Mahasiswiku, Mantan Istriku
"Pasti Jane senang,"
Reyvan tersenyum kecil, tak sabar membayangkan reaksi istrinya saat melihat hadiah ini. Ia menutup kotak merah beludru yang berisi kalung berlian putih—hasil kerja kerasnya selama empat bulan terakhir.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi oleh bayangan Jane melonjak kegirangan, memeluknya erat sambil menangis terharu.
“Jane!! Mas pulang!!” serunya riang dari halaman rumah, padahal langkahnya belum sampai ke pintu.
“Mas bawa kejutan buat kamu!” tambahnya.
Setelah memarkirkan motor tuanya di sisi rumah kecil peninggalan kakeknya, Reyvan segera masuk. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sunyi.
“Jane!?” panggilnya lagi, lebih keras.
Tak ada sahutan.
"Kemana dia?" gumamnya pelan.
Beberapa saat kemudian, suara deru mesin mobil mewah berhenti di depan rumah itu.
Seorang wanita muda turun dari kursi penumpang. Jane Nathania—istrinya, ia menatap rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka.
“Kamu beneran mau ikut aku?” tanya pria yang ada di sampingnya.
“Hum, keputusanku udah bulat. Aku udah nggak tahan tinggal sama pria miskin kayak dia.” jawab Jane tanpa ragu.
Pria di sampingnya—berpakaian nyentrik dengan celana jeans robek-robek, kaus ketat, dan jaket kulit yang terlihat mahal—tersenyum puas.
“Baiklah, baby. Aku bantu kamu buat melepaskan dia.”
Reyvan yang masih mondar-mandir mencari keberadaan istrinya terhenti saat melihat keluar. Pandangannya tertumbuk pada sosok Jane dan pria asing itu yang kini berdiri di ambang pintu.
“Jane!!” serunya, lalu berlari menghampiri istrinya.
“Kamu kemana aja? Aku cari-cari kamu dari tadi...” ucapnya dengan nada bingung dan cemas.
Tatapannya kemudian beralih pada pria yang berdiri dengan angkuh di samping Jane.
“Si... siapa dia, Jane?” tanyanya.
“Minggir.” sahut Jane datar, lalu mendorong Reyvan.
“Jane...” panggil Reyvan, mengikuti langkah istrinya yang tergesa-gesa masuk ke kamar mereka.
"Kamu kenapa?" kata Reyvan. Matanya melebar saat melihat Jane mengambil tas besar lalu membuka lemari.
"Jane... apa yang kamu lakukan?" kata Reyvan lagi.
Jane tidak menghiraukannya. Ia mulai meletakkan baju-bajunya ke dalam tas itu.
"Kamu mau ke mana, Jane!?" kata Reyvan. Seketika jantungnya berdetak kencang, takut jika Jane benar-benar akan meninggalkannya.
Tangannya berusaha menghentikan Jane yang sibuk berkemas.
"Lepas!" bentak Jane.
"Jangan halangi aku!" katanya lagi.
"Aku mau pergi dari rumah ini!" katanya lantang.
Hati Reyvan mencelos mendengar itu.
"A..apa pergi?" katanya lirih.
"Ya! Aku udah nggak tahan hidup sama pria miskin ya nggak bisa bahagiain istrinya kayak kamu!"
"Kamu pikir selama ini aku bahagia, hah!? Bullshit banget! Yang ada aku tertekan hidup sama kamu!" kata Jane lagi.
"Aku nggak butuh cinta dari kamu! Aku butuhnya kemewahan dan kamu nggak bisa ngasih itu ke aku!" katanya tajam.
Mata Reyvan berkaca-kaca. "Ja... Jane, maafin aku. Jane, jangan tinggalin aku... a..aku minta maaf kalau aku belum bisa ngasih kamu kemewahan. Tapi... tapi aku selalu berusaha selama ini agar kamu nggak kekurangan... Aku selalu kasih kamu uang buat shopping, buat nongkrong sama teman-teman kamu, buat semua hal yang kamu suka!"
Jane bersedekap dada. "Kamu tetap nggak bisa menuhi apa yang aku mau!" katanya lagi.
"Jadi... mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku bakalan cabut dari rumah ini!" katanya tegas.
Reyvan menggeleng. "Kamu nggak boleh pergi!"
"Aku nggak peduli," kata Jane.
Wanita itu mengambil tas besarnya dan berjalan keluar kamar.
"Jane! Jangan pergi! Jane! A...aku janji akan berusaha lagi biar kita bisa hidup enak! Aku janji akan kerja siang malam demi kamu!" katanya sambil menahan lengan Jane.
"Lepas, ih!" kata Jane menepis kasar tangan Reyvan.
"Udah, Yang?" kata pria tadi.
"Yang?" bego Reyvan saat pria itu memanggil istrinya seperti itu.
"Ya, dia pacarku. Aku jauh lebih bahagia saat bersamanya," kata Jane.
"Kamu... selingkuh dari aku...?" kata Reyvan kaget.
Entah kenapa, tangannya kini mengepal erat.
