2. Pria berotot itu

Beberapa tahun kemudian....

“Ck, ganteng banget sih dia, badannya juga kekar banget...” gumamnya dengan nada kagum, sambil menggigit ujung kukunya.

“Alamak... dulu nggak se-berotot gini...” lanjutnya.

“Duh... ngiler banget gue...”

Wanita yang sedang duduk di atas sofa kecil berwarna krem itu terus menggeser layar ponselnya, matanya tak lepas dari serangkaian foto seorang pria tampan yang jelas tak asing baginya.

"...kok bisa dia kaya raya sekarang..." ucapnya lirih, seakan tak percaya dengan perubahan drastis yang dilihatnya.

Semakin ia menggulir ke bawah, semakin terpukau dirinya dibuat oleh foto-foto mantan suaminya itu. Potret Reyvan mengenakan jas hitam elegan, duduk di kursi VIP di acara gala, liburannya ke luar negeri, hingga foto close-up wajahnya yang terlihat semakin dewasa dan karismatik—semua membuat jantungnya berdetak tak karuan.

“Aaaa... Mama! Pengen dia lagi!!” teriaknya histeris, mengguling ke sofa seperti remaja yang baru naksir gebetannya.

“Ck! Nyesel banget gue ninggalin dia...” Katanya, wajahnya menengadah menatap langit-langit, penuh penyesalan.

“Duh, Jane... lo bodoh banget sih dulu...” katanya lagi sambil memukul pelan kepalanya sendiri.

Ya, Jane. Wanita yang dulu pernah meninggalkan suaminya dan pergi dengan selingkuhannya. Jane memang baru mengetahui akun Ig baru Reyvan. Di sana, Reyvan terlihat sudah berubah total. Bukan lagi lelaki sederhana dengan pakaian lusuh, tapi pria sukses dengan gaya hidup kelas atas.

Jane bahkan menahan napas saat melihat salah satu foto Reyvan tengah duduk di kursi pengemudi sebuah mobil sport hitam mengilap, dengan interior kulit dan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya.

Belum lagi saat Jane membuka kolom komentar—penuh dengan emoji api, hati, dan rayuan dari perempuan-perempuan cantik.

“Omggg, ganteng banget, bang!”

“Fix, idaman semua wanita!”

“Single nggak, bang? Aku siap jadi pelengkap hidupmu”

"Aku siap mengangkang untukmu~"

Komentar-komentar itu membuat Jane geram saja.

“Heh! Rasain! Kena karma kan lo sekarang!”

Suara tawa mengejek terdengar tiba-tiba. Seorang pria berkaos hitam baru saja keluar dari kamarnya.

“Diem lo!” semprot Jane, membuang muka.

“Udah bagus dulu suami lo itu bang Rey, walau miskin dia baik... setia, spek kayak gitu lo tinggalin. Gue tahu lo dulu kesiksa gara-gara dia nggak punya apa-apa. Tapi sekarang dia udah sukses, lo baru nyesel!” lanjut pria itu, dengan nada sinis.

"Lo di sini sengsara, dan sekarang giliran dia yang bahagia," kata Arjuna tajam, menyandarkan tubuh ke dinding dengan tangan menyilang di dada.

Jane cemberut, menatap kesal ke arah adiknya itu. Saat ini mereka tinggal di rumah peninggalan kedua orang tua mereka—rumah tua dengan cat yang mulai mengelupas, perabot sederhana. Hidup mereka jauh dari kata mewah.

Setelah pergi dari rumah Reyvan beberapa tahun lalu dan ikut bersama Tyas, hidup Jane justru makin terpuruk. Bukannya bahagia, dia malah diselingkuhi. Parahnya lagi, Tyas yang dulu terlihat meyakinkan, ternyata tukang utang. Mobilnya mobil rental, barang-barangnya hasil pinjaman. Kalung dan cincin satu-satunya milik Jane juga habis dijual diam-diam oleh pria itu.

Kurang ajar emang! Tyas awalnya doang baik!

“Mau nggak ya kalau gue ngajak Reyvan balikan lagi? Secara kan dulu dia cinta banget sama gue,” kata Jane dengan nada percaya diri.

“Hahaha!!” suara tawa Arjuna meledak begitu keras, memenuhi ruangan sempit itu. “Bangun, woi! Mimpi lo ketinggian!”

“Lo buang dia seenaknya, terus sekarang lo mau nyodorin diri lo buat balikan sama dia!?”

Arjuna menatap kakaknya dari atas ke bawah. “Ngaca dulu, Neng! Lo pikir masih punya nilai di mata dia? Dulu dia tulus cinta sama lo, tapi lo lebih milih cowok yang modal gombalan doang.”

