Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Belum Terlambat

Salma Tanudjaja mengerjapkan matanya berkali-kali, menatap kalender di atas meja belajarnya dengan tatapan kosong. Di sana tertera tanggal yang begitu jelas: 3 Januari 2025.

Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia benar-benar kembali! Ia kembali ke masa saat usianya masih lima belas tahun!

Saat itu, Manda Tanudjaja belum berhasil membunuhnya. Wanita ular itu belum sempat mencuri identitasnya untuk masuk ke Universitas Indonesia lewat jalur gelap. Di masa ini, keluarga Tanudjaja masih utuh.

Kejayaan mereka belum dirampas oleh Riko dan Manda. Kakek, Nenek, Papa, dan Mama masih ada di sini. Mereka belum diusir dari rumah sendiri, belum dipaksa menggelandang di jalanan, apalagi sampai berakhir tragis dengan bunuh diri tanpa ada yang mengurus jenazah mereka.

Semua belum terlambat.

Tanudjaja masih milik mereka, dan Salma masihlah Salma yang asli!

Salma menghapus air matanya dengan kasar, lalu berdiri dan melangkah turun. Jika Tuhan memberinya kesempatan kedua, ia bersumpah akan menjaga semua yang menjadi haknya. Ia akan memastikan Riko dan Manda membayar setiap tetes darah dan air mata yang pernah tumpah di kehidupan sebelumnya.

"Salma, kamu sudah mendingan? Sudah tidak pusing lagi?"

Begitu Salma sampai di lantai bawah, Manda langsung berdiri dan menghampirinya. Senyumnya tampak begitu tulus, tapi Salma bisa melihat binar kepuasan yang tersembunyi jauh di balik matanya. Sebuah ejekan yang dulu tak pernah Salma sadari.

"Cuma sakit kecil, tidak akan bikin mati," jawab Salma dingin. Ia melangkah melewati Manda begitu saja menuju dapur.

Salma merutuki dirinya sendiri. Di kehidupan lalu, ia pasti sudah buta karena menganggap Manda benar-benar tulus menyayanginya.

Manda tertegun sejenak. Ia merasa ada yang berbeda dari Salma, tapi tidak bisa menjelaskan apa itu. Namun, ia segera menepis pikiran tersebut.

Baginya, Salma hanyalah gadis bodoh yang emosional. Mana mungkin Salma tahu rencana-rencananya?

Manda kembali memasang wajah penuh perhatian yang memuakkan. "Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Kakak sampai ketakutan setengah mati semalam."

Salma yang memunggungi Manda menyeringai sinis. Ketakutan? Mungkin Manda justru sedang berpesta di dalam kepalanya, merencanakan cara baru untuk menyingkirkannya.

Kemarin, Salma demam tinggi setelah kehujanan di bawah badai. Penyebabnya sepele namun menyakitkan: Manda memecahkan guci keramik biru-putih favorit Papanya, lalu menangis tersedu-sedu, mengaku takut akan diusir dari keluarga Tanudjaja.

Salma yang bodoh langsung pasang badan dan mengaku bahwa dialah yang memecahkannya. Setelah dimarahi habis-habisan oleh Papanya, karena kesal ia lari keluar rumah, berdiri ditengah hujan badai dan jatuh sakit.

Dulu, ia sama sekali tidak tahu bahwa semua itu adalah skenario yang disusun rapi oleh Manda. Sekarang, setelah semua rahasia terbuka, ia menyadari betapa tololnya dirinya saat itu.

"Oh iya, Salma. Ini Kakak tadi pagi bantu Bi Surti bikin pancake pisang. Cobain, yuk," kata Manda sambil mengeluarkan piring berisi dua potong pancake dari kulkas dan menyodorkannya ke hadapan Salma.

Melihat makanan itu, mata Salma berkilat dingin. Seluruh keluarga Tanudjaja tahu bahwa ia memiliki alergi parah terhadap pisang. Menyentuhnya sedikit saja bisa membuatnya sesak napas.

Tapi Manda justru menyuruhnya makan? Apa tujuannya?

Ah, ia ingat! Besok adalah hari ulang tahun Manda.

