Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat

Sambil memeluk erat umbi ganyong dan lobak putih, Jenara berlari kecil ke dalam rumah. Nafasnya sedikit terengah, bukan hanya karena langkah cepatnya, tetapi karena perasaan lega yang membuncah.

Ketika Jenara masuk ke dalam rumah kayu itu, ia melihat Giri, Gita, dan Gatra sedang duduk bersila di atas lantai papan. Mereka membentuk lingkaran dan di tengahnya ada beberapa batu berwarna abu-abu. Mereka menggeser dan menyusun batu tersebut satu per satu. Permainan sederhana untuk mengalihkan rasa lapar.

Namun, begitu melihat Jenara masuk, pandangan si kembar tiga langsung terangkat bersamaan.

“Sabar, ya. Ibu sudah dapat bahan makanan," sapa Jenara lembut.

Ketiga anak itu hanya bisa melongo. Tidak ada sorak, tidak ada senyum lebar, hanya ekspresi tidak percaya akan perubahan sikap ibu tiri mereka.

Jenara tidak memaksa. Ia melangkah menuju dapur, meletakkan bahan-bahan itu di atas meja kayu yang sudah penuh goresan. Pikirannya langsung bekerja.

Anak-anak yang lama kelaparan tidak boleh makan berat dulu. Karenanya, ia memutuskan membuat bubur campur ganyong dan beras. Selain lembut di perut juga bisa mengenyangkan dan bergizi. Sedangkan untuk pendampingnya, Jenara akan membuat sup lobak bening yang hangat.

Pertama-tama, Jenara menuangkan air dari kendi ke baskom tanah liat. Ia mencuci umbi ganyong dan lobak, membersihkan tanah yang masih menempel di kulitnya.

Dengan cekatan, Jenara lantas mengambil pisau dapur. Tangannya yang terampil mengupas kulit ganyong, memperlihatkan daging umbi berwarna putih pucat. Lobak pun diperlakukan sama.

Setelah itu, Jenara memotongnya menjadi irisan kecil dan tipis agar cepat empuk saat dimasak. Bunyi hentakan pisau terdengar nyaring setiap kali menyentuh papan kayu.

Selanjutnya adalah tantangan terbesar bagi Jenara.

Tungku.

Di zaman modern, ia terbiasa memakai kompor gas atau kompor listrik untuk memasak. Jenara sama sekali tidak berpengalaman menyalakan tungku kuno.

"Kau pasti bisa Jenara," ucapnya menyemangati diri sendiri.

Mau tak mau, Jenara berlutut di depan tungku tanah liat. Di dalamnya ada abu sisa pembakaran lama. Ia membersihkannya sedikit, lalu mengambil kayu bakar kering serta potongan ranting yang tersisa.

Ia menyusunnya seperti piramida kecil. Menaruh jerami kering di bagian bawah, lalu mencoba menyalakan api dengan batu yang ia temukan di rak.

Klik.

Tidak menyala.

Ia mencoba lagi.

Klik.

Masih gagal.

Kening Jenara berkerut. Tangannya mulai pegal. Asap tipis mengepul sebentar lalu mati.

“Kenapa susah sekali,” keluh Jenara.

Ia menghela napas, mengingat-ingat kembali cara tradisional yang pernah ia lihat di buku.

Alkhirnya, Jenara mengubah susunan kayu. Yang kecil di bawah, sedangkan yang lebih besar di atas. Jerami juga ditaruh lebih rapat. Kali ini, ia meniup pelan saat percikan api muncul.

Woosh!

Api kecil akhirnya menyala, menjilat jerami dan perlahan membakar kayu.

"Berhasil!” pekik Jenara gembira.

Setelah menambahkan kayu agar api tidak terlalu besar, Jenara menaruh panci tanah liat di atas tungku. Ia menuangkan air, memasukkan beras sedikit yang sudah ia cuci, kemudian mencampur dengan irisan ganyong. Tangannya mengaduk perlahan dengan sendok kayu.

Tak lama, aroma gurih mulai memenuhi dapur. Di panci lain, Jenara juga merebus lobak dengan sedikit garam.

