Kesempatan Berubah

Pak Kepala Desa mengelus janggutnya, menatap Jenara dengan sorot mata berat. Suaranya terdengar datar tetapi menyiratkan ketegangan.

“Jenara, apa benar yang dikatakan Ranisya? Kau sudah berbuat kasar pada anak-anak?”

Belum sempat Jenara membuka mulut, Ranisya sudah melangkah maju. Wajahnya muram, matanya memerah seperti menahan tangis.

“Tentu saja benar, Pak,” ucapnya dengan nada dramatis. “Sejak Kak Seran pergi ke kota, Jenara menunjukkan sifat aslinya.”

Ranisya menghela napas panjang, seolah tengah menahan emosi di dada.

“Tidak hanya berlaku sewenang-wenang pada anak-anak, Jenara juga menjual harta milik Kak Seran sedikit demi sedikit.”

Mendengar ucapan Ranisya, beberapa ibu-ibu langsung berdesis pelan. Mereka memandang Jenara layaknya seorang penjahat yang tak layak diampuni.

“Saya memergokinya lebih dari sekali,” Ranisya menambahkan cepat, “dia menjual ayam kepada pedagang gelap. Bahkan tanaman di kebun yang dirawat Kak Seran rawat dengan susah payah, dicabuti begitu saja.”

Jenara tak tahan lagi. Ia tahu pemilik tubuh ini memang bersalah, tetapi tidak semestinya Ranisya ikut campur sejauh itu.

“Jadi kau menguntitku?” katanya tajam. “Kau masuk ke rumahku diam-diam?”

Ucapan itu membuat suasana mendadak senyap.

Ranisya terlihat gelagapan ketika menyadari tatapan Pak Kepala Desa dan para ibu kini tertuju padanya. Namun ia segera menunduk, memasang wajah terluka.

“Aku tidak bermaksud menyelinap atau mencampuri urusan keluarga orang lain. Tapi… khusus untuk Jenara, aku harus mengawasinya.”

Ia mendongak, matanya tajam sesaat sebelum kembali dilapisi air mata.

“Jenara itu wanita yang serakah dan berbahaya.”

Baru saja Ranisya selesai bicara, seorang perempuan paruh baya maju dari barisan warga. Wajahnya memiliki kemiripan jelas dengan Ranisya—hidung yang sama, sorot mata yang serupa.

“Benar, Pak Kepala Desa. Arwah Seran di atas sana tidak akan tenang bila tahu anak-anaknya disiksa oleh Jenara," timpalnya lantang.

Sejenak, Jenara mengamati wanita itu. Dalam ingatan pemilik tubuh asli, ia mengenalinya sebagai Rasmi, ibu kandung Ranisya. Sebenarnya, dia adalah mantan sahabat mendiang ibu Jenara di dalam novel, tetapi entah kenapa sekarang malah membencinya.

Beberapa ibu lain langsung ikut menimpali dengan ekspresi marah.

“Kita bawa saja Jenara ke balai desa! Jangan tunggu sampai anak-anak mati!”

Mereka melangkah maju setapak demi setapak, mendekati Jenara. Namun, sebelum mereka sempat menyentuh, Jenara refleks mengangkat tangan. Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Tunggu dulu, kalian tidak bisa menangkap saya sembarangan. Kalau saya tidak ada di sini, siapa yang akan mengurus anak-anak?” tegas Jenara, meski dadanya berdebar keras.

Melihat suasana panas sedikit mereda, Jenara melanjutkan ucapannya.

“Memang dulu saya punya banyak kesalahan, tapi sekarang saya ingin memperbaikinya," jelas Jenara secara jujur.

"Saat kalian datang, saya baru selesai memasak dan memberi makan mereka.”

Begitu mendengar pembelaan Jenara, Ranisya mendengus kecil. Senyum sinis terselip di sudut bibirnya.

“Kau masak?” cibirnya meremehkan. “Seingatku mengupas bawang saja kau tidak mau. Katanya takut matamu berair.”

Beberapa warga terkekeh mendengar hal itu. Namun sebelum Ranisya melanjutkan, terdengar langkah kaki kecil berlari.

“Iya, Bibi. Ibu sudah membuatkan kami makanan enak."