Di kehidupan sebelumnya, Salma memakan pancake ini karena ingin menghargai "kebaikan" kakaknya. Hasilnya? Wajahnya bengkak, ia jadi bahan tertawaan teman-teman sekolah selama satu semester, dan hubungannya dengan orang tuanya semakin renggang.

Karena mereka menganggap Salma sengaja mencari perhatian di hari penting kakaknya.

Manda, dulu aku memang bodoh. Tapi sekarang, jangan harap aku mau jadi pajangan di pestamu!

Salma berbalik dan tersenyum manis. "Kakak baik banget sih sama aku."

"Kamu kan adikku satu-satunya. Kalau bukan Kakak yang baik sama kamu, siapa lagi?" Manda mencubit pipi Salma dengan gemas.

Salma menahan dorongan untuk menepis tangan itu. Ia menerima piring tersebut. "Kelihatannya enak banget."

Ia membawa piring itu ke ruang tengah. Kebetulan, Seno Tanudjaja, Papanya, baru saja turun dari lantai atas. Bi Surti juga sedang sibuk membersihkan lemari pajangan di sana.

Begitu Papanya melihat ke arahnya, Salma langsung mengambil satu sendok kecil pancake dan memasukkannya ke mulut. "Bi Surti, Kak Manda, masakan kalian juara! Aku belum pernah makan pancake pisang seenak ini!"

Mendengar kata "pisang", wajah Seno dan Bi Surti langsung pucat pasi.

Bi Surti menjatuhkan lap kainnya dan berlari kencang merebut piring dari tangan Salma. "Non! Non tidak boleh makan pisang! Cepat muntahkan!"

Salma memasang wajah terkejut yang dibuat-buat, lalu merengek manja. "Bi, aku mau makan! Ini kan Kak Manda dan Bibi yang sudah capek-capek bikin buat aku tadi pagi..."

Masa aku tidak boleh makan? Aku mau!"

Seno sudah berdiri di depan Salma dengan wajah merah padam. "Siapa yang menyuruhmu makan pisang?!"

Salma tampak gemetar ketakutan. "Kak Manda bilang... ini dibuat khusus untukku sebagai hadiah karena aku baru sembuh..."

Seno meledak dalam amarah. "Manda! Sini kamu!"

Manda yang masih di dapur tersentak. Berdasarkan sifat asli Salma, bukankah seharusnya gadis itu tetap nekat makan dan memilih bungkam daripada mengadu?

Kenapa sekarang dia malah menyebut namanya?

Manda sangat takut pada Seno, Papa angkatnya. Ia melangkah keluar dengan kaki gemetar. "Papa... ada apa?"

"Apa benar kamu yang memberikan pancake ini pada Salma?" suara Seno sedikit melunak saat menatap Manda yang tampak lugu, tapi kemarahan masih tersisa di matanya.

Manda menunduk, matanya berkilat kebencian. Sialan, Salma benar-benar mengkhianatinya! Namun otaknya bekerja cepat.

Ia mendongak dengan wajah memelas. "Salma kan sakit seharian, aku cuma takut dia kelaparan, jadi aku..."

"Bi Surti, bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah Kakek sudah berpesan jangan pernah ada pisang di rumah ini?" tanya Seno dengan nada menginterogasi.

Sebelum Bi Surti membela diri, Salma segera memeluk lengan Seno. "Papa, jangan marah. Mungkin Kakak lupa kalau aku alergi."

Ini salahku juga karena terlalu senang diberi makanan oleh Kakak sampai lupa diri. Papa jangan marah lagi ya, pliss?"

Seno terpaku. Biasanya, Salma hanya tahu cara membantah dan membuatnya naik pitam. Ia tidak pernah bersikap lembut dan manja seperti ini.

"Papa... soal guci kemarin, aku benar-benar minta maaf. Aku salah, Papa maafkan aku ya?" Salma menatap Papanya dengan mata bulat yang berkaca-kaca.

Sebagai anak kandung satu-satunya, Salma sebenarnya adalah permata di hati Seno. Begitu melihat putrinya meminta maaf dengan tulus, kemarahannya langsung luruh.

