4. First step

“Pinjem motor lo, Jun!” seru Jane saat masuk ke kamar adiknya.

“Buat apa, weh? Mau lo jual!?” sahut Arjuna yang sedang rebahan sambil memainkan ponselnya.

“Berisik! Kalau gue mau jual, udah dari lama tuh motor raib!” jawab Jane ketus.

Arjuna menghela napas, lalu bangkit dengan malas dan membuka laci meja. Ia mengambil kunci motor.

“Nih, Awas lo kalau motor gue kenapa-napa, gue tendang lo dari rumah,”

Jane merebut kasar kunci dari tangan adiknya, lalu tanpa basa-basi langsung keluar kamar.

“Untung gue dulu hobi motor manual,” gumamnya saat menyalakan motor Arjuna—dan setelahnya melaju meninggalkan halaman rumah.

Di sepanjang perjalanan, Jane tampak melamun, bayangan beberapa tahun lalu kembali berputar di benaknya.

"Kamu suka nggak naik motor?"

"Nggak. Sukanya naik mobil. Aku iri sama teman-teman yang kemana-mana pakai mobil, sementara aku... cuma pakai motor kamu yang butut ini,"

Reyvan tampak tertohok, tapi tak lama kemudian seulas senyum tipis muncul di wajahnya.

"Suatu saat nanti aku pasti bawa kamu naik mobil mewah."

"Dalam mimpi."

Jane mendengus kesal.

“Ck, malah sekarang dia yang enak-enak naik mobil,” katanya sambil mempererat genggaman di setang.

“Gimana kalau dia ternyata udah punya cewek tapi nggak dia publish?” gumamnya lagi.

Lamunannya membuatnya tak sadar bahwa dia mengendarai motor sampai ke tengah.

TIIINNN!!!

Refleks, Jane tersentak. Ia buru-buru mengendalikan motornya, tapi terlambat.

BRUK!!

“Aaarrgh!” jeritnya.

Motor Arjuna menghantam pohon di tepi jalan, dan tubuh Jane jatuh ke samping. Kaki kanannya tertimpa motor yang cukup berat itu.

“Aduh... aw...” rintih Jane, meringis menahan sakit.

Dari dalam mobil, sopir terlihat panik. “Pak! Gimana ini?” serunya pada pria di kursi belakang.

“Saya nggak sengaja, Pak... Dia yang terlalu ke tengah!” katanya lagi.

"Turun,'' katanya singkat.

Pria paruh baya berpakaian rapi—mengenakan jas abu tua dengan dasi biru navy dan jam tangan mewah di pergelangan tangannya—turun dari mobil dan mendekat. Wajahnya tenang namun penuh wibawa.

“Bantu dia sekarang,” ucapnya tegas pada sopirnya.

Sopir segera membantu membangunkan motor dari tubuh Jane dan menolongnya berdiri.

Jane, dengan tubuh yang sedikit gemetar, menatap pria paruh baya itu sambil menahan nyeri. Pria itu menatap balik tanpa ekspresi.

“Lain kali, berkendaralah dengan lebih hati-hati. Saya lihat kamu tadi melamun. Untung saja kamu hanya luka ringan. Kalau sampai parah, kami juga yang akan mendapat masalah,” ucapnya datar.

Jane menunduk. “Ma...maaf, Tuan. Saya nggak sengaja...” ucapnya lirih.

Tanpa banyak bicara, pria itu merogoh dompet dari saku jasnya dan menyerahkan beberapa lembar uang ke Jane.

“Ini. Ambil untuk biaya berobat dan memperbaiki motor kamu,”

Jane meneguk ludah saat melihat beberapa lembar uang merah yang tersodor di depannya.

“Ambillah,” ucap pria itu lagi.

Dengan tangan gemetar, Jane meraihnya. “Te... terima kasih, Tuan,” ucapnya pelan.

Pria itu hanya mengangguk singkat, lalu berbalik dan melangkah kembali ke mobilnya bersama sang sopir. Mesin mobil mewah itu menderu pelan sebelum melaju pergi.

“Banyak banget…” gumam Jane, memandangi uang di tangannya.

Tatapannya lalu beralih ke motor Arjuna yang bagian depannya tampak bengkok dan lecet.

“Ck, mesti ke bengkel ini mah gue. Kalau dia tahu bisa berabe,” katanya sambil mengusap pelipis.

Meskipun tampak menahan sakit di lutut dan lengannya, Jane tetap berusaha menaiki motor itu. Untungnya, mesin masih bisa menyala.

••••••

Setelah memperbaiki motor di bengkel terdekat dan membalut lukanya, Jane kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama, ia tiba di sebuah gang perumahan mewah.

Motornya berhenti di depan sebuah rumah dua lantai berdesain modern.

“Semoga dia mau bantuin gue…” gumamnya.

Dengan langkah ragu, Jane masuk ke halaman rumah dan menekan bel yang terletak di sisi samping pintu besar berwarna putih gading.

Tak berselang lama, pintu terbuka menampilkan seorang wanita muda berpenampilan anggun.

“Siapa, ya?” tanyanya sopan.

“Emily... ada, kak?” tanya Jane pelan.