Gita mendadak muncul dari dalam rumah. Meski jemarinya saling meremas dan kepalanya setengah tertunduk, gadis kecil itu membenarkan ucapan Jenara.

Sontak, Ranisya terbelalak. Tanpa menunggu izin, ia menerobos masuk ke rumah.

Pak Kepala Desa yang bingung ikut melangkah, diikuti oleh para ibu-ibu yang berdesakan.

Di ruang makan sederhana itu, di atas meja kayu tua, terhidang mangkuk-mangkuk tanah liat berisi bubur umbi ganyong dan sup lobak.

Giri dan Gatra masih duduk di sana. Wajah mereka terkejut melihat banyak orang masuk. Sementara bibir mereka masih sedikit belepotan sisa makanan.

“Pak Kepala Desa bisa lihat sendiri. Saya tidak bohong. Bubur dan supnya masih ada," pungkas Jenara. Ia menunjuk makanan yang tersaji di atas meja.

Rasmi langsung mendengus dingin.

“Siapa tahu itu beracun. Bagaimana kalau anak-anak pingsan atau bahkan meninggal setelah memakannya?”

“Tidak mungkin,” bantah Jenara cepat. “Makanan yang saya buat justru bergizi. Umbi ganyong mudah dicerna, sup lobak menghangatkan tubuh anak-anak yang lama kelaparan.”

“Jangan percaya!” sahut Ranisya kembali memprovokasi para wanita desa. "Dia ini pandai berbicara. Perlu kalian tahu, Jenara suka menipu. Dia mungkin berencana akan menjual Gita ke kota, supaya dia punya banyak uang."

Perkataan Ranisya kali ini membuat tangis Gita pecah. Gatra mulai menggigil lagi, sedangkan Giri menatap Jenara dengan mata panik.

“Cukup! Tenang semuanya!"

Suara Pak Kepala Desa akhirnya menggema, membuat Ranisya terdiam.

Pria tua itu melangkah ke meja. Pandangannya jatuh pada mangkuk sup yang masih mengepul tipis.

“Aku sendiri yang akan membuktikan, apakah makanan ini beracun atau tidak.”

Detik selanjutnya, semua orang menahan napas saat tangan Kepala Desa terulur ke arah mangkuk.

Sendok di tangan Kepala Desa hampir menyentuh sup lobak, ketika Rasmi tiba-tiba melangkah maju.

“Jangan, Pak," cegahnya panik. “Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Apalagi Anda punya masalah lambung.”

Beberapa ibu mengangguk setuju. Wajah mereka tegang.

Akan tetapi, Kepala Desa hanya menoleh perlahan. Tatapannya tenang, jauh dari kegelisahan.

“Aku sudah tua. Hidup dan mati ada di tangan Sang Pencipta.”

Sebelum siapapun bisa mencegah, ia terlanjur menyendok sup lobak itu dan memasukkannya ke mulut.

Suasana berubah tegang.Jenara sendiri mematung di tempat, merasa was-was akan reaksi sang Kepala Desa setelah mencicipi masakannya.

Pak Kepala Desa mengunyah perlahan. Dahinya sedikit berkerut. Lalu, tanpa berkata apa-apa, pria tua itu kembali menyendok bubur umbi ganyong dan menyuapkannya ke mulut.

Satu sendok. Dua...tiga

Beberapa ibu yang menyaksikan sampai terperanjat, saling pandang tak percaya.

“Bapak tidak apa-apa?” tanya Ranisya cemas.

Pak Kepala Desa berhenti menyendok. Ia menghela napas panjang, sebelum mengulas senyum kecil.

“Tidak apa-apa. Justru bubur ini nyaman sekali di perut," pujinya sambil menepuk perutnya lembut.

“Baru kali ini, perutku bisa mencerna makanan dengan begitu tenang. Tidak perih. Tidak mual.”

Ia menoleh ke arah Jenara. “Bubur dan sup buatanmu sangat enak, Jenara."

Jenara terbelalak. Sekejap kemudian, senyum lega muncul di wajahnya.

“Umbi ganyong dan lobak memang mudah dicerna, Pak. Bisa memberikan energi sekaligus menghangatkan tubuh. Kalau Pak Kepala Desa berkenan, besok saya akan memasak bubur lagi untuk Bapak."