"Ya sudah, yang penting kamu tahu salahmu. Jangan diulangi lagi," kata Seno, mencoba terdengar tegas meski hatinya berbunga-bunga.

"Siap, Bos!" Salma melakukan hormat gerak ala tentara.

Melihat kerutan di wajah Papanya yang mulai menua, hati Salma berdenyut perih. Betapa jahatnya ia dulu karena terus-menerus menyakiti hati orang tua yang begitu mencintainya.

Di kehidupan ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluarganya!

Di sudut ruangan, Manda merasa merinding. Mengapa tatapan Salma barusan terasa begitu penuh kebencian? Tidak, itu tidak mungkin.

Salma terlalu bodoh untuk menyadari apa pun, pikirnya menenangkan diri.

Tiba-tiba, reaksi alergi mulai muncul. Salma segera berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya. Memang terasa menyakitkan, tapi ini adalah harga kecil yang harus ia bayar untuk mulai menghancurkan reputasi Manda.

Seno panik bukan main. "Cepat panggil Dokter Heru!" teriaknya pada pelayan, lalu ia beralih ke Manda dengan nada keras.

"Semua orang di rumah ini tahu Salma alergi pisang! Bagaimana mungkin kamu bisa seceroboh itu?!"

Mendengar Manda dimarahi, Salma tersenyum di balik pintu kamar mandi. Manda, rasakan itu.

Dokter Heru Pramono, dokter kepercayaan keluarga, tiba saat Salma sudah terbaring lemas di tempat tidur. Ruam merah mulai muncul di leher dan lengannya.

"Duh, Salma... sudah tahu nggak bisa makan pisang kok ya nekat? Cari penyakit namanya," omel Dokter Heru sambil memeriksa kondisi Salma dengan prihatin.

Salma memasang wajah paling menyedihkan. "Kak Manda bilang dia bikin khusus buat aku, Om. Aku nggak enak nolak kebaikan Kakak. Lagian aku bingung, bukannya Papa udah ngelarang ada pisang di rumah ya..."

Alis Dokter Heru bertaut. "Sudah, nanti Om kasih obat. Diminum ya. Ingat, jangan sentuh pisang lagi. Bahaya."

"Iya, Om. Salma janji."

Begitu Dokter Heru keluar kamar, ekspresi menyedihkan di wajah Salma lenyap seketika.

Dokter Heru adalah sahabat Seno sejak kecil. Dia sudah seperti paman sendiri bagi Salma. Mengadu padanya jauh lebih efektif daripada mengadu langsung ke Papa. Ucapan Dokter Heru akan lebih didengar oleh Seno dan akan menanamkan benih keraguan tentang "ketulusan" Manda di benak Papanya.

Benar saja, begitu keluar kamar, Dokter Heru langsung menemui Seno. Salma tersenyum puas di balik selimut. Misi pertama: Sukses.

Keesokan harinya, pesta ulang tahun Manda dirayakan dengan sangat mewah di taman kediaman Tanudjaja.

Salma turun ke taman dengan gaun sederhana berwarna pastel. Wajahnya masih sedikit pucat akibat alergi kemarin, tapi justru memberinya kesan kecantikan yang rapuh dan murni, seperti porselen.

Melly Gunawan, sahabat sekaligus pengikut setia Manda, langsung menghampiri Salma dengan nada sinis. "Eh, Salma. Hari ini Manda ulang tahun, kamu telat datang malah pakai baju pucat begitu."

Mau bikin malu Manda ya? Dasar, mentang-mentang anak kedua."

Melly sengaja menekankan kata "anak kedua" untuk mengingatkan orang-orang bahwa Manda-lah sang kakak yang lebih berkuasa.

Salma menatap Melly dengan remeh. "Kemarin Kakak tidak sengaja memberiku pisang sampai aku alergi parah. Apa maksud ucapanmu barusan?"

Mau memprovokasi agar aku menyalahkan Kakakku sendiri?"

Seketika, perhatian orang-orang tertuju pada mereka.

Melly gugap. "Kamu bohong! Kamu kan memang suka cari perhatian."