Ini rasanya memasak untuk keluarga. Walau tidak ada bumbu mewah maupun daging, ia tetap berusaha melakukan yang terbaik bagi anak-anak.

Dengan sabar, Jenara terus mengaduk bubur tanpa menghiraukan keringat di pelipisnya. Bau harum semakin menyebar memenuhi rumah kayu itu.

Di tengah kesibukannya, Jenara merasakan ada yang mengintipnya. Spontan, ia menoleh dan bersitatap dengan Gita. Gadis kecil itu memegang sisi pintu dengan jari-jari kotor, matanya yang bulat mengintip kegiatan Jenara.

“Gita lapar?” tanya Jenara tersenyum.

Alih-alih menjawab, gadis kecil itu hanya mengangguk pelan.

"Yuk, kita makan. Masakan Ibu sudah siap," lanjut Jenara buru-buru mematikan api.

Jenara mengambil mangkuk tanah liat, menuangkan bubur ganyong yang sudah kental sempurna. Sup lobak ia siapkan terpisah. Ia menoleh kembali pada Gita.

“Bantu Ibu, ya,” kata Jenara sambil mengulurkan mangkuk. “Kita bawa ke meja.”

Gita ragu sesaat, sebelum akhirnya melangkah maju. Gadis kecil itu membantu Jenara membawa mangkuk tanah liat, sendok kayu cekung, serta alas makan dari anyaman pandan. Tangannya gemetar, tetapi ia berusaha tidak menumpahkan apa pun.

Jenara menyusul dari belakang sambil membawa panci berisi sup lobak yang masih mengepul. Uap tipis membawa aroma yang membuat perut siapapun bergejolak.

Giri dan Gatra yang duduk di dekat meja hanya bisa saling pandang. Mata mereka mengikuti setiap gerakan Jenara dengan campuran heran, waspada, sekaligus rasa lapar yang tak tertahankan.

Jenara duduk berlutut di dekat meja. Dengan sendok kayu besar, ia menuangkan dua sendok penuh sup lobak ke masing-masing mangkuk.

“Ini untuk kalian,” katanya lembut

Ketiga anak itu terdiam.

“Untuk kami?” Giri akhirnya bersuara lirih, seolah takut salah dengar.

Jenara terkekeh kecil. “Iya. Untuk kalian bertiga. Mulai sekarang, Ibu akan memanggil kalian 3G.”

Ketiganya menatap kosong pada Jenara.

“Maksud Ibu, 3G itu Giri, Gatra, dan Gita. Biar lebih mudah memanggil kalian," pungkas Jenara setengah bercanda. Ia ingin mencairkan suasana supaya tidak terlalu tegang.

Mulut ketiga anak itu menganga bersamaan. Belum pernah ada yang memberi mereka julukan seaneh itu.

Jenara kembali ke dapur sebentar untuk membawa panci berisi bubur umbi ganyong. Ia menuangkannya lagi ke mangkuk sampai isinya cukup penuh.

Namun, tak satu pun dari si kembar tiga menyentuh makanan itu. Mereka hanya menelan ludah, sementara sendok kayu tetap tergeletak di samping mangkuk.

Jenara langsung mengerti. Ini bukan soal lapar, melainkan tentang kepercayaan.

Tanpa berkata apa-apa, Jenara mengambil satu sendok, mencicipi sup lobak terlebih dahulu.

“Hangat di perut,” katanya jujur.

Kemudian, ia menyendok bubur dan menyuapkan ke mulutnya sendiri.

“Gurih. Tidak ada racunnya. Sekarang, kalian boleh makan.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan tegang. Lalu, Gatra bergerak lebih dulu.

Bocah yang dua hari terakhir dikurung di kandang ayam itu, menggenggam sendok kayu dengan tangan gemetar. Ia menyendok bubur dan memasukkannya ke mulut.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Gatra makan. Suap demi suap sambil meneguk sup. Cepat, lahap, seperti takut makanan itu akan diambil kembali.

Melihat saudaranya menikmati makanan yang dimasak Jenara, Giri dan Gita saling pandang. Akhirnya, mereka pun ikut makan. Ketiganya makan dengan lahap, bahkan Gita sampai mengotori dagunya dengan bubur.

