Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan

Jenara masih berdiri terpaku, pikirannya kacau oleh kenyataan yang baru saja menampar kesadarannya, ketika sebuah tangan kecil terulur ke arahnya.

Telapak tangan itu gemetar.

“Ibu boleh pukul aku sekarang.” Suara anak lelaki itu terdengar tertahan, seperti menelan tangis.

Jenara menoleh.

Giri berdiri di depannya, punggungnya tegak. Rahang anak lelaki itu mengeras, seolah sedang bersiap menerima sesuatu yang sangat ia takuti.

“Tapi… tolong bebaskan Gita dan Gatra,” lanjutnya cepat.

“Gatra pasti sudah kelaparan di dalam kandang ayam, Bu.”

Kandang ayam?

Kalimat itu membuat napas Jenara tercekat. Jantungnya berdegup kencang.

Ingatan terakhir dari novel yang ia baca muncul jelas di benaknya. Terlalu jelas hingga membuat tengkuknya meremang.

Jenara, sang ibu tiri jahat, mengurung Gatra di gudang dingin bersama ayam-ayam milik suaminya.

Sudah dua bulan pria itu pergi ke kota untuk menjual sapi. Namun, hingga saat ini ia belum juga kembali. Tidak ada kabar, seolah dia lenyap ditelan bumi. Dan selama itu pula, rumah telah menjadi neraka kecil bagi anak-anak.

Jenara menarik napas dalam-dalam. Punggungnya masih berdenyut nyeri setiap kali ia bergerak. Namun, rasa sakit itu kalah oleh sesuatu yang lebih menusuk. Rasa bersalah yang bukan miliknya, dan kini harus ia tanggung.

“Di mana… di mana kandang ayamnya?" tanya Jenara terdengar serak, napasnya tersengal.

Giri terbelalak. “Ibu mau ke sana?”

“Iya,” jawab Jenara mantap. “Ibu akan bebaskan Gatra.”

Sejenak, Giri dan Gita saling berpandangan. Di mata mereka ada ketakutan sekaligus kebingungan atas sikap aneh sang ibu tiri. Namun, tubuh mereka bergerak lebih cepat dari pikiran mereka.

Mereka berlari lebih dulu. Sementara Jenara mengikuti di belakang. Langkahnya tertatih, tangannya beberapa kali menahan punggungnya yang terasa seperti tertarik paksa.

Mereka melewati lorong sempit di samping rumah yang tanahnya becek. Rumput liar tumbuh tak terurus di mana-mana.

Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah bangunan kecil. Pintu kayu itu tebal, kusam, dan berpalang batang kayu kasar yang diselipkan menyilang. Engselnya berkarat. Permukaannya penuh bekas goresan dan noda gelap.

Tanpa pikir panjang, Jenara maju dan mendorongnya. Namun, benda itu tak bergerak.

Yakin bahwa pintu ini terkunci, Jenara menoleh pada Giri dan Gita.

“Kuncinya di mana?” tanyanya cepat.

Giri dan Gita saling memandang lagi, semakin heran. Tatapan mereka seperti sedang melihat orang asing yang mengenakan wajah ibu tiri mereka.

Gita akhirnya berbisik, ragu-ragu. "Biasanya Ibu sembunyikan di baju Ibu.”

Jenara menunduk.

Ia mengenakan pakaian dari kain halus berwarna biru. Potongannya rapi, panjang hingga mata kaki, dengan sulaman sederhana di bagian dada. Jelas pakaian ini milik seseorang yang hidup nyaman daripada anak-anak di hadapannya.

Dengan tangan gemetar, Jenara merogoh lipatan dalam bajunya. Di balik lapisan kain dekat pinggangn, ia menemukan sebuah kunci besi kasar, berat dan dingin di telapak tangan.

Ketika berhasil menariknya keluar, Jenara melihat sebuah kunci kuno yang berbentuk batang melengkung tanpa gerigi. Berfungsi mengait palang dari dalam.

Dengan sedikit usaha, Jenara memasukkan kunci itu ke celah pintu dan menariknya. Terdengar bunyi kayu bergeser pelan, lalu palang itu terlepas.

Krek.