"Untuk apa aku cari perhatian dengan membuat wajahku bengkak karena alergi? Melly, jangan sok tahu urusan keluarga kami kalau kamu tidak mau dianggap tidak berpendidikan," balas Salma telak.

Manda yang melihat situasi mulai tidak terkendali segera menghampiri. Ia merangkul Salma dengan gaya kakak yang penyayang. "Salma, kamu sudah baikan? Maaf ya soal kemarin, aku benar-benar tidak sengaja."

Salma menekan rasa mualnya dirangkul Manda. "Tidak apa-apa, Kak. Aku tahu Kakak tidak mungkin sengaja ingin mencelakaiku, kan?"

Manda terdiam, senyumnya terasa kaku.

Di tengah keramaian itu, Salma merasakan seseorang menatapnya. Ia menoleh dan seketika dunianya seolah berhenti berputar.

Seorang pemuda berdiri tak jauh darinya. Rambutnya agak gondrong menutupi dahi, memakai kacamata bingkai hitam tebal, dan pakaian yang terlihat sangat kuno untuk ukuran pesta elit.

Dia terlihat seperti kutu buku yang culun.

Tapi Salma mengenalinya. Sangat mengenalnya.

Dia adalah Aksa Abhimana.

Di kehidupan sebelumnya, saat orang tua Salma bunuh diri, saat Riko dan Manda menolak mengurus jenazah mereka, Aksa-lah orang yang secara diam-diam mengurus pemakaman orang tuanya dengan layak.

"Wajah kamu pucat banget. Kamu sakit?" tanya Aksa dengan suara bariton yang lembut.

Salma tak kuasa menahan air matanya. Air mata itu jatuh begitu saja. Aksa panik, ia segera menyodorkan sapu tangan.

"Eh, kenapa kamu nangis? Aku salah ngomong ya?"

Salma tertawa di balik tangisnya. "Iya, kamu salah ngomong! Sebagai gantinya, kamj harus traktir aku makan!"

Aksa tertegun, lalu seulas senyum tipis muncul di wajahnya. "Ya udah."

Melly yang melihat kedekatan mereka segera berbisik pada Manda. Manda pun tersenyum licik. Ia merasa Salma memang cocok dengan pemuda culun seperti Aksa.

Untuk mempermalukan Salma, Melly naik ke panggung dan mengumumkan permainan dansa. "Ayo semuanya, kita main! Silakan berdansa sama orang yang berdiri paling dekat sama kalian sekarang!"

Melly sengaja melakukan ini karena ia merasa Aksa tidak mungkin bisa berdansa. Ia ingin melihat Salma dipermalukan di depan umum.

Aksa menatap Salma. "Kamu takut?"

Salma tersenyum penuh arti. Ia tahu, di balik penampilan culun ini, Aksa adalah sosok yang luar biasa hebat. "Aku justru takut kaki kamu bengkak gara-gara keinjek Aku."

"Gampang, nanti Aku kompres pakai es batu," balas Aksa santai.