“Temennya?”

Jane mengangguk, sedikit kikuk.

“Ayo masuk dulu, nanti aku panggilin,” ucap wanita itu.

Jane melangkah masuk. Mungkin kakaknya Emily sudah lupa dengannya, karena memang sudah lama sekali ia tidak main ke rumah ini.

Matanya melirik sekeliling interior rumah yang tampak sangat mewah dan bersih.

Belum lagi saat ia semakin masuk ke dalam, hawa sejuk dari AC langsung menyambut, jauh berbanding terbalik dengan rumahnya yang panas dan pengap.

“Duduk dulu. Emily lagi di kamarnya,” kata wanita itu sambil menunjuk ke sofa panjang.

Jane mengangguk. Perlahan, ia duduk di sofa mewah itu.

"Nyaman banget," gumam Jane, matanya menyapu seluruh ruang tamu yang mewah itu.

"Betah banget gue kalau punya rumah kayak gini, nggak usah keluar juga nggak apa-apa,"

“Siapa sih, Kak?”

“Enggak tahu, tapi kayaknya mukanya nggak asing deh,”

“Gih, kamu samperin dia. Kakak mau lanjutin ngerjain tugas dulu,” ucapnya.

Emily mengangguk. Gadis itu turun dengan santai, mengenakan celana pendek dan atasan ketat. Saat dia sampai di tangga terakhir, langkahnya terhenti begitu melihat sosok yang duduk membelakanginya.

Jane perlahan menoleh. "Hai... Mil," sapanya pelan.

Emily mengerjap kaget. “Lo!?”

Ia mendekat, ekspresi terkejut masih terpampang jelas di wajahnya. “Lo Jane, kan!?”

“Yeee… gue lah, masa bukan,” jawab Jane sambil senyum setengah malu.

“Weh, tumben-tumbenan lo ke sini. Selama ini ke mana aja, hah?”

“Ya... masih ada kok gue. Cuma sekarang tinggalnya di kota sebelah,”

Emily lalu memandangi Jane dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Kenapa mandang gue gitu, sih?” tanya Jane agak sewot.

“Ya ngecek aja, jangan-jangan lo hantu. Soalnya katanya warga sini suka ada penampakan sore-sore. Katanya sih suka nyamar jadi tamu...”

“Edan lo!” Jane langsung menepuk bahu gadis itu pelan.

“Gue Jane ya, bukan Kuntilanak!”

Emily langsung tertawa, lalu memeluk Jane dari samping. “Astagaaa... terakhir kali lo ke sini pas masih SMA ya. Terus denger-denger lo nikah. Mana nggak ngundang-ngundang gue, lagi!”

“Maaf, Mil... waktu itu nikahnya mendadak. Cuma kecil-kecilan juga,”

"Terus… mana laki lo?”

“Udah cerai,”

Emily membelalak. “What!? Jadi lo sekarang... janda!?”

“Hum... dan gue ke sini mau minta tolong sama lo,”

Emily menaikkan alis. “Minta tolong apa?”

Jane menarik napas dalam. “Lo bisa nggak kasih gue uang? Buat daftar kuliah di Universitas Adimarga Utama. Nanti gue janji bakal bayar, sumpah.”

“Lah!? Itu tempat gue kuliah!”

Jane kaget. “Yang bener lo!?”

“Hm, iya. Tapi kuliah di sana mahal banget, Bro. Rata-rata anak-anaknya tuh anak pejabat, konglomerat, artis, atau ya minimal pengusaha sukses lah. Belum lagi... mereka tuh gengsian banget. Naik motor aja bisa dikira karyawan bersih-bersih.”

“Gue nggak peduli itu, yang penting gue bisa kuliah disana. Lo bisa bantu gue nggak?”

“Gue aja udah semester tujuh. Emang lo mau mulai kuliah di umur lo yang udah... tua gini?”

“Heh! Gue nggak tua-tua amat ya. Masih 24! Lagi pula, kuliah itu nggak mandang usia! Yang penting niat dan tekad,”

Emily mendengus pelan. “So... intinya lo minta gue bayarin lo kuliah?”

Jane mengangguk yakin. “Iya. Please banget, Mil.”

Emily memandangnya lama, tampak berpikir serius. “Lo serius pengen kuliah?”

“Y—ya serius lah. Masa iya gue kerjaannya cuma bengong doang tiap hari. Gue pengen punya masa depan, Mil,”

“Terus... gimana cara lo bayar utang ke gue? Itu kampus, kalau lo nggak dapet beasiswa, bayarnya bisa bikin kantong jebol,”

“Nanti gue pikirin. Yang penting sekarang lo bantu dulu. Gue janji akan bayar.”

Emily menarik napas panjang. “Oke deh. Tapi tiap bulan lo harus nyicil utang lo. Gue catet semuanya, dan nggak ada kata telat!”

“Siap, Mil. Pasti gue cicil! Sumpah deh! Makasih banget ya…” kata Jane, wajahnya tampak jauh lebih lega.

First step... udah gue lewatin. Sekarang langkah selanjutnya... ngomong ke Arjuna. Katanya dalam hati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!