Berpisah

“Ayahanda… Ibunda…!”

Teriakan Lily menggema di udara, namun jawabannya telah tertutup oleh gerbang Moonveil yang menutup diri. Keputusan telah ditetapkan dan tidak dapat ditawar. Saat semuanya benar-benar tertutup, kaki kuda yang ia tunggangi terangkat dengan mudah. Sang kuda mengikik keras, hambatan yang tadi menahannya lenyap begitu saja.

“Apa yang sebenarnya terjadi…” bisik Lily.

Ia menatap ke dalam Hutan Moonveil, namun hanya ada keheningan. Lily memejamkan mata.

Aku pulang dulu, besok aku akan kembali. Janji yang ia ucapkan kemarin sore terngiang kembali dalam ingatannya. Ia menarik napas dalam, lalu membuka mata dengan pikiran yang baru. Ia menarik kendali, memutar kudanya, dan memacunya masuk kembali ke dalam Moonveil.

“Putri?” suara Wilhelm terdengar bingung ketika melihat Lily kembali.

“Kakek,” sapa Lily singkat sambil turun dari kuda.

“Aku akan segera kembali,” katanya cepat, sebelum Wilhelm sempat bertanya lebih jauh.

Tanpa menoleh, Putri Lily berlari masuk ke dalam hutan. Langkahnya ringan namun pasti, menghilang di antara pepohonan yang segera menutup di belakangnya.

Lily berjalan menyusuri sungai Lirien yang jernih dan tenang. Ia melangkah ke atas sebuah batu besar di tengah sungai, berdiri tegak seperti pada altar sunyi yang hanya dipahami hutan.

“Aku kembali,” ucapnya pelan. “Aku kembali sesuai janjiku kemarin sore.”

Angin berhembus lebih kuat, membelai wajahnya, mengibaskan rambutnya ke belakang. Lily menutup mata sejenak, menyatukan kedua tangannya di depan dada.

“Aku ingin ikut dengan Ayahanda, Ibunda, dan kakak-kakakku.” katanya. Suaranya tidak bergetar, tapi penuh harapan.

“Jangan halangi aku,” lanjutnya lirih. “Aku mohon.”

Ia turun dari batu dan melangkah melewati air, hendak menyusul mereka. Namun sebelum langkahnya sempurna, tanaman merambat muncul dari dasar sungai, melilit pergelangan kakinya. Saat itu juga air matanya jatuh, mengalir bersama aliran sungai Lirien. Ia mengerti jawaban Moonveil, tapi berpisah dengan keluarga yang ia cintai membuat hatinya terasa tersayat.

“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun mantap. “Jika ini kehendak Dewa… aku akan tinggal.”

Ia mengangkat wajahnya ke arah langit. “Tapi tolong, jaga mereka di sana.”

Lilitan itu mengendur perlahan, lalu surut kembali ke dalam tanah, seolah permintaan itu telah diterima.

Lily duduk di tepi sungai. Matahari mulai meninggi, sinarnya kian terik. Namun dedaunan di atasnya bergerak, saling bertaut, membentuk naungan alami yang melindungi kulitnya dari panas. Moonveil tidak menjawab dengan kata, melainkan perlindungan.

Rumah yang biasanya dipenuhi suara kini terasa lengang, seakan dinding-dindingnya ikut memahami perpisahan. Lily duduk termenung di teras, menatap halaman yang sunyi tanpa tujuan. Tiba-tiba seikat bunga segar muncul di hadapannya.

Lily menengadah. “Kakek,” ucapnya pelan.

Ia menerima bunga itu dengan kedua tangan. Ser Wilhelm lalu duduk di dekat anak tangga, jaraknya sopan, tatapannya hangat.

“Jangan takut,” katanya tenang.

Ia terdiam sejenak, seolah memilih kata yang tepat.

