Ruang Wiji

Jenara melangkah kembali ke dapur untuk memasak. Punggungnya masih terasa nyeri, tetapi rasa itu ia abaikan. Perut tiga anak kecil yang menunggunya jauh lebih penting saat ini.

Ia membuka tempayan beras yang terletak di sudut dapur. Tutupnya terbuat dari anyaman bambu, sudah kusam dan retak di beberapa sisi. Saat tempayan itu dibuka, hati Jenara mencelos.

Berasnya hampir habis.

Ia meraupnya dengan kedua tangan, menghitung kasar. Paling banyak hanya satu canting, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membuat satu panci bubur.

Jenara menghembuskan napas panjang, dadanya terasa berat.

“Astaga, aku tidak bisa masak nasi. Mereka pasti akan kelaparan,” gumamnya lirih.

Ia menutup kembali tempayan itu dengan putus asa. Pikirannya berputar cepat. Jika tidak ada beras, ia harus mencari bahan makanan lain yang mengandung karbohidrat.

“Mungkin, aku bisa mencari di kebun,” bisik Jenara pada diri sendiri.

Dalam ingatan samar milik pemilik tubuh ini, suaminya memang suka menanam. Ia bukan petani, tetapi setidaknya halaman belakang rumah ini tak pernah benar-benar kosong.

Dengan secercah harapan, Jenara berjalan keluar menuju halaman belakang. Namun, begitu kakinya menjejak tanah lembap di belakang rumah, langkahnya terhenti.

Mulut Jenara ternganga melihat kebun itu hancur.

Batang-batang sayuran rebah mengering, daunnya cokelat dan keriting seperti terbakar matahari. Beberapa tanaman tercabut paksa, akarnya terpapar udara, dibiarkan begitu saja di atas tanah.

Ada bekas lubang-lubang kasar, tanda seseorang mencabut tanaman sebelum waktunya. Kemungkinan besar untuk dijual murah atau sekadar dilepas amarah.

Rempah-rempah yang seharusnya harum kini tinggal batang kosong. Jahe muda patah, serai tercabut setengah, dan tanaman umbi yang seharusnya tertimbun rapi justru teronggok tak bernyawa.

Jenara menggeleng pelan, matanya terasa panas.

“Keterlaluan sekali! Wanita ini tidak hanya menyengsarakan anak-anak, tapi juga menghancurkan satu-satunya sumber pangan rumah ini," rutuk Jenara.

Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Jenara berdiri di tengah kebun itu dengan perasaan bingung dan nyaris putus asa. Ia tak peduli dengan hembusan angin sore, yang membawa debu tanah ke rambutnya.

Tanpa sadar, tangan Jenara terangkat, mengusap telinganya. Ini adalah kebiasaan lamanya setiap kali pikirannya kusut. Namun, jemarinya justru menyentuh sesuatu yang dingin dan keras.

Jenara tersentak.

“Anting?"

Ia memegang anting itu perlahan. Batu jadeit hijau pucat, yang berkilau lembut di bawah cahaya matahari.

Mendadak, Jenara teringat bahwa ia memang mengenakan anting ini saat terjadi ledakan di laboratorium. Anting yang merupakan warisan turun-temurun dari keluarga ibunya.

“Kau ikut denganku ke sini?” gumam Jenara tak percaya. Ia tak menyangka antingnya akan ikut bersamanya ke dunia novel.

Belum sempat keterkejutannya mereda, tiba-tiba anting itu terasa hangat. Bukan panas menyakitkan, melainkan hangat seperti telapak tangan seseorang yang menggenggam dengan lembut.

Refleks, Jenara mengusap anting itu, dan detik berikutnya kilatan hijau terang memancar keluar. Cahaya itu berpendar memantul ke depan, membentuk garis, lalu perlahan melebar menjadi kotak persegi panjang. Sementara di bagian depan ada sebuah pintu yang berdiri tegak.

Angin berhenti. Suara serangga lenyap.

Cahaya itu membesar dari segala sisi, hingga mengelilingi tubuh Jenara sepenuhnya.

“Ah—!”

Kepala Jenara mendadak pusing. Tanah di bawah kakinya seakan bergoyang-goyang. Dunia berputar spiral dan berangsur gelap.

Saat pandangannya kembali jernih, Jenara mendapati dirinya berdiri di sebuah ruang asing berwarna hijau.

Dindingnya berkilau seperti warna daun muda bercampur embun pagi. Anehnya, udara di ruangan ini terasa segar, bagaikan dikelilingi tanaman dan pohon-pohon rimbun.

Ketika Jenara sedang berusaha memahami apa yang terjadi, di hadapannya, berdiri seorang lelaki tua berwajah teduh. Lelaki itu mengenakan jubah hijau panjang, rambut dan janggutnya sudah memutih.

“Jenara, jangan takut." Suaranya bergema penuh wibawa, seperti berasal dari dimensi lain.

Jenara mundur setapak, jantungnya berdegup kencang.

“A-apa ini? Di mana aku?”

