Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat

Jenara berjalan cepat menyusuri lorong laboratorium, langkah sepatunya bergaung di lantai mengilap. Di jam sepagi ini, gedung riset masih lengang, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang berlalu-lalang.

Di sampingnya, sang asisten, Raline, terlihat tidak fokus. Tatapannya terpaku pada layar ponsel, jari-jarinya gemetar kecil.

“Bu Jenara,” ucap Raline akhirnya, suaranya bergetar menahan antusias.

“Ibu sedang dibicarakan di siaran langsung.”

Jenara mengerling sekilas. “Siaran apa?”

“Berita penelitian Ibu.”

Di layar ponsel, seorang presenter dengan ekspresi antusias sedang berdiri di depan background gambar daun hijau sederhana. Itu adalah tanaman yang selama ini dianggap liar dan tak bernilai.

"Daun kelor, yang selama ini hanya dianggap tanaman pagar, ternyata mengandung protein nabati tinggi, kalsium, zat besi, serta asam amino esensial yang sangat baik untuk pertumbuhan anak."

Grafis berganti. Tampak foto hidangan modern berupa jus, roti kukus, dan sup krim berbasis daun kelor.

"Tim peneliti yang dipimpin oleh Jenara Rahadi berhasil membuktikan bahwa daun kelor dapat diolah menjadi makanan lezat, ramah anak, dan bernilai gizi tinggi. Penemuan ini telah diakui oleh para ahli nutrisi internasional."

Asistennya menelan ludah. “Bu Jenara, sekarang Ibu benar-benar terkenal.”

Jenara berhenti melangkah.

Ia menatap layar itu lama. Tidak ada sorot puas di matanya. Hanya ketenangan seseorang yang telah berdamai dengan tujuannya.

“Terkenal itu bukan prioritas utama,” katanya pelan.

“Kalau penemuan ini bisa membantu satu anak tumbuh lebih sehat, itu sudah cukup untukku."

Ia melanjutkan langkah.

“Kali ini, aku mau mengekstraksi enzim alami dari nanas madu dan kultur probiotik dari susu kambing," ujar Jenara sambil membuka pintu laboratorium utama.

"Kita akan buat yoghurt buah yang lembut, rendah laktosa, dan aman untuk pencernaan anak.”

“Yoghurt semangka,” timpal Raline tersenyum kagum. “Kedengarannya mahal.”

“Seharusnya justru terjangkau,” jawab Jenara.

Namun dari balik lorong servis yang remang, seseorang berdiri diam. Perempuan itu menyilangkan tangan, bibirnya melengkung tajam. Tatapannya mengikuti punggung Jenara dengan penuh kebencian.

“Jenara, kesombonganmu akan berakhir hari ini.”” gumamnya dingin.

Dia adalah Sita, saingan abadi Jenara sejak di bangku kuliah. Dia bukan hanya iri pada kemampuan Jenara yang selalu lebih unggul darinya, tetapi juga membenci perempuan itu begitu dalam.

Sementara, Jenara sudah bersiap di depan meja eksperimen.

Masker menutup wajahnya. Sarung tangan membalut jemari terampilnya. Dan, kacamata pelindung terpasang rapi.

Sebagai seorang peneliti pangan sekaligus chef yang handal, ia memiliki ketenangan yang nyaris sempurna. Seolah tak ada dunia lain di luar tabung-tabung kaca ini.

Raline mencatat suhu dan waktu fermentasi.

“Kalau ini selesai,” ujar Jenara sambil menyalakan mesin ekstraksi, “aku akan istirahat sebentar. Menyelesaikan novel yang sedang kubaca.”

Raline mengangguk. “Semoga kali ini Ibu benar-benar istirahat.”

Mesin berdengung halus. Cairan merah muda mulai berputar perlahan di dalam tabung.

Semuanya tampak normal. Lalu, tiba-tiba ada bau menyengat.

Logam panas. Gas.

Jenara menoleh. “Raline, ada yang—”

Belum selesai ia bicara, api meledak dari panel samping.

Alarm berbunyi nyaring. Lampu berkedip kacau.

“Bu Jenara!” teriak Raline panik.

Jenara berlari ke panel darurat. Tangannya hampir menyentuh tombol. Namun, percikan api membuatnya terlonjak kaget.

DUARRR!!!

Ledakan dahsyat mengguncang ruangan.

Kaca pecah. Api menyambar. Tubuh Jenara terlempar keras. Dunia berubah putih, lalu gelap, seperti ditelan malam tanpa bintang.