“Dulu sebelum kelahiran kalian, Tabib Eron pernah menyampaikan nubuat,” lanjutnya. “Kalian akan diizinkan pergi dari Moonveil jika waktunya telah tiba.”

Wilhelm menatap Lily dengan penuh perhatian.

“Mungkin sekarang waktunya Ayahanda, Ibunda, dan kedua kakakmu melangkah pergi. Namun tidak dengan dirimu, Putri.”

Lily menunduk, jemarinya menggenggam bunga itu perlahan.

“Masih ada yang harus Anda lakukan di sini, Putri.” kata Wilhelm. “Belajar bertahan, belajar mengenal kekuatan, juga menajamkan insting. Agar saat Anda kembali, nubuat itu tergenapi."

Lily mengangkat wajahnya.

“Kenapa takdirku terasa aneh, Kakek?”

Wilhelm tersenyum.

“Bukan aneh, Putri,” jawabnya mantap. “Melainkan istimewa.”

Lily menarik napas perlahan, mencoba menerima.

“Terima kasih, Kakek.”

Wilhelm berdiri, lalu menunduk hormat dengan satu tangan di dada. Salam seorang pengawal yang telah memilih setia pada satu keturunan hingga akhir.

“Suatu kehormatan bagi hamba, Putri. Hamba akan menjaga Anda dengan hidup hamba.”

Ia lalu mengundurkan diri dengan langkah tenang, kembali pada tugasnya mengurus tanaman-tanaman obat Moonveil, warisan yang peminatnya tak pernah surut.

___

Aummm….

Auman singa menggema kuat, memecah kesunyian hutan. Eri berlari lebih dulu, tubuhnya melesat di antara pepohonan, langkahnya mantap dan penuh tenaga. Lily menyusul tanpa ragu. Ini adalah putaran kedua ia mengelilingi hutan hari itu dan ia tahu, itu masih belum cukup.

Kakinya menyentuh tanah dengan ritme teratur dan nafas yang terjaga.

“Ayo, Eri,” ucapnya tegas, “Kita tidak bisa berleha-leha.”

Keringat mengalir di keningnya, membasahi pelipis. Gaun linennya panjang tidak menghambat langkahnya.

Auuummm…

Eri mengaum lagi, kali ini melesat melewati sisi Lily seakan menantangnya.

Lily tersenyum tipis, siap menerima tantangan dengan langkah. Ia mempercepat lari, memaksa otot-ototnya bekerja lebih keras, menolak rasa letih yang mulai merambat. Jantungnya berdetak kuat, namun pikirannya jernih. Ia mengejar bukan karena ingin menang, melainkan karena ia harus mampu bertahan.

Dan Moonveil memberkahi keteguhannya. Tanah di bawah kakinya terasa lebih ringan. Napasnya berhembus lebih mudah. Tubuhnya melompat dan berlari dengan kecepatan rusa yang berlari bebas di antara pepohonan. Lily melesat sejajar dengan Eri, rambutnya terurai mengikuti angin, langkahnya mantap dan penuh kendali. Di sanalah ia mengerti. Moonveil tidak menahannya untuk melemahkannya, melainkan untuk mempersiapkannya.

Lily menghentikan langkahnya pada putaran kelima. Air sungai mengalir jernih di hadapannya, berkilau diterpa cahaya senja yang mulai condong. Nafasnya teratur, dadanya naik turun dengan tenang. Ia menepuk lembut leher Erivana.

“Minumlah,” katanya pelan.

Singa itu menunduk, menjilat air dengan tenang. Setelah Eri selesai barulah ia berlutut, menciduk air dengan kedua telapak tangan, membasuh wajahnya, lalu menyesapnya perlahan.

Dingin air itu menenangkan pikirannya.

Pekerjaan belum selesai. Lily berdiri dan melompat ringan ke batang pohon di samping sumber mata air. Ia mengambil busur dan anak panah digantung di salah satu dahan. Tidak lupa ia memeriksa ujung panah, mengusap talinya sebentar, memastikan semuanya siap.

