5. Mau kuliah lagi

Arjuna berdecak kesal saat sang kakak belum juga pulang, padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19.00 tepat.

Bukan karena dia khawatir pada kakaknya itu—tapi lebih pada motornya. Ia takut Jane membawa kabur motornya lalu menjualnya begitu saja.

"Ditelepon nggak diangkat-angkat," gerutunya kesal sambil menatap layar ponsel.

Baru saja Arjuna hendak melangkah masuk ke dalam rumah, suara deru motor terdengar nyaring. Ia langsung menoleh. Raut wajahnya seketika berubah lega saat melihat sosok Jane akhirnya muncul dengan motor kesayangannya.

"Woi! Lama banget lo perginya!" seru Arjuna begitu Jane memarkirkan motor di teras.

Arjuna memperhatikan kakaknya dengan tatapan penuh selidik. Matanya menelusuri penampilan Jane dari atas sampai bawah, lalu berhenti saat melihat celana jeans yang dipakai Jane robek di bagian lutut.

"Celana lo kenapa?"

"Motor lo nabrak pohon," jawab Jane santai sambil membuka helm dan mengibas-ngibaskan rambutnya.

Sontak mata Arjuna membulat lebar. Ia bergegas mengecek kondisi motornya dari depan sampai belakang.

"Gila... motor gue! Awas aja kalo ada yang lecet!"

Jane memutar bola matanya malas. "Bukannya gue yang dikhawatirkan!" gerutunya ketus.

"Udah gue tambal lecetnya. Sekalian, gue gantiin juga olinya. Kurang baik apa gue, hah?" lanjutnya, kali ini dengan nada lantang.

"Nih, martabak sama nasi goreng." Katanya lagi sambil menyodorkan dua bungkus plastik hitam ke arah adiknya.

Namun bukannya langsung menerima, Arjuna justru menatap Jane curiga. "Dari mana lo dapat uang?"

"Banyak tanya lo!" sahut Jane. "Ambil aja! Kalau nggak, gue buang ke tempat sampah nih makanan!"

Arjuna akhirnya mengambil plastik hitam itu. Setelah itu Jane melangkah masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terasa lengket oleh keringat dan debu jalanan. Dan ingin langsung mandi.

"Aduh... perih banget..." gumam Jane saat sabun menyentuh luka di lututnya.

Ingatan Jane melayang kembali pada kejadian sore tadi. Ia kembali mengingat wajah pria yang tadi memberikannya uang.

"Kayaknya tuh orang kaya banget deh... mobilnya aja Alphard putih,"

"Ganteng lagi... meskipun mukanya udah bapak-bapak. Untung juga dia nggak marah-marah malah baik hati ngasih gue uang, biasanya kan orang kaya suka nyerocos."

Setelah mandi, Jane menuju ruang makan. Arjuna sedang duduk di kursi, menyantap nasi goreng sambil menatap layar ponselnya.

"Tadi... ada yang mau pesen kerupuk,"

"Hum." Jane hanya bergumam pelan dan duduk di kursi seberang adiknya.

"Jun... ada yang mau gue omongin sama lo."

"Apa? Mau minggat dari rumah terus kabur sama pacar lo?"

"Bukan itu, woi,"

"Gue mau kuliah!" katanya tegas.

Arjuna yang sedang mengunyah nasi goreng langsung berhenti, ia mendongak, menatap kakak satu-satunya itu dengan alis terangkat.

"Kuliah? Nggak lagi mimpi, kan, lo?"

"Gue serius. Gue mau kuliah di Universitas Adimarga Utama!"

"Lah, lo kenapa tiba-tiba mau kuliah di sana? Emangnya lo punya uang? Itu universitas mahal!"

Lalu ia menyipitkan mata, seolah mengingat sesuatu. "Tunggu... tunggu... Kalau nggak salah, Bang Rey itu salah satu dosen di situ, kan?"

"Apa jangan-jangan... lo mau masuk ke sana biar bisa ketemu sama Bang Rey!?"

Jane tersentak. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Diamnya justru menjadi jawaban.

Arjuna langsung berdiri dari kursinya. "Gue nggak mengizinkan kalau lo ke sana cuma buat mengacaukan hidupnya Bang Rey lagi! Kalau lo beneran mau kuliah, masih banyak kampus lain!"

"Jun..." Jane menatap adiknya. "Tekad gue udah bulat. Gue mau kuliah di sana. Dan soal uang, lo nggak usah khawatir. Gue udah ada uangnya."