"Ya! Kami sudah berpacaran selama tiga bulan! Dia bisa ngasih aku uang lebih banyak dari kamu, ngajak aku shopping, jalan-jalan, dan beliin aku barang-barang mahal yang nggak pernah bisa kamu kasih!"
Napas Reyvan memburu hingga—
Bugh!
Satu pukulan mendarat di rahang pria itu.
"Tyas!!" teriak Jane saat pacarnya dipukul tiba-tiba.
Jane lekas membantu pria itu bangkit. Wajahnya penuh kekhawatiran, terlebih ketika melihat sudut bibir pria itu mengeluarkan darah. Tatapannya lalu beralih ke Reyvan yang berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah karena amarah.
"Keterlaluan kamu, Jane!" teriak Reyvan dengan suara bergetar. "Aku kerja dari pagi sampai sore, banting tulang cuma buat nyenengin kamu, biar bisa penuhi semua ekspektasi kamu! Tapi ini... ini balasan kamu ke aku!?"
"Aku nggak pernah nyakitin kamu, Jane... Nggak pernah! Apalagi sampai mukul kamu. Aku selalu berusaha jadi suami yang baik buat kamu, nahan emosi, mengalah, dan tetap sayang sama kamu meskipun kamu sering acuh. Tapi kamu... kamu malah kayak gini ke aku!"
Jane memutar bola matanya dan tertawa getir.
"Maaf ya, Mas...Reyvan. Aku terima lamaran kamu dulu karena terpaksa! Padahal aku tahu kamu waktu itu cuma punya rumah reyot ini buat tempat tinggal!"
Jane melangkah mendekat, wajahnya dingin.
"Dan sekarang, cukup sudah sabarku. Aku muak! Aku mau cari laki-laki yang lebih baik dan tentu saja lebih kaya!"
"Sekarang juga aku minta kamu talak aku! Urusan suami istri kita selesai sampai di sini!"
"Jane!!" teriak Reyvan saat wanita itu melangkah keluar rumah tanpa menoleh sedikit pun.
Reyvan sontak mengejar, tangannya menarik lengan Jane.
"Apa kamu yakin pacarmu itu orang baik-baik!?" katanya dengan napas tersengal karena emosi.
"Tentu saja!" jawab Jane cepat.
"Ayo, Tyas. Kita pergi dari sini,"
"Jane... kasih aku kesempatan, Jane... Aku... aku akan..." Reyvan mencoba meraih tangannya lagi saat Jane membuka pintu mobil milik Tyas.
"Lepas!" bentak Jane sambil mendorong tubuh Reyvan dengan kasar.
"Jane!!! Jane!!!" teriak Reyvan sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.
"Jane...aku sumpahin kamu menyesal meninggalkan aku..."
Tapi Jane hanya melirik sekilas. “Aku nggak akan nyesel. Sama sekali.”
“Kamu bebas setelah ini. Mau ke mana, kek... Mau cari cewek lain juga, aku nggak peduli,” katanya lagi.
“Ayo jalan, Tyas,” ucap Jane pada pria di sampingnya.
"Jane!!!" teriak Reyvan sekuat tenaga saat mobil itu meluncur meninggalkan pekarangan rumah.
Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya. Dia berdiri mematung, memandangi mobil yang makin lama makin mengecil di kejauhan. Waktu terasa berhenti.
Tubuh Reyvan limbung. Dia jatuh berlutut ke tanah.
"Nggak mungkin... Ini pasti cuma mimpi..." gumamnya lirih.
Reyvan menangis terisak. Tak bisa mempercayai kenyataan bahwa wanita yang selama ini ia banggakan, cintai sepenuh hati, justru tega menghancurkan semuanya dalam sekejap mata.
Reyvan mengambil kotak kecil yang berisi kalung di sakunya dengan tangan gemetar dia membukanya.
"Kamu jahat, Jane... Kamu pergi, padahal kamu udah janji untuk hidup bersamaku, baik suka maupun duka..." Kata Reyvan lirih.
Reyvan memejamkan matanya erat-erat. Air mata terus turun, membasahi kotak kecil berisi kalung yang masih ia genggam erat di tangannya.
Tiba-tiba suara deru mesin mobil memecah keheningan. Reyvan membuka matanya pelan-pelan, lalu mendongak saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumahnya.
Dengan cepat, ia mengusap air matanya kasar, mencoba menegakkan tubuh. Alisnya bertaut bingung saat melihat pintu mobil terbuka dan seorang pria turun. Sepatu pantofel hitam mengkilat menjejak tanah.
Reyvan menatap sosok pria paruh baya yang berdiri tegak di hadapannya. Tubuhnya tinggi, tegap meski usianya tak lagi muda. Jas yang rapi dan jam mahal di pergelangan tangannya menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.
Sorot matanya sendu. Bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Reyvan..." ucap pria itu, suaranya bergetar. "...putraku."
Ps: Selamat datang di cerita kesekian saya!
Maaf kalau cerita saya ngeselin
Padahal judul awalnya pengen Dosenku, Mantan Suamiku. Tapi liat ah nanti mau di ganti atau nggak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments