3. Ganteng tapi...

Tap! Tap! Tap!

Suara sepatu pantofel hitam beradu dengan lantai keramik putih mengisi lorong Fakultas Ekonomi dan Bisnis sore itu.

Tampak seorang pria berpostur tegap dengan tinggi sekitar 190 cm melangkah mantap. Setelan kemeja putih yang dibalut jas hitam, serta rambutnya yang disisir rapi ke belakang, membuatnya tampak semakin tampan. Tatapan matanya tajam, wajahnya bersih dan tegas.

“Sore, Pak...”

“Pak Rey makin ganteng aja, deh...”

Beberapa mahasiswi menyapa dengan senyum genit, tapi pria itu hanya melirik sekilas. Tak ada raut ekspresi yang berubah di wajahnya. Datar. Dingin. Seperti biasa.

“Woi! Pak Rey masuk!”

Seketika suasana kelas yang semula riuh langsung sunyi. Mahasiswa buru-buru kembali ke tempat duduk masing-masing. Hanya suara langkah Reyvan yang terdengar mendekati podium kelas besar itu.

“Selamat sore!” ucapnya lantang saat sudah tiba di kelas.

“Sore, Pak!” sahut seluruh mahasiswa serempak.

Reyvan tidak langsung duduk. Matanya menyapu satu per satu wajah mahasiswanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat begitu pandangannya berhenti pada sosok gadis yang duduk di baris belakang, pojok dekat jendela.

“Beruntung banget lo, Bel... Bisa deket sama Pak Rey, gimana caranya sih? Lo pake pelet apa?” bisik seorang mahasiswi berambut pendek yang duduk di dekat gadis itu.

“Syut! Diam, nanti kedengaran orang...” jawab Bella pelan, sambil mengalihkan pandangannya ke buku catatan.

Reyvan lalu melangkah duduk, membuka laptop berlogo apel yang diletakkannya di atas meja.

“Baik, kita mulai perkuliahan sore ini. Materi kita hari ini adalah ‘Manajemen Strategi dalam Dunia Bisnis Modern’. Saya sudah kirimkan bahan bacaan melalui Edlink tadi malam, namun akan saya jelaskan poin-poin pentingnya secara langsung di kelas.”

Ia mulai memasang kabel di laptop-nya, lalu materi langsung muncul di layar proyektor.

“Manajemen strategi adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keputusan yang memungkinkan organisasi mencapai tujuannya. Dalam dunia bisnis yang kompetitif, perencanaan strategi yang matang.......”

Para mahasiswa mulai mencatat. Beberapa sibuk mengetik di laptop, sebagian lagi merekam penjelasan Reyvan dengan ponsel.

Sesekali, tatapan Reyvan kembali melirik ke arah Bella. Gadis itu terlihat berusaha fokus, tapi jelas wajahnya memerah saat menyadari dirinya diperhatikan. Ia menunduk, kembali mencatat materinya.

Pria itu kembali berdiri dan menjelaskan lagi. Hingga...

“Bella.”

Gadis itu tersentak, buru-buru menatap ke depan.

“Apa kamu tahu apa itu analisis SWOT?” tanya Reyvan tanpa basa-basi.

Bella menarik napas, mencoba tetap tenang.

“Analisis SWOT adalah teknik strategis yang digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu organisasi atau proyek, Pak.” jawabnya lancar.

Reyvan mengangguk, “Bagus. Jawaban kamu selalu sempurna.”

Tidak salah dia mengagumi dan mencintai gadis itu, cantik dan cerdas. Paket lengkap!

Dan Reyvan kembali menjelaskan dia tidak ingin terlalu menonjolkan Bella. Jangan sampai perasaan pribadi mengacaukan profesionalisme-nya di ruang kelas.

•••••

Jam perkuliahan berakhir setelah dua jam.

Reyvan keluar dari kelas sambil menunduk, matanya fokus pada layar ponselnya. Jemarinya dengan cekatan mengetik pesan.

"Temui aku di ruanganku,"

Setelah menekan tombol kirim, seulas senyum tipis menghiasi wajah dinginnya. Ponsel kembali dimasukkan ke saku jas hitamnya.

“Ganteng banget, hot duda kita satu ini…” bisik salah satu mahasiswi pada temannya yang duduk di bangku panjang lorong.

“Hum, ngenes nggak sih mantan istrinya? Pasti nyesel banget udah buang berlian kayak Pak Rey.”

“Duh, kalau aku sih... bakal nyesel seumur hidup!”

Langkah Reyvan seketika berhenti. Matanya menyipit, pendengarannya tajam menangkap kalimat tadi.

Ia menoleh, menatap dua mahasiswi itu dengan tatapan menusuk.

“Jangan suka membicarakan orang kalau kalian nggak mau saya tendang dari kelas saya,” katanya datar.

“Ma... maaf, Pak,” kata salah satu dari mereka, buru-buru menunduk malu.

Tanpa menambahkan sepatah kata pun, Reyvan kembali berjalan menuju ruangannya yang berada di ujung koridor. Begitu sampai, ia membuka pintu dan masuk, lalu melemparkan tubuhnya ke sofa panjang setelah meletakkan laptop dan buku-bukunya di atas meja.