“Setelah mendapat satu buruan, kita pulang.” ucapnya pada Eri.

Ia tidak memilih arah dengan mata, melainkan insting. Kakinya berhenti di balik sebuah pohon tua, membidik seekor rusa muda tengah memakan rerumputan dengan tenang. Lily menarik napas perlahan, mengatur jarak, menenangkan detak jantungnya.

Busur terangkat, tali ditarik.

Shush…!

Anak panah melesat membelah udara. Sekali percobaan, dan tepat pada sasaran. Rusa itu roboh tanpa derita panjang.

Lily segera mendekat. Ia menundukkan kepala sejenak, sebuah penghormatan sunyi bagi kehidupan yang telah ia ambil. Dengan cekatan, ia mengikat buruan itu dan mengangkatnya ke punggungnya. Bebannya terasa, namun tidak memberatkannya.

Auuummm…

Eri mengaum rendah, matanya berkilat seolah meminta tugas.

Lily tertawa kecil. Ia menggantungkan anak panah di punggung Eri, lalu menepuk punggungnya.

Langit mulai menggelap, cahaya emas berganti biru keunguan. Sang putri dan penjaga setianya melangkah pulang ke rumah yang sunyi, namun tetap setia menanti.

Terpopuler

Comments

Erni Fitriana

Erni Fitriana

anastasia muda...ternyata moinveill sekolah untuk anaatasia n lyly...anastasia memberi tongkat estavet takdirnya pada lyly...percinta'an nya pun seoertinya sama sepertu anstasia beetemu n menundukkan cinta lexus...thor..u are smart create

2026-01-13

1

Kustri

Kustri

tau'a anas hamil kembar 2, msh inget putri lily memang hrs disembunyikan, moonveil akan menjaga'a spt menjaga anas

2026-01-18

1

ˢ⍣⃟ₛÐïñÐå💜⃞⃟𝓛ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ѕ⍣⃝✰

ˢ⍣⃟ₛÐïñÐå💜⃞⃟𝓛ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ѕ⍣⃝✰

dan Lily akan kuat seperti ibundanya Anastasya dan dia akan kembali ke argatha sebagai panglima perang