Kepala Desa itu mengangguk mantap.

“Sekarang, aku percaya Jenara bisa mengurus anak-anak ini. Mari kita beri kesempatan pada Jenara untuk menunjukkan perubahan sikapnya."

Mata Jenara berkaca-kaca, merasa terharu mendengar keputusan bijak yang diambil Kepala Desa.

“Terima kasih, Pak Kepala Desa,” ucapnya tulus.

Bertolak belakang dengan Jenara, wajah Ranisya justru memerah. Urat lehernya menonjol, pertanda ia sedang menahan rasa kesal.

“Kenapa Bapak membuat keputusan seperti ini? Jenara seharusnya diusir dari desa kita."

Pak Kepala Desa menghela napas. “Sudah, Ranisya. Lebih baik kita pulang ke rumah masing-masing. Jangan membuat anak-anak ketakutan lagi.”

Ia berbalik, diikuti para ibu yang kini mulai ragu dan canggung.

Alih-alih menuruti perintah Kepala Desa, Ranisya memandang Jenara dengan sorot mata sinis. Bibirnya melengkung tipis.

“Mungkin kau lolos hari ini, tapi tidak di kemudian hari. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi ibu dari anak-anak Kak Seran."

Setelah melontarkan ancaman, Ranisya berbalik sambil mengibaskan rambutnya. Ia melangkah pergi, meninggalkan udara dingin yang menerpa wajah Jenara.

Terpopuler

Comments

Dewi hartika

Dewi hartika

wah nih oelakor dan bermuka dia,jangan pantang menyerah,beri kebahagiaan untuk tiga anakmu up datenya thorr semangat.