Jenara duduk sedikit menjauh, memperhatikan mereka dengan senyum lega. Paling tidak, ia berhasil meyakinkan 3G bahwa ia tidak berniat jahat.

Sayangnya, kehangatan itu hanya bertahan sekejap.

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu rumah digedor keras dari luar.

Jenara tersentak berdiri. “Si—siapa itu?”

Belum sempat ia melangkah jauh, pintu kayu itu terbuka paksa. Seorang wanita muda menerobos masuk lebih dulu. Wajahnya tegang dengan sorot mata tajam.

Di belakangnya, berdiri seorang bapak tua dengan tongkat kayu di tangannya. Sementara beberapa perempuan desa ikut berdiri di ambang pintu, berbisik-bisik penuh tuduhan.

Wanita muda itu menunjuk Jenara.

“Pak Kepala Desa, lebih baik kita tangkap Jenara sekarang juga," tukasnya dengan suara lantang.

Jenara membeku.

“Lihat anak-anak itu!” lanjut sang wanita. “Mereka sudah disiksa oleh Jenara. Kita harus menyelamatkan mereka."

Giri, Gatra, dan Gita langsung menegang. Sendok mereka terjatuh ke lantai.

Sementara, Jenara mengerjap kaget. Di benaknya, sekelebat ingatan mengenai tokoh utama novel ini melintas.

Mungkinkah wanita yang berteriak di depannya adalah Ranisya, sang protagonis yang akan menggantikan dirinya sebagai ibu tiri si kembar tiga?