2026-01-07

1

lihat semua
Episodes
1 Putri Lily dan Hutan Moonveil
2 Surat dari Agartha
3 Tidak Diizinkan Pergi
4 Berpisah
5 Kembali ke Agartha
6 Lawan dan Bertahan
7 Berlatih Bersama, di Tempat yang Berbeda.
8 Rencana Licik
9 Pemimpin Perang
10 Perang
11 Kehilangan Belahan Jiwa
12 Kedatangan Lily
13 Kesepakatan Baru
14 Tidak Terpisahkan Hingga Akhir
15 ….
16 Tidak Boleh Mati Sia-sia
17 Terbuka
18 Harga untuk Semua Ini
19 Menjemput Takdir
20 Batasan dari Sang Raja
21 Sahabat Lily
22 Badai Ombak
23 Bukan Putri Biasa
24 Kingdom Conqueror
25 Queen LIliane Thalassa Serene
26 Perjamuan
27 Memahami Batas
28 Dalam Satu Kamar
29 Pagi Pertama
30 Pangeran Aric & Pangeran Alaric
31 Makan Malam
32 Menikah dengan Pria Beristri?
33 Racun
34 Dua Anak Itu
35 Malam Panjang
36 Luluh
37 Ada yang Berubah
38 Raja dan Ratunya
39 Pangeran dari Aladoine
40 Putri Alicia yang Malang
41 Keluar Istana
42 Makan Gratis
43 Memburu Mangsa
44 Menangkap Sang Ratu
45 Menolak Memohon
46 Di Menara yang Gelap
47 Menghapus Batasan
48 Patuh
49 Kekenyangan
50 Gangguan
51 Meninggalkan Drama
52 Arena Latihan
53 Bertentangan!
54 Jeruji Besi di Bawah Tanah
55 Salah Langkah
56 Akhir dari Ambisi
57 Luka di Punggung Raja
58 Keseimbangan Hati dan Logika.
59 Tidak Sesuai Dugaan
60 Teh Celup
61 Di Balik Sikap Cristopher
62 Pengumuman
63 Kenyataan yang Sebenarnya
64 Ada yang Berubah
65 Pagi yang Hidup
66 Katakan padaku
67 Isi Kepala Sang Ratu
68 Bertemu dengan Penghuni Moonveil
69 Galio
70 Diuntit
71 Ungkapan Hati Sang Raja
72 Serigala Abu-abu
73 Tak Tahu Apa Pun
74 Kedatangan Prajurit dari Aladoine
75 Perintah King Arlo
76 Perasaan yang Tumbuh Semakin Dalam
77 Lagi-lagi Terkejut
78 Elang di Atas Kepala
79 Dikepung
80 Berdua di Antara Lautan Prajurit
81 Jarot!
82 Saling Menopang
83 Thank You
84 Jangan Mati
85 Kecemasan Liliane
86 Tidak Boleh Menyerah
87 Ciuman Tanpa Paksaan
88 Jatuh Cinta
89 Raja Mendengarkan Ratunya
90 Pengakuan
91 Setara dengan Raja
92 Perintah Terselubung Raja
93 Di Balik Tirai Kereta
94 Sambutan Kemenangan
95 Pengumuman dari Raja
96 Tak Sependapat
97 Memahami Posisi dalam Kegundahan
98 Bertindak Lebih Dulu
99 Selesai
100 Lily dan Pangeran
101 Kabar Burung
102 Tak Ingin Melepaskan
103 Malam Penuh Gemuruh
104 Menyatu
105 Pagi yang Berbeda
106 Salah Sangka
107 Hadiah dari Cristopher
108 Waktu Berlalu Begitu Cepat
109 Kebijaksanaan Cinta
110 Keheningan yang Asing
111 Cinta yang Tumbuh Alami
112 Sang Putri Akhirnya Pulang
113 Semua Telah Membaik
114 Kabar Bahagia
115 Si Sulung, Aurelian...
116 Rumah di Surga Tersembunyi Agartha
117 Hidup Lebih Lama
118 Wanita Pencemburu
119 Ia Tahu
120 Kembali Ke Moonveil
121 Tangisan dari Hati Seorang Anak & Hutan
122 Malam Ini Hanya Kita
123 Sahabat Sejati
124 Cinta Dua Manusia
125 Zona Nyaman Liliane
126 Ratu yang Nakal
127 Lahirnya Generasi Baru
128 Tali Kehidupan itu Masih Terhubung
129 Perlengketan Ari-ari
130 Insting Sang Raja
131 Princes Crown
132 Aku Pamanmu
133 Akhir dari Kisah
134 Extra Part (gift for readers)
135 Extra Part (gift for readers)
136 Extra Part (gift for readers)
Episodes