Palang kayu diangkat. Begitu pintu berat itu didorong, bau lembap langsung menyeruak.

Jenara terperanjat.

Di dalam, kandang ayam itu tampak gelap dan sempit. Lantainya tanah basah bercampur jerami kotor.

Bulu ayam berserakan. Di sudut, hanya tersisa tiga ekor ayam kurus yang saling merapat, berkokok lemah. Dan, di antara mereka, seorang anak lelaki kecil meringkuk.

Tubuh anak itu gemetaran dan bajunya sangat kotor. Lututnya ditarik ke dada, lengannya melingkar erat untuk memeluk dirinya sendiri. Rambutnya kusut, pipinya pucat, dan matanya cekung oleh rasa lapar.

“Gatra,” bisik Jenara.

Dadanya terasa sesak melihat pemandangan yang menyayat hati. Tak disangka, pemilik asli tubuh ini tega menyiksa seorang anak yang tidak berdaya.

Tanpa peduli kakinya yang menginjak tanah basah, Jenara segera melangkah maju.

Namun, Gatra justru mundur. Tubuhnya menempel ke dinding bambu, matanya membelalak ketakutan.

“Tidak apa-apa,” ujar Jenara lembut, suaranya bergetar.

“Ayo, ikut Ibu. Kita keluar dari sini.”

Gatra menggeleng keras. Tangis kecil tertahan keluar dari tenggorokannya, hingga membuat Jenara menelan ludah.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjongkok, lalu menggendong tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.

Tubuh Gatra ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya. Ia menggigil hebat.

Giri dan Gita yang berdiri di ambang pintu terdiam. Mata mereka membulat heran. Untuk pertama mereka melihat Jenara yang kejam telah memeluk Gatra, bukan mengurung dan menghukumnya.

Ingatan asing itu tiba-tiba menyeruak di kepala Jenara, bak serpihan mimpi buruk yang menempel di jiwanya.

Alasan mengapa tubuh ini mengurung Gatra.

Dua hari lalu, bocah ini tak sengaja memecahkan piring keramik kesayangannya. Satu-satunya barang mahal di rumah ini, yang dibeli oleh sang suami saat ke kota.

Tatkala Gatra disuruh mencuci piring di belakang rumah, tangannya yang kecil membuat piring itu terlepas. Alhasil benda itu pecah berkeping-keping di tanah.

Jeritan Jenara yang seperti kerasukan, masih terngiang jelas. Ia menampar, menyeret, lalu mengurung bocah tujuh tahun itu di kandang ayam. Tanpa makanan, tanpa selimut, tanpa belas kasihan.

Sungguh kejam. Hanya karena sebuah piring, ia mengurung Gatra dua hari dua malam.

Dada Jenara terasa sesak. Tangannya yang menggendong Gatra refleks mengerat, seakan ingin menebus kesalahan yang tidak ia lakukan.

Walau sedikit tertatih, Jenara melangkah masuk ke rumah kayu itu. Membawa Gatra dalam pelukannya.

Giri dan Gita mengikuti dari belakang, langkah mereka pelan, mata mereka waspada. Tatapan itu bukan tatapan anak-anak, melainkan tatapan korban yang sudah terlalu sering disakiti.

Jenara mendudukkan Gatra di bangku kayu rendah. Tubuh bocah itu masih lemas dan kepalanya terkulai.

Tanpa menunda, Jenara bergegas ke dapur di sudut rumah. Ia mengambil kendi air tanah, lalu menuangkannya ke dalam cangkir tanah liat.

Dengan cekatan, Jenara mengambil sejumput gula aren, sejumput kecil garam kasar, kemudian mencampurnya perlahan hingga larut.

Cairan elektrolit sederhana—air, gula, dan garam. Cukup untuk mengembalikan tenaga anak yang dehidrasi dan kelaparan.

Jenara berbalik, hendak menyodorkan minuman itu pada Gatra. Namun, mendadak dua lengan kecil terentang di hadapannya.

“Jangan!” teriak Giri, berdiri di depan saudaranya. “Ibu mau meracuni Gatra, ya?!”

Jenara tertegun. Tuduhan ini tidak membuatnya marah, karena ia sangat memahami bagaimana derita yang harus ditanggung oleh Si Kembar Tiga.