Terpopuler

Comments

Siti Solikah

Siti Solikah

wah wah si protagonis apakah nanti menjadi antagonis

2026-08-13

0

💜⃟ᵇᵗˢ SENJA

💜⃟ᵇᵗˢ SENJA

wah wah wah 😶

2026-02-01

0

Erna Fkpg

Erna Fkpg

bagus 💪💪💪

2026-01-11

1

lihat semua
Episodes
1 Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2 Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3 Ruang Wiji
4 Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5 Kesempatan Berubah
6 Penyusup di Malam Hari
7 Suamiku Paling Tampan
8 Membuang Mutiara Demi Batu
9 Ceraikan Aku
10 Bukan Jodohku
11 Hadiah Menanam
12 Menolak Cemburu
13 Chef Handal
14 Tanda Lahir
15 Tuan dan Bawahan
16 Tunggu Aku Nanti Malam
17 Siapa Suamiku
18 Penuh Rahasia
19 Ke mana Anak-anakku
20 Persaingan Dua Wanita
21 Saling Menolong
22 Sombong Tanpa Batas
23 Siapa Pemenangnya
24 Penolakan Seran
25 Rahasia yang Mengejutkan
26 Berubah Pikiran
27 Kecemasan Warga Desa
28 Makanan yang Tidak Biasa
29 Memecah-Belah
30 Perlindungan dari Suami
31 Tak Rela Melepasmu
32 Kekompakan Suami Istri
33 Kedatangan Mendadak
34 Perempuan Cerdas
35 Larangan Keras
36 Menuntut Kejujuran
37 Kemampuan Istimewa
38 Perjalanan Romantis
39 Kematian Tragis
40 Pilihan Ada di Tanganmu
41 Memilih Bertahan
42 Menghabiskan Waktu Denganmu
43 Masakan Istimewa
44 Malam Panjang
45 Bagaimana Cara Punya Bayi?
46 Bolehkah Aku Memilikimu?
47 Penuh Gelora
48 Siapa Pelakunya
49 Mencari Solusi
50 Benda Aneh
51 Esok Hari yang Mendebarkan
52 Persiapan Matang
53 Sang Tamu Agung Tiba
54 Harap-harap Cemas
55 Syarat Masuk Istana
56 Dilanda Dilema
57 Sepakat untuk Berjuang
58 Terpaksa Bertengkar
59 Ingin Selalu Bersama
60 Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61 Buku Resep Masakan Istana
62 Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63 Pertempuran akan Dimulai
64 Terkurung di dalam Istana
65 Kelompok Berempat
66 Babak Pertama yang Menegangkan
67 Penentuan Nasib
68 Taruhan Besar
69 Kupu-kupu untuk Pangeran
70 Berhasil Lolos
71 Baginda Masih Hidup
72 Misteri Kesehatan Baginda Raja
73 Surat Rindu dari Suami
74 Permaisuri yang Berbahaya
75 Wewangian Beracun
76 Tamu dari Seberang
77 Lolos dengan Risiko Besar
78 Perintah Gila
79 Teman yang Aku Suka
80 Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81 Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82 Racun yang Melumpukan
83 Pria yang Kurindukan
84 Saling Mencintai
85 Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86 Tantangan di Dapur
87 Sabotase di Dapur
88 Terbelenggu Tuduhan Keji
89 Pertempuran Akan Dimulai
90 Sang Pangeran Telah Datang
91 Menangkap Perdana Mentri
92 Keadilan Ditegakkan
93 Tragedi Memilukan
94 Benih Cinta
95 Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96 Kebahagiaan Sejati (END)
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2
Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3
Ruang Wiji
4
Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5
Kesempatan Berubah
6
Penyusup di Malam Hari
7
Suamiku Paling Tampan
8
Membuang Mutiara Demi Batu
9
Ceraikan Aku
10
Bukan Jodohku
11
Hadiah Menanam
12
Menolak Cemburu
13
Chef Handal
14
Tanda Lahir
15
Tuan dan Bawahan
16
Tunggu Aku Nanti Malam
17
Siapa Suamiku
18
Penuh Rahasia
19
Ke mana Anak-anakku
20
Persaingan Dua Wanita
21
Saling Menolong
22
Sombong Tanpa Batas
23
Siapa Pemenangnya
24
Penolakan Seran
25
Rahasia yang Mengejutkan
26
Berubah Pikiran
27
Kecemasan Warga Desa
28
Makanan yang Tidak Biasa
29
Memecah-Belah
30
Perlindungan dari Suami
31
Tak Rela Melepasmu
32
Kekompakan Suami Istri
33
Kedatangan Mendadak
34
Perempuan Cerdas
35
Larangan Keras
36
Menuntut Kejujuran
37
Kemampuan Istimewa
38
Perjalanan Romantis
39
Kematian Tragis
40
Pilihan Ada di Tanganmu
41
Memilih Bertahan
42
Menghabiskan Waktu Denganmu
43
Masakan Istimewa
44
Malam Panjang
45
Bagaimana Cara Punya Bayi?
46
Bolehkah Aku Memilikimu?
47
Penuh Gelora
48
Siapa Pelakunya
49
Mencari Solusi
50
Benda Aneh
51
Esok Hari yang Mendebarkan
52
Persiapan Matang
53
Sang Tamu Agung Tiba
54
Harap-harap Cemas
55
Syarat Masuk Istana
56
Dilanda Dilema
57
Sepakat untuk Berjuang
58
Terpaksa Bertengkar
59
Ingin Selalu Bersama
60
Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61
Buku Resep Masakan Istana
62
Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63
Pertempuran akan Dimulai
64
Terkurung di dalam Istana
65
Kelompok Berempat
66
Babak Pertama yang Menegangkan
67
Penentuan Nasib
68
Taruhan Besar
69
Kupu-kupu untuk Pangeran
70
Berhasil Lolos
71
Baginda Masih Hidup
72
Misteri Kesehatan Baginda Raja
73
Surat Rindu dari Suami
74
Permaisuri yang Berbahaya
75
Wewangian Beracun
76
Tamu dari Seberang
77
Lolos dengan Risiko Besar
78
Perintah Gila
79
Teman yang Aku Suka
80
Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81
Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82
Racun yang Melumpukan
83
Pria yang Kurindukan
84
Saling Mencintai
85
Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86
Tantangan di Dapur
87
Sabotase di Dapur
88
Terbelenggu Tuduhan Keji
89
Pertempuran Akan Dimulai
90
Sang Pangeran Telah Datang
91
Menangkap Perdana Mentri
92
Keadilan Ditegakkan
93
Tragedi Memilukan
94
Benih Cinta
95
Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96
Kebahagiaan Sejati (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!