Tak ada suara. Tak ada cahaya. Hanya kehampaan yang berdenyut sakit di kepalanya.

Namun di tengah kegelapan pekat, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara kecil menyusup masuk.

Bergetar. Ketakutan.

“Giri, kalau Ibu mati, kita harus bagaimana? A-aku takut...."

Kepala Jenara terasa berat dan sakit, seakan pikirannya diperas.

Siapa anak ini? Dan, Ibu siapa yang dimaksud?"

Ia belum sempat membuka mata ketika#uara itu kembali terdengar. Lebih dekat. Lebih jelas.

“Aku juga tidak tahu,” suara anak lelaki itu terdengar gugup, sedikit terengah.

“Aku cuma memukulnya sedikit. Mungkin dia hanya pingsan.”

Ada jeda. Suara napas tertahan.

“Sekarang kita bebaskan Gatra saja,” lanjutnya cepat, seperti sedang meyakinkan diri sendiri.

Kata "memukul" menghantam kesadaran Jenara seperti palu. Kepalanya terasa berat, bagai ada kabut tebal yang menekan dari dalam.

Ia memaksa mengerjapkan mata, sekali… dua kali… hingga akhirnya cahaya remang menyelinap masuk. Pandangan Jenara masih buram, tetapi dua sosok kecil perlahan terbentuk di hadapannya.

Seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Usia mereka sekitar tujuh tahun, dan wajah mereka bak pinang dibelah dua.

Bentuk mata, hidung kecil, bahkan lengkung bibirnya sama persis. Namun ekspresi mereka jauh dari kemiripan yang menenangkan. Wajah itu dipenuhi ketakutan.

Kulit mereka kusam, ada noda debu dan bekas tanah di pipi dan dahi. Pakaian mereka lusuh.

Anak perempuan itu mengenakan baju dari kain kasar berwarna pudar, mungkin dulunya cokelat muda, kini hampir tak jelas warnanya. Ujung lengannya robek, jahitannya terurai. Roknya panjang terlalu besar, dilipat asal di pinggang dengan tali tipis.

Anak lelaki itu tak lebih baik. Bajunya longgar dan tambal-sulam, noda lumpur mengering di bagian dada. Celananya terlalu pendek, memperlihatkan betis kecil yang penuh goresan. Mereka tampak seperti anak-anak tak terurus yang terlalu sering bersembunyi.

Jenara terbelalak. Setelah menarik napas panjang, barulah ia menyadari sekelilingnya.

Ia tidak berada di rumah sakit, bukan pula di laboratorium. Namun, ia berada di ruang tengah sebuah rumah desa yang sederhana.

Dindingnya terbuat dari papan kayu tua dan anyaman bambu. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menciptakan garis tipis di lantai tanah yang dipadatkan. Tidak ada sofa. Hanya tikar yang sudah usang, sebuah meja kayu dengan sudut terkelupas, dan bau kayu lembap bercampur asap dapur.

Jenara refleks bangkit, tetapi tubuhnya sempoyongan.

“Agh—!”

Rasa sakit menjalar tajam dari punggungnya. Sensasinya bukan luka sayat, melainkan nyeri otot akibat dibenturkan keras atau dipukul sesuatu. Terpaksa, Jenara menopang tubuhnya dengan satu tangan.

Dan saat itulah matanya menangkap sesuatu. Sebuah tongkat kayu masih tergenggam di tangan anak lelaki itu.

“Kau yang memukulku?" tanya Jenara, suaranya serak hampir tidak keluar.

Anak lelaki itu tersentak. Tongkat kayu langsung terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai dengan bunyi keras. Ia spontan menarik tangan saudara perempuannya.

“Lari!” bisiknya panik.

Mereka hendak kabur meninggalkan Jenara, tetapi langkah anak perempuan itu tersandung. Kakinya menginjak ujung rok yang terlalu panjang, hingga tubuh kecilnya terjerembap ke lantai tanah.

“Giri!" panggilnya panik.

Dengan mengabaikan rasa sakit di punggungnya, Jenara berusaha bergerak lebih cepat. Ia melangkah tertatih dan berlutut, tangannya refleks meraih tangan kecil anak perempuan itu.

Hangat, nyata.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya tanpa sadar.

Anak perempuan itu gemetar hebat. Tangannya dingin dan matanya berkaca-kaca.