“Ini adalah Ruang Wiji. Ruang kehidupan. Ruang benih," jawab pria itu.

Pria tua itu kemudian mengangkat tangannya, dan di sekeliling mereka tampak rak-rak kayu yang tersusun rapi.

“Di sini kau bisa menyimpan bahan makanan dan menanam apa pun. Semua yang kau tanam akan tumbuh dalam waktu cepat. Lihat, di sebelah sana ada lahan yang sangat subur," tunjuk pria tua itu ke arah halaman.

Jenara menelan ludah. Di luar pintu, ia bisa melihat lahan siap pakai yang entah dari mana asalnya.

“K-kakek siapa?” tanya Jenara tergagap.

“Aku bernama Po Wija Nandar, ”jawabnya. “Seorang ahli tanaman dan pangan yang dahulu menjadi kepercayaan raja di zamanku.”

Mata Jenara membesar.

“Kau adalah keturunanku dalam garis ketujuh,” lanjut Po Wija Nandar dengan suara tenang. “Dan kau, Jenara, adalah yang terpilih untuk meneruskan tugas ini.”

“Tidak! Ini mustahil,” bisik Jenara, menggeleng cepat. “Aku pasti bermimpi. Aku tidak—”

“Bukankah saat ini kau sedang membutuhkan bahan makanan?” potong sang kakek lembut.

Jenara terdiam.

Po Wija menunjuk ke salah satu rak. “Ada dua bahan yang tersedia di awal. Selebihnya, kau harus menanam sendiri.”

Dengan langkah ragu, Jenara pun berjalan mendekat. Di rak kayu tersebut terletak umbi ganyong segar yang berkulit cokelat, serta beberapa lobak putih yang masih berembun. Keduanya seakan baru dicabut dari tanah subur.

Mata Jenara berbinar. Tangannya gemetar saat menyentuh dua bahan makanan itu.

“Bolehkah saya membawanya pergi, Kakek?"

“Tentu saja,” jawab Po Wija sambil tersenyum.

"Pakailah untuk memberi makan anak-anak. Jika kau ingin keluar dari Ruang Wiji, usap salah satu antingmu dua kali.”

“Jadi, ruangan ini bisa muncul dan hilang sendiri?” tanya Jenara cepat.

“Benar. Saat kau membutuhkannya, usap lagi dua kali. Kau bisa menanam apa pun dengan hanya menyebutkan nama tanamannya. Tapi, ingat rawat baik-baik dan pergunakan untuk menolong orang."

Meski belum terlalu memahami penjelasan sang kakek, Jenara menggenggam umbi dan lobak itu erat. Dadanya hangat oleh rasa haru.

“Terima kasih, Kek. Anak-anak sudah menungguku.”

Po Wija mengangguk pelan. “Semoga kau berhasil, Jenara.”

Sosok itu memudar perlahan.

Setelah Po Wija menghilang, Jenara mengusap antingnya dua kali. Dan tiba-tiba, ia sudah kembali berdiri di kebun belakang rumah. Tidak ada lagi ruang berwarna hijau yang membuatnya takut sekaligus penasaran.

"Apa aku benar-benar mendapatkan ruang ajaib dari Kakek Moyangku?" gumam Jenara masih tak percaya

Terpopuler

Comments

kriwil

kriwil

suaminya ngilang pas anak anak dan istrinya susah makanya jadi emak tiri jahat pas ganti jiwa udah bisa merubah kehidupan yang lebih baik nanti suaminya datang 🤣