Pria itu terkekeh sinis, Mantan istri?

Jangan sampai ada yang menyebut nama wanita itu di depannya. Nama yang sangat dia benci beberapa tahun terakhir ini.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pelan terdengar.

“Masuk!” serunya dari dalam.

Pintu terbuka pelan. Seorang gadis melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk, tangannya meremas tote bag yang digantungkan di bahunya.

Saat matanya menangkap wajah gadis itu, senyum Reyvan langsung muncul—senyum yang hanya ia berikan untuk satu orang.

Bella.

“Sini...” panggilnya lembut, menepuk sofa di sampingnya.

Bella mendongak pelan, lalu tersenyum kecil dan melangkah ke arah Reyvan. Ia duduk perlahan, mencoba menjaga jarak meski detak jantungnya sudah tak karuan.

“Hampir aja aku ketahuan...” gumam Bella.

“Nggak apa-apa. Emang seharusnya begitu, kan? Biar semua orang tahu aku udah punya pawangnya.”

Bella manyun.

“Ish… Tapi nanti aku yang kena bully! Fans-fans kamu itu yang menyeramkan itu.”

“Tapi kamu seneng aku digodain sama mahasiswi lain?”

Bella menggeleng cepat.

“Ya nggak dong… Kamu kan… pacarku...” ucapnya pelan, sedikit menunduk saat menyebut kata terakhir.

Reyvan mendekat, lalu merangkul bahu Bella. Ia menunduk, kemudian mengecup pucuk kepala gadis itu beberapa kali.

“Malam ini kita dinner, ya?”

Bella mendongak sedikit. “Kemana?”

Reyvan tersenyum misterius. “Ada deh… Pokoknya nanti malam aku jemput kamu. Dan… tunggu, malam ini aku juga bakal kasih kejutan buat kamu.”

Bella tersenyum lebar. "Can't wait for the surprise"

Dia balas merangkul pinggang Reyvan dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Dia bisa mendengar detak jantung Reyvan.

“Nggak nyangka ya… dulu aku yang ngejar-ngejar kamu, sekarang kita udah kayak gini aja… pelukan.” ucap Bella pelan.

“Dulu, waktu pertama kali aku masuk universitas ini… semua orang ngomongin kamu. Kamu ganteng, tapi serem. Muka kamu tuh, killer abis!” Bella tertawa pelan mengingat masa lalu.

"Tapi meskipun begitu aku banyak disukai sama mahasiswi di sini,"

Bella cemberut.

"Kamu nggak usah cemburu, karena kamu udah jadi pemenangnya,"

"Usaha kamu nggak sia-sia mencintai aku ugal-ugalan," katanya lagi, terkekeh.

“Aku juga tahu loh, modus kamu tiap aku masuk kelas kamu.” Reyvan menatapnya sambil menggoda. “Kamu pura-pura nggak bisa jawab pertanyaan, biar aku hukum bersihin ruanganku, padahal itu niat kamu biar ketemu sama aku kan?”

Bella menutup wajahnya dengan telapak tangan, malu. “Tapi berhasil kan? Sekarang dosennya yang klepek-klepek sama mahasiswinya sendiri.”

Reyvan tertawa pelan, lalu menggenggam kedua tangan Bella dengan lembut.

Tatapannya berubah serius, ada sorot dalam di sana—bukan sekadar cinta biasa.

“Kamu tahu, Bel… Kamu berhasil menyembuhkan luka lama aku. Kamu buat aku percaya lagi sama cinta.” suaranya pelan.

“Setelah cerai dari mantan istriku… aku pikir aku nggak bakal bisa jalanin hubungan lagi. Aku trauma. Hancur. Aku ngerasa… udah cukup sampai di situ hidupku soal cinta. Tapi kamu...merubah segalanya kamu membuat hidup aku berwarna lagi.”

Bella terdiam. Matanya berkaca-kaca.

“Kamu buat aku ngerasa dihargai… bukan sebagai Reyvan si dosen ganteng dan kaya raya, bukan juga si duda keren yang dilirik semua orang… tapi...kamu benar-benar tulus cinta sama aku, terlepas dari status aku yang sekarang,"

Bella tak bisa menahan air matanya. Tapi itu air mata bahagia.

"Makasih Bella, aku harap hubungan kita akan terus bertahan lama,"

Reyvan mengusap air mata di pipi mulus gadis itu. Lalu mendekatkan wajahnya perlahan. Bella refleks memejam. Jarak wajah mereka makin tipis. Hingga hidung mereka bersentuhan.

“Aku mencintaimu, Bella.”

Bella membuka mata, menatap tepat ke mata Reyvan. “Aku juga mencintaimu.” bisiknya.

Tanpa kata lagi, Reyvan memiringkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Bella.

Ciumannya lembut.

Bella membalas ciuman itu dengan penuh perasaan.

Setelah dirasa cukup, Reyvan perlahan melepaskan ciuman itu, namun tak menjauh.

Keningnya bersandar di kening Bella, dengan napas mereka yang menyatu.

“Terima kasih untuk segalanya, Bella..."

“Terima kasih udah datang di hidup aku….”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!