Jenara menahan napas, mencoba bertanya dengan lembut. “Siapa kamu? Ini di mana?"

Tak ada jawaban. Namun, tiba-tiba dorongan keras menghantam bahu Jenara. Membuatnya terhuyung ke belakang.

Anak lelaki itu berdiri di depan Jenara. Sikapnya protektif, bagaikan perisai di depan saudara perempuannya.

“Ibu, jangan sakiti Gita!” teriaknya dengan suara bergetar.

Jenara membeku. “Ibu?”

“Aku yang memukul Ibu,” lanjut anak itu cepat, matanya merah, napasnya tersengal.

“Jangan marahi Gita. Hukum saja aku."

Nama itu bergaung di kepala Jenara. Mendadak, potongan ingatan menyambar.

Gita adalah nama anak perempuan dalam novel yang sedang ia baca. Salah satu dari anak kembar tiga yang teraniaya oleh ibu tiri jahat. Sedangkan anak lelaki pemberani ini adalah Giri.

Jantung Jenara berdegup kencang. Tidak mungkin.

Mungkinkah tokoh antagonis di novel tersebut adalah dirinya sendiri? Seorang wanita yang suka menyiksa anak-anak, hobi berjudi dan menghamburkan uang, lalu akan diceraikan suami.

Dengan panik, Jenara menatap kedua tangannya sendiri, lalu menatap wajah-wajah kecil yang ketakutan di hadapannya.

Apakah dia sedang bermimpi? Atau dia berhalusinasi karena ledakan itu?

Sebuah pikiran mengerikan perlahan terbentuk di benaknya. Benarkah dia sudah mati lalu berpindah ke dalam dunia novel sebagai Jenara, Sang Ibu Tiri Jahat?

Terpopuler

Comments

sasa adzka

sasa adzka

aku mampir thor...
semoga sampai tamat ya
dan up trus😍😍😍
aku lanjut baca lagi ye💪💪