Ia menurunkan cangkir itu perlahan. Lalu, tanpa ragu, Jenara mengangkat cangkir itu ke bibirnya sendiri dan meminum setengah isinya.

Giri dan Gita ternganga.

“Lihat. Ibu tidak apa-apa. Malah tubuh Ibu terasa lebih segar," ujar Jenara tersenyum kecil.

Kemudian, Jenara mengambil cangkir lain, membuat campuran baru dan kali ini mengulurkannya ke arah Gatra. Giri dan Gita ragu sesaat, sebelum perlahan bergeser dan memberi jalan.

Jenara berlutut, menopang kepala Gatra dengan lembut.

“Minum pelan-pelan, ya.”

Awalnya, Gatra menolak. Bibirnya mengatup rapat. Namun setelah mencicipi seteguk dan seteguk lagi, keajaiban kecil pun terjadi.

Gemetar di tubuh bocah itu mereda. Warna pucat di wajahnya perlahan berkurang.

Saat cangkir itu tandas, Gatra menatap Jenara dengan ekspresi bingung bercampur takut.

Jenara merasa lega lantas menoleh pada Giri dan Gita.

“Kalian juga boleh minum. Ambil sendiri, ya. Sekarang, Ibu akan masak. Kalian pasti belum makan.”

Kedua anak itu kembali bertukar pandang antara bingung, curiga, dan tak percaya.

Masak? Benarkah wanita pemarah yang suka bermalas-malasan ini bersedia memasak untuk mereka?