2026-01-09

3

Lala Kusumah

Lala Kusumah

lanjuuuuuuuuut, semangat sehat ya 🙏🙏👍👍💪💪🤣😍

2026-01-07

1

Dandelion

Dandelion

apaan masa pemeran protagonis nya si pelakor...😂

2026-06-12

0

lihat semua
Episodes
1 Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2 Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3 Ruang Wiji
4 Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5 Kesempatan Berubah
6 Penyusup di Malam Hari
7 Suamiku Paling Tampan
8 Membuang Mutiara Demi Batu
9 Ceraikan Aku
10 Bukan Jodohku
11 Hadiah Menanam
12 Menolak Cemburu
13 Chef Handal
14 Tanda Lahir
15 Tuan dan Bawahan
16 Tunggu Aku Nanti Malam
17 Siapa Suamiku
18 Penuh Rahasia
19 Ke mana Anak-anakku
20 Persaingan Dua Wanita
21 Saling Menolong
22 Sombong Tanpa Batas
23 Siapa Pemenangnya
24 Penolakan Seran
25 Rahasia yang Mengejutkan
26 Berubah Pikiran
27 Kecemasan Warga Desa
28 Makanan yang Tidak Biasa
29 Memecah-Belah
30 Perlindungan dari Suami
31 Tak Rela Melepasmu
32 Kekompakan Suami Istri
33 Kedatangan Mendadak
34 Perempuan Cerdas
35 Larangan Keras
36 Menuntut Kejujuran
37 Kemampuan Istimewa
38 Perjalanan Romantis
39 Kematian Tragis
40 Pilihan Ada di Tanganmu
41 Memilih Bertahan
42 Menghabiskan Waktu Denganmu
43 Masakan Istimewa
44 Malam Panjang
45 Bagaimana Cara Punya Bayi?
46 Bolehkah Aku Memilikimu?
47 Penuh Gelora
48 Siapa Pelakunya
49 Mencari Solusi
50 Benda Aneh
51 Esok Hari yang Mendebarkan
52 Persiapan Matang
53 Sang Tamu Agung Tiba
54 Harap-harap Cemas
55 Syarat Masuk Istana
56 Dilanda Dilema
57 Sepakat untuk Berjuang
58 Terpaksa Bertengkar
59 Ingin Selalu Bersama
60 Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61 Buku Resep Masakan Istana
62 Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63 Pertempuran akan Dimulai
64 Terkurung di dalam Istana
65 Kelompok Berempat
66 Babak Pertama yang Menegangkan
67 Penentuan Nasib
68 Taruhan Besar
69 Kupu-kupu untuk Pangeran
70 Berhasil Lolos
71 Baginda Masih Hidup
72 Misteri Kesehatan Baginda Raja
73 Surat Rindu dari Suami
74 Permaisuri yang Berbahaya
75 Wewangian Beracun
76 Tamu dari Seberang
77 Lolos dengan Risiko Besar
78 Perintah Gila
79 Teman yang Aku Suka
80 Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81 Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82 Racun yang Melumpukan
83 Pria yang Kurindukan
84 Saling Mencintai
85 Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86 Tantangan di Dapur
87 Sabotase di Dapur
88 Terbelenggu Tuduhan Keji
89 Pertempuran Akan Dimulai
90 Sang Pangeran Telah Datang
91 Menangkap Perdana Mentri
92 Keadilan Ditegakkan
93 Tragedi Memilukan
94 Benih Cinta
95 Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96 Kebahagiaan Sejati (END)
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2
Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3
Ruang Wiji
4
Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5
Kesempatan Berubah
6
Penyusup di Malam Hari
7
Suamiku Paling Tampan
8
Membuang Mutiara Demi Batu
9
Ceraikan Aku
10
Bukan Jodohku
11
Hadiah Menanam
12
Menolak Cemburu
13
Chef Handal
14
Tanda Lahir
15
Tuan dan Bawahan
16
Tunggu Aku Nanti Malam
17
Siapa Suamiku
18
Penuh Rahasia
19
Ke mana Anak-anakku
20
Persaingan Dua Wanita
21
Saling Menolong
22
Sombong Tanpa Batas
23
Siapa Pemenangnya
24
Penolakan Seran
25
Rahasia yang Mengejutkan
26
Berubah Pikiran
27
Kecemasan Warga Desa
28
Makanan yang Tidak Biasa
29
Memecah-Belah
30
Perlindungan dari Suami
31
Tak Rela Melepasmu
32
Kekompakan Suami Istri
33
Kedatangan Mendadak
34
Perempuan Cerdas
35
Larangan Keras
36
Menuntut Kejujuran
37
Kemampuan Istimewa
38
Perjalanan Romantis
39
Kematian Tragis
40
Pilihan Ada di Tanganmu
41
Memilih Bertahan
42
Menghabiskan Waktu Denganmu
43
Masakan Istimewa
44
Malam Panjang
45
Bagaimana Cara Punya Bayi?
46
Bolehkah Aku Memilikimu?
47
Penuh Gelora
48
Siapa Pelakunya
49
Mencari Solusi
50
Benda Aneh
51
Esok Hari yang Mendebarkan
52
Persiapan Matang
53
Sang Tamu Agung Tiba
54
Harap-harap Cemas
55
Syarat Masuk Istana
56
Dilanda Dilema
57
Sepakat untuk Berjuang
58
Terpaksa Bertengkar
59
Ingin Selalu Bersama
60
Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61
Buku Resep Masakan Istana
62
Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63
Pertempuran akan Dimulai
64
Terkurung di dalam Istana
65
Kelompok Berempat
66
Babak Pertama yang Menegangkan
67
Penentuan Nasib
68
Taruhan Besar
69
Kupu-kupu untuk Pangeran
70
Berhasil Lolos
71
Baginda Masih Hidup
72
Misteri Kesehatan Baginda Raja
73
Surat Rindu dari Suami
74
Permaisuri yang Berbahaya
75
Wewangian Beracun
76
Tamu dari Seberang
77
Lolos dengan Risiko Besar
78
Perintah Gila
79
Teman yang Aku Suka
80
Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81
Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82
Racun yang Melumpukan
83
Pria yang Kurindukan
84
Saling Mencintai
85
Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86
Tantangan di Dapur
87
Sabotase di Dapur
88
Terbelenggu Tuduhan Keji
89
Pertempuran Akan Dimulai
90
Sang Pangeran Telah Datang
91
Menangkap Perdana Mentri
92
Keadilan Ditegakkan
93
Tragedi Memilukan
94
Benih Cinta
95
Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96
Kebahagiaan Sejati (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!