2026-03-24

0

💜⃟ᵇᵗˢ SENJA

💜⃟ᵇᵗˢ SENJA

buseh tukang nyiksa anak, tukang judi waduh 🤣

2026-02-01

1

beybi T.Halim

beybi T.Halim

kita kesini lah dl...cari2 yg menarik dan buat penasaran😁

2026-04-24

0

lihat semua
Episodes
1 Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2 Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3 Ruang Wiji
4 Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5 Kesempatan Berubah
6 Penyusup di Malam Hari
7 Suamiku Paling Tampan
8 Membuang Mutiara Demi Batu
9 Ceraikan Aku
10 Bukan Jodohku
11 Hadiah Menanam
12 Menolak Cemburu
13 Chef Handal
14 Tanda Lahir
15 Tuan dan Bawahan
16 Tunggu Aku Nanti Malam
17 Siapa Suamiku
18 Penuh Rahasia
19 Ke mana Anak-anakku
20 Persaingan Dua Wanita
21 Saling Menolong
22 Sombong Tanpa Batas
23 Siapa Pemenangnya
24 Penolakan Seran
25 Rahasia yang Mengejutkan
26 Berubah Pikiran
27 Kecemasan Warga Desa
28 Makanan yang Tidak Biasa
29 Memecah-Belah
30 Perlindungan dari Suami
31 Tak Rela Melepasmu
32 Kekompakan Suami Istri
33 Kedatangan Mendadak
34 Perempuan Cerdas
35 Larangan Keras
36 Menuntut Kejujuran
37 Kemampuan Istimewa
38 Perjalanan Romantis
39 Kematian Tragis
40 Pilihan Ada di Tanganmu
41 Memilih Bertahan
42 Menghabiskan Waktu Denganmu
43 Masakan Istimewa
44 Malam Panjang
45 Bagaimana Cara Punya Bayi?
46 Bolehkah Aku Memilikimu?
47 Penuh Gelora
48 Siapa Pelakunya
49 Mencari Solusi
50 Benda Aneh
51 Esok Hari yang Mendebarkan
52 Persiapan Matang
53 Sang Tamu Agung Tiba
54 Harap-harap Cemas
55 Syarat Masuk Istana
56 Dilanda Dilema
57 Sepakat untuk Berjuang
58 Terpaksa Bertengkar
59 Ingin Selalu Bersama
60 Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61 Buku Resep Masakan Istana
62 Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63 Pertempuran akan Dimulai
64 Terkurung di dalam Istana
65 Kelompok Berempat
66 Babak Pertama yang Menegangkan
67 Penentuan Nasib
68 Taruhan Besar
69 Kupu-kupu untuk Pangeran
70 Berhasil Lolos
71 Baginda Masih Hidup
72 Misteri Kesehatan Baginda Raja
73 Surat Rindu dari Suami
74 Permaisuri yang Berbahaya
75 Wewangian Beracun
76 Tamu dari Seberang
77 Lolos dengan Risiko Besar
78 Perintah Gila
79 Teman yang Aku Suka
80 Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81 Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82 Racun yang Melumpukan
83 Pria yang Kurindukan
84 Saling Mencintai
85 Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86 Tantangan di Dapur
87 Sabotase di Dapur
88 Terbelenggu Tuduhan Keji
89 Pertempuran Akan Dimulai
90 Sang Pangeran Telah Datang
91 Menangkap Perdana Mentri
92 Keadilan Ditegakkan
93 Tragedi Memilukan
94 Benih Cinta
95 Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96 Kebahagiaan Sejati (END)
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
2
Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
3
Ruang Wiji
4
Tokoh Utama Melawan Tokoh Jahat
5
Kesempatan Berubah
6
Penyusup di Malam Hari
7
Suamiku Paling Tampan
8
Membuang Mutiara Demi Batu
9
Ceraikan Aku
10
Bukan Jodohku
11
Hadiah Menanam
12
Menolak Cemburu
13
Chef Handal
14
Tanda Lahir
15
Tuan dan Bawahan
16
Tunggu Aku Nanti Malam
17
Siapa Suamiku
18
Penuh Rahasia
19
Ke mana Anak-anakku
20
Persaingan Dua Wanita
21
Saling Menolong
22
Sombong Tanpa Batas
23
Siapa Pemenangnya
24
Penolakan Seran
25
Rahasia yang Mengejutkan
26
Berubah Pikiran
27
Kecemasan Warga Desa
28
Makanan yang Tidak Biasa
29
Memecah-Belah
30
Perlindungan dari Suami
31
Tak Rela Melepasmu
32
Kekompakan Suami Istri
33
Kedatangan Mendadak
34
Perempuan Cerdas
35
Larangan Keras
36
Menuntut Kejujuran
37
Kemampuan Istimewa
38
Perjalanan Romantis
39
Kematian Tragis
40
Pilihan Ada di Tanganmu
41
Memilih Bertahan
42
Menghabiskan Waktu Denganmu
43
Masakan Istimewa
44
Malam Panjang
45
Bagaimana Cara Punya Bayi?
46
Bolehkah Aku Memilikimu?
47
Penuh Gelora
48
Siapa Pelakunya
49
Mencari Solusi
50
Benda Aneh
51
Esok Hari yang Mendebarkan
52
Persiapan Matang
53
Sang Tamu Agung Tiba
54
Harap-harap Cemas
55
Syarat Masuk Istana
56
Dilanda Dilema
57
Sepakat untuk Berjuang
58
Terpaksa Bertengkar
59
Ingin Selalu Bersama
60
Selamat Tinggal Suami dan Anakku
61
Buku Resep Masakan Istana
62
Pria Dewasa di Tubuh Anak-anak
63
Pertempuran akan Dimulai
64
Terkurung di dalam Istana
65
Kelompok Berempat
66
Babak Pertama yang Menegangkan
67
Penentuan Nasib
68
Taruhan Besar
69
Kupu-kupu untuk Pangeran
70
Berhasil Lolos
71
Baginda Masih Hidup
72
Misteri Kesehatan Baginda Raja
73
Surat Rindu dari Suami
74
Permaisuri yang Berbahaya
75
Wewangian Beracun
76
Tamu dari Seberang
77
Lolos dengan Risiko Besar
78
Perintah Gila
79
Teman yang Aku Suka
80
Pertemuan Mengharukan dengan Ayah Mertua
81
Akhir Kompetisi-Koki Istana yang Baru
82
Racun yang Melumpukan
83
Pria yang Kurindukan
84
Saling Mencintai
85
Dari Dapur ke Kamar Pangeran
86
Tantangan di Dapur
87
Sabotase di Dapur
88
Terbelenggu Tuduhan Keji
89
Pertempuran Akan Dimulai
90
Sang Pangeran Telah Datang
91
Menangkap Perdana Mentri
92
Keadilan Ditegakkan
93
Tragedi Memilukan
94
Benih Cinta
95
Keluarga Kecil Telah Berkumpul
96
Kebahagiaan Sejati (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!