Terpopuler

Comments

Erna Fkpg

Erna Fkpg

mampir thor kayaknya ceritanya bagus semoga GK berhenti ditengah jalan

2026-01-11

1

Dandelion

Dandelion

awal yg tragis dan meyedihkan...tapi aku suka cerita transmigrasi spt ini 😁

2026-06-12

0

hanachi_🌷

hanachi_🌷

dikurung di kandang ayam ? Ya Allah kejam nian

2026-06-29

0

lihat semua
Episodes
1 Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2 Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3 Ruang Wiji
4 Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5 Kesempatan Berubah
6 Penyusup di Malam Hari
7 Suamiku Paling Tampan
8 Membuang Mutiara Demi Batu
9 Ceraikan Aku
10 Bukan Jodohku
11 Hadiah Menanam
12 Menolak Cemburu
13 Chef Handal
14 Tanda Lahir
15 Tuan dan Bawahan
16 Tunggu Aku Nanti Malam
17 Siapa Suamiku
18 Penuh Rahasia
19 Ke mana Anak-anakku
20 Persaingan Dua Wanita
21 Saling Menolong
22 Sombong Tanpa Batas
23 Siapa Pemenangnya
24 Penolakan Seran
25 Rahasia yang Mengejutkan
26 Berubah Pikiran
27 Kecemasan Warga Desa
28 Makanan yang Tidak Biasa
29 Memecah-Belah
30 Perlindungan dari Suami
31 Tak Rela Melepasmu
32 Kekompakan Suami Istri
33 Kedatangan Mendadak
34 Perempuan Cerdas
35 Larangan Keras
36 Menuntut Kejujuran
37 Kemampuan Istimewa
38 Perjalanan Romantis
39 Kematian Tragis
40 Pilihan Ada di Tanganmu
41 Memilih Bertahan
42 Menghabiskan Waktu Denganmu
43 Masakan Istimewa
44 Malam Panjang
45 Bagaimana Cara Punya Bayi?
46 Bolehkah Aku Memilikimu?
47 Penuh Gelora
48 Siapa Pelakunya
49 Mencari Solusi
50 Benda Aneh
51 Esok Hari yang Mendebarkan
52 Persiapan Matang
53 Sang Tamu Agung Tiba
54 Harap-harap Cemas
55 Syarat Masuk Istana
56 Dilanda Dilema
57 Sepakat untuk Berjuang
58 Terpaksa Bertengkar
59 Ingin Selalu Bersama
60 Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61 Buku Resep Masakan Istana
62 Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63 Pertempuran akan Dimulai
64 Terkurung di dalam Istana
65 Kelompok Berempat
66 Babak Pertama yang Menegangkan
67 Penentuan Nasib
68 Taruhan Besar
69 Kupu-kupu untuk Pangeran
70 Berhasil Lolos
71 Baginda Masih Hidup
72 Misteri Kesehatan Baginda Raja
73 Surat Rindu dari Suami
74 Permaisuri yang Berbahaya
75 Wewangian Beracun
76 Tamu dari Seberang
77 Lolos dengan Risiko Besar
78 Perintah Gila
79 Teman yang Aku Suka
80 Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81 Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82 Racun yang Melumpukan
83 Pria yang Kurindukan
84 Saling Mencintai
85 Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86 Tantangan di Dapur
87 Sabotase di Dapur
88 Terbelenggu Tuduhan Keji
89 Pertempuran Akan Dimulai
90 Sang Pangeran Telah Datang
91 Menangkap Perdana Mentri
92 Keadilan Ditegakkan
93 Tragedi Memilukan
94 Benih Cinta
95 Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96 Kebahagiaan Sejati (END)
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2
Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3
Ruang Wiji
4
Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5
Kesempatan Berubah
6
Penyusup di Malam Hari
7
Suamiku Paling Tampan
8
Membuang Mutiara Demi Batu
9
Ceraikan Aku
10
Bukan Jodohku
11
Hadiah Menanam
12
Menolak Cemburu
13
Chef Handal
14
Tanda Lahir
15
Tuan dan Bawahan
16
Tunggu Aku Nanti Malam
17
Siapa Suamiku
18
Penuh Rahasia
19
Ke mana Anak-anakku
20
Persaingan Dua Wanita
21
Saling Menolong
22
Sombong Tanpa Batas
23
Siapa Pemenangnya
24
Penolakan Seran
25
Rahasia yang Mengejutkan
26
Berubah Pikiran
27
Kecemasan Warga Desa
28
Makanan yang Tidak Biasa
29
Memecah-Belah
30
Perlindungan dari Suami
31
Tak Rela Melepasmu
32
Kekompakan Suami Istri
33
Kedatangan Mendadak
34
Perempuan Cerdas
35
Larangan Keras
36
Menuntut Kejujuran
37
Kemampuan Istimewa
38
Perjalanan Romantis
39
Kematian Tragis
40
Pilihan Ada di Tanganmu
41
Memilih Bertahan
42
Menghabiskan Waktu Denganmu
43
Masakan Istimewa
44
Malam Panjang
45
Bagaimana Cara Punya Bayi?
46
Bolehkah Aku Memilikimu?
47
Penuh Gelora
48
Siapa Pelakunya
49
Mencari Solusi
50
Benda Aneh
51
Esok Hari yang Mendebarkan
52
Persiapan Matang
53
Sang Tamu Agung Tiba
54
Harap-harap Cemas
55
Syarat Masuk Istana
56
Dilanda Dilema
57
Sepakat untuk Berjuang
58
Terpaksa Bertengkar
59
Ingin Selalu Bersama
60
Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61
Buku Resep Masakan Istana
62
Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63
Pertempuran akan Dimulai
64
Terkurung di dalam Istana
65
Kelompok Berempat
66
Babak Pertama yang Menegangkan
67
Penentuan Nasib
68
Taruhan Besar
69
Kupu-kupu untuk Pangeran
70
Berhasil Lolos
71
Baginda Masih Hidup
72
Misteri Kesehatan Baginda Raja
73
Surat Rindu dari Suami
74
Permaisuri yang Berbahaya
75
Wewangian Beracun
76
Tamu dari Seberang
77
Lolos dengan Risiko Besar
78
Perintah Gila
79
Teman yang Aku Suka
80
Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81
Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82
Racun yang Melumpukan
83
Pria yang Kurindukan
84
Saling Mencintai
85
Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86
Tantangan di Dapur
87
Sabotase di Dapur
88
Terbelenggu Tuduhan Keji
89
Pertempuran Akan Dimulai
90
Sang Pangeran Telah Datang
91
Menangkap Perdana Mentri
92
Keadilan Ditegakkan
93
Tragedi Memilukan
94
Benih Cinta
95
Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96
Kebahagiaan Sejati (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!