“Lagi pula nih ya,” lanjutnya, “cowok seganteng dan sekeren Bang Rey sekarang, pasti udah banyak yang ngantri buat jadi pendamping dia. Nggak susah buat dia dapetin cewek yang cantik, cerdas, sukses, dan—yang paling penting—nggak ninggalin dia pas lagi jatuh.”

“Jadi, simpen aja khayalan lo itu, Tuan Putri. Dunia ini nggak berputar buat lo doang.”

Jane makin kesal diejek seperti itu oleh adiknya. “Harusnya lo dukung gue balikan sama dia!” serunya.

“Nggak,” jawab Arjuna tegas, kali ini nadanya berubah menjadi serius. “Udah bagus Bang Rey jauh-jauh dari cewek kayak lo. Dia pantas dapat yang jauh lebih baik. Lo udah bikin abang ipar kesayangan gue sakit hati, dan lo nggak pantas dapetin dia lagi.”

“Nikmati penyesalan lo, Kak Jane…” kata Arjuna sebelum berbalik dan melenggang pergi begitu saja.

“Argh!!” Jane berteriak kencang. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, gemas dan geram dengan semua kenyataan yang menamparnya satu per satu.

Jane sadar diri, tentu saja. Mana mungkin Reyvan mau balikan dengan dia sekarang? Yang ada, malah dia yang bakal ditendang mentah-mentah, mungkin juga dihina-hina habis-habisan oleh pria itu.

“Tapi… g–gue beneran mau balikan sama dia. Gimana dong…” lirihnya. Matanya kembali melirik layar ponsel.

Jarinya menggulir layar Instagram milik Reyvan. Ia memperhatikan setiap unggahan dengan detail. “Di IG-nya nggak ada foto cewek... apa iya dia masih jomlo?”

“Ck, kesannya gue tuh pengen hartanya doang...” gumam Jane, “tapi selain itu… ya ampun, dia juga makin ganteng, putih banget... makin glowing gitu kulitnya. Gimana nggak klepek-klepek gue coba?”

Jane terus scroll, sampai akhirnya matanya berhenti di sebuah unggahan. Reyvan tampak gagah mengenakan jas hitam, berdiri dengan percaya diri di depan sebuah gedung besar nan modern. Di belakangnya tertulis jelas: Universitas Adimarga Utama.

Matanya menelusuri caption yang tertulis di bawah foto:

“Pendaftaran mahasiswa baru Universitas Adimarga Utama dibuka mulai 19 Juni – 20 Juli. Ayo daftarkan diri kalian sekarang!”

Jane tercekat. OMG. Ini kampus yang viral itu…

Seketika, kenangan lama menyeruak dalam ingatannya.

“Aku pengen banget jadi dosen, itu cita-cita aku dari dulu…”

“Nggak yakin aku cita-cita kamu tercapai,” jawab Jane, dengan nada sinis dan meremehkan.

“Nggak ada yang tahu masa depan seseorang, Jane. Kalau semesta berkehendak, semua bisa terjadi dalam sekejap…”

Jane tersenyum miris. Dulu, dia memang terlalu meremehkan Reyvan. Tapi ternyata, sekarang semuanya terbalik. Reyvan kaya raya dan sukses, sementara dia...

“Nggak guna gue nyesel… Nggak bakal bikin dia mau sama gue lagi,” gumamnya pelan. Matanya mulai terasa panas, tapi air matanya enggan jatuh.

Jane menutup ponselnya dan menyandarkan kepalanya ke sofa yang mulai usang itu. Matanya menatap langit-langit.

“Masa… iya gue mesti kuliah di usia gini…” gumamnya.

“Terus… uangnya dari mana? Kampus itu kan mahal…”

“Nggak mungkin gue minta sama Arjuna… yang ada malah diejek-ejek lagi.”

“Kasihan juga dia kalau harus biayain gue kuliah… hidupnya aja udah berat.”

Jane menghela napas kasar. “Boro-boro kuliah… makan sehari-hari aja harus muter otak…”

Jane hanya bekerja sebagai penjual kerupuk rumahan, itu pun kalau ada yang pesan. Kalau sepi, ya dia cuma bisa guling-guling dan duduk di sofa.

Sementara Arjuna, adik satu-satunya, hanya bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan. Gajinya sebagian besar habis untuk nyicil kredit motor yang dia pakai.

Namun tiba-tiba, mata Jane membelalak. Sebuah ide seolah menyambar benaknya, membuat senyum perlahan merekah di wajahnya muram.

“Semoga dia mau bantu…” katanya dengan nada yakin. “Pokoknya gue pengen ketemu Reyvan. Dan gue harus dapetin dia lagi... gimana pun caranya.”

“Kalaupun dia udah nggak cinta lagi sama gue…”

“...Gue harus bikin dia jatuh cinta lagi. Ya, harus!”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!