Terpopuler

Comments

tutiana

tutiana

hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️

2026-01-02

0

riana rayyan

riana rayyan

😍😍😍

2026-08-06

0

Dewi Kasinji

Dewi Kasinji

ijin baca kak

2026-05-07

0

lihat semua
Episodes
1 Belum Terlambat
2 Membalas dengan Cara yang Sama
3 Wajah Penuh Keprihatinan Palsu
4 Aku Bakal Lindungin Kamu
5 Masih Ingat Jalan Pulang
6 Jatuh dengan Telak
7 Kayak Lagi Liat Sirkus
8 Siapa Ratu Drama yang Sebenarnya
9 Kesalahan Terbesar
10 Rencana Lain
11 Gombal tapi Protektif
12 Menampar Keras Harga Diri Banyak Orang
13 Manda Punya Hobi Aneh
14 Manda Mah Lewat
15 Penuh Peringatan Tersirat
16 Menusuk dari Belakang
17 Kamu Sebenarnya siapa?
18 Masih Bisa Senyum
19 Berutang Kebenaran
20 Upacara Penerimaan
21 Asal Kamu Bahagia
22 Lumayan Buat Beli Beras
23 Bucin Sekaligus Licik
24 Maaf, Kita Nggak Akrab
25 Neraka Buatanmu Sendiri
26 Tekanan yang Tak Biasa
27 Musuh yang Sebenarnya
28 Peran Adik Tersakiti
29 Rasanya Seperti Ditelanjangi di Alun-alun Kota
30 Penuh Kejutan yang Manis
31 Parasit yang Menumpang Hidup
32 Ia Tidak Boleh Lemah
33 Malam Ini Panggungnya Milikmu
34 Skandal Besar Sedang Berlangsung
35 Kehilangan Segalanya
36 Jodohmu dengan Keluarga Tanudjaja Sudah Habis
37 Drama Keluarga Konglomerat
38 Kebenaran yang Terungkap
39 Memang Bagian dari Keluarga Ini
40 Nanti Kita Juga Akan Seperti Itu
41 Satu Kata Buat Lo
42 Yang Muda Berkarya
43 Tangan Kotornya Masih Bisa Mengacau
44 Efek Viral Itu Nyata
45 Mereka Butuh Waktu
46 Karena Ada Kamu
47 Selalu Jadi Dirimu yang Asli
48 Akan Ada yang Sial Hari Ini
49 Langsung Mencair
50 Soal Masak Sama Setia
51 Gue Udah Punya Pacar
52 Teman Masa Kecil
53 Siapa yang Pantas Diperjuangkan
54 Drama Murahan
55 Masih Kena Getahnya
56 Mendapat Lampu Hijau
57 Datang dengan Wajah Aslinya
58 Percikan Api Persaingan
59 Merekayasa Kejadian
60 Semuanya Sudah Terlambat
61 Otak Kalian Ketinggalan di Rumah
62 Membuat Mereka Berhenti Berharap
63 Seperti Berjalan di Atas Tali Tipis
64 Teror Psikologis
65 Nggak seindah dongeng
66 Mencari Setitik Saja Rasa Puas
67 Udah Lo Bego-begoin Bertahun-tahun
68 Merusak Rencana Naik Kasta
69 Cuma Numpang Lewat
70 Memegang Kartu AS Sebesar Ini
71 Kamu Binatang
72 Kembali Ke Momen Keputusasaan
73 Pertahanan Salma Runtuh Total
74 Tania Kalah Telak
75 Tania Sanjaya Meninggal
76 Mengubur Identitas Lamanya
77 Dengan Tekad yang Bulat
78 Mengikuti Rencana Aksa
79 Tidak Akan Pernah Mengkhianatimu
80 Pelabuhan Untuk Pulang
81 Dia Bukan Anak SMA Ingusan
82 Ternyata Mulutnya Setajam Silet
83 Aku Bukan Kesemek Lembek
84 Bawel dan Overthinking
85 Benar-benar Tanpa Celah
86 Serangan Terbuka
87 Hari Ini Panggungnya Dia
88 Kartu AS Terakhir
89 Untuk Hari Ini
90 Kita Belum Menang
91 Nyonya Rentenir
92 Tatapan Yang Berbeda
93 Jadilah Sekutu Saya
94 Status Hubungan Diperbarui
95 Dunia Memang Milik Mereka Berdua
96 Untuk Modal Nikah
97 Perjalanan Kita Masih Panjang
98 Melepaskan Beban Terakhir
99 Takdir Telah Ditulis Ulang
100 Aku Tidak Bodoh Lagi - TAMAT
101 PENGUMUMAN NOVEL BARU – SERI 2 KISAH SEKAR
102 NOVEL BARU - Reinkarnasi Dokter Forensik sebagai Putri Terbuang di Era Mataram
103 BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
104 BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
105 BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
106 BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
107 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