"Dari mana lo dapat uang? Apa uang lo itu halal, ha?"

Jane menghela napas panjang. "Lo nggak perlu tahu. Intinya, uang gue halal. Gue nggak merampok, nggak menipu orang, dan nggak jual diri. Jadi lo tenang aja."

"Dan gue bakal dapetin Reyvan lagi... gimana pun caranya. Lo nggak punya hak buat menghalangi gue."

Arjuna mendengus kesal. "Setelah dia kaya, lo deketin dia lagi!? Gila ya lo! Di mana harga diri lo!? Dulu Lo dengan pedenya ninggalin dia dan pergi sama selingkuhan lo! Sekarang lo malah mau dateng lagi? Jangan egois! Hidup dia udah tenang, jangan lo rusak lagi!"

Tapi Jane hanya memandang Arjuna dengan ekspresi dingin. "Terserah lo mau bilang apa. Dengan atau tanpa izin lo, gue tetap bakal kuliah di sana."

Setelah berkata demikian, Jane berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya.

Sementara itu, Arjuna mengusap wajahnya kasar. Ia menggeleng pelan, masih tidak habis pikir dengan keputusan kakaknya.

••••••••

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan sebuah rumah megah bergaya Eropa yang tampak seperti istana di tengah kota. Pintu belakang dibuka oleh seorang sopir, lalu seorang pria paruh baya keluar dengan langkah tenang.

Tak lama, pintu utama rumah itu terbuka. Seorang pelayan membungkuk kecil sambil menyapa sopan, “Selamat malam, Tuan.”

“Apa Canny sudah pulang?” tanya pria itu tanpa basa-basi.

“Sudah, Tuan. Sekarang Nyonya ada di kamar,”

Pria itu mengangguk singkat, lalu melangkah ke lantai atas. Sesampainya di depan pintu kamar, ia langsung membukanya. Di dalam, seorang wanita cantik sedang duduk di depan meja rias, tengah memoles wajahnya.

“Mas Noval!” seru wanita itu, Canny, dengan senyum lebar. Ia segera berlari dan memeluk suaminya erat.

“Aku merindukanmu, Mas,”

“Aku juga,” balas Noval seraya membelai rambutnya. “Bagaimana perjalananmu selama dua bulan ini?”

“Menyenangkan. Aku sempat ikut fashion week di Milan, lalu ke Paris untuk kolaborasi dengan rumah mode ternama. Aku juga sempat launching koleksi baru Spring-Summer ku di sana. Responnya luar biasa,”

Noval tersenyum, “Sayang sekali... padahal aku ingin sekali mendampingi kamu.”

“Maaf...” ujarnya pelan.

“It’s okay, lain kali kalau ada pameran atau launching koleksi, dan kalau mas juga nggak sibuk,” katanya.

“Aku bawain banyak oleh-oleh dari Paris,” ujarnya sambil tersenyum.

“Makasih, Sayang.”

"Mas mandi dulu, nanti kita kangen-kangenan sepuasnya,"

“Oke deh,”

Canny, wanita berusia 37 tahun dengan karier yang cemerlang di dunia fashion itu, kemudian meninggalkan kamar. Ia turun ke dapur, masih dengan senyum manis di wajahnya. Ia membuka lemari es dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam.

“Nyonya... biar saya bantu,” kata Bi Lasti, yang tiba-tiba muncul.

“Nggak usah, Bi. Saya pengin masak sendiri malam ini. Bibi istirahat aja, ya,”

Bi Lasti tidak membantah. Ia mengangguk lalu meninggalkan dapur

“Kemana Rey? Jam segini belum pulang juga…” gumamnya.

“Atau... mungkin dia menginap di apartemennya lagi?”

Meskipun bukan anak kandungnya, pria berusia 26 tahun itu sudah Canny anggap seperti putranya sendiri.

Bahkan, ia lebih sering mengkhawatirkan Rey ketimbang anak kandungnya sendiri, Septian.

“Biasanya Mas sama Rey suka pakai bumbu,” gumamnya pelan, meraih sebuah toples besar dari rak lemari paling atas.

Setelahnya ia berjinjit meletakkan lagi toples itu. Namun karena raknya terlalu tinggi, dan toples itu tidak benar-benar sampai ke bagian dalam, jadilah miring dan tak stabil.

Canny tidak terlalu memperhatikannya. Hingga...

“Mama, awas!!!”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!