
33 Intrik Licik
34 Sadar Dijebak
35 Kamu Cemburu?
36 Ikatan Tak Kasat Mata
37 Kamu Milik Aku!
38 Siapa Yang Menghadang?
39 Kecurigaan
40 Siapa Dalangnya?
41 Geram
42 Sekelumit Masa Lalu
43 Tak Terduga
44 Skakmat!
45 Siasat Licik
46 Aku Setuju
47 Penyelidikan Dimulai
48 Semua Kepanasan
49 Happy Wedding
50 Kedatangan Marissa
51 Ajang Pertengkaran
52 Dia Bukan...
53 Predator
54 Bergerak Cepat
55 Dilema
56 Adu Cerdik
57 Penyerangan
58 Terluka
59 pembalasan
60 Kondisi Euginia
61 Tabur Tuai
62 Di Ambang Kehancuran
63 Kabar Mengejutkan
64 Semua Ada Akibatnya!
65 Menunggu Hasil
66 Titik Nadir
67 Rasa Kesal
68 Kembali Mesra
69 Ketakutan Yang Menyesakkan
70 Kabar Duka
71 Akhir Kisah
72 Madu Pernikahan
73 Pingsan
74 Bonus Terindah
75 Bumil Random
76 Demi Bumil
77 Sentuhan Dendam
78 Siaga Satu!
79 Pesta Dimulai
80 Cerdik Dan Gesit
81 Rencana Cadangan
82 Detik Terakhir.
83 Menjelang Kelahiran
84 Tegang
85 Aku Istri Sah!
86 Kalah Telak
87 Alfian Beraksi Lagi
88 Sanksi Berat
89 Menyongsong Bahagia
90 Kembali
91 Kegidupan Baru
92 Kamu Bukan Robot
93 Kapan Waktunu Untuk Aku?
94 Gigit Jari
95 Penasaran
96 Tak Terima
97 Kepergok
98 Mulai Detik Ini, Kita Putus!
99 Perasaan Ingin Melindungi
100 Ancaman Kenzie
101 Lamaran Tak Diundang
102 Diusir
103 Mengambil Langkah Hukum
104 Kebimbangan Alara
105 Waspada
106 Sebuah Jebakan
107 Senjata Makan Tuan!
108 Kegemparan
109 Tak Ada Jalan Keluar
110 Tak Terduga
111 Terpaksa Melawan Rasa Jijik
112 Menjerat Tety
113 Gagal
114 Malam Pertaruhan
115 Ditemdang Ke Jalanan
116 SAH!
117 Apa Kita Saling Kenal?
118 Kisah Haru
119 Menuju Tamat.
120 Dua Bab Terakhir
121 Tamat
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Kenyataan Pahit
2
Jangan Naif!
3
Selamat Jalan, Nak!
4
Kenikmatan Semu
5
Kemarahan Herman
6
Godaan Liztha
7
Habis Kesabaran
8
Ambil Laki-laki Itu!
9
Melepas Rayyan
10
CEO Baru
11
pesona Bos Baru
12
Dipermalukan
13
Menyongsong Kebebasan
14
Jawaban Telak
15
Masuk Perangkap Sendiri
16
Bukti Tambahan
17
Seperti Menjerat Leher Sendiri
18
Berakhir
19
Terkuras
20
Bertemu Tak Sengaja
21
Berjuang
22
Teman Baru?
23
Perasaan Yang Mulai Tumbuh
24
Tidak Penting!
25
Ajakan Dinner
26
Zavian Yang Jahil
27
Ke Mana Ayra?
28
Tolon Jangan Ceritakan Dulu!
29
Tak Bisa Dibantah
30
Permainan Marissa
31
Pikiran Aneh
32
Superwoman
33
Intrik Licik
34
Sadar Dijebak
35
Kamu Cemburu?
36
Ikatan Tak Kasat Mata
37
Kamu Milik Aku!
38
Siapa Yang Menghadang?
39
Kecurigaan
40
Siapa Dalangnya?
41
Geram
42
Sekelumit Masa Lalu
43
Tak Terduga
44
Skakmat!
45
Siasat Licik
46
Aku Setuju
47
Penyelidikan Dimulai
48
Semua Kepanasan
49
Happy Wedding
50
Kedatangan Marissa
51
Ajang Pertengkaran
52
Dia Bukan...
53
Predator
54
Bergerak Cepat
55
Dilema
56
Adu Cerdik
57
Penyerangan
58
Terluka
59
pembalasan
60
Kondisi Euginia
61
Tabur Tuai
62
Di Ambang Kehancuran
63
Kabar Mengejutkan
64
Semua Ada Akibatnya!
65
Menunggu Hasil
66
Titik Nadir
67
Rasa Kesal
68
Kembali Mesra
69
Ketakutan Yang Menyesakkan
70
Kabar Duka
71
Akhir Kisah
72
Madu Pernikahan
73
Pingsan
74
Bonus Terindah
75
Bumil Random
76
Demi Bumil
77
Sentuhan Dendam
78
Siaga Satu!
79
Pesta Dimulai
80
Cerdik Dan Gesit
81
Rencana Cadangan
82
Detik Terakhir.
83
Menjelang Kelahiran
84
Tegang
85
Aku Istri Sah!
86
Kalah Telak
87
Alfian Beraksi Lagi
88
Sanksi Berat
89
Menyongsong Bahagia
90
Kembali
91
Kegidupan Baru
92
Kamu Bukan Robot
93
Kapan Waktunu Untuk Aku?
94
Gigit Jari
95
Penasaran
96
Tak Terima
97
Kepergok
98
Mulai Detik Ini, Kita Putus!
99
Perasaan Ingin Melindungi
100
Ancaman Kenzie
101
Lamaran Tak Diundang
102
Diusir
103
Mengambil Langkah Hukum
104
Kebimbangan Alara
105
Waspada
106
Sebuah Jebakan
107
Senjata Makan Tuan!
108
Kegemparan
109
Tak Ada Jalan Keluar
110
Tak Terduga
111
Terpaksa Melawan Rasa Jijik
112
Menjerat Tety
113
Gagal
114
Malam Pertaruhan
115
Ditemdang Ke Jalanan
116
SAH!
117
Apa Kita Saling Kenal?
118
Kisah Haru
119
Menuju Tamat.
120
Dua Bab Terakhir
121
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!