2026-02-09

0

Amriati Plg

Amriati Plg

Biasanya ruang dimensi ini ada nama baru ruang wiji😄

2026-02-04

0

Siti Solikah

Siti Solikah

untung jenara digantikan jiwa nya

2026-08-13

0

lihat semua
Episodes
1 Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2 Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3 Ruang Wiji
4 Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5 Kesempatan Berubah
6 Penyusup di Malam Hari
7 Suamiku Paling Tampan
8 Membuang Mutiara Demi Batu
9 Ceraikan Aku
10 Bukan Jodohku
11 Hadiah Menanam
12 Menolak Cemburu
13 Chef Handal
14 Tanda Lahir
15 Tuan dan Bawahan
16 Tunggu Aku Nanti Malam
17 Siapa Suamiku
18 Penuh Rahasia
19 Ke mana Anak-anakku
20 Persaingan Dua Wanita
21 Saling Menolong
22 Sombong Tanpa Batas
23 Siapa Pemenangnya
24 Penolakan Seran
25 Rahasia yang Mengejutkan
26 Berubah Pikiran
27 Kecemasan Warga Desa
28 Makanan yang Tidak Biasa
29 Memecah-Belah
30 Perlindungan dari Suami
31 Tak Rela Melepasmu
32 Kekompakan Suami Istri
33 Kedatangan Mendadak
34 Perempuan Cerdas
35 Larangan Keras
36 Menuntut Kejujuran
37 Kemampuan Istimewa
38 Perjalanan Romantis
39 Kematian Tragis
40 Pilihan Ada di Tanganmu
41 Memilih Bertahan
42 Menghabiskan Waktu Denganmu
43 Masakan Istimewa
44 Malam Panjang
45 Bagaimana Cara Punya Bayi?
46 Bolehkah Aku Memilikimu?
47 Penuh Gelora
48 Siapa Pelakunya
49 Mencari Solusi
50 Benda Aneh
51 Esok Hari yang Mendebarkan
52 Persiapan Matang
53 Sang Tamu Agung Tiba
54 Harap-harap Cemas
55 Syarat Masuk Istana
56 Dilanda Dilema
57 Sepakat untuk Berjuang
58 Terpaksa Bertengkar
59 Ingin Selalu Bersama
60 Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61 Buku Resep Masakan Istana
62 Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63 Pertempuran akan Dimulai
64 Terkurung di dalam Istana
65 Kelompok Berempat
66 Babak Pertama yang Menegangkan
67 Penentuan Nasib
68 Taruhan Besar
69 Kupu-kupu untuk Pangeran
70 Berhasil Lolos
71 Baginda Masih Hidup
72 Misteri Kesehatan Baginda Raja
73 Surat Rindu dari Suami
74 Permaisuri yang Berbahaya
75 Wewangian Beracun
76 Tamu dari Seberang
77 Lolos dengan Risiko Besar
78 Perintah Gila
79 Teman yang Aku Suka
80 Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81 Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82 Racun yang Melumpukan
83 Pria yang Kurindukan
84 Saling Mencintai
85 Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86 Tantangan di Dapur
87 Sabotase di Dapur
88 Terbelenggu Tuduhan Keji
89 Pertempuran Akan Dimulai
90 Sang Pangeran Telah Datang
91 Menangkap Perdana Mentri
92 Keadilan Ditegakkan
93 Tragedi Memilukan
94 Benih Cinta
95 Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96 Kebahagiaan Sejati (END)
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2
Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3
Ruang Wiji
4
Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5
Kesempatan Berubah
6
Penyusup di Malam Hari
7
Suamiku Paling Tampan
8
Membuang Mutiara Demi Batu
9
Ceraikan Aku
10
Bukan Jodohku
11
Hadiah Menanam
12
Menolak Cemburu
13
Chef Handal
14
Tanda Lahir
15
Tuan dan Bawahan
16
Tunggu Aku Nanti Malam
17
Siapa Suamiku
18
Penuh Rahasia
19
Ke mana Anak-anakku
20
Persaingan Dua Wanita
21
Saling Menolong
22
Sombong Tanpa Batas
23
Siapa Pemenangnya
24
Penolakan Seran
25
Rahasia yang Mengejutkan
26
Berubah Pikiran
27
Kecemasan Warga Desa
28
Makanan yang Tidak Biasa
29
Memecah-Belah
30
Perlindungan dari Suami
31
Tak Rela Melepasmu
32
Kekompakan Suami Istri
33
Kedatangan Mendadak
34
Perempuan Cerdas
35
Larangan Keras
36
Menuntut Kejujuran
37
Kemampuan Istimewa
38
Perjalanan Romantis
39
Kematian Tragis
40
Pilihan Ada di Tanganmu
41
Memilih Bertahan
42
Menghabiskan Waktu Denganmu
43
Masakan Istimewa
44
Malam Panjang
45
Bagaimana Cara Punya Bayi?
46
Bolehkah Aku Memilikimu?
47
Penuh Gelora
48
Siapa Pelakunya
49
Mencari Solusi
50
Benda Aneh
51
Esok Hari yang Mendebarkan
52
Persiapan Matang
53
Sang Tamu Agung Tiba
54
Harap-harap Cemas
55
Syarat Masuk Istana
56
Dilanda Dilema
57
Sepakat untuk Berjuang
58
Terpaksa Bertengkar
59
Ingin Selalu Bersama
60
Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61
Buku Resep Masakan Istana
62
Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63
Pertempuran akan Dimulai
64
Terkurung di dalam Istana
65
Kelompok Berempat
66
Babak Pertama yang Menegangkan
67
Penentuan Nasib
68
Taruhan Besar
69
Kupu-kupu untuk Pangeran
70
Berhasil Lolos
71
Baginda Masih Hidup
72
Misteri Kesehatan Baginda Raja
73
Surat Rindu dari Suami
74
Permaisuri yang Berbahaya
75
Wewangian Beracun
76
Tamu dari Seberang
77
Lolos dengan Risiko Besar
78
Perintah Gila
79
Teman yang Aku Suka
80
Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81
Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82
Racun yang Melumpukan
83
Pria yang Kurindukan
84
Saling Mencintai
85
Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86
Tantangan di Dapur
87
Sabotase di Dapur
88
Terbelenggu Tuduhan Keji
89
Pertempuran Akan Dimulai
90
Sang Pangeran Telah Datang
91
Menangkap Perdana Mentri
92
Keadilan Ditegakkan
93
Tragedi Memilukan
94
Benih Cinta
95
Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96
Kebahagiaan Sejati (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!