Updated 136 Episodes

1
Putri Lily dan Hutan Moonveil
2
Surat dari Agartha
3
Tidak Diizinkan Pergi
4
Berpisah
5
Kembali ke Agartha
6
Lawan dan Bertahan
7
Berlatih Bersama, di Tempat yang Berbeda.
8
Rencana Licik
9
Pemimpin Perang
10
Perang
11
Kehilangan Belahan Jiwa
12
Kedatangan Lily
13
Kesepakatan Baru
14
Tidak Terpisahkan Hingga Akhir
15
….
16
Tidak Boleh Mati Sia-sia
17
Terbuka
18
Harga untuk Semua Ini
19
Menjemput Takdir
20
Batasan dari Sang Raja
21
Sahabat Lily
22
Badai Ombak
23
Bukan Putri Biasa
24
Kingdom Conqueror
25
Queen LIliane Thalassa Serene
26
Perjamuan
27
Memahami Batas
28
Dalam Satu Kamar
29
Pagi Pertama
30
Pangeran Aric & Pangeran Alaric
31
Makan Malam
32
Menikah dengan Pria Beristri?
33
Racun
34
Dua Anak Itu
35
Malam Panjang
36
Luluh
37
Ada yang Berubah
38
Raja dan Ratunya
39
Pangeran dari Aladoine
40
Putri Alicia yang Malang
41
Keluar Istana
42
Makan Gratis
43
Memburu Mangsa
44
Menangkap Sang Ratu
45
Menolak Memohon
46
Di Menara yang Gelap
47
Menghapus Batasan
48
Patuh
49
Kekenyangan
50
Gangguan
51
Meninggalkan Drama
52
Arena Latihan
53
Bertentangan!
54
Jeruji Besi di Bawah Tanah
55
Salah Langkah
56
Akhir dari Ambisi
57
Luka di Punggung Raja
58
Keseimbangan Hati dan Logika.
59
Tidak Sesuai Dugaan
60
Teh Celup
61
Di Balik Sikap Cristopher
62
Pengumuman
63
Kenyataan yang Sebenarnya
64
Ada yang Berubah
65
Pagi yang Hidup
66
Katakan padaku
67
Isi Kepala Sang Ratu
68
Bertemu dengan Penghuni Moonveil
69
Galio
70
Diuntit
71
Ungkapan Hati Sang Raja
72
Serigala Abu-abu
73
Tak Tahu Apa Pun
74
Kedatangan Prajurit dari Aladoine
75
Perintah King Arlo
76
Perasaan yang Tumbuh Semakin Dalam
77
Lagi-lagi Terkejut
78
Elang di Atas Kepala
79
Dikepung
80
Berdua di Antara Lautan Prajurit
81
Jarot!
82
Saling Menopang
83
Thank You
84
Jangan Mati
85
Kecemasan Liliane
86
Tidak Boleh Menyerah
87
Ciuman Tanpa Paksaan
88
Jatuh Cinta
89
Raja Mendengarkan Ratunya
90
Pengakuan
91
Setara dengan Raja
92
Perintah Terselubung Raja
93
Di Balik Tirai Kereta
94
Sambutan Kemenangan
95
Pengumuman dari Raja
96
Tak Sependapat
97
Memahami Posisi dalam Kegundahan
98
Bertindak Lebih Dulu
99
Selesai
100
Lily dan Pangeran
101
Kabar Burung
102
Tak Ingin Melepaskan
103
Malam Penuh Gemuruh
104
Menyatu
105
Pagi yang Berbeda
106
Salah Sangka
107
Hadiah dari Cristopher
108
Waktu Berlalu Begitu Cepat
109
Kebijaksanaan Cinta
110
Keheningan yang Asing
111
Cinta yang Tumbuh Alami
112
Sang Putri Akhirnya Pulang
113
Semua Telah Membaik
114
Kabar Bahagia
115
Si Sulung, Aurelian...
116
Rumah di Surga Tersembunyi Agartha
117
Hidup Lebih Lama
118
Wanita Pencemburu
119
Ia Tahu
120
Kembali Ke Moonveil
121
Tangisan dari Hati Seorang Anak & Hutan
122
Malam Ini Hanya Kita
123
Sahabat Sejati
124
Cinta Dua Manusia
125
Zona Nyaman Liliane
126
Ratu yang Nakal
127
Lahirnya Generasi Baru
128
Tali Kehidupan itu Masih Terhubung
129
Perlengketan Ari-ari
130
Insting Sang Raja
131
Princes Crown
132
Aku Pamanmu
133
Akhir dari Kisah
134
Extra Part (gift for readers)
135
Extra Part (gift for readers)
136
Extra Part (gift for readers)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!