108 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
109 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Belum Terlambat
2
Membalas dengan Cara yang Sama
3
Wajah Penuh Keprihatinan Palsu
4
Aku Bakal Lindungin Kamu
5
Masih Ingat Jalan Pulang
6
Jatuh dengan Telak
7
Kayak Lagi Liat Sirkus
8
Siapa Ratu Drama yang Sebenarnya
9
Kesalahan Terbesar
10
Rencana Lain
11
Gombal tapi Protektif
12
Menampar Keras Harga Diri Banyak Orang
13
Manda Punya Hobi Aneh
14
Manda Mah Lewat
15
Penuh Peringatan Tersirat
16
Menusuk dari Belakang
17
Kamu Sebenarnya siapa?
18
Masih Bisa Senyum
19
Berutang Kebenaran
20
Upacara Penerimaan
21
Asal Kamu Bahagia
22
Lumayan Buat Beli Beras
23
Bucin Sekaligus Licik
24
Maaf, Kita Nggak Akrab
25
Neraka Buatanmu Sendiri
26
Tekanan yang Tak Biasa
27
Musuh yang Sebenarnya
28
Peran Adik Tersakiti
29
Rasanya Seperti Ditelanjangi di Alun-alun Kota
30
Penuh Kejutan yang Manis
31
Parasit yang Menumpang Hidup
32
Ia Tidak Boleh Lemah
33
Malam Ini Panggungnya Milikmu
34
Skandal Besar Sedang Berlangsung
35
Kehilangan Segalanya
36
Jodohmu dengan Keluarga Tanudjaja Sudah Habis
37
Drama Keluarga Konglomerat
38
Kebenaran yang Terungkap
39
Memang Bagian dari Keluarga Ini
40
Nanti Kita Juga Akan Seperti Itu
41
Satu Kata Buat Lo
42
Yang Muda Berkarya
43
Tangan Kotornya Masih Bisa Mengacau
44
Efek Viral Itu Nyata
45
Mereka Butuh Waktu
46
Karena Ada Kamu
47
Selalu Jadi Dirimu yang Asli
48
Akan Ada yang Sial Hari Ini
49
Langsung Mencair
50
Soal Masak Sama Setia
51
Gue Udah Punya Pacar
52
Teman Masa Kecil
53
Siapa yang Pantas Diperjuangkan
54
Drama Murahan
55
Masih Kena Getahnya
56
Mendapat Lampu Hijau
57
Datang dengan Wajah Aslinya
58
Percikan Api Persaingan
59
Merekayasa Kejadian
60
Semuanya Sudah Terlambat
61
Otak Kalian Ketinggalan di Rumah
62
Membuat Mereka Berhenti Berharap
63
Seperti Berjalan di Atas Tali Tipis
64
Teror Psikologis
65
Nggak seindah dongeng
66
Mencari Setitik Saja Rasa Puas
67
Udah Lo Bego-begoin Bertahun-tahun
68
Merusak Rencana Naik Kasta
69
Cuma Numpang Lewat
70
Memegang Kartu AS Sebesar Ini
71
Kamu Binatang
72
Kembali Ke Momen Keputusasaan
73
Pertahanan Salma Runtuh Total
74
Tania Kalah Telak
75
Tania Sanjaya Meninggal
76
Mengubur Identitas Lamanya
77
Dengan Tekad yang Bulat
78
Mengikuti Rencana Aksa
79
Tidak Akan Pernah Mengkhianatimu
80
Pelabuhan Untuk Pulang
81
Dia Bukan Anak SMA Ingusan
82
Ternyata Mulutnya Setajam Silet
83
Aku Bukan Kesemek Lembek
84
Bawel dan Overthinking
85
Benar-benar Tanpa Celah
86
Serangan Terbuka
87
Hari Ini Panggungnya Dia
88
Kartu AS Terakhir
89
Untuk Hari Ini
90
Kita Belum Menang
91
Nyonya Rentenir
92
Tatapan Yang Berbeda
93
Jadilah Sekutu Saya
94
Status Hubungan Diperbarui
95
Dunia Memang Milik Mereka Berdua
96
Untuk Modal Nikah
97
Perjalanan Kita Masih Panjang
98
Melepaskan Beban Terakhir
99
Takdir Telah Ditulis Ulang
100
Aku Tidak Bodoh Lagi - TAMAT
101
PENGUMUMAN NOVEL BARU – SERI 2 KISAH SEKAR
102
NOVEL BARU - Reinkarnasi Dokter Forensik sebagai Putri Terbuang di Era Mataram
103
BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
104
BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
105
BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
106
BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
107
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